
Goldwin berlari sekuat tenaga menembus manusia yang berlalu-lalang karena sedang berada di tengah kota. Cain kesulitan mengejar Goldwin, untungnya Goldwin merubah ukurannya menjadi besar jadi tetap bisa dilihat oleh Cain walau dari kejauhan. Tak lama kemudian Goldwin berhenti ditengah jalan membuat Cain yang sedang berlari berakhir menabraknya, "Aw!" Cain kesakitan karena menabrak Goldwin yang badanya keras seperti batu itu.
Orang-orang melihat Cain seakan sedang melihat orang aneh karena tidak menabrak apapun tapi terjatuh dikarenakan keberadaan Goldwin tidak bisa dilihat oleh mata manusia. Bahkan yang punya kekuatan melihat hantu pun tidak akan bisa melihat Goldwin yang merupakan makhluk Mundebris.
"Itu dia orangnya!" seru Goldwin.
"Eh, dia itu manusia?" kata Cain yang mengira Franklin adalah Iblis.
"Dia sepertimu! Setengah Manusia, Setengah Viviandem!" kata Goldwin.
"Heh?!" Cain tercengang.
Cain melupakan fakta bahwa bukan hanya dirinya yang Setengah Manusia, Setengah Viviandem karena terlalu fokus pada Efrain yang Iblis akhirnya lupa jika manusia pun bisa melakukan kejahatan terlebih lagi Setengah Viviandem yang memiliki kekuatan.
"Aura putih bersinar itu menandakan dia setengah Viviandem apa?" tanya Cain.
"Dia Setengah Aluias!" sahut Goldwin.
"Apa yang dia lakukan disini? menjual?" tanya Cain melihat pemilik aura putih bersinar itu sedang menggelar tikar dan menjual banyak macam barang, "Dia sedang mencari uang?" Cain tidak habis pikir penjahat yang ia kejar sedang menjual dengan santainya.
"Itu adalah langkah awal dari Permainan!" kata Goldwin.
"Vas bunga ini berapa?" tanya seorang Nenek pada Franklin.
"10.000 Yry!" jawab Franklin.
"Murah sekali?" Nenek itu tercengang dengan Vas mewah yang dipegangnya hanya seharga itu.
"Sedang ada cuci gudang dan Vas itu sudah lama tidak ada yang berniat membeli makanya dijual murah!" kata Franklin.
"Apa dia?!" kata Goldwin mulai mendekat.
"Ya! yang terakhir!" kata Franklin dengan senyuman.
"Cain! cegah Nenek itu untuk membelinya!" kata Goldwin panik.
"Eh!" Cain yang tidak tahu harus mulai dari mana kebingungan, "Nek, maaf! saya sudah lama memesan Vas ini!" kata Cain mulai berimprovisasi.
"Apa iya?" tanya Nenek itu pada Franklin terlihat kecewa.
"Tidak!" jawab Franklin santai.
"Hem, jangan suka bohong Cu! walau seingin itu membeli ini tapi tidak boleh berbohong!" kata Nenek itu menasehati, "Tapi, maaf kali ini Nenek tidak bisa mengalah karena Vas ini akan Nenek jadikan kado ulang tahun!" kata Nenek itu mulai membayar.
"Nek, akan saya belikan Vas baru ditempat lain yang lebih bagus dan lebih mahal dari ini ... saya mohon!" kata Cain yang sebenarnya terlalu mengerti dengan apa yang dimaksud Goldwin tapi entah mengapa firasatnya mengatakan ia harus menghentikan Nenek itu untuk membeli Vas itu bagaimanapun caranya.
"Maaf Cu!" Nenek itu sudah membayar dan meminta dibungkuskan oleh Franklin. Memang sulit untuk menahan godaan membeli Vas itu karena bentuknya yang unik dan mewah terlebih lagi dengan harga yang murah.
"Nek! saya mohon ... ini untuk kado ulang tahun ibu saya!" kata Cain mulai akting menangis dan memegang boks berisi Vas itu.
"Ada apa ini?" tanya seseorang wanita berusia 30'an melihat Cain sedang saling tarik-menarik boks yang dipegang Nenek itu.
Nenek itu menjelaskan apa yang terjadi karena perempuan yang bertanya itu adalah Putri dari Nenek itu.
"Maaf ya dik! ini sudah dibeli duluan oleh ibu saya!" kata Putri dari Nenek itu yang mulai menarik paksa boks dari tangan Cain.
Cain masih tidak ingin menyerah dan mulai mengejar dan menghalangi langkah dari Putri Nenek itu, "Saya mohon tante! akan saya gantikan dengan yang lebih bagus! saya mohon!" Cain mulai berlutut memicu pejalan kaki yang lain menonton drama anak 10 tahun sedang memohon sambil berlutut.
"Kasih saja, masa tidak mau mengalah sama anak kecil!" kata orang yang sedang menonton.
Putri dari Nenek itu tidak merasa harus menuruti permintaan dari orang lain dan malah memanggil keamanan yang ada di sekitar pasar untuk membawa Cain.
Cain yang dibawa paksa oleh keamanan tidak berhenti memohon sampai sosok Nenek dan Putrinya itu mulai menghilang dari pandangannya.
"Sudahlah! kau sudah melakukan yang terbaik!" kata Goldwin.
Cain berniat merusak vas bunga itu dengan memecahkannya tapi Goldwin melarang.
"Apa yang akan terjadi sekarang?!" Cain mulai menghapus air mata palsunya.
"Tidak ada yang bisa dilakukan lagi! Permainan sudah dimulai!" kata Goldwin, "Barang yang dijual oleh Franklin adalah item untuk memulai permainan!"
"Kalau begitu aku bunuh saja dia!" kata Cain menatap tajam Franklin yang sedang membereskan barangnya.
"Membunuhnya tidak akan menjadikan permainan berhenti malah akan berakibat buruk dan membuat Permainan Tukar Kematian tidak terjadi tapi lebih buruk ... yakni semua korban akan ikut mati!" kata Goldwin.
Tangan Cain gemetaran karena menahan emosi ingin sekali memanggil Orogla dan menebas Franklin yang sedang menyeringai.
"Perkiraan Verlin benar kita harus datang di waktu ini karena mencegah pasangan pemain terakhir adalah cara paling efektif untuk menghentikan permainan. Tapi seperti yang kau lihat sendiri ... kita tidak bisa mencegah item itu untuk tidak diambil oleh pasangan korban terakhir!" sambung Goldwin.
"Kalau begitu, kita hanya perlu mengulangi lagi kembali di hari ini?!" kata Cain masih tidak ingin menyerah.
"Tidak bisa! kita hanya bisa melakukan ini satu kali! entah bagaimana tapi Permainan ini seperti membekukan waktu bahkan yang tercatat di sejarah Leaure tentang permainan ini tidak pernah sekalipun bisa dicegah dan dihentikan. Ibaratkan ini memang sudah takdir dari para korban untuk mati di permainan ini!" kata Goldwin.
"Ini memang sudah takdir mereka! aku hanya membuatnya agar kematian mereka bisa dinonton lebih seru ... begitu saja!" kata Franklin yang muncul dihadapan Cain dan Goldwin.
"Lebih seru? kau pikir kematian seseorang itu hiburan?!" Cain sudah tidak bisa menahan emosinya dan mengeluarkan pedang Oroglanya.
"Aku tidak tahu ada Leaure yang bisa hidup di masa ini?" kata Franklin menyeringai dan perlahan mulai menghilang.
Tapi Cain tidak membiarkan Franklin, ia mengiris tangan dengan menggunakan pedang Orogla dan memunculkan rantai emas langsung mengikat Franklin. Untung saja Goldwin cepat tanggap membuat garis pelindung agar pemandangan seorang anak mengiris tangannya sendiri tidak dilihat oleh orang yang ada disana.
Franklin yang hampir kabur tidak jadi karena rantai yang mengikatnya tiba-tiba, "Bukankah Leaure tidak boleh melakukan ini? atas kuasa apa seorang Leaure menangkap penjahat? bukankah seharusnya kau hanya memperdulikan bagaimana menolong para pemain yang akan menjadi korban dalam waktu dekat!"
"Jangan menceramahiku Aluias!" kata Cain marah karena tiba-tiba Franklin menggunakan fungsi dari Leaure sebagai alasan, "Apa kau tidak malu sebagai keturunan Aluias yang seharusnya menangkap penjahat malah menjadi penjahat!" Cain membalas dengan memakai fungsi Aluias.
Benar yang dikatakan Franklin bahwa tidak boleh menggunakan kekuatan Leaure untuk menangkap penjahat tapi yang anehnya Cain bisa melakukan itu tanpa harus mendapatkan hukuman. Biasanya setelah melakukan pelanggaran, Leaure akan ditarik kembali ke Istana untuk mendapatkan hukuman.
"Apa karena dia Alvauden atau karena memang Viviandem belum dibangkitkan?" tanya Goldwin dalam hati.
Sulit mengetahui apa yang sebenarnya terjadi karena memang tidak pernah ada Leaure yang bertugas di masa Caelvita belum resmi.
Sementara itu Verlin yang masih mengikuti bau yang samar-samar dikagetkan oleh bau yang sangat jelas muncul tiba-tiba, Felix yang membaca pikiran Verlin langsung berlari mengikuti aura berwarna putih bersinar itu dan mendapatkan Cain dan Goldwin sedang bersama seseorang.
"Dia ... kah yang kita cari?!" kata Teo kesulitan bernapas karena berlari.
...-BERSAMBUNG-...