
"Apa akan berhasil?!" mata Teo berkaca-kaca melihat pemandangan itu. Tapi tak lama kemudian ekspresi Teo berubah murung, "Tentu saja tidak!" kata Teo setelah melihat Wadi dengan mudahnya melepaskan ikatan tanaman itu pada seluruh tubuhnya.
Wadi bahkan tidak harus bergerak banyak untuk lepas dari lilitan tanaman berduri itu. Tanaman itu hanya langsung meleleh oleh cairan berwarna merah yang entah muncul darimana.
Felix akhirnya hanya menebas tanaman yang sudah tidak ada Wadi di dalamnya. Felix menggigit bibirnya sampai berdarah karena kesal, "Padahal menggunakan kekuatan ini sangatlah sulit ...." Felix merasa dirinya membuang-buang kekuatannya percuma tanpa ada yang didapatkan.
"Bahkan aku harus menggunakan kekuatan Daemonimed ku untuk kabur ... sangat menyedihkan! mereka hanya pemula ... kenapa aku jadi serius begini bertarung." kata Wadi dalam hati.
Berkat serangan mendadak dari Felix itu, Wadi menjauh dari batu permata berada. Tan, Teo dan Tom menatap Felix sambil menggeleng-gelengkan kepala untuk meminta agar Felix tidak gegabah langsung ingin menjadi korban pengganti untuk mencabut permata.
"Kita harus melawannya dulu bersama-sama!" kata Tan.
"Kau juga akan rugi sendiri menumpahkan darahmu disaat situasi sedang tidak seimbang begini ...." kata Tom.
"Lakukan saja!" kata Teo santai.
"Kau diam saja!" kata Tan dan Tom bersamaan pada Teo.
Felix tidak mendengarkan apapun yang dikatakan mereka dan langsung mengiris tangannya sehingga darah hijaunya keluar begitu deras turun ke atas batu permata berwarna jingga itu.
"Sudah kuduga, kau tidak akan mendengarkan." kata Tom tersenyum pahit.
"Berkumpul!" teriak Tan meminta agar Teo dan Tom mengelilingi Felix sekarang, "Kita harus melindungi Felix!"
"Gila ... sudah gila kalian!" kata Teo.
"Tadi kau sendiri menyuruh Felix melakukan hal gila!" kata Tom.
"Itu aku hanya bercanda, tidak kusangka kalau dia benar gila." kata Teo yang dihadiahi tendangan oleh Felix.
"Entahlah ... tapi sepertinya kita tidak bisa bertahan lama." kata Tan.
"Katakan itu nanti saja!" kata Felix.
Wadi kini bersiap menyapu mereka dengan senjata panjangnya itu. Hanya dengan sekali serangan pasti mereka bisa tersapu. Felix juga otomatis akan gagal menjadi korban pengganti.
"Apa Yang Mulia harus mencabut batu permata yang ada disini?! tidak berniat untuk ke tempat lain saja?!" kata Wadi merasa ragu dan menurunkan senjatanya.
"Mau di titik manapun itu, aku tidak punya peluang menang dan terus bertemu kaum kalian yang hebat-hebat." kata Felix.
"Hahh ...." Wadi menghela napas.
"Berusahalah tetap bertahan! kita pasti akan menang ...." kata Felix.
"Tidak kusangka akan tiba hari dimana seorang Felix berbicara omong kosong juga ...." kata Teo.
Tanah terasa bergetar saat Wadi mulai melangkah. Tiga Kembar merinding ketakutan tapi tidak punya pilihan lain selain bersiap menerima serangan Wadi.
Wadi dengan mudah menyingkirkan Tan dan Tom. Hingga akhirnya tinggal Teo tersisa yang melindungi Felix. Teo menggertakkan giginya melawan sampai tombaknya terlempar.
"Maaf Winn ...." kata Teo dalam hati melihat tombaknya terlempar jauh.
"Awas!" Felix menahan ujung gigi tajam senjata Wadi yang hampir mengenai Teo yang sedang lengah. Kini Felix harus merenggangkan dirinya untuk melindungi Teo sekaligus tangan kanannya juga harus tetap berada di atas batu permata. Tapi sayangnya dengan posisi itu Felix tidak bisa bertahan lama. Tan dan Tom mencoba berlari secepat mungkin membantu tapi jarak mereka lumayan jauh.
Tangan kiri Felix mulai bergetar karena sudah mencapai batas untuk menahan senjata Wadi. Teo yang sedang dengan tangan kosong ikut membantu memegang pedang Felix. Memang membantu tapi hanya sedikit saja, lama kelamaan mereka juga kehabisan tenaga.
Teo merasakan sudah mencapai batas dan mulai pasrah saja dengan menutup mata. Pedang Felix terjatuh dan senjata Wadi maju menuju leher Teo. Terdengar bunyi sayatan dan darah menetes. Teo membuka matanya memeriksa lehernya tapi ternyata bukan dirinya yang terluka melainkan Wadi.
"Kerja bagus!" kata Teo melihat Winn kini menancap disebuah pohon setelah meluncur dengan kekuatan penuh untuk melindungi Teo.
"Hahh?!" Tan dan Tom heran melihat itu.
"Moshas bergerak sendiri tanpa dipanggil ...." kata Tan.
"Untuk melindungi ... apa punya kita juga begitu?!" kata Tom melihat Sesemax nya.
Teo yang masih merayakan berhasil selamat melupakan kalau Wadi masih ada di hadapannya. Teo baru tersadar setelah terlempar oleh tendangan Wadi.
Darah Wadi yang berwarna jingga menetes saat melangkah mendekati Felix.
"Saya tidak akan membunuh Yang Mulia ... saya hanya akan memindahkan Yang Mulia darisini." kata Wadi.
"Beraninya kau mengatakan hal itu!" Seseorang tiba dan memukul mundur Wadi menjauh dari Felix.
"Senior Banks!" kata Wadi.
"Mundurlah!" perintah Banks pada Wadi.
"Banks!" seru Tiga Kembar serempak begitu senang.
"Aku tahu kau menuruti perintah kerajaan tapi aku tetaplah seniormu. Daemonimed harus menghormati Daemonimed yang lebih tinggi. Sudah kewajibanmu untuk menghormati apa yang kuminta. Kalau kau merasa tidak adil, kau bisa melakukan hal yang sama saat sudah berhasil melampauiku." kata Banks.
Wadi menggengam erat senjatanya sambil menatap batu permata yang sudah dipenuhi oleh darah Felix.
"Aku tahu kau sudah susah payah melakukan misi disini dan kerpibadianmu yang perfeksionis ... tidak suka kesalahan atau kegagalan sedikitpun. Ini bukanlah kesalahan dan kegagalanmu tapi kaulah yang memilih untuk mundur baik-baik." kata Banks mencoba membujuk Wadi yang dikenalnya keras kepala.
Wadi hanya langsung pergi tanpa pamit atau mengatakan satu katapun.
"Sepertinya dia sangat marah ...." kata Tom.
"Dia terlihat sangat terpaksa ...." kata Tan.
"Maaf, saya terlambat datang setelah mendengar suara Yang Mulia ...." kata Banks.
"Kau tidak terlambat!" kata Felix.
"Tepat waktu sekali, malahan!" kata Teo.
Felix berhasil mencabut batu permata yang ada disana dan langsung dirawat oleh Banks. Tan memperhatikan dengan cermat apa yang dilakukan Banks. Banks yang menyadari sedang diperhatikan tanpa sadar menjelaskan juga satu per satu tindakan yang dilakukannya. Felix merasa dirinya sedang dirawat oleh siswa magang tenaga kesehatan dan guru yang sedang menjelaskan lewat praktek langsung.
"Entah kenapa ... rasanya tidak nyaman sekali." kata Felix dalam hati.
Tom memandangi Sesemax nya dan terus memperhatikannya tiap detail, "Bagaimana bisa Moshas bergerak sendiri melindungimu seperti tadi?!" tanya Tom.
"Aku juga tidak tahu ...." jawab Teo pura-pura bodoh.
"Apa senjata Alvauden sebenarnya hidup?!" tanya Tom.
"Jangan tanya aku! kalau memang ada jawabannya, harusnya kau yang mengetahuinya. Tidak mungkin aku tahu sesuatu lebih banyak darimu. Seseorang yang bahkan tidak tahu apa pengertian dari desa ...." kata Teo menghina dirinya sendiri.
Tom mengakui bahwa perkataan Teo itu benar adanya, "Tapi ... kau itu hanyalah bodoh saat bersama kami." kata Tom yang tahu betul bahwa Teo itu cerdas tapi hanyalah malas. Meski dengan kemalasannya itu dia tetap masuk dalam 10 besar, "Kau benar tidak menyembunyikan sesuatu kan?!" tanya Tom.
...-BERSAMBUNG-...