
Teo dan Tom menyambut Felix dan Cain dengan berlari menghampiri sambil membuka lengan lebar-lebar seperti akan memeluk ternyata hanya langsung mengambil tiga boks sepatu dan meninggalkan Felix dan Cain, "Apa-apaan?!" Cain tercengang, "Kita bisa saja merasa biasa saja tapi mereka seharusnya dua hari kan tidak bertemu kita?!"
"Kalian darimana saja?" tanya Tan.
"No! bukan pertanyaan ini yang aku tunggu! harusnya ... kalian baik-baik saja selama dua hari ini? apa terjadi sesuatu? kalian tidak terluka kan? kami khawatir sekali!" Cain berbicara sendiri saat Tan dan Felix sudah meninggalkannya, "Hei! aku belum selesai!"
Didalam kamar tiga kembar sudah dipenuhi makanan siap saji yang sudah dipesan walau sudah dingin karena lama menunggu Felix dan Cain.
Banyak kado juga sudah dibuka oleh mereka kecuali tiga boks kado yang terlihat masih rapi dan tidak tersentuh, Felix melirik kartu ucapan pemberi yang tertempel, "Dari Ibu ... selamat ulang tahun tiga putraku!" Felix merasa kesal dengan ibu mereka, bagaimana mereka bisa tega membuang tiga putranya hanya karena tidak bisa menafkahi dan dengan tidak tahu malunya mengirim hadiah seperti ini.
Betapa bersemangatnya Teo dan Tom membuka hadiah dari Felix dan Cain itu membuktikan betapa menyakitkannya hadiah dari ibunya itu yang tidak disentuh sedikitpun.
"Merek Fargo?!" Teo dan Tom memandangi merek sepatu yang belum pernah terdengar sebelumnya itu. Ingin dikatakan sebagai sepatu murah karena merek yang asal itu tapi tampilan sepatunya mewah sekali.
Mereka tertidur sampai malam tiba karena kekenyangan memakan segala macam makanan.
Felix merasa ada yang bangun dan membuka matanya sedikit, ternyata itu adalah Tan yang berjalan dengan lampu kamar yang mati dan menuju tempat kado dari ibunya itu berada.
Saat Felix membalikkan tubuhnya, dilihatnya juga Cain yang terbangun dan kini mereka saling tatap dan hanya diam kemudian kembali menutup mata sambil mendengar isak tangis dari Tan yang terdengar berusaha keras ditahan. Teo dan Tom yang juga terbangung tapi tetap dalam posisi tidur ikut menitikkan air mata sambil berpegangan tangan.
***
Felix dan Cain kembali ke kamar mereka saat subuh dengan mata bengkak karena ikut menangis tadi malam.
Saat membuka pintu kamar, Cain langsung jatuh dengan hebohnya, "Aaaaaa siapa kamu?!" teriaknya.
"Itu Alger, aku yang mengajaknya tinggal disini," Felix dengan santainya berjalan melangkahi Cain yang masih berada di lantai.
"Sejak kapan?!" Cain masih tidak mengubah posisinya.
"Sejak pulang dari Rumah Nenek Alviani."
Alger melambaikan tangannya, "Jadi selama ini dia tinggal disini? tunggu ... apa masih ada hantu lain lagi yang kau ajak?" Cain mulai duduk bersila di lantai.
"Dia biasanya masuk kedalam lukisan atau mainan robot ... apa maksudmu aku yang mengajak hantu lain?!" kata Felix yang langsung berhenti karena melihat ekspresi Cain.
"Jadi waktu itu aku melihat robot yang bergerak sendiri tangannya itu ...." Cain menutup mulutnya yang menganga.
"Sudah, jangan lebay! ayo cepat kita siap-siap!" Felix melemparkan handuk.
***
"Sudah lama ya, kita tidak sarapan di panti karena sering menginap di Rumah Bu Daisy ...." Teo dan Tom membawakan satu nampan berisi banyak muffin yang masih hangat.
"Bukan nasi? berarti bukan Kak Luna?" tanya Tan menyesap susu coklatnya.
"Katanya akhir-akhir ini Kak Luna jarang datang ke panti ...." sahut Teo cepat karena sudah tidak sabar memakan muffin yang dibawanya.
"Mungkin dia sudah dapat pekerjaan baru lagi!" kata Felix.
"Tapi Lisensi Perawatnya dicabut bagaimana bisa?" kata Cain yang langsung mengundang tatapan penasaran dari mereka.
"Lisensinya dicabut? tahu dari mana?" tanya Tan.
Cain jadi langsung memakan banyak muffin dan memenuhi mulutnya tapi dipukul punggung nyaoleh Felix dan Cain langsung memuntahkan muffin yang ada di mulutnya, "Ewww jorok!" Tom memberikan tissue.
Cain yang sebenarnya memang sangat disukai untuk menjadi tempat curhat tapi sering keceplosan tanpa disadari, "Sekarang kredibilitasmu sebagai tempat curhat sudah hancur!" kata Felix membuat Cain yang sedang minum air tersedak.
Setelah libur dadakan yang diberi sekolah selama tiga hari tapi tidak membuahkan hasil sama sekali. Jasad Magdalene tidak ditemukan bahkan hal yang bisa menjadi petunjuk juga tidak ada. Sekolah bersih dari segala hal yang mencurigakan membuatnya semakin mencurigakan lagi.
Cain yang hanya memakai dua lapis baju berjalan dengan santainya, "Bajumu tipis sekali Cain! kau tidak dingin?" kata Tan.
"Bahkan tidak memakai kaos tangan!" Teo memegang tangan Cain yang dikira dingin tapi ternyata sangat hangat.
Cain hanya diam dan memasang senyuman, "Sebenarnya memakai kaos biasa saja mungkin aku juga tidak merasakan dingin apa-apa!" katanya dalam hati, "Apa karena aku ini keturunan Viviandem? sekarang aku jadi tidak seperti manusia normal!" Cain mulai menunduk.
"Padahal dulu kau sering sekali kena flu kalau kena angin sedikit saja!" ejek Tom
Felix hanya diam dan tetap tenang karena yakin akan menemukan gelang baru untuk Cain.
***
Pak Acton dengan memakai syal tebal warna cerah dilehernya jadi tidak menyeramkan malah terlihat lucu berdiri di depan gerbang sekolah.
Felix tiba-tiba langsung terjatuh kebelakang, diatas gundukan salju dengan keluar darah dari telinga dan matanya. Pak Acton segera datang setelah mendengar teriakan panik dari Cain dan tiga kembar.
"Felix, kau tidak apa-apa? kau bisa mendengarku?" Tan berusaha menggoyang-goyangkan Felix tapi Felix tidak bergerak sama sekali dan hanya menatap lurus.
Teriakan minta tolong yang tiba-tiba sangat banyak membuat telinga Felix terluka karena permintaan putus asa dari banyak orang sekaligus dan langsung melihat kejadian yang entah itu masa depan atau hanya kilasan balik dengan gambar yang begitu cepatnya membuat Felix mengeluarkan air mata darah yang disebabkan matanya yang memproyeksikan sebuah kejadian dengan begitu cepatnya.
Cain memandangi mata Felix kemudian menutupnya agar tidak ada yang melihat dan menitikkan air mata karena melihat banyak sekali orang yang terlihat seperti saling berpelukan dan banyak masker yang bergelantungan, "Ini bukan salahmu Felix! kita tidak bisa berbuat apa-apa dengan itu!" kata Cain dalam hati tapi tak lama ada tangan yang memegang bahu Cain, "Aku pergi sebentar!" kata roh Felix yang mulai terbang dan hanya terlihat kilatan cahaya hijau.
Diantarnya tubuh Felix menuju Ruang Kesehatan dengan dibopong oleh Pak Acton tapi petugas kesehatan langsung panik karena tidak mendengar suara detak jantung Felix. Cain dan tiga kembar ikut panik karena melihat perawat yang bolak-balik membawa peralatan ke dalam ruangan Felix.
Sementara roh Felix kini berada di atas Lautan luas yang dengan mengambang di udara seperti terbang dan ada pesawat yang sedang melaju hendak jatuh. Felix yang tidak menyadari dirinya bagaimana bisa melakukan semua ini dan bisa sampai disana hanya diam membatu dan tak tahu harus bagaimana saat pesawat itu mendekat. Ditutupnya mata Felix dan dirasakan di ujung jarinya ada sebuah benda yang tertahan, dibukanya mata Felix dan dilihat dia menghentikan sebuah pesawat hanya dengan satu tangan, "Hahh?!"
Tak lama terlihat banyak yang menjatuhkan diri kedalam air dengan memakai jaket pelampung, karena pesawat yang tiba-tiba berhenti tepat diatas air dengan mengambang, "Apakah ini keajaiban!" teriak seseorang, "Kita selamat!" kini teriakan semakin ramai.
"Hapus ingatan mereka!" kata Iriana.
"Lama juga kau tidak muncul!" kata Felix.
"Cepat lakukan!"
"Jangan menyuruh-nyuruhku seakan kau yang memiliki tubuhku!" Felix marah dan mulai menurunkan pesawat itu pelan-pelan dan penumpang yang melihat itu langsung menghindar saat pesawat mulai tenggelam.
"Bagaimana caranya menghapus ingatan mereka?"
"Letakkan tanganmu diatas air dan katakan ...." kata Iriana langsung dilanjut Felix tanpa sadar, "Dengan nama besar seorang Caelvita dan tanggung jawab sebagai seorang pelindung, hapuslah ingatan mereka!" air laut itu langsung bercahaya hijau membentuk tanda bulan dan semua orang langsung diam dan saling menatap, "Apa yang terjadi?"
"Kita berhasil selamat?"
"Bagaimana bisa?"
Ada penumpang yang langsung mengambil smartphonenya dan mencoba memanggil bantuan tapi tidak ada jaringan, Felix datang berjalan diatas air dan menyentuh smartphone itu dan panggilan langsung tersambung.
"Apa mereka bisa selamat menunggu bantuan dengan air laut sedingin ini?" tanya Felix mulai terbang meninggi dan melihat para penumpang yang menggigil kedinginan.
Tak lama kemudian sebuah helikopter terbang menembus Felix dan mengumumkan bantuan akan segera datang, semua penumpang pesawat yang berhasil selamat itu langsung berteriak gembira.
Felix memasang senyum bahagia dan bangga pada dirinya sendiri dengan mulai terbang untuk pulang tapi tiba-tiba didengarnya suara seorang perempuan, "Terimakasih putraku!" Felix memaksa hendak berbalik tapi tidak bisa dan hanya seperti terhisap, tak lama kini ia kembali ke dalam tubuhnya, "Siapa?!" teriak Felix langsung bangun membuat dokter dan perawat kaget saat alat defibrillator akan diposisikan kembali.
...-BERSAMBUNG-...