
Felix menyelinap keluar padahal sudah tengah malam untuk memeriksa Rumah Pohon. Felix ingin melaporkan bahwa Cain menghilang tapi dilarang Dokter Mari, "Dia itu bukan tipe anak yang bisa hilang!" katanya.
"Bibi dan keponakan sama saja! menyebalkan!" Felix dengan kesal sambil berjalan di dalam hutan menuju Rumah Pohon.
"Biar aku saja yang naik melihat!" kata Alger yang segera terbang naik ke atas rumah pohon, "Tidak ada orang!" Alger turun lagi dengan santai, "Mungkin dia sedang ada di tempat lain yang dimana tidak ada yang bisa mengganggunya!" lanjut Alger.
"Ayo kita kembali ke panti!" Felix mulai berjalan lagi, "Tidak ada yang bisa pergi mengganggunya?" kata Felix menghentikan langkahnya.
"Eng?" Alger ikut berhenti.
Felix langsung berlari kembali ke panti dengan salju yang memenuhi sepatunya.
"Alger? apa tidak ada hantu selain kamu disekitar sini?"
"Tidak ada kak! aneh juga rasanya!"
"Ck ... tidak ada yang bisa ditanyai!"
Sampai di belakang panti, Felix langsung menarik tongkatnya dan membuka pintu menuju Mundebris, "Hei! apa kau tidak melihat anak yang seumuran pernah bersamaku masuk ke Mundebris?" tanya Felix pada Gerbangnya.
"Saya adalah pusat gerbang di Mundebris dan tahu siapa saja yang masuk atau keluar dari Mundebris tapi tidak melihat anak yang Tuan Muda maksud ...."
"Jadi dimana anak itu? tunggu ... hah ... perasaan apa ini? ini seperti saat aku akan memasuki gedung tua dekat rumah orangtua Mertie ...." mulai dirasakan saat gerbang muncul.
"Banyak Zewhit di sini Tuan Muda!" kata gerbang itu lagi dengan menggerakkan besinya membuat Alger menutup telinga.
"Tapi tidak ada Zewhit yang pernah kutemui disini!" kata Alger.
"Itu karena mereka takut bertemu dengan Tuan Muda di Mundclariss tapi bisa saja mereka ada di Bemfapirav."
"Apa itu Bemfapirav?" tanya Felix.
"Dunia buatan Zewhit, Tuan Muda. Dunia antara Mundclariss dan Mundebris, dunia yang tidak sempurna. Mengapa Zewhit biasanya dihukum karena berada di Mundclariss karena mereka punya dunia sendiri yaitu Bemfapirav untuk ditempati tapi masih saja sering berkeliaran di Mundclariss dan menghisap energi kehidupan dan melakukan kejahatan lainnya ...." kata Gerbang dengan tatapan sinis pada Alger, "Zewhit yang bisa keluar dari Bemfapirav hanya yang punya pekerjaan seperti Alexavier kecuali dinyatakan lain seperti Zewhit Viviandem ...." tambahnya.
"Bagaimana caranya bisa masuk kesana? em ... aku bisa memanggilmu dengan apa?" tanya Felix pada gerbang.
"Saya hanya gerbang, Tuan Muda ...."
"Walau begitu, kau itu juga makhluk hidup ...." kata Felix.
"Saya hanyalah sebagian kecil dari kekuatan seorang Caelvita yang bertugas sebagai pembuka jalan menuju Mundebris."
"Kau itu ya kau ... mau kau itu hanya sebuah kekuatan tapi kau punya tubuh sendiri, bisa berbicara sendiri, punya pikiran dan ingatan sendiri membuatmu tidak hanya bagian dari sebuah kekuatan ...."
"Ini kedua kalinya saya bertemu Caelvita yang aneh seperti ini ...." katanya mulai tersenyum dengan bunyi dentingan besi yang nyaring, "Nona muda Iriana memberi saya nama Marsden."
"Baiklah, Marsden ... kau tahu caranya agar bisa memasuki Bemfapirav?"
"Bemfapirav adalah dunia yang sangat mudah bagi Caelvita datangi Tuan Muda ... cukup pejamkan mata dan rapalkan kata Bemfapirav!"
"Baiklah, kau boleh kembali!" kata Felix membuat Marsden dengan menyempitkan gerbang besar itu dan mulai menghilang bersama cahaya hijau.
"Kau tidak pernah kesana Alger? katanya itu dunia untuk para Zewhit?" tanya Felix.
"Tidak pernah kak!"
Felix mencoba memejamkan matanya dan merapalkan Bemfapirav dan membuka matanya kembali, "Sepertinya tidak ada yang berub ...." kalimat Felix terhenti ketika merasakan aura aneh disekelilingnya.
Panti tetap dengan bentuk yang sama dan sekeliling juga sama tapi perasaan Felix berbeda, "Alger?" Felix mencari keberadaan Alger yang tadi ada disampingnya kini menghilang, "Apa mati lampu?"
Akhirnya Felix berjalan masuk ke dalam panti dengan mengitari jalan menuju pintu depan tapi di dalam terlihat sangat berbeda dengan perabotan dan design interior yang ada di panti. Felix keluar lagi dan memperhatikan keseluruhan panti baik-baik hingga menemukan banyak yang perbedaan setelah dilihat teliti, mulai dari warna cat dinding yang kusam dan tempat pos jaga satpam tidak ada. Felix masuk lagi ke dalam panti dan mencoba mencari saklar lampu tapi tidak ada sama sekali, dengan berdasarkan ingatan semata, Felix berjalan menuju kamarnya dengan kabut putih yang banyak memenuhi kakinya dan pencahayaan yang minim entah berasal darimana cahaya itu.
Dibukanya pintu kamarnya dan dilihat ada dua tempat tidur bertingkat yang seingatnya hanya satu dimana Cain tidur diatas dan Felix di ranjang bawah, "Jadi ini Bemfapirav? dunia buatan hantu hampir sama seperti dengan dunia nyata yang di Mundclariss hanya saja ...."
"Hanya saja, dunia ini berdasarkan ingatan dari seorang Zewhit semasa hidupnya ... halo Tuan Muda!" sapa kucing emas.
"Aura mu tidak seperti seorang Zewhit, kau ini dari Mundebris kan?" tanya Felix.
"Apa kau melihat seorang anak berambut pirang, lebih tinggi dariku?"
"Tuan Muda mencari Cain?"
"Kau kenal Cain?" Felix dengan wajah gembira.
"Tentu saja Tuan Muda! aku yang mengajarkan dia untuk kesini, katanya ingin ke tempat yang tenang dan tidak ada yang mengganggu ... ya hanya di Bemfapirav karena kebanyakan disini yang tinggal hanyalah Zewhit cangkang saja, kalau di Mundebris mulai dari tanaman akan mengganggu karena mereka semua cerewet sekali haha ...."
"Dimana Cain sekarang?"
"Terakhir kulihat dia ada di ruang makan sedang melamun."
"Apa yang mereka lakukan?" tanya Felix melihat hantu yang ada di ruang tamu.
"Mereka itu hanya Zewhit cangkang saja Tuan Muda, jadi hanya melakukan aktivitas sesuai ingatan mereka saja, sudah tidak berakal dan tidak bisa diajak berkomunikasi ... abaikan saja!"
Tak lama para hantu itu langsung saling membunuh dengan menggunakan pisau untuk menusuk tubuh yang berada dihadapannya. Felix kaget melihatnya sedangkan Goldwin hanya santai berjalan.
"Jadi mereka hanya melakukan hal sesuai ingatan sesaat sebelum mereka meninggal?"
"Iya Tuan Muda, bodoh sekali kan mereka! kalau melepas dendam dan ikut untuk sidang pasti bisa menjalani hukuman dan bisa juga mendapat kesempatan terlahir kembali ... bukannya tinggal disini dan hanya melakukan hal yang sama berulang-ulang ... hahh dasar!"
"Jadi dulu di panti ada kejadian seperti ini? makanya tidak ada Alexavier yang bekerja disini?"
"Tidak apa-apa Tuan Muda, mereka tidak akan mengganggu manusia yang ada di Mundclariss walau mungkin sering memberi mimpi buruk tapi tidak akan membahayakan ... cuma ya itu ... karena pernah terjadi acara saling bunuh begini jadi Alexavier tidak akan dipekerjakan disini."
"Kapan kejadian ini terjadi?" Felix memperhatikan pakaian para hantu itu yang sudah mulai kembali ke aktivitas semula setelah saling bunuh.
"Sudah lebih 100 tahun mungkin, em ... ayo Tuan Muda! tidak ada yang bagus dinonton dari sketsa cerita mereka!"
Goldwin mengantar Felix menuju tempat dimana Cain berada dengan sinar bulunya yang begitu terang.
"Cain!" teriak Felix ketika melihat orang yang dirindukannya kini ada dihadapannya.
"Sedang apa kau disini?" balas Cain datar.
"Seharusnya aku yang bertanya begitu?!"
"Tinggalkan aku sendiri!" kata Cain datar.
"Kau kenapa? ada masalah? apa ada Zewhit yang mengganggumu saat aku sedang tertidur? maaf pasti kau kesusahan saat aku tidak ada ...."
Cain menghela napas dan menyela perkataan Felix, "Kau jadi gampang sekali ya bilang maaf."
"Ada masalah apa?" tanya Felix mulai merasakan sikap dingin Cain.
"Sekarang baca pikiranku, kau akan tahu sendiri!" tantang Cain.
"Kemampuan itu masih datang dan pergi, biasanya hanya gampang pada Zewhit saja kalau dengan manusia masih sulit ...." balas Felix bingung dengan tingkah laku Cain, "Memangnya ada apa? langsung saja katakan? jadi tidak seperti kau saja!"
"Dari awal kau memang tidak mengenalku Felix, dari awal hanya aku yang selalu mencoba mengenalmu, mengertimu ... tapi kau hanya egois dan mementingkan dirimu sendiri ... mulai sekarang aku bukan sahabatmu lagi, jangan dekati aku lagi!"
"Apa kau khawatir karena kejadian enam hari yang lalu? atau terjadi sesuatu saat aku tidak ada?" Felix meraih lengan Cain.
"Kau masih tidak mengerti juga?!" teriak Cain.
"Makanya buat aku mengerti!"
"Sudah aku bilang dengan jelas, kau ... BUKAN SAHABAT KU LAGI! MENGERTI?!!" Cain menghempaskan tangan Felix, "Ayo Goldwin ... kita kembali!"
Goldwin menurut saja mengikuti Cain dan berbalik untuk pamit, "Sampai jumpa Tuan muda ... hahh ... sepertinya aku pernah melihat kejadian seperti ini."
Felix hanya diam membatu, "Kalau bukan kau, siapa lagi yang akan menjadi sahabatku?"
...-BERSAMBUNG-...