
Cain mulai tertawa melihat pisau mainan itu, "Sudah kuduga!" tidak mungkin Felix melukai seseorang terlebih orang yang dikenalnya. Itu dilakukan semata-mata hanya untuk menarik hantu pelindung Luna agar datang.
"Tapi kenapa kau tiba-tiba saja melakukan itu tanpa rencana dan tanpa memberitahuku sama sekali?!" kata Cain protes.
"Aku sudah lama menunggu moment ini dan kebetulan saja, jadi tidak ingin kulewatkan begitu saja ...." kata Felix mulai melepaskan tangan hantu itu, "Kau siapa?" tanya Felix pada hantu laki-laki usia sekitaran awal 30an itu.
"Rasanya saya tidak harus menjawab! walaupun anda Caelvita, tidak selamanya semua hal termasuk hal pribadi seseorang anda ketahui semua!" jawab hantu itu tegas.
"Pribadi? memangnya kau siapanya Kak Luna?" tanya Cain.
"Bukan siapa-siapa!" jawab hantu itu dan mulai ingin pergi dan kakinya sudah tidak menyentuh tanah bersiap untuk terbang. Tapi dari dalam tanah tiba-tiba tumbuh sebuah tanaman yang dipenuhi oleh duri dan menarik kaki hantu itu untuk turun dan hantu itu tersungkur ke tanah. Setelah itu, tubuh hantu itu dipenuhi tanaman berduri yang mengikatnya. Semakin hantu itu bergerak maka tanaman itu akan semakin erat mengikat.
Cain tidak tahu Felix punya kekuatan seperti itu dan kaget melihat ekspresi Felix yang terlihat sangat marah. Sisi lain dari Felix yang belum pernah Cain lihat dari Felix yang menyakiti seseorang sampai seserius ini.
"Kau tahu hal kedua yang paling kubenci di dunia ini ... bertanya sesuatu dengan hal yang sama dua kali! itu menyakiti harga diriku karena tidak mendapatkan jawaban pada percobaan pertama dan mau tidak mau harus bertanya lagi karena aku memang butuh jawaban itu ...." perkataan Felix yang membuat ikatan tanaman itu semakin erat, "Aku tanya sekali lagi! SIAPA KAU?!" sebuah petir menyambar di langit bemfapirav, "Kurang ajar sekali kau! ini pertama dan terakhir kalinya aku bertanya yang ketiga kalinya pada seseorang!"
Sebuah hujan turun tapi hanya mengenai hantu itu. Felix memang punya kepribadian yang kasar diluar tapi didalam Felix sangatlah lembut. Begitu yang selam ini Cain ketahui, tapi saat ini Cain merasa asing dengan Felix yang ada disampingnya.
"Apa ini kepribadian Felix sesungguhnya?" tanya Cain dalam hati.
"Saya adalah pasien dari Luna!" kata hantu itu yang kelihatan sangat kesakitan, "Bagaimana saya bisa merasakan rasa sakit lagi seperti ini?" tanya hantu itu terlihat kebingungan.
Felix mulai terlihat tenang mendengar perkataan hantu itu yang katanya adalah pasien Luna dan mulai melonggarkan tanaman berduri itu.
"Aku membuat tubuhmu nampak di Mundclariss tadi! kau tidak ingat? jika aku melakukan itu, hantu akan mendapatkan tubuh palsu sementara dan bisa merasakan rasa sakit lagi ...." kata Felix dan perlahan hujan yang menerpa hantu itu mulai reda, "Jadi katakan siapa kau dan apa alasanmu melindungi?"
"Bukan sisi baru Felix!" kata Cain dalam hati mulai tersenyum, "Tapi hanya kekhawatiran semata dengan Kak Luna! apa Felix terlihat seperti ini jika mengkawatirkanku? atau ini karena Kak Luna? padahal Felix selalu mengacuhkan Kak Luna ...."
"Nama saya Zayden, saat hidup sebagai manusia dan mengalami cedera kepala berat akibat kecelakaan. Saya hampir tidak pernah sadarkan diri setelah kecelakaan terjadi dan saat akhirnya saya sadar, pemandangan yang saya lihat adalah keluarga saya yang tidak berhenti menangis karena keadaan saya yang sangat parah. Rasa sakit yang saya rasakan bahkan tidak sebanding dengan rasa bersalah karena membuat keluarga saya khawatir. Maka saat itu saya meminta pada Luna untuk mempercepat kematian saya ...."
"Euthanasia? jadi karena itu Kak Luna dipecat dan lisensi perawatnya dicabut?" tanya Cain yang tidak pernah mendapat cerita lengkap dari Luna sendiri.
Felix melepaskan ikatan pada Zayden dan tanaman itu kembali ke dalam tanah, "Kau hanya memikirkan dirimu sendiri dan membuat orang lain menerima hukuman atas keegoisanmu itu ...."
"Maka dari itu saya rela menyerahkan kehidupan saya sebagai hantu hanya untuk melindungi Luna!" kata Zayden.
"Enak sekali kau! sekarang sudah terbebas dari rasa bersalah dan rasa sakit ... tapi orang yang menolongmu dari itu semua tetap hidup dan menanggung tanggung jawab dari orang egois sepertimu!" kata Felix emosi.
"Luna orang baik, selama saya meninggal ... saya tidak pernah melihat atau mendengarnya menyesal karena melakukan itu!" kata Zayden.
Felix hanya bisa berdecak kesal dan mulai menghilang. Cain juga kembali ke Mundclariss dan mengejar Felix yang menuju halte bus.
"Sudah jam 12 siang!" kata Cain mulai duduk disamping Felix, "Kita tinggal selama 30 menit di Bemfapirav dan melewatkan 6 jam waktu Mundclariss ...."
"Sebenarnya umur kita sekarang berapa? hahaha ... karena selalu bolak-balik Bemfapirav atau Mundebris ...." lanjut Cain yang ingin membuat Felix tertawa tapi gagal.
***
Sesampainya Felix dan Cain di gerbang panti langsung disambut oleh tiga kembar.
"Kalian bertengkar lagi?" tanya Tan melihat Felix dan Cain terlihat canggung.
"Tapi suasana ini menunjukkan ada sesuatu!" kata Tan yang terus memperhatikan.
"Sudah, ayo masuk ... kita makan siang!" ajak Teo.
"Setelah ini ayo kita pergi ke Rumah Pohon Mertie untuk bermain!" kata Tom yang terlihat bersemangat ingin menikmati liburan.
"Mau apa kita kesana?" tanya Cain malas.
"Memangnya harus ada alasan ya?" tanya Teo polos.
Tom mulai tertawa dan merangkul Cain untuk ditarik cepat masuk ke dalam panti.
"Ada apa?" tanya Tan pada Felix.
"Tidak apa-apa!" jawab Felix.
"Ohya? tapi wajahmu dengan jelas mengatakan Aku sedang jengkel!" kata Tan sambil menulis di depan wajah Felix.
"Begitu ya? kau tidak membaca kalimat dibawahnya?" tanya Felix.
"Eh?" Tan bingung.
"Sedang Tidak Ingin Diganggu!" Felix dengan menulis sendiri di depan wajahnya.
Tan tertawa melihat itu dan mulai merangkul Felix dan masuk ke dalam panti, "Sejak kapan kau jadi pintar bercanda begini!"
"Aku sedang tidak bercanda!" kata Felix dengan wajah datar.
"Ya ... ya ... ya!" kata Tan mengalah.
Mereka berlima memasuki ruang makan dan langsung mengambil makanan di depan dapur yang sudah disediakan makanan untuk diambil sendiri-sendiri.
"Makan yang banyak!" kata Luna.
"Dasar bodoh!" kata Felix kemudian meletakkan nampan makannya begitu saja dan mulai pergi.
Cain, Tan, Teo dan Tom kaget mendengar perkataan Felix itu yang mengatai Luna.
"Kau mau kemana?" teriak Cain.
"Kau tidak mau makan?" teriak Teo dan Tom.
"Maaf kak, sepertinya Felix sedang tidak dalam suasana hati yang baik!" kata Tan.
"Jangan khawatir, anak itu perkataannya memang terdengar menyakitkan tapi dia tidak sungguh-sungguh mengatakan itu!" kata Luna sambil tersenyum.
"Katanya sebelum aku bertemu Felix, Kak Luna memang sudah kenal dengan Felix dan Kak Luna juga yang merawat saat Felix habis mengalami kebakaran di panti lamanya ... tapi aku tidak tahu kalau Felix begitu peduli dan perhatian dengan Kak Luna seperti ini ...." kata Cain dalam hati
...-BERSAMBUNG-...