
Mertie kini ditarik oleh polisi untuk pergi darisana. Karena Mertie terlihat hanya merupakan anak kecil maka polisi sepertinya tidak terlalu memperhatikan dan menjaganya dengan ketat karena pasti sedang bersama orangtuanya maka dari itu Mertie bisa lolos masuk ke lokasi kejadian.
Roh Ted terlihat memasang senyum miring saat menyadari Mertie dapat melihatnya. Membuat Mertie semakin tidak bisa membendung amarahnya dan berteriak kencang sambil menangis tersedu-sedu.
Tak lama seorang Iblis Buaya seperti datang dari langit langsung mendarat disamping Ted. Iblis buaya itu memegang bahu Ted dan kemudian mulai menghilang bersama.
"Gawat!" kata Cain, "Waktu jadi manusia dia banyak membunuh manusia walau dengan keterbatasan kekuatan manusia yang bisa dianggap tidaklah terlalu kuat. Tapi sekarang dia menjadi Zewhit ... aku tidak bisa membayangkan apa yang bisa dilakukannya ...." Cain dengan wajah pucat entah karena masih pengaruh teleportasi tadi atau karena panik mengetahui Ted kini bersama seorang iblis.
Felix tidak bisa bertanya karena melihat Cain dengan wajah seputih salju itu dan akhirnya hanya bisa membaca pikiran Cain untuk bisa mendapat jawaban tapi yang bisa dilihat Felix hanya saat pertemuan Cain dan iblis buaya itu tanpa bisa mendengar apa yang mereka bicarakan.
"Tapi melihat reaksi Ted saat melihat iblis buaya itu, mereka bukanlah pertama kalinya bertemu ... bagaimana bisa?" kata Felix.
"Itu tandanya mereka benar-benar sudah melakukan perjanjian. Disaat Ted membunuh, iblis itu akan datang mengambil roh." jawab Cain.
"Apa? perjanjian dengan iblis? dan kini Ted akan menjadi Malexpir! seseorang yang paling buruk akan menjadi Malexpir ... aku tidak bisa membayangkan kekacauan apa yang akan dilakukannya." Felix menepuk kepalanya.
Goldwin yang hanya diam tadinya melihat mereka berdua yang terlihat panik sekarang membawa Felix dan Cain masuk ke Bemfapirav.
"Kenapa kau membawa kami kesini?" tanya Cain.
"Kau tidak sadar ya! tadi mereka masuk ke Bemfapirav!" jawab Goldwin kesal karena harus menjelaskan sesuatu yang sudah jelas-jelas terlihat tadi.
"Aku lihat! tapi kan tidak mungkin mereka akan disini terus!" balas Cain lebih kesal.
Goldwin menghela napas panjang untuk menenangkan dirinya agar tidak terbawa suasana untuk ikut dalam pertengkaran Cain, "Disitu!" tunjuk Goldwin.
"Apa?!" Cain dengan nada tinggi.
"Ada sebuah jejak!" kata Felix yang mulai berjalan mendekati tempat Ted dan iblis buaya tadi menghilang.
"Ini jejak mereka?" tanya Cain.
"Kau bisa melihatnya?" Goldwin dengan hebohnya.
"Tentu saja! kau pikir aku buta!" sahut Cain sewot tapi melihat ekspresi Goldwin akhirnya Cain mengerti, "Apa tidak semua orang bisa melihat ini?"
"Bahkan aku tidak bisa melihatnya. Aku hanya ingin memperlihatkannya pada Tuan Muda Felix untuk memastikan apa benar ada yang tertinggal ...." Goldwin dengan wajah melongo.
"Kau juga tidak bisa melihat ini?" tanya Cain.
"Tentu saja, hanya Caelvita dan ...." Goldwin tidak berhenti memandang Cain, "Jadi ... kau ... kau ... juga ... adalah ...." Goldwin mulai menunduk berpikir, "Sekarang mulai jelas jika memang benar begitu tapi bagaimana ini ...." Goldwin terlihat gelisah, jika saja ia bisa keluar keringat maka saat ini ia sudah bermandikan keringat.
"Memangnya kenapa?" Felix mulai ingin membaca pikiran Goldwin.
"Tuan Muda tidak akan bisa membaca pikiranku!" kata Goldwin masih dengan wajah gelisah bahkan tidak memperhatikan Felix saat menjawab, "Aku sudah memperkuat segel pikiran dengan level tertinggi ...." sambungnya.
"Jadi karena itu kau selalu saja terlambat kalau aku dalam bahaya!" kata Cain kesal.
"Persiapan untuk misi masa depan, lagipula sekarang masih belum berbahaya sama sekali!" kata Goldwin.
"Belum berbahaya katamu? aku hampir mati saat diculik Ted!" balas Felix.
"Hahh ... ini belum seberapa, dimasa depan akan lebih dan sangat berbahaya ... makanya sekarang aku harus bisa berlatih dan memperkuat kekuatan secepatnya sebelum masa itu datang!" balas Goldwin, "Lagipula kau lupa ya kalau ada perbedaan waktu di Mundebris dan Mundclariss? walau sudah hampir sehari berlalu bagimu aku belum satu jam berlatih kau sudah memanggil ... hahh ... dasar!"
Felix jadi tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan Cain itu. Goldwin dengan wajah datarnya menyipitkan mata.
"Dia tidak tahu?" tanya Felix.
"Aku tidak memberitahunya karena segel pikirannya masih seperti anak bayi baru lahir!" jawab Goldwin.
"Apa? bayi baru lahir? aku tidak lama lagi 11 tahun tahu! kata Cain.
"Anak 11 tahun di Mundebris sudah punya segel level menengah tahu!" balas Goldwin.
"Jadi begini rasanya Tan kalau melihat aku dan Cain bertengkar ...." kata Felix dalam hati, "Sudah ... sudah, jadi bagaimana cara melacak jejak ini?" tanya Felix.
"Bagaimana rupa jejaknya Tuan Muda? coba jelaskan?" tanya Goldwin.
"Jejak kaki yang kecil kemungkinan adalah Ted berwarna putih sedangkan jejak kaki buaya berwarna jingga ... eh kenapa terlihat memudar?" kata Felix yang sedari tadi tidak berhenti memandangi jejak kaki itu.
"Memangnya jejak cepat sekali memudar Tuan Muda! selain warna apa tidak ada lagi?" kata Goldwin.
"Ada sedikit titik berwarna-warni!" kata Felix melihat lebih dekat, "Eh!" Felix mulai sadar, begitupun Cain.
"Kastil yang ada disisi lain sekolah kan memiliki pohon berwarna-warni!" sahut Cain.
"Berarti sudah jelas kalau tempat perkumpulan Setengah Sanguiber dan tempat Perkumpulan Iblis semuanya ada disisi lain sekolah! Musuh berada di satu tempat sekaligus ... dan yang lebih mencengangkan lagi kita setiap hari ada disisi lain Mundclariss ... tiap hari kita selalu berada di sarang musuh." kata Felix.
"Dan saya sudah menanyakan hal ini pada Banks, kalau tanaman pohon hias itu sebenarnya dapat berfungsi sama dengan buah darah untuk menyembunyikan tempat Setengah Sanguiber dan juga sebagai pelindung paling aman bagi sebuah rumah!" kata Goldwin menjelaskan.
"Paling aman? tapi dengan mudahnya Felix menebang pohonnya? bagaimana sih ...." Cain dengan tertawa.
"Tidak ada yang tidak bisa ditebas oleh pedang Caelvita!" sahut Goldwin.
"Berarti sekarang iblis yang disana sudah menyadari kalau aku ... Caelvita pernah datang kesana!" kata Felix.
Goldwin sangat menyesal untuk menjawab karena saat itu tidak melarang Felix untuk menggunakan pedangnya, "Andai saja saat itu saya tahu ... saya harus lebih banyak belajar lagi!" Goldwin tidak tahu kalau harus bekerja bersama dengan Leaure sejati seperti Cain yang juga Alvauden dan juga dengan Caelvita. Padahal selama ini terus mengeluh karena tidak kunjung mendapat partner kerja. Akhirnya saat mendapat partner malah dengan orang-orang luar biasa. Goldwin jadi serba salah antara senang mendapat Tuan dan juga gelisah karena harus mendapat Tuan yang memiliki jam Junghans dan terlebih lagi seorang Alvauden serta rahasia lebih mencengankan lainnya dari Cain, "Aku bahkan tidak kaget jika ada rahasia lainnya lagi ...."
"Apa hanya perasaanku saja atau Setengah Sanguiber memang bekerjasama dengan Iblis agar bisa membangun perkumpulan di Bemfapirav disaat iblis menanam tanaman pelindung di Mundebris?" kata Cain.
Goldwin jadi sakit kepala, "Sepertinya kali ini akan lebih dari peperangan sebelum-sebelumnya dan lebih dari pertumpahan darah ...."
Felix menggigit jarinya dan memanggil nama Duarte. Kelelawar kecil berwarna merah itu langsung datang di atas tangan Felix dan menjilati darah Felix setelah datang.
"Duarte!" kata Felix melihat Duarte yang terlihat asik menjilati darah Felix.
"I ... ya ... Tuan Muda!" jawab Duarte setelah selesai menjilati darah pada ujung jari Felix.
"Sepertinya akan terlalu terlambat kalau harus menunggu libur musim dingin ... ayo kita ke Istana Sanguiber sekarang!" kata Felix membuat Duarte jadi cegukan.
"Kok tiba-tiba?" Duarte masih tidak berhenti cegukan.
"Kenapa? orang yang mengutusmu itu sedang ada disana ya?" kata Felix dengan menyeringai.
...-BERSAMBUNG-...