
Kemunculan seseorang yang menyebut dirinya Pemburu Iblis itu adalah sesuatu yang tidak pernah dibayangkan. Memang polisi dan jaksa membantu tapi tentunya mereka tidak akan membantu seperti Pemburu Iblis yang tahu bahwa ini bukanlah sesuatu yang bisa dijelaskan dengan sains. Tentunya senang karena ada yang mengerti dengan baik tapi pada akhirnya membuat repot juga. Karena seseorang yang tahu betul konsekuensi dari kerasukan Iblis pasti akan melakukan hal yang sama yakni membunuh Iblis saat masih berada di dalam tubuh manusia.
"Tidak kusangka polisi lebih baik ternyata ...." kata Teo.
"Mereka memang menyebalkan dan tidak tahu apa-apa tapi setidaknya mereka mengutamakan keselamatan." kata Tom.
"Pemburu Iblis ini prinsipnya sama seperti Felix atau memang semua Viviandem berprinsip begitu, ya?" tanya Teo menatap tajam Felix. Tapi Felix tidak peduli dan hanya melakukan aktivitasnya.
"Apa hanya aku yang rajin membaca buku disini? sudah kubilang kan kalau kita harus banyak membaca buku tentang Mundebris sebelum Viviandem bangkit ...." kata Tan kesal, "Prinsip penghukum itu ada dalam peraturan dasar hukum Aluias. Apapun itu ... jika bertemu dengan penjahat, harus dibunuh jika tidak sanggup untuk ditangkap." Tan akhirnya menjelaskan walau malas, "Karena untuk menangkap penjahat, kekuatan dari penangkap haruslah lebih kuat dari yang ditangkap. Jadi apapun itu jika bertemu penjahat haruslah dihentikan saat itu juga walau harus mengorbankan nyawa."
"Tidak masuk akal. Pemahaman itu terlalu kuno untuk zaman sekarang ... tanpa kekuatan yang besar pun, kan kita bisa menggunakan kelincahan, kelicikan, pokoknya apapun yang bisa digunakan untuk mengelabui ... Aluias itu hanyalah tidak kreatif menurutku!" kata Teo.
"Tapi jika pertarungan sesungguhnya memang benar begitu ... kekuatan adalah segala-galanya, walau kita menggunakan segala cara yang kreatif ... pada akhirnya keberuntunganlah yang menentukan akan berpihak pada siapa." kata Tom pasrah mengakui bahwa Aluias itu benar.
"Motto hidup Aluias adalah jika tidak mampu menangkap, maka bunuhlah seorang penjahat walau harus membunuh dirimu sendiri." kata Tan.
"Pada akhirnya kita haruslah lebih kuat agar bisa menghentikan kejahatan tanpa harus membunuh ...." kata Felix.
"Maksudmu, kita haruslah berlatih lebih giat lagi kan?" tanya Teo mengerti ucapan Felix.
"Prinsip dasar Aluias tidak boleh melepaskan penjahat yang ada di depan mata. Karena jika gagal dan penjahat itu kabur, maka bagi Aluias itu adalah hal yang sangat memalukan. Aluias tidak akan pernah mundur dari sebuah pertarungan sampai dikatakan menang atau kalah." kata Tan.
"Mundebris sangatlah ketat kalau soal prinsip ... sangat melelahkan menjadi Viviandem!" kata Teo.
"Kau tidak tahu saja, lebih melelahkan lagi menjadi Alvauden. Kau haruslah memahami dan mengerti masing-masing kaum, tidak boleh memihak dan haruslah adil." kata Felix.
"Apa sudah terlambat untuk mengundurkan diri menjadi Alvauden?!" kata Tom membuat yang lain tertawa.
***
Akhirnya alat buatan Mertie itu selesai. Kamera Mertie dipasangi kaca pelindung yang diberikan oleh Felix. Semua kamera akan rusak atau terbakar jika ada Iblis yang lewat di area kamera terpasang. Makanya Felix mencari cara untuk mengakali hal itu. Kaca yang dipakai di Mundebris sangatlah kuat karena aura kehadiran di Mundebris bermacam-macam. Jika menggunakan kaca biasa seperti yang ada di Mundclariss pasti tiap detiknya kaca di rumah atau toko atau tempat yang memiliki bagian kaca akan hancur seketika karena Iblis dan Quiris kuat lainnya selalu berlalu-lalang apalagi di bagian pasar.
Maka dari itu, Felix membeli kaca di sebuah toko penjual kaca di Mundebris. Memang ada benda lainnya selain kaca tapi untuk memuat kamera haruslah sesuatu yang tembus pandang. Semua peralatan dan bahan rumah di Mundebris sangatlah kuat dibanding yang ada di Mundclariss. Terkadang juga terjadi pertarungan tiba-tiba jadi jika menggunakan bahan biasa pasti akan membuat bangunan akan langsung runtuh saat ada yang bertarung.
"Jadi, kamera akan aman jika disimpan di dalam sini?" tanya Tan.
"Belum bisa dipastikan karena belum dicoba ...." jawab Mertie.
"Jika ini berhasil, kita bisa memantau apakah ada yang pergi meninggalkan desa dan apakah ada yang belum pulang juga. Dengan begini kita bisa berjaga sebelumnya kalau ada yang belum pulang dan kemungkinan akan pulang malam." kata Felix.
"Kalau begitu, kita harus memeriksa semua informasi pribadi dari semua penduduk desa beserta keluarganya dong ...." kata Teo merasakan akan kerja lembur lagi.
"Benarkah?" tanya Teo.
"Sebenarnya aku ingin membuat kalian kagum tapi ternyata kau sudah tahu, ya?!" kata Mertie sebal ingin memamerkan kerja kerasnya tapi sudah diketahui oleh Tom.
"Kau bukan tipe yang suka diperintahkan untuk melakukan sesuatu dan akan melakukannya sebelum diperintahkan ... jadi aku hanya berspekulasi saja." kata Tom.
"Ya, sudah selesai. Tinggal kita bagi tiap rumahnya agar bisa lebih efektif ...." kata Mertie.
***
Hari sabtu mereka libur sekolah dikarenakan selesai ujian final semester. Hari itu digunakan sebaik mungkin untuk memasang kamera. Felix dan Tiga Kembar lah yang memasang karena bisa memasangnya tanpa harus kelihatan. Mertie hanya mengecek apa sudut kamera sudah baik di monitornya.
"Wah, aku benar tidak melihat kalian ... kalian sekarang ada di depan kamera kan?" kata Mertie takjub.
"Bagaimana? apa sudut kameranya sudah bagus?" tanya Teo.
"Kau yakin cara pasangmu sudah benar kan? tidak akan jatuh terkena angin atau hujan kan?" Mertie jelas tidak mempercayai Teo.
"Bahkan terkena badai apapun tidak akan goyah! sampai 100 tahun yang akan datang kamera ini akan tetap terpasang." kata Teo berlebihan.
"Baiklah, kalau begitu ... aku harus hidup 100 tahun lagi untuk memastikannya." Mertie tidak bisa menahan dirinya mengerjai Teo karena kamera itu akan dilepas juga kalau sudah tidak dipakai lagi.
"Mertie? ini hanya saranku tapi akan lebih baik kalau kamera yang telah dipasang tidak dibuka dan tetap disini. Maksudku, jika kita terus melakukan hal seperti ini ... bayangkan di masa depan nanti, seluruh Yardley bisa kau awasi!" kata Felix.
"Ide yang bagus tapi untuk itu aku harus membeli banyak kamera lagi ... ini saja aku hampir menghabiskan uang beasiswaku dan hasil kerja paruh waktuku. Untuk saat ini, kita pakai cara seperti ini saja dulu. Memakai alat yang sama berulang kali." kata Mertie.
"Tapi, kau ini perlu dipuji untuk hal yang kau lakukan saat ini ... kebanyakan orang tidak akan membuang uangnya untuk sesuatu yang bukan untuk keperluan diri sendiri tapi kau mengeluarkan uang untuk melindungi orang lain bahkan tanpa mendapatkan imbalan ...." kata Tan.
"Kebanyakan anak lain tidak akan membuat nyawanya terancam seperti kalian, tapi kalian melakukan itu untuk melindungi ... kalau ingin memuji, pujilah diri kalian sendiri dulu! perkataanmu yang tidak mendapatkan imbalan itu salah! melihat ada seseorang yang berhasil kuselamatkan dan bisa kembali ke kehidupan normalnya adalah imbalan bagiku ...." kata Mertie.
"Apa-apaan! aku jadi ingin muntah saja ...." kata Teo geli mendengarnya.
"Bagaimana kalian sudah menghafal masing-masing bagian data penduduk desa ini kan?!" Tom merusak suasana.
"Tentu saja, bahkan keluarga jauh yang bisa saja datang berkunjung ke desa ini tapi ada yang memakai foto editan, entah apa aku bisa mengenalinya ...." kata Teo.
"Tapi bagaimana kau bisa mengetahui semua informasi ini, Mertie?" tanya Tan.
...-BERSAMBUNG-...