UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.295 - Wonder Woman



"Akan terjadi sesuatu yang besar disini ...." kata Felix membuat Tom panik.


"Tapi dimana dia?" tanya Tom melihat sekitar, "Tan, Teo! segera kemari! kami perlu bantuan!" Tom segera menghubungi kedua saudaranya.


"Ada apa?" tanya Teo sedang bergulat dengan kadal biru yang baru saja diangkapnya, "Jangan ganggu! aku sedang sibuk!"


"Awas lepas!" teriak Tan.


"Jangan hanya diam, carikan aku benda untuk menyimpannya!" Teo balik berteriak.


"Ow, em ... iya ... ok tunggu!" Tan mulai sibuk mencari di dalam tasnya.


Tan dan Teo sedang sibuk hingga tidak peduli dan mengabaikan panggilan Tom.


"Dia disana, Tom!" kata Felix menunjukkan arah Ditte berada.


"Tapi ... bagaimana dia bisa tahu kalau akan ada Iblis kesini? maksudku kalau memang hanya kebetulan, bagaimana bisa hari dan jamnya sangat akurat begini?" kata Tom curiga pada Si Pemburu Iblis.


"Tenang saja, ada polisi disini yang menyamar menjadi penduduk desa biasa. Perempuan yang tadi tidak mau berhenti bernyanyi itu dan laki-laki yang memanggang daging, mereka berdua adalah polisi." kata Felix.


"Tenang saja? menurutmu aku bisa tenang saja?" tanya Tom heboh.


"Kau sedang berbicara dengan siapa? kau tahu ... putraku juga sering berbicara sendiri waktu kecil dengan teman imajinasinya ... katanya ...." Nek Hylmi datang disamping Tom membawakan tambahan makanan.


"Nek, apa pestanya belum selesai? sampai jam berapa?" tanya Tom.


"Kau setuju, dan menyebutnya pesta tapi kau bertanya soal kapan selesai?! apa maksudmu Tom?! pesta itu tidak mengenal waktu." jawab Nek Hylmi dengan nada ceria dan mulai meninggalkan Tom karena dipanggil oleh penduduk desa yang sedang asyik bermain kartu.


Tom memasang ekspresi bengong setelah mendengar perkatan Nek Hylmi.


"Tenang, Tom!" kata Felix.


"Menurutmu aku bisa tenang hanya karena ada polisi?! kau sudah gila? kita semua bisa saja mati disini malam ini! Ditte yang kita bicarakan ini, bukan sekedar Iblis biasa Felix! kau tahu betul itu!" kata Tom terlihat tidak bisa diam. Untuk Tom yang memiliki kepribadian yang selalu menilai dan memikirkan hal secara logis, tentu saja saat ini dia sedang sangat panik. Mengingat hal yang sangat mungkin terjadi adalah hal buruk jika dipikirkan secara realistis.


"Biarkan saja Teo dan Tan, kita bisa menghentikannya berdua saja." kata Felix yang lebih tidak masuk akal lagi rasanya bagi Tom.


"Kau benar-benar sedang bercanda ya?!" Tom tertawa tidak habis pikir.


"Walau dia datang, akan terlambat sekitar tiga jam ... apa yang kau harapkan?" kata Felix.


Ditte terlihat sedang menyeringai di bawah nyala lampu jalan. Meski sedang berada di bawah lampu tapi tubuhnya tidak terpengaruh sama sekali dan tetap terlihat gelap seperti bayangan hitam.


"Tom?" Felix menoleh tapi Tom sudah tidak ada disampingnya dan terlihat sudah berada di samping Pemburu Iblis itu. Felix juga ikut serta bergabung menguping pembicaraan.


"Siapa yang memberitahumu untuk kesini?" Tom langsung to the point.


Si Pemburu Iblis bersiap menarik senjata yang terbungkus oleh kain tepat disampingnya tapi Tom menghentikan tangan Pemburu Iblis itu.


"Siapa kau? kau yang dirasuki Iblis?" tanya Si Pemburu Iblis.


"Mana mungkin ...." Tom merasa terhina.


"Bisa saja!" kata Felix membuat kesal Tom.


"Diam! kau tidak lihat aku sedang melakukan pembicaraan yang seharusnya kau lakukan daritadi karena duluan datang tapi kau hanya diam saja. Percuma kau datang lebih awal ...." kata Tom membuat Si Pemburu Iblis makin curiga karena Tom berbicara dengan udara.


"Biarkan aku menjelaskannya ...." Tom menahan agar Pemburu Iblis itu tidak membuka kain pembungkus senjatanya.


"Dia ingin membunuhmu ...." kata Felix mengatakan apa yang dipikirkan oleh Si Pemburu Iblis.


"Kau sama sekali tidak membantu!" kata Tom sebal.


"Mungkin saja ...." kata Tom bercanda, "Maaf, maksudku ... begini ... tolong dengarkan!" hampir saja Tom mati konyol karena bercanda. Si Pemburu Iblis sudah menarik setengah pedangnya.


"Cepat katakan!" kata Si Pemburu Iblis mengancam.


"Aku bertemu dengan seseorang dari kelompok ... suku kah? pokoknya semacam itu ... pria tua yang membunuh seseorang karena katanya ada Iblis di dalam tubuhnya dan menurutnya itu adalah tugas yang harus dilakukan." kata Tom mulai membuat Si Pemburu Iblis kelihatan tenang.


"Kau anak yang bertemu Trevon? aku menjenguknya di penjara dan dia bilang kalau bertemu empat orang anak yang kemungkinan sama seperti kami ...." Pemburu Iblis itu mulai memasukkan kembali pedangnya.


"Ya, kami ... em, semacam itulah! jadi dimana kau mendapat informasi kalau disini akan ada Iblis?" tanya Tom.


"Jangan bicara informal padaku! aku ini lebih tua belasan tahun darimu!" kata Si Pemburu Iblis.


"Baiklah ... kak?" tanya Tom.


"Antonia."


"Bukankah nama itu terlalu laki-laki padahal kakak perempuan ...." kata Tom.


"Antonia adalah nama perempuan, hanya saja karena banyak laki-laki yang memakainya jadi orang-orang lupa bahwa itu adalah nama perempuan."


"Aku tidak yakin soal itu ...." kata Tom tidak percaya.


"Apa? hahh ... baiklah ... aku tidak peduli! dengar, aku kesini karena mendapat misi dari dunia kegelapan bahwa akan ada Iblis tingkat tinggi disini. Itu adalah kesempatan emas untuk membunuhnya!" kata Antonia.


Felix yang mendengar itu semakin bingung karena tidak mendapatkan apa-apa sama sekali setelah membaca ingatannya soal informasi itu.


"Kau sendiri dari keturunan mana? tidak mungkin Aluias kan? hanya kami yang berhak menangkap, keturunan lainnya tidak berhak sama sekali! jangan bilang kau keturunan Sanguiber?!" kata Antonia.


"Ya ... dia tahu banyak tentang Mundebris." kata Felix melihat Tom yang sedang menatapnya.


"Kenapa kau tidak bilang?" tanya Tom.


"Memangnya itu penting?" Felix merasa tidak perlu membagikan semua hal. Inti dari bisa membaca pikiran adalah untuk tidak mengatakan semua yang diketahui. Seseorang punya pirvacy dan rahasia masing-masing. Jadi Felix harus memilah mana yang perlu dikatakan saja untuk menghormati.


"Kau sedang berbicara dengan siapa?" tanya Antonia.


"Dengar! disini memang sedang ada Iblis tingkat tinggi, tapi kami baru tahu beberapa menit yang lalu ... jadi, kami perlu tahu dimana Kak Antonia mendapat informasi ini?" tanya Tom.


"Di kuil ada kotak surat yang terhubung dengan dunia kegelapan, disitulah kami mendapat informasi." kata Felix membaca pikiran Antonia tapi Tom akhirnya harusnya mendengarnya dua kali karena Antonia baru mengatakannya setelah Felix selesai.


"Aku tidak bisa membaca ingatannya soal kuil yang dimaksud." kata Felix.


"Dia mengetahui lumayan banyak tapi sepertinya tidak tahu soal Alvauden ...." kata Tom lewat pikiran pada Felix, "Aku disini tidak sendirian, aku sedang bersama dengan seseorang percaya atau tidak percaya, kami sama seperti Kak Antonia ingin menghentikan Iblis itu juga ... menghentikan disini dalam artian bukan membunuh. Jadi jika ada yang dirasuki oleh Iblis, apapun yang terjadi jangan dibunuh! kami yang akan melakukan sesuatu." Tom menjelaskan dengan baik pada Antonia.


"Kau akan mati, jangan salahkan aku! cara terbaik menghentikan Iblis adalah ketika berada di dalam tubuh manusia." kata Antonia.


"Dia benar!" kata Felix.


Tom sebal tapi tetap menahan emosinya, "Itu benar, tapi maaf ... aku tidak mengizinkan itu terjadi. Keselamatan manusia adalah hal yang utama."


"Menghentikan Iblis adalah hal yang utama. Kesempatan ini tidak akan aku sia-siakan. Kau bisa melihat Iblis itu? katakan dimana dia sekarang?" kata Antonia.


"Ow, tidak usah! akan aku temukan sendiri setelah dia masuk kedalam tubuh manusia. Aku tidak tahu kau keturunan mana tapi kau masih kecil untuk mengemban tugas ini, jadi pergilah sebelum terlambat. Jangan menghalangiku!" Antonia berdiri dengan pedang ditangannya yang sudah tidak terbungkus kain tapi tetap tersembunyi.


"Dia pikir, dia itu wonder woman atau apa?!" kata Tom sebal.


...-BERSAMBUNG-...