
Cain memasuki kamar dan Tiga Kembar berpura-pura tidur kembali. Walau begitu jantung Tan, Teo dan Tom belum berhenti berdegup karena masih kaget.
"Kenapa dia tidak datang juga?" tanya Cain dalam hati tetap mengkhawatirkan Felix padahal sedang marah. Akhirnya ia bangun dan turun mencari keberadaan Felix yang ternyata menggantikannya tidur di sofa. Dilihatnya lagi Veneormi yang masih sibuk bolak-balik di nadi Felix, Cain mencoba menekan Veneormi itu agar tidak bergerak tapi Isvintria Cain yang berwarna emas bersinar di ujung jari telunjuk yang menekan Veneormi itu membuatnya menjadi berukuran kecil, "Apa yang sudah kulakukan?" Cain panik, takutnya hal yang telah dilakukannya bisa membahayakan Felix.
"Tidak apa-apa!" kata Felix.
"Kau yakin?" tanya Cain.
"Em, tinggalkan aku sendiri ... sana tidur!" jawab Felix.
Cain menarik selimut yang berada di kaki Felix untuk menyelimuti Felix secara keseluruhan, "Baiklah ... tidurlah kalau begitu!" kata Cain mulai kembali ke kamar untuk tidur juga.
Jam 5.30 Cain dan Tiga Kembar mulai bangun bersamaan seakan ada jam alarm yang berbunyi. Tan yang duluan mandi sedangkan yang lainnya turun ke dapur untuk menyiapkan sarapan.
"Jam berapa dia datang?" tanya Tom.
"Jam tiga!" sahut Cain, "Biarkan saja dia tidur dulu ...." lanjutnya.
Felix sendiri masih tidur dengan pulasnya padahal biasanya dia juga sudah bangun di jam yang sama, "Itu menandakan bahwa dia benar sedang sakit ...." kata Cain dalam hati.
Tepat jam 6, Felix juga sudah mulai bangun tapi duduk kembali setelah tadinya berdiri tapi pusing, "Bagaimana bisa Dallas menahan rasa sakit ini dan tetap memaksakan diri ke sekolah ...." kata Felix dalam hati.
"Kau demam!" kata Tan memegang dahi Felix.
"Bukan aku yang demam, tapi tanganmu yang dingin karena sudah mandi!" kata Felix mengeles tidak ingin dianggap sakit.
"Kau tidak usah mandi dulu, cuci muka saja dan sikat gigi!" kata Cain.
Tan, Teo dan Tom saling bertatapan, "Padahal baru beberapa jam yang lalu mereka saling teriak ...." entah karena kembar atau bagaimana tapi pikiran mereka sama persis.
Di perjalanan menuju halte bus, mereka menunggu Felix untuk memberitahunya soal tukar kematian hari ini. Tiga Kembar tidak ingin memulai duluan tapi menunggu Felix yang memberitahunya.
Beda dengan Cain yang langsung bertanya, "Jadi jam berapa tukar kematian hari ini? siapa pemainnya?" tanya Cain blak-blakan membuat Tiga Kembar melongo.
"Nanti malam! pasangan ke 21, Adsila 11 tahun dan Wasim 25 tahun!" jawab Felix.
"Dijawab?!" kata Teo tidak percaya memandang Tan dan Tom. Mereka mengira seharusnya menunggu Felix yang duluan untuk mengatakan sendiri tapi ternyata mereka masih jauh dari kata mengenal Felix.
"Adsila yang seumuran dengan kita itu ya? yang sering duduk di depan taman bunga terus menggambar?" tanya Tan.
"Dulu dia dan keluarganya tidak percaya soal permainan tukar kematian saat surat pengumuman pemberitahuan pada semua pemain itu datang pun juga diabaikan tapi setelah kemarin beberapa video yang beredar di internet soal pembunuhan hewan itu, keluarganya sepertinya mulai percaya tapi bagaimanapun juga tetap tidak terlalu perduli ...." jawab Tom.
"Adsila dan keluarganya yang tidak melaksanakan misi menandakan surat misi tidaklah terlalu mempengaruhi soal tukar kematian pemain, melainkan hanyalah tipu muslihat Efrain untuk mengadu domba pemain dan menghancurkan mental kita!" kata Cain.
"Apa tidak seharusnya kita memilih Wasim saja?" tanya Teo tiba-tiba sudah menentukan pilihannya.
"Wasim adalah putra pertama dari lima bersaudara, dia yang menjadi tulang punggung keluarganya saat ini ... selama ini dia hanya lulus SMA dan langsung bekerja untuk menyekolahkan adik-adiknya ...." kata Teo.
"Bagaimana cerita soal Adsila? apa alasannya menjadikannya sebagai pemain?" tanya Cain pada Felix.
"Seakan kau sudah tahu saja alasan Wasim dipilih menjadi pemain ...." kata Tom.
"Bukankah sudah jelas, Wasim yang tidak pernah beristirahat dan hanya terus bekerja mengeksploitasi tubuhnya sendiri membuat Franklin ingin membuatnya istirahat di kehidupan yang sekarang ...." kata Cain.
"Bukankah itu sudah jelas membuat kita untuk memilihnya terus bertahan hidup ... agar suatu saat dia bisa menikmati hasil kerja kerasnya selama ini!" kata Tan.
"Ow, kau memihakku ya?!" kata Teo merangkul Tan.
"Dia tidak bisa menikmatinya ... Wasim akan meninggal tahun depan karena terlalu bekerja berlebihan sedangkan Adsila dipilih sebagai pemain karena dulunya hanya terus terlahir sebagai bunga, baru di kehidupan yang sekarang ia terlahir sebagai manusia!" kata Felix akhirnya mengatakan fakta kedua pemain yang terhubung itu.
"Jadi umur Adsila lebih panjang dari Wasim?" tanya Cain.
Felix mengangguk, "Tapi yang baru terlahir sebagai manusia harusnya memang mendapat umur yang pendek karena kemalangan tidak akan berhenti mendatangi, nanti di kehidupan selanjutnya barulah dia bisa mendapatkan dan menikmati kehidupan yang sesungguhnya ...." walau ragu mengatakannya karena takut mereka curiga Kiana mendapat problem yang sama, tapi tetap Felix beritahu dengan berharap agar mereka tidak berpikiran sampai kesana. Felix ingin melihat reaksi mereka akan memilih siapa setelah mendengar itu. Apakah akan memilih Adsila untuk hidup sesuai buku takdirnya atau memilih Wasim yang akan hidup setahun lagi. Problematika yang mirip dengan Kiana dan Bella.
"Kalau begitu tanpa basa-basi kita harus memilih Adsila!" kata Teo disetujui Tan dan Tom.
"Aku memilih Wasim!" kata Cain.
"Sudah kuduga Cain memang berbahaya ... pasti dia akan lebih memilih agar Kiana bisa hidup bahagia di kehidupan selanjutnya daripada harus berumur panjang di kehidupan saat ini dan menderita karena cobaan yang tiada henti ...." kata Felix dalam hati.
"Adsila yang yatim piatu dan hidup bersama paman dan bibinya tidaklah mendapatkan kehidupan yang layak dan seterusnya pasti akan mendapatkan kemalangan kan? sedangkan Wasim setidaknya bisa menikmati kehidupannya yang sisa satu tahun!" kata Cain.
"Tidak beruntung tidaklah menandakan bahwa kita harus menyerah dalam hidup ... lihat kita, tetap bisa menjalani kehidupan seperti anak yang beruntung lainnya!" kata Tan.
"Biarkan Wasim beristirahat ... kau mengatakan dia akan menikmati sisa hidup satu tahunnya? tidak! setelah mengetahui kebenaran bahwa dia punya sisa umur satu tahun, aku bisa menebak apa yang akan dia lakukan ... bekerja tiada henti!" kata Tom.
"Kalau begitu, hal baiknya setidaknya Wasim bisa memiliki banyak tabungan untuk ditinggalkan ...." kata Cain.
"Aku tahu kau orang yang seperti ini tapi tidak tahu kalau sampai harus seperti ini ...." kata Tan merasa jauh dari Cain.
"Tiga lawan satu, bahkan jika Felix memilih Wasim juga ... kau tetap kalah!" kata Teo.
"Dia akan memilih Adsila!" kata Cain sudah tahu betul siapa pilihan Felix.
Sampai di kelas, mereka melihat Dallas yang sudah duduk di bangkunya dengan warna wajah yang cerah tidak seperti kemarin-kemarin. Tiga Kembar menatap Felix, "Kau sudah menyembuhkannya?"
"Ya, mungkin lagi trend sekarang soal tukar-tukaran! dia juga menukar penyakitnya dengan Dallas sehingga Dallas bisa sembuh dan sekarang dia yang sakit!" kata Cain jengkel.
...-BERSAMBUNG-...