
"Agak canggung mendengar itu keluar dari mulutmu. Kau bukanlah tipe yang suka memuji seseorang." kata Banks.
"Mau bagaimana lagi ... dia Tuanku! sudah sewajarnya dan sangat normal jika aku memujinya." kata Goldwin.
"Kau seperti Quiris lain saja, yang tidak kukenal sama sekali ...." kata Banks merasa agak cemburu karena selama ini sahabatnya itu tidak pernah memuji siapapun.
"Aku menjalani hukuman dan pemulihan bersama-sama terus dengannya. Selama masa sulit itu, seseorang pasti akan menunjukkan sisi buruknya. Tapi, dia berbeda ... tetap memasang senyuman dan membuat lelucon untuk menghiburku. Tidak pernah kulihat sisi buruk Cain selama ini ... apapun keputusannya, dia tahu apa yang dilakukannya." kata Goldwin.
Bahkan Felix memandangi Goldwin dengan tatapan aneh. Agak canggung rasanya seorang Goldwin mengatakan hal tidak biasa seperti itu. Hal yang tidak setiap hari bisa kita dengarkan keluar dari mulut Goldwin.
"Kau lihat ini ... Felix!" kata Cain lewat Jaringan Alvauden memamerkan pasukan yang berhasil dihimpunnya.
"Ya ... wajar jika kau flu!" kata Felix membuat Cain tertawa, "Kerja bagus, Cain ...." tambah Felix kemudian.
Goldwin dan Verlin ikut bergabung dalam barisan Quiris pasukan Felix. Ada yang dikenal ada juga yang baru pertama kali bertemu. Banks merasa itu adalah kesempatan untuk merawat Zeki dengan benar kali ini karena tidak perlu harus turun tangan atau terganggu oleh musuh yang tiba-tiba menyerang. Felix masih duduk diam beristirahat, dia memang butuh istirahat setelah mengerahkan kekuatan sempurna Ruleorum untuk yang pertama kalinya.
Para Quiris pasukan Felix bukannya melihat kedepan dimana musuh berada. Tapi terus berbalik kebelakang melihat Felix.
"Jadi, dia ... Caelvita baru!" bisikan yang terdengar disepanjang barisan.
"Hai, Verlin!" sapa seseorang didepan Verlin.
"Ow, hai ... kukira kau sudah mati." kata Verlin bercanda.
"Memang, sudah tiga kali, kau baru satu kali kan ...." kata Perempuan dengan rambut emas panjang.
"Ow ... aku bisa mati lagi disini dan menyamai rekormu, Winnie." kata Verlin.
"Aku bisa saja menghilang disini ... diantara mereka semua akulah yang paling lemah." kata Winnie.
"Alvauden juga masih pemula, kau tidak perlu rendah diri." kata Verlin.
"Alvauden tetaplah Alvauden, mau itu pemula atau sudah resmi. Tidak ada yang bisa mengalahkan kecuali mereka memang ingin dikalahkan. Dan ... Pemimpin Alvauden, kau tidak tahu bagaimana hebatnya dia." kata Winnie.
"Kau tidak berubah, kau masih tetap sama saja ... sepertinya Cain tidak membujukmu bergabung tapi kau yang mengajukan diri sendiri." kata Verlin.
"Dia mendatangi satu per satu keturunan yang menpunyai darah Leaure dan mengatakan akan membantai kami semua kalau tidak mau bergabung. Tentu saja aku langsung setuju untuk cari aman ...." kata Winnie dengan wajah ceria.
"Dia hidup di Mundclariss, selalu berpindah-pindah dari satu panti ke panti asuhan lainnya. Terakhir, Cain menemukannya di Provinsi Willow. Hidupnya didekasikan untuk menjaga panti asuhan yang tidak memiliki Alexavier." kata Goldwin.
"Walaupun dia sudah menjadi Zewhit, dia tetaplah Leaure." kata Verlin.
Goldwin merasa tidak ingin lagi mendengar Verlin jadi dia memutuskan untuk maju ke depan dimana Cain berada, "Aku tidak suka berada diantara Quiris yang memiliki hubungan romantis sebelumnya." keluh Goldwin.
"Hai, Goldwin!" sapa Teo.
"Apa maksudmu?" tanya Tan sempat mendengarkan keluhan Goldwin.
"Verlin bertemu Winnie." sahut Goldwin.
"Mereka hanya sahabat dari kecil." kata Cain.
"Hahh ... lucu sekali, kau tidak tahu saja seberapa sering Verlin terus menunggu di depan gerbang istana menunggu Winnie keluar. Quiris berkumpul seperti ini selalu ada baik dan buruknya." kata Goldwin.
"Menurut Goldwin, Winnie meninggal karena selalu bersama Verlin. Winnie adalah putri bungsu Raja Leaure yang merawat Goldwin dari lahir." kata Cain melihat Tan, Teo dan Tom penasaran apa yang sebenarnya dimaksud Goldwin.
"Memang benar! kalau tidak, pasti dia masih hidup sekarang." kata Goldwin.
"Dan tidak ada akan disini tentunya! Karena dia Zewhit makanya dia bisa bergabung bersama kita disini." kata Cain.
"Kenapa mereka terus melihatku?! bukannya fokus kedepan pada musuh ...." Felix merasa risih dilihat terus seperti itu dalam waktu yang sudah cukup lama.
"Hal yang wajar untuk melihat Pemimpin tertinggi Mundebris generasi ini. Mereka harus mengenali siapa yang akan menjaga dan melindungi mereka." kata Banks.
"Seperti membantu saja ... aura Caelvita sangat mudah dirasakan." kata Felix.
"Setidaknya wajahku bisa tertutupi ...." kata Iriana bersamaan dengan Zeki, "Setidaknya katanya wajahnya tidak kelihatan."
Felix merasa lucu mendengar Iriana dan Zeki saling berbicara bersamaan. Felix mencari minuman yang disebutkan oleh Cain di dalam tas.
"Ini minuman kesukaanku?!" Felix bahkan tidak pernah melihat minuman seperti itu sebelumnya. Kemudian ada catatan kecil yang tertempel diluar botol itu 'Kau akan menyukainya, aku melihatnya di masa depan.'
"Apa?! jadi aku bahkan belum meminumnya sama sekali. Dia menggunakan waktu seenaknya hanya untuk mengetahui hal-hal tidak penting." Felix meneguk minuman itu, "Wah ...." ekspresi wajahnya langsung berubah.
Sebuah batu besar menuju arah Cain yang masih sibuk mengobrol. Cain meninju batu itu hingga hancur menjadi debu tanpa menoleh pada arah batu itu datang karena sedang ingin berbalik, "Ah, gara-gara ini aku tidak melihat ekspresi Felix meminum itu ...." debu dari batu itu mengacaukan jarak pandang Cain. Baru kembali normal setelah Felix sudah menghabiskan minuman itu sehingga Cain benar melewatkan ekspresi Felix yang dilihatnya di masa depan untuk dilihat langsung.
"Waw ... Cain, kau jadi keren sekali!" seru Teo memukul-mukul punggung Cain.
"Setidaknya aku tidak melewatkan ini ...." kata Cain dalam hati menatap Teo. Kemudian menatap Tan dan Tom, "Setelah ini ... semuanya akan berubah, aku sudah melihatnya berulang kali ... jadi air mataku bahkan tidak bisa keluar lagi." sambungnya dalam hati lagi.
"Ayo ...." Cain maju selangkah dan memunculkan Pedang Orogla.
Semua pasukan juga memunculkan senjata masing-masing setelah melihat tanda dari Pemimpin Alvauden itu.
"Inilah saatnya ... sudah kukatakan kalau bertemu lagi kau akan mati dan inilah harinya." kata Efrain berjalan maju.
"Pemimpin Alvauden Sebelumnya vs Pemimpin Alvauden Sekarang." kata Camellia memutar-mutar kedua pisaunya yang bergerigi.
"Kau tidaklah kalah dalam segala aspek, Cain. Pengalaman?! kau bahkan sudah menjelajahi waktu lebih lama dari umur Efrain. Kekuatan?! kau bukanlah sekedar Setengah Leaure semata. Tapi lebih dari itu ... tidak ada alasan untukmu takut!" kata Goldwin maju disamping Cain.
"Bahkan sebelumnya, tanpa kekuatanpun ... aku tidak pernah takut dengannya. Mungkin itu terdengar bodoh, tapi memang benar ... aku tidak pernah merasa takut dengannya." kata Cain memegang surai emas Goldwin.
"Kalau begitu ...." Goldwin menyeringai.
"Ayo kita maju!" sambung Cain.
Cain mulai berjalan, kemudian langkahnya semakin cepat hingga berlari menyamai Goldwin. Begitupun Efrain juga berlari maju bersama pasukannya. Pasukan Felix masih ditempat yang sama.
"Apa kita tidak maju juga?!" tanya Teo.
"Pemimpin Alvauden harus menunjukkan serangan pertamanya sebagai semangat perang. Itu sudah tradisi!" kata Verlin yang tanpa disadari oleh Tiga Kembar sejak kapan berada didekat mereka.
"Bagaimana kalau serangannya biasa-biasa saja?!" Teo jadi panik sendiri.
Cain mengeluarkan pedang Ruleorum juga dan melemparkannya keatas bersamaan dengan pedang Orogla juga. Kedua pedang itu saling bertabrakan di udara kemudian memisahkan diri, Pedang Ruleorum yang berada diseblah kiri dan kanan Pedang Orogla melayang-layang diudara. Kemudian Cain menghentikan langkahnya dan melompat naik keatas punggung Goldwin yang masih terus berlari.
Goldwin melompat begitupun Cain juga ikut melompat dan sejajar dengan kedua pedangnya saat ini. Cain memerintahkan kedua pedang itu dengan menggerakkan kedua tanggannya kedepan. Saat bersaman kedua pedang itu menancap di tanah dibagian tengah pasukan Efrain berada.
Tidak ada yang terjadi, Cain kembali mendarat diatas Goldwin barulah teriakan mulai terdengar. Dari dalam pedang itu muncul sebuah akar pohon yang meliliti apapun didekatnya. Saat merasa sudah ada cukup banyak yang ditangkap. Cain menyalakan api lewat kedua pedangnya dan menarik kembali pedangnya keluar menembus akar pohon yang terbakar itu. Kedua pedangnya kembali padanya dengan sisa api masih menyala di ujung pedang.
Seperti terbentuk hutan dibagian Pasukan Efrain berada dan di dalam hutan itu ada api berwarna biru dan hijau tidak kelihatan ingin padam dan terus membesar seakan ingin mencapai lagit barulah akan berhenti.
Suara teriakan dari pasukan Felix terdengar meriah. Setelah itu suara langkah kaki yang memeriahkan. Pasukan Felix mulai ikut maju juga.
"Syukurlah, sepertinya tidak biasa-biasa saja ...." kata Verlin mendahului Tiga Kembar yang masih belum terbiasa ada banyak Quiris yang bertarung bersamanya.
Suara teriakan, suara langkah kaki membuat semangat yang tadinya padam menyala lagi. Tidak pernah terbayangkan bagi mereka akan dibantu oleh Quiris sebanyak itu. Terutama ada Cain yang sedang memimpin pasukan itu.
Tanpa perlu diucapkan, Tan, Teo dan Tom merasakan hal yang sama. Mereka berlari ikut bergabung dalam pertarungan yang sudah dimulai itu. Masih terus merinding, entah itu karena kagum atau semangat atau malah rasa takut. Tapi apapun alasannya, itu tidak menghentikan mereka untuk maju.
Efrain memukul tanah membuat api muncul darisana. Api dari Cain itu seperti dialihkan kesana. Karena api di dalam hutan itu mulai menurun. Anak buah Efrain yang berada didalam hutan yang dibuat Cain mulai keluar satu per satu dengan keadaan kacau sambil terus menebang pohon yang ada disana untuk membuka jalan.
...-BERSAMBUNG-...