
Cain berhasil selamat dan dilihatnya Ted sudah diikat oleh Teo dan Tom, "Apa yang kalian lakukan disini?" tanya Cain terkejut melihat tiga kembar.
"Kau ini jangan jadi sok jagoan dan melakukan hal keren sendirian!" kata Teo.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Tan ketika melihat luka dikepala Cain.
"Ternyata disini salon ya?!" kata Tom menggoda potongan rambut Cain.
Sementara Cain terus digoda oleh Teo dan Tom, Felix mulai mengeluarkan Mertie dari kotak kaca, "Sekali lagi kau membuat Cain dalam bahaya ... aku tidak akan tinggal diam!" kata Felix berbisik saat Mertie keluar dari kotak kaca.
Mertie hanya memasang wajah datar dan tidak menjawab.
"Akan lebih baik jika kau memanfaatkan aku saja!" kata Felix lagi.
"Akan lebih baik seandainya kau cepat sadarkan diri!" balas Mertie sarkastik.
"Ayo kita keluar dari sini!" seru Teo dan Tom menarik Ted dengan cara diseret.
"Ayo!" ajak Cain canggung.
Rencana Cain hanya untuk bisa mengurung Ted di dalam ruangan rahasia sampai polisi datang tapi jika ternyata tidak semudah yang ia bayangkan untuk menejbak Ted. Jika tidak da Felix dan Tiga Kembar yang datang ia sudah berenang di lautan api tadi.
Mertie langsung mengambil tas ranselnya kemudian membuka laptop dan jari-jarinya kini sudah sibuk.
"Kau sedang melakukan apa? kita tidak punya banyak waktu! ayo cepat!" kata Tan melihat jam tangannya yang sudah hampir jam 6 pagi.
Mertie akhirnya menutup laptop dan bergegas ikut keluar sebelum banyak karyawan perusahaan yang mulai datang. Mereka berenam berhasil keluar dari perusahaan dengan Mertie mengganti view cctv dengan view palsu yang hanya memperlihatkan foto saja dan tidak merekam mereka.
Setelah berhasil keluar dan kini mereka berdiri di sebuah taman tepat didepan perusahaan Carlton berada. Di depan perusahaan banyak wartawan yang datang karena umpan yang dibuat Mertie.
Mertie kemudian mengeluarkan laptopnya lagi dan menarik napas hendak menekan enter tapi dihadang Cain, "Kau yakin ini adalah pilihan tepat?" tanya Cain.
"Bukankah ini idemu? kenapa kau jadi kasihan begini dengan mereka?" Mertie mulai marah.
"Tapi ini terlalu kejam ... Carlton Group akan langsung bangkrut, bukan hanya perusahaan saja tapi coba pikirkan orang-orang yang terkena dampaknya? aku sedang tidak membicarakan keluarga Carlton tapi para karyawan yang akan kehilangan pekerjaan dan terlebih lagi soal ...." Cain mulai merasa iba.
"Sudah jelas-jelas aku memberi mereka waktu!" kata Mertie dingin.
"Tapi ini baru jam 6 pagi ... bisa kau beri dia waktu sedikit lagi!" kata Cain.
"Cain!" kata Felix mulai menarik Cain menjauh dari Mertie, "Biarkan saja!" Felix mulai berbicara pada Cain.
"Kau tidak tahu saja apa yang akan dia lakukan ...." kata Cain.
"Aku tahu! saat ini Mertie sedang dipenuhi emosi yang meledak-ledak ... sangat mudah membaca pikiran seseorang saat seseorang tersebut sudah tidak bisa mengontrol emosinya sendiri ...." Felix mulai menyuruh Cain untuk duduk tenang saja.
"Lakukan!" perintah Felix pada Mertie.
"Sudah daritadi!" jawab Mertie santai.
Teo dan Tom langsung melihat smartphonenya yang tidak berhenti berbunyi tanda notifikasi group chat kelas. Tan dan Cain mulai ikut duduk disamping Felix dan Mertie tapi Cain langsung mengambil smartphone yang ada disaku Felix saat Felix sedang sibuk melihat berita di laptop Mertie bersama Tan.
Mertie mengungkap semua rahasia Carlton Group dipostingan Media Sosial, "Ini belum seberapa ... tunggu kejutan lainnya, tertanda Hantu Merah Muda!" Tan membaca catatan diakhir postingan.
"Memangnya ada apa lagi?" tanya Teo datang mendekat.
"Cukup sampai disini saja!" kata Cain.
Mertie tidak menuruti Cain dan hanya langsung melanjutkan rencana keduanya. Semua benda kecil yang berhasil dipasangnya bersama Cain yang berfungsi sebagai kamera dan juga penyadap suara ternyata memliki fungsi lain. Benda kecil itu terjatuh bersamaan dengan dinding perusahaan juga yang mulai retak dan tak lama lubang besar pada dinding terbentuk memunculkan sesuatu dibalik tembok. Karyawan yang melihat itu langsung berteriak histeris dan berlari keluar perusahaan, "Ada apa ... ada apa?" tanya wartawan penasaran.
"Ada tulang manusia dibalik dinding perusahaan!" teriak karyawan itu histeris membuat para wartawan langsung berlari masuk kedalam perusahaan. Para wartawan berlomba-lomba meliput berita perdana dan para kemanan yang hanya beberapa orang tidak bisa menghentikan banyaknya wartawan yang sangat dipenuhi semangat.
"Ditemukan sebuah tulang dan juga jasad sesorang yang masih belum lama ini meninggal berada dibalik dinding Perusahaan Carlton!" kata seorang penyiar berita.
"Yang ada di perusahaan hanya sebagian saja ... banyak korban lainnya yang dagingnya dijual bersama daging sapi dan dinikmati oleh orang banyak tanpa mereka tahu ... banyak yang sudah menjadi kanibal tanpa mereka tidak sadari ...." kata Mertie tidak puas.
"Apa maksudnya?" tanya Teo dan Tom panik dan mulai merasa mual.
Sebuah mobil polisi pun langsung berdatangan dan salah satunya dapat dikenali oleh Cain dan Mertie, "Itu ayah Viola, dia polisi ya?" tanya Cain.
"Setelah ini dia pasti sudah mulai mempercayai kita ...." kata Mertie.
Cain mulai berteriak "Hentikan!" dia mulai pergi meninggalkan Felix, Mertie dan Tiga Kembar.
Jelas-jelas Cain sendiri yang menceritakan soal mayat yang berada di dinding perusahaan membuat Mertie segera ingin langsung meruntuhkan dinding itu sesegera mungkin. Cain mengiyakan saja tapi tidak tahu akan merasa bersalah setelah melakukannya.
"Ted Neilson Carlton yang kini terikat di ruang bawah tanah rahasia perusahaan Carlton adalah pelaku pembunuhan dan tidak semua korbannya ada dibalik dinding perusahaan tapi mungkin sudah ada diperut kalian! biasanya Ted mengambil kepala sebagai cinderemata dan tubuh korban ia potong-potong dan dijual bersama daging lainnya ... tertanda Hantu Merah Muda!" Mertie mulai menutup laptopnya dan menarik napas panjang dan hendak berjalan pergi juga.
"Kau mau kemana?" tanya Tan.
"Bertemu orangtuaku!" jawab Mertie dengan senyuman lebar dan mulai berlari lalu berhenti sejenak kemudian menekan sebuah remote, tak lama alarm kebakaran perusahaan Carlton langsung menyala dan air dari fire sprinkler mulai keluar membuat seluruh gedung perusahaan kini seperti diterpa hujan.
"Jadi selama ini yang dilakukannya adalah simulasi untuk hari ini?" tanya Tan tertawa tidak habis pikir.
Felix hanya mengangguk mengiyakan, "Dengan begini jejak kita didalam perusahaan akan hilang!"
"Bagaimana dia bisa membuat sebuah tembok hancur begitu?" tanya Teo memasang wajah melongo.
"Non-explosive demolition agents atau Pemecah batu atau beton tanpa peledakan, ia masukkan dalam sebuah alat lalu dipasang disebuah dinding dan perlahan alat itu seperti bor melubangi dinding kemudian menyemprotkan bahan ... butuh setidaknya satu hari lebih atau dua hari untuk bisa bekerja dan menghancurkan tembok dengan tanpa khawatir akan ada suara atau getaran ... sistem penghancur tembok yang sangat efektif!" kata Felix menjelaskan.
"Bagaimana kau bisa tahu itu?" tanya Tom bingung.
"Bukankah kau baru beberapa hari sadar dan bertengkar dengan Cain, tidak mungkin juga Cain memberitahumu soal informasi ini!" kata Tan diikuti Teo dan Tom juga menatap Felix penuh curiga.
Felix keceplosan karena terlalu keasyikan menjelaskan sampai lupa kalau informasi itu adalah hasil dari ingatan Cain yang mendengarkan dengan seksama penjelasan Mertie.
"Ah ... itu ... anu ...." Felix jadi terbata-bata.
"Kalian cuma pura-pura bertengkar kan sebenarnya ...." kata Teo membuat Felix lega dengan pemikiran polos Teo.
"Ayo kita cari Cain!" kata Felix mulai menghentikan kecurigaan.
Sementara itu Mertie begitu bahagia ingin segera bertemu dan memeluk kedua orangtuanya. Diceknya alamat baru yang diberikan kedua orangtuanya, "Sudah benar! tapi kenapa banyak sekali orang berkumpul?" kata Mertie mulai menerobos kerumunan, "Garis polisi?" Mertie langsung menjatuhkan smartphonenya dan berlari masuk ke rumah yang asing baginya itu.
Polisi berusaha menahan Mertie dan dua tandu yang ditutup kain putih kini lewat di depan matanya. Mertie langsung berlari memeriksa dan mulai jatuh pingsan, "Ayah ... Ibu!"
"Kau pikir aku tidak tahu kau siapa?" kata Ted yang kini sedang diborgol dan memikirkan Mertie yang sedang menangis melihat jasad kedua orangtuanya yang telah dibunuh oleh Ted, "Aku tidak akan dikalahkan dengan mudah! walau kalah kau harus lebih menderita dibanding aku ... aku akui kalah tapi aku tidak merasa kehilangan apa-apa ... tapi kau kini kehilangan segalanya! kemenanganmu tidak lain hanya kemenangan kosong ...." Ted menyeringai.
...-BERSAMBUNG-...