
Tan bangun lebih awal dari kemarin, kemudian langsung membangunkan kedua saudaranya untuk makan siang sekaligus makan malam di sore hari. Teo dan Tom susah untuk bangun karena masih ingin sekali melanjutkan tidur. Tapi setelah diingatkan oleh Tan, malas-malasan mereka berakhir dan langsung bangun walau dengan tubuh tidak sehat. Ketiganya berjalan dari asrama menuju ruang makan besar tapi saat di perjalanan mereka heran melihat kedatangan Zeki dan Verlin yang terlihat sedang mengobrol serius bersama Felix.
"Ada apa mereka cepat sekali datang?!" tanya Teo mengulurkan kepalanya di jembatan untuk mengintip.
"Ayo, kita cari tahu!" kata Tan.
Tom menyesalkan Tan menjawab duluan padahal dirinya mau membuat Teo kesal dengan jawaban, "Mana tahu!" baginya menjahili Teo adalah cara ampuh untuk bisa terhibur disaat sedang butuh hiburan dikala lelah.
"Ow, kalian ...." sapa Verlin ceria tapi berubah saat melihat keadaan mereka yang sedang tidak baik-baik saja, "Kalian terlihat kacau!"
"Wajar saja, memasuki dunia pikiran bukanlah perkara kecil. Bahkan ajaib karena mereka tidak mati dengan tubuh manusia itu." kata Zeki sangat jelas sedang meremehkan.
Tiga Kembar mungkin tidak menyadari penampilan mereka yang berubah itu tapi orang lain dengan jelas melihat perbedaannya. Mereka terlihat lebih kurus, wajah tirus, mata keruh merah dan berurat, lingkaran hitam dibawah mata, wajah pucat.
"Apanya?! kami baik-baik saja kok." kata Tom tidak menyadari dirinya sendiri.
"Beli cermin baru! sepertinya cermin yang kau punya rusak." kata Verlin.
"Bahkan kami yang Zewhit terlihat lebih baik daripada kalian." kata Zeki.
"Kenapa rasanya menyebalkan sekali, ya?!" kata Teo tersinggung dengan perkataan Zeki.
"Itu tandanya kalian sudah bekerja keras. Tapi akan lebih baik lagi kalau bekerja keras dengan tubuh yang tetap sehat juga, Itu baru yang namanya pencapaian luar biasa ...." kata Felix.
"Hahh?! penampilanmu lebih buruk daripada kami, tahu?!" kata Teo.
"Makanya ... sudah kukatakan, kalau aku masih belum bisa mencapai hal itu juga." kata Felix.
"Ada apa kalian datang? terutama di sore hari begini?!" tanya Tan.
"Hanya melapor biasa saja, kami selalu begini tiap hari. Hanya saja kalian tidak melihat." kata Zeki dengan wajah datar seperti sudah sering sekali berbohong jadi aktingnya bagus sekali.
"Kukira ada yang aneh atau ada yang akan terjadi, bikin kaget saja!" kata Teo mengusap seluruh wajahnya.
"Tidak ada, kalian duluan saja makan! aku belakangan ...." kata Felix.
"Baiklah, kami duluan ...." kata Tom yang diikuti Tan dan Teo.
"Apa sebaiknya kita memberitahu mereka?!" kata Verlin sebelum mereka semakin jauh.
"Belum jelas kalau memang akan ada yang datang, nanti hanya membuat mereka mengkhawatirkan yang tidak perlu saja. Kalaupun benar ada yang datang, tidak ada yang bisa diperbuat juga ... lebih baik mereka tidak usah tahu." kata Felix.
Felix, Zeki dan Verlin menyelesaikan obrolan mereka dan mulai berpencar mengelilingi sekolah. Tidak bisa memakai pelindung adalah hal besar yang menjadi bencana. Untuk mencegah adanya kerusakan sekolah saat bertarung harus dengan perisai pelindung tapi Zewhit Badut dan Kurcaci akan terganggu.
"Apa ada solusi untuk itu?!" Felix merasa buntu untuk pertama kalinya dan masih mencari tempat aman untuk bertarung, "Hanya lapangan yang menjadi tempat ideal ...."
"Solusinya ya ... jadikan dirimu sebagai perisai! hanya itu yang bisa dilakukan kalau tidak mau sekolah yang terkena kerusakan. Lebih parahnya lagi kalau mereka masuk kedalam Memoriasepirav, gunakan seluruh tubuhmu untuk mencegah hal itu terjadi." kata Iriana.
"Solusi yang sangat diluar dugaan ...." Felix hanya bisa tersenyum pahit, "Maksudku tidak ada kekuatan Caelvita yang bisa menjadi perisai begitu?! walau menjadikan tubuh sebagai perisai, ada juga batasnya. Pasti aku akan terlempar juga dan tidak bisa menahan serangan hingga merusak sekolah juga."
"Kau masih belum bisa menggunakannya, kekuatan itu hanya bisa dilakukan oleh Caelvita resmi. Mungkin kau bisa melakukannya tapi dengan masih tubuh manusia, kau bisa dalam bahaya." kata Iriana.
"Menggunakan Isvintria dan batu permata ya?!" tanya Felix mengira-ngira.
"Yup!" sahut Iriana tanpa merasa bersalah.
Teo singgah di jembatan untuk menghirup udara, "Bahkan bisa bernapas dengan santai seperti ini juga sangat disyukuri setelah masuk dari dunia Zewhit yang membuat sesak napas dan pusing karena kekurangan oksigen."
"Banyak hal-hal kecil yang patut disyukuri ... bahkan bisa berdiri santai seperti ini tanpa harus memikirkan strategi untuk menerima serangan musuh atau memikirkan bagaimana menyerang musuh." kata Tom.
"Sesuatu yang hanya dilewatkan oleh orang lain ... tapi bagi kita adalah hal yang istimewa." kata Tan.
"Karena kita tidak tahu apa bisa hidup menikmati hal kecil itu lagi ...." kata Tom.
Cuaca yang mendung membuat suasana hati menjadi muram. Memoriasepirav terlihat sudah terbentuk walau masih belum sempurna karena masih transparan. Mundclariss masih jelas terlihat, Memoriasepirav seperti sebuah stiker yang belum tertempel sempurna.
"Bahkan sudah sampai disana ...." kata Teo melihat Memoriasepirav masih terus berjalan menjauh bahkan setelah melewati mereka.
"Sepertinya kita harus segera bersiap." kata Tom melihat mereka yang sekarang masih memakai piyama.
"Kenapa aku merasa tidak enak ya ...." kata Tan yang daritadi terus merinding.
"Kau mungkin hanya terlalu banyak pikiran saja." kata Tom yang memang ada benarnya.
"Baik itu suasana, semuanya terasa gelap." kata Tan masih tidak mengerti apa yang dirasakannya.
Teo dan Tom memakai pakaian musim dingin untuk berjaga-jaga cuaca ekstrim di dunia Zewhit Kurcaci. Bahkan membawa masing-masing tas besar juga. Sedangkan Tan hanya memakai pakaian biasa dengan kaos lengan pendek dan celana selutut serta waist bag dengan keperluan seadanya untuk memudahkan pergerakannya berlari.
"Kalian berdua seperti mau pergi berperang saja!" kata Felix yang kaget melihat pakaian dan perlengkapan Teo dan Tom.
"Sedia payung sebelum hujan." kata Teo.
"Kalian tidak bisa bergerak bebas dengan itu, apalagi sudah kesusahan untuk bernapas normal ...." kata Felix.
"Tidak usah mengkhawatirkan kami, lagipula kami yang merasakannya. Kami tahu apa kami bisa atau tidak!" kata Tom keras kepala.
"Baiklah, terserah kalian." kata Felix yang tidak mau berurusan dengan Tom yang keras kepala.
Mereka berempat ke gedung kesehatan melihat bagaimana keadaan Osvald dan Demelza. Keduanya sudah terlihat baikan dan sedang melihat hujan yang turun dari jendela kamar rawat masing-masing.
"Mereka belum tidur ...." kata Teo.
"Kalian tunggu disini saja ... tidak lama lagi akan dimulai!" kata Felix.
"Kau sendiri mau kemana?!" tanya Tom melihat Felix hendak pergi.
"Seperti biasa aku hanya melihat dari kejauhan." kata Felix sudah berjalan tapi baru beberapa langkah Felix berbalik, "Jaga diri kalian!"
"Hehh?! apa-apaan?!" kata Teo tertawa heran.
"Tiba-tiba?!" Tom juga ikut heran.
Kali ini Tiga Kembar harus masuk dunia pikiran tanpa Felix. Karena Felix harus ada di Mundclariss berjaga bersama Zeki dan Verlin.
"Tugasku kali ini bukan untuk mengawasi kalian di dalam sana tapi menjaga kalian dari luar sini untuk kalian bisa tetap aman di dalam sana." kata Felix dalam hati meninggalkan mereka bertiga.
...-BERSAMBUNG-...