
"Hahh ... kapal menyebalkan itu tetap menyebalkan sampai akhir!" kata Tan mengomel sendiri sambil terus berlari.
"Apa?!" tanya Demelza tidak bisa mendengar perkataan Tan dengan suara kecil karena memakai masker.
Kapal viking yang pernah menyiksa Tan dan Demelza masih terus berlayar mengejar. Padahal tidak ada air atau mesin apapun itu tapi bisa bergerak begitu cepat di atas tanah.
"Aku sudah tidak tahan!" Tan memanggil Tellopper nya dan berbalik menghadap kapal viking itu. Detik kemudian, kapal itu terbelah dua.
"Apa yang terjadi?!" tanya Demelza bahkan tidak sempat melihat apa yang menghentikan kapal viking itu karena semuanya terjadi begitu cepat.
"Oh, iya ... bagaimana kau bisa mengenaliku sementara aku sedang memakai masker?!" Tan menghilangkn Tellopper nya dan mulai terpikirkan lagi tentang masker yang dipakainya setelah merasa kesulitan bernapas.
"Kalau mau tidak diketahui siapa, masker saja tidak cukup tahu! gaya pakaianmu, gaya rambutmu semuanya juga tahu kalau kau bukan Tan pasti Teo atau Tom." kata Demelza.
"Begitukah?!" Tan mulai menutup wajah Demelza menggunakan tangannya agar tampak seperti memakai masker, "Sepertinya aku tidak akan mengenalimu kalau memakai masker."
"Hahh?!" Demelza baru bisa bernapas lega sebentar tapi sudah ada hal lain yang mendekat lagi, "Ayo, lari!" Demelza menarik tangan Tan yang dipakai tadi sebagai masker padanya.
"Tidak ... kalau hanya berlari terus, aku bisa mati karena kehabisan oksigen." kata Tan menepis tangan Demelza.
"Memangnya kau bisa apa?!" Demelza meremehkan Tan yang memang nilai olahraganya semakin tinggi beberapa tahun terakhir tapi bagaimanapun image Tan tetap terkenal hanya sebagai kutu buku saja. Lagipula yang akan dilawan bukanlah lawan yang bisa dikalahkan oleh pengetahuan dan kekuatan stamina yang kuat.
Tan masih menolak untuk berlari lagi dan terus berdiri mematung menunggu yang sedang menuju arahnya itu mendekat. Kali ini kuda yang mengejarnya, tapi bukan kuda asli melainkan kuda yang berasal dari komidi putar.
"Mustahil ...." kata Demelza melongo.
"Kau sudah tahu kalau disini semua yang mustahil bisa saja terjadi ... memangnya kau baru satu malam disini, kau sudah 7 malam mengunjungi tempat ini!" kata Tan menyadarkan Demelza.
"Jangan menceramahiku! keberadaanmu saja masih tidak bisa kupercayai, bisa saja kau hanyalah salah satu jebakan yang ada disini." kata Demelza memasang wajah dingin nya.
"Benar ... kau memang tidak boleh percaya apapun yang ada disini tapi setidaknya ...." Tan memanggil kembali Telloper dan membelah dua semua kuda dari komidi putar dengan memanjangkan Telloper dan menebasnya dari kiri kekanan, "Kau harus mempercayaiku, aku bisa melindungimu!" sambungnya.
"Bagaimana kau bisa melakukan itu?!" tanya Demelza mulai mundur karena takut dengan Tan yang mempunyai kekuatan seperti itu.
"Aku tidak punya waktu untuk menjelaskannya, tapi anggap saja aku ini punya kekuatan super." kata Tan.
Demelza merasa waspada dengan Tan, setelah satu sekolah 6 tahun bersama. Mustahil membayangkan kalau salah satu temannya mempunyai kekuatan super.
***
"Jangan mendekat!" teriak Osvald setelah melihat kedatangan Teo dan Tom.
"Osvald, ini kami ...." kata Teo mencoba menenangkan Osvald.
"Tidak, kalian pasti ilusi ... menyamar sebagai temanku dan akan menyerangku saat lemah. Aku sudah tahu dengan tempat ini ...." kata Osvald.
"Baiklah ... kami tidak akan mendekat, tapi ambil ini!" Tom melemparkan tasnya tepat di depan Osvald, "Di dalam sana ada baju, ganti bajumu dulu dengan yang lebih hangat!"
"Ada kotak P3K di dalam tas ku, pertama rawat dulu lukamu!" kata Teo melemparkan tasnya juga.
"Aku tidak akan tertipu! pergi kalian!" teriak Osvald sepertinya sudah tidak bisa berpikir jernih lagi karena kedinginan.
"Kami akan menjauh ... jadi kau bisa membuka tas dengan tenang!" kata Tom perlahan mulai melangkah mundur diikuti oleh Teo juga.
Teo dan Tom sudah cukup jauh dari Osvald tapi Osvald rupanya belum mau menyentuh tas itu takut jika itu adalah jebakan.
"Kau diam saja!" Tom menarik kembali Teo untuk duduk kembali, "Kita tunggu saja ... lagipula lama kelamaan dia tidak akan tahan dengan dingin ini juga. Pasti akan terpaksa memeriksa tas kita juga."
"Darahnya juga tidak berhenti terus mengalir, apa tidak apa-apa begitu?!" tanya Teo.
"Itu hanyalah ilusi ... walau benar terjadi tapi hanya untuk menyiksa bukan untuk membunuh. Rasanya akan sakit tapi tidak akan membuat kehabisan darah dan mati. Semata-mata hanya untuk menyiksa saja ... kau tahu itu kan?! kita juga akan mengalami hal yang sama kalau tidak berhati-hati dan kalau kita yang terkena, sudah bukan sekedar ilusi atau siksaan semata lagi melainkan benar terjadi dan kita bisa mati karena ini tubuh asli kita." kata Tom.
"Oh, dia ... mendekati tas!" seru Teo.
"Jangan melihatnya!" Tom menundukkan kepala Teo karena saat diperhatikan oleh Teo, Osvald mundur kembali.
"Sampai kapan dia mau begitu terus?! kita tidak tahu kalau apalagi yang akan datang ...." kata Teo sebal.
"Dia sudah membuka tas ...." kata Tom pura-pura tidak melihat tapi terus melirik Osvald.
"Ohya?!" Teo jadi penasaran karena tidak bisa mengangkat kepalanya melihat itu.
"Sepertinya ada yang terjadi di luar sana!" kata Tiga Kembar bersamaan menatap langit. Mereka sedang tidak bersama tapi memikirkan hal yang sama di waktu yang sama.
Osvald telah merawat lukanya sendiri dan membalutnya dengan peralatan dari tas Teo kemudian memakai baju yang disiapkan oleh Tom sebelumnya. Tom memang sudah jaga-jaga kalau menjadi target, setidaknya hal yang sangat ingin dilakukannya adalah memberi pakaian hangat untuk Osvald. Tapi Osvald kembali waspada saat Teo dan Tom mendekatinya lagi.
"Kami hanya ingin menyalakan api saja ...." kata Tom kesal dengan ekspresi Osvald.
Teo mengeluarkan termos kecil dan menuangkan coklat panas yang masih beruap, "Cepat ... sebelum jadi dingin!" Teo dengan ekspresi kesal juga, "Dengan suhu ini, akan langsung dingin! kau mau aku sia-sia membawa ini dan tidak diminum sama sekali padahal sudah berat-berat kubawa."
Osvald perlahan mendekat dan meraih coklat panas itu tapi masih dengan mode waspada. Bagaimanapun dirinya tidak bisa menolak dengan visual uap panas yang terus menggodanya itu. Osvald akhirnya bisa menikmati coklat panas setelah sekian malam terus menginginkan hal itu muncul di dunia Zewhit yang dingin.
Tom sudah menyalakan api, tidak memakan waktu lama karena punya peralatan lengkap. Osvald merasa tercurangi karena selama ini selalu pergi dengan tangan kosong. Tapi tidak berniat berbicara juga untuk sekedar mengobrol atau terlebih lagi untuk komplain.
Cukup lama Teo, Tom dan Osvald hanya diam saja di depan api unggun. Bahkan Tom harus membuat dua api unggun karena Osvald tidak mau mendekat dengannya.
"Apa itu?!" Teo melihat ada cahaya muncul dari bawah sungai yang membeku di depannya.
"Ayo, kita periksa!" kata Tom.
"Tidak! jangan tertarik, jangan penasaran! semua itu hanyalah jebakan ... semua itu hanyalah umpan agar kita mendekat." kata Osvald mencegah Teo dan Tom pergi.
Teo dan Tom hanya tertawa, selama ini mereka menonton gemas sendiri saat Osvald terus berjalan menuju umpan Zewhit Kurcaci tapi kali ini merekalah yang melakukan hal yang sama seperti Osvald lakukan.
"Ternyata ... begini rasanya!" kata Teo tertawa.
"Kau sudah mempercayai kami?!" tanya Tom.
"Tidak!" sahut Osvald cepat.
"Hahh ...." Teo dan Tom menghela napas dan berjalan menuju arah sungai yang membeku itu.
Terlihat ada cahaya dari bawah sungai itu yang terus bergerak. Tom berjalan di atas sungai membeku itu sementara Teo berjaga di tepi sungai. Tom mengusap es yang dipenuhi salju agar bisa melihat dengan jelas ke bawah sungai.
"Lari!" teriak Tom perlahan mundur setelah melihat apa yang ada di bawah sana.
...-BERSAMBUNG-...