
Pulang sekolah Cornelia mengejar Felix dan Tiga Kembar, "Berikan formulir itu!" kata Cornelia.
"Tunggu, apa ...." Tan hanya mengira-ngira.
"Ya, seperti yang sudah disepakati aku akan membantu kalian jika kalian berhasil." kata Cornelia.
"Mertie mengajukan diri?" tanya Tom.
"Aku tidak tahu apa yang kalian lakukan ... bahkan aku sudah melakukan segala cara untuk membujuknya. Memang jika yang membujuk adalah orang terdekat lebih baik." kata Cornelia.
"Haha ... tidak! kami tidaklah dekat dengannya." Tiga Kembar anehnya kompak mengatakan itu dengan tawa dan jeda bicara yang sama persis seperti mereka sudah merencanakannya.
"Apa anak kembar memiliki otak yang sama? atau kalian tahu isi pikiran masing-masing?!" Cornelia terlihat takjub.
"Kami tidak dekat dengannya." kata Felix memperjelas.
"Baiklah ... kalau begitu mau kalian." kata Cornelia tapi ekspresinya sama sekali tidak menyiratkan bahwa percaya begitu melainkan tetap pada pemikirannya, "Akan lebih bagus jika kalian ikut juga ...."
"Kak Cornelia terlalu dermawan atau bagaimana? kami hanya membantu satu hal tapi diberikan dua hadiah sekaligus ...." kata Felix membuat Cornelia terdiam.
"Seperti yang dikatakan anak-anak, dia memiliki karisma yang kuat dan membuat takut tanpa alasan yang jelas." kata Cornelia dalam hati melihat Felix, "Baiklah, tapi jika kalian berubah pikiran ... kesempatan itu selalu terbuka lebar. Kalian tahu kan dimana mencariku?!" kata Cornelia.
"Di ruang osis SMP, kan? serasa Kak Cornelia tinggal disana saja." kata Teo membuat Cornelia tertawa.
"Memang kurang lebihnya begitu ... sudah seperti rumah karena kutempati makan dan tidur." Cornelia tidak bisa mengelak.
Cornelia pergi dengan membawa formulir rencana belajar yang menjadi hukuman bagi mereka. Tidak perlu takut akan ketahuan guru karena jika Cornelia yang bertindak semuanya akan berjalan lancar.
"Jujur, aku tertarik masuk. Tapi ... aku lebih tertarik bertemu Plaevivindote baru dan Anaevivindote baru." kata Tom.
"Kau tidak perlu mengkhawatirkan kami lagi Felix ...." Tan membaca ekspresi Felix, "Bagi kami mengejar kesuksesan di Mundebris lebih utama."
"Setidaknya, kita tidak perlu repot-repot mencari kerja ...." kata Teo mengundang tawa.
Tan, Teo dan Tom merasa sangat beruntung karena bisa mendapatkan pekerjaan hanya dengan menjadi sahabat Felix. Bahkan di Mundebris sekalipun butuh yang namanya koneksi. Tapi bukan koneksi yang bisa dimiliki oleh sembarang orang melainkan yang istimewa. Mengistimewakan Felix dan diistimewakan oleh Felix.
***
Malam ini, Tiga Kembar berniat untuk menemui Osborn kembali tapi kali ini ditemani oleh Felix.
"Bisa dikatakan bahwa misimu mencari keberadaan Iblis itu berhasil." kata Tom.
"Bahkan lebih dari itu ...." kata Felix berbangga diri.
"Seharusnya aku tidak mengungkitnya ...." kata Tom langsung menyesal.
"Bagaimana jika ada yang terjadi dan tidak ada yang tinggal di Mundclariss ...." kata Teo.
"Bilang saja kalau kau ingin mengajukan diri tinggal untuk bermalas-malasan!" kata Tom.
Teo mengambil sesuatu dari tanah dan menggosokkannya pada tangan Tom.
"Aaaaaaa." teriak Tom menyadari bahwa itu adalah jejak kaki dari hewan yang bisa membuat gatal, "Kau sudah gila?!"
"Makanya jangan menuduhku sembarangan!" kata Teo.
"Aaaaaaaa." Teo mulai panik membersihkan tangannya juga.
"Hahh ...." Felix tidak bisa berkata-kata lagi.
"Mertie juga saat ini sedang sibuk pastinya ... atau sedang dibuat sibuk oleh Kak Cornelia hahaha ... intinya meski tinggal di Mundclariss tidak ada juga yang bisa kita awasi karena kamera yang di Desa Kimber sudah dilepas." kata Tan.
"Dan belum ada kabar dari Nek Hylmi dan polisi itu kalau akan sadarkan diri ...." kata Tom yang ekspresinya langsung berubah.
"Apa tidak terlalu cepat melepas kameranya? bukankah kau sendiri yang bilang kalau ada pola yang dimaksud. Kalau begitu bagaimanapun juga pasti jumlah 5 korban itu harus terpenuhi. Tapi bagaimana jika itu memakan waktu lama dan Nek Hylmi atau polisi itu tetap hidup?" kata Teo.
"Oooooow kau sudah meningkat ...." Tom memuji, "Makanya kamera yang tadinya dipasang di Desa Kimber kini dipasang di ruangan Nek Hylmi dan polisi itu." kata Tom yang pada akhirnya membuat Teo jengkel juga karena sudah diangkat tinggi-tinggi kemudian dijatuhkan.
"Rumahnya disini ...." kata Tan berhenti berjalan dan berhenti dihadapan sebuah pohon. Tapi entah beberapa kali mengetuk pohon itu, tidak ada tanda-tanda juga kalau yang punya rumah ada disana. Pohon itu juga tidak berniat memberitahu apapun karena itu adalah sebuah pengkhianatan jika membiarkan orang lain masuk tanpa seijin tuan rumah.
"Yang kalian maksud adalah tikus putih besar kan?" tanya Felix.
"Ya, kau melihat sesuatu? dia memang bilang kalau punya perisai pelindung sehingga memungkinkan untuk menyembunyikan diri." kata Tan.
"Aku melihat sebuah jejak!" kata Felix mulai memimpin jalan menuju sebuah pegunungan.
"Oh, tidak! kita bahkan tidak memakai sepatu gunung dan celana yang kupakai ini tidak cocok untuk mendaki ...." Teo terus mengeluh tapi kakinya tidak berhenti melangkah. Bahkan Tan dan Tom ada dibelakangnya membuat keadaan jelas bahwa Teo tidaklah benar mengeluh.
"Tunggu disini!" kata Felix menghentikan mereka untuk melangkah lagi.
"Ada apa?" tanya Tom.
Felix memanggil Marsden, "Kalian tunggu di dalam! udara akan disaring jika masuk kesana karena gerbangku aman dari segala hal berbahaya." kata Felix memerintahkan untuk masuk ke dalam lorong gerbangnya.
"Kau yakin tidak apa-apa sendirian? yakin kau tidak akan dapat dampak buruk?" tanya Tan.
"Aku punya Veneormi, saat ini saja rasanya dihidung dan mulutku ada yang mengganjal ... pastinya dia sudah membuat pelindung untuk dirinya sendiri yang otomatis itu berlaku untukku juga." kata Felix.
"Terkadang ada saat dimana aku ingin Veneormi juga ...." kata Teo.
"Jangan bodoh! kau tidak lihat bagaimana Veneormi menyiksa Felix? itu bisa membunuh kita." kata Tom.
"Hanya Felix lah yang bisa merubah Veneormi dari kelemahan menjadi kekuatan." kata Tan.
Tiga Kembar masuk ke dalam lorong gerbang dan menunggu sementara Felix mulai mendekati seseorang yang sedang menangis di depan sebuah kuburan.
"Kau yang namanya Osborn?" tanya Felix.
Osborn berhenti menangis dan berbalik melihat sosok Felix yang saat ini berdiri seperti satu bingkai dengan bulan purnama di langit, "Tuan Muda ... iya, saya Osborn."
"Aku minta maaf, kemarin ... maksudku satu jam yang lalu aku datang membawa mereka pergi tanpa berpamitan atau menyapamu dulu." kata Felix.
"Keputusan benar Tuan Muda, bahkan masker saja sudah tidak mempan ... kupikir karena mereka manusia makanya mereka akan kebal tapi ternyata menaruh pasien Pesmoresnon di sebuah kamar akan membuat penyakit itu menumpuk dan saat dibuka akan langsung meledak keluar seperti bom." kata Osborn yang disertai batuk.
"Sepertinya kau sudah terkena penyakit itu ...." kata Felix mulai duduk disamping Osborn, "Kau yakin ini benar penyakit itu?" tanya Felix menyentuh kuburan itu dan kuburan yang tadinya tanah itu berubah bentuk menjadi mewah dengan batu emerald hijau.
"Sepertinya bukan Tuan Muda ... tapi lebih dari itu. Penyakit ini lebih berbahaya, lebih ganas dari sebelumnya." jawab Osborn.
...-BERSAMBUNG-...