UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.382 - Liburan Musim Panas



"Bisa jadi sih ... tapi Caelvita tetaplah Caelvita. Walau kau terlihat begitu ... mereka pasti akan tetap memperlakukanmu sama." kata Iriana.


"Terlihat bagaimana?!" Felix merasa tersinggung dengan penggunaan kata Iriana.


"Ya ... begitu!" Iriana menolak untuk meneruskan dan menjelaskan secara rinci.


Tan, Teo dan Tom terlihat sangat berkeringat dan gelisah saat sedang tertidur.


"Baru tahap pertama mereka memasuki dunia pikiran tapi mereka sepertinya sudah sampai di batas maksimal untuk menahan besarnya efek dari dunia pikiran." kata Felix.


Tiga Kembar terbangun kaget dengan langsung duduk tapi irama jantung yang luar biasa berdetak sangat kencang. Saking kencangnya, Felix mengira sedang mendengar ada drum yang sengaja dipukul.


"Aku pusing sekali ...." kata Teo kembali tidur.


Tom memegang kepalanya yang sakit merasakan rambutnya dipenuhi oleh keringat dan jantungnya seakan mau melompat keluar. Sedangkan Tan memaksakan diri untuk bangun meminum air.


"Sampai sini saja ... kalian belum bisa memasuki dunia pikiran!" kata Felix.


"Jujur, tubuhku memang sepertinya tidak bisa berbohong ... tapi biarkan kami mencobanya lagi nanti malam." kata Tan.


"Kalian bisa saja tidak sadarkan diri dan lebih buruknya bisa koma ...." kata Felix.


"Kalau begitu ... baru di menit pertama perang bersama Efrain nanti, mungkin kami sudah mati. Apanya yang berbeda dengan sekarang?! setidaknya kami bisa membiasakan diri sedikit!" kata Tan.


"Ya, biarkan kami mencobanya lagi ...." kata Teo ikut membujuk.


"Bagaimana dengan mereka berdua?! pasti sudah terbangun juga sekarang ...." kata Tom.


"Osvald dan Demelza?! mereka sudah bangun juga ...." kata Felix mencari suara Osvald dan Demelza untuk dipastikan.


"Sepertinya mereka akan sangat kaget setelah memimpikan hal seperti itu ... apa mereka akan baik-baik saja?!" tanya Teo khawatir jika mereka berdua malah melarikan diri atau melakukan sesuatu yang aneh.


"Mereka tidak akan ingat ... hanya akan mengingat bahwa telah bermimpi buruk tapi tidak ingat secara detail. Tapi saat memasuki dunia pikiran lagi, otomatis mereka akan mengingat kembali mimpi sebelumnya." kata Tan menjelaskan bersamaan dengan Winn jadi Teo bingung sendiri harus mendengar yang mana.


"Jadi, sebenarnya dunia pikiran ini akan terlupakan juga ... walau semuanya sudah berakhir, mereka bisa kembali hidup normal." kata Teo.


"Tentu saja, Zewhit Badut dan Kurcaci berbeda dengan Zewhit lainnya ... mereka hanya ingin ada yang mengingat walau hanya sebentar bagaimana semasa hidup mereka." kata Felix.


"Tapi tetap saja dia bisa menarik banyak rasa takut ...." kata Tom yang tidak bisa sepenuhnya mengakui bahwa kedua Zewhit itu baik.


"Memang ... tapi mereka juga berhak untuk mempertahankan diri agar tetap hidup." kata Felix.


"Kuakui mereka memang tidaklah seburuk itu ...." kata Teo.


"Entah bagaimana tapi sepertinya mereka punya cerita sedih ...." kata Tan.


***


Demelza dan Osvald terlihat kacau saat datang untuk sarapan di ruang makan. Karena hari libur, jadi anak-anak hanya memakai piyama dan sweater tipis, bukannya memakai seragam lengkap dan terburu-buru menghabiskan sarapan.


Teo dan Tom meminta petugas dapur membuatkan coklat hangat untuk diberikan pada Osvald.


"Musim panas begini?! seharusnya kan kalian minta ice cream ...." kata Petugas dapur bingung, "Baiklah ...." setelah melihat wajah Teo dan Tom yang kecewa.


Teo dan Tom membawakan Osvald coklat hangat, walau sebenarnya lupa tapi Osvald sangat menikmati coklat hangat itu. Seakan sudah tertanam di dalam otaknya ingin meminum minuman hangat setelah mengalami kejadian semalam.


"Entah kenapa, aku memang sangat ingin minum ini ...." kata Osvald.


"Katakan kalau kau mau tambah, biar aku minta dibuatkan lagi!" kata Teo merasa sangat bersalah.


"Tidak, tidak usah ... ini saja sudah cukup! tidak baik selalu meminta dibuatkan menu yang tidak tersedia." kata Osvald.


Sementara Tan kasihan melihat Demelza yang terus memukul-mukul kakinya, "Sepertinya dia kelelahan ... apalagi di dalam mimpi dia berlari kesana-kemari tanpa alas kaki."


Felix melihat ketiga sahabatnya yang terlihat merasa bersalah dan kasihan disaat bersamaan, "Mereka terlalu baik ...." kata Felix dalam hati.


"Efrain bahkan lebih baik lagi dari mereka ... percayalah!" kata Iriana.


"Tapi sekarang dia berubah." kata Felix.


"Maksudku ... sebaik apapun seseorang jika diberi kehidupan yang keras maka pasti akan berubah untuk bertahan di kehidupan yang keras itu." kata Iriana.


"Akan kupastikan mereka tidak akan menjadi seperti mantan Alvauden sebelumnya ...." kata Felix.


"Katakan itu saat misimu berhasil, kau harus berhasil membuat mereka hidup dulu baru bisa mengatakan itu." kata Iriana.


Suasana ruang makan hanya diisi beberapa anak saja. Kebanyakan sedang pulang ke rumah masing-masing untuk menikmati liburan musim panas bersama keluarga. Tapi lain seperti Felix, Tan, Teo dan Tom yang tinggal di panti asuhan.


"Aku ingin pulang ke panti sebenarnya ...." kata Tan yang bagaimanapun merindukan suasana hangat di panti tempatnya tumbuh besar dari kecil.


"Tapi, bagaimanapun ... jika disana, kita tidak bisa bebas melakukan apapun." kata Teo.


"Terlebih lagi ada mereka ...." kata Tom melirik kedua Zewhit yang sedang melambai pada mereka.


Setidaknya petugas dapur asrama sekolah sangat memperlakukan mereka dengan baik. Tidak pernah menolak jika mereka meminta makanan yang tidak tersedia di menu.


***


Sebelum malam tiba, bukannya beristirahat Tiga Kembar ke perpustakaan mengerjakan tugas selama liburan musim panas. Berbeda dengan anak-anak lain yang biasanya baru mengerjakan saat sekolah sudah mau dimulai. Karena tidak bisa dipastikan akan terjadi apa, jadi mereka berpikir sebaiknya menyelesaikannya lebih awal.


Tan berkeliling dari perpustakaan tingkat SD sampai tingkat SMA untuk mencari referensi dari tugasnya. Teo hanya mengerjakannya asal selesai saja, tidak terlalu perduli harus sempurna. Tom lebih suka menambahkan pendapat pribadinya daripada harus mengutip perkataan orang lain di buku.


"Apa Felix sudah selesai?!" tanya Tan melihat Felix tidak ikut ke perpustakaan.


"Entahlah ...." balas Teo malas.


"Terserah dia, Felix tahu apa yang dilakukannya ...." kata Tom tidak mengkhawatirkan Felix sama sekali.


"Bukannya kau mau merebut peringkat pertama dengan mengalahkan Felix?!" tanya Teo menyeringai.


"Aku tidak bisa mengalahkannya ... setidaknya aku hanya harus mempertahankan peringkat duaku." kata Tom.


Setelah selesai menyelesaikan tugas musim panas masing-masing yang merupakan essai dengan topik yang berbeda-beda mereka menuju kolam renang sekolah.


"Kenapa kita disini?" tanya Teo.


"Karena sedang musim panas!" jawab Tom.


"Ck!" Teo emosi mendengar jawaban tidak tulus Tom.


"Untuk meningkatkan stamina kita!" kata Tan, "Berenang melatih pernapasan dengan baik ... dan sepertinya kita sangat butuh itu untuk memasuki dunia pikiran." sambungnya.


"Kalau begitu ... apa sebaiknya kita memanggil Osvald bergabung juga?!" Teo menyarankan.


"Osvald dan Demelza kelihatannya tidak enak badan, kulihat tadi mereka meninggalkan gedung kesehatan sekolah dengan membawa obat masing-masing ditangan mereka. Pasti saat ini mereka sedang istirahat. Mengikutsertakan mereka akan membuat mereka tambah sakit, lebih baik kalau mereka istirahat saja dulu ...." kata Tan.


"Siapa juga yang bilang 'mereka?!' cuma Osvald saja yang mau kami ajak!" kata Tom.


"Kalian seharusnya kasihan juga dengan Demelza ...." kata Tan.


...-BERSAMBUNG-...