UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.449 - Pertemuan Singkat



Gunung merapi di bawah laut kini terlihat seperti gunung merapi pada umumnya yang sangat tinggi karena air yang terbelah. Sisa-sisa semburan dari gunung merapi masih terus keluar walau sudah bukan ledakan besar seperti tadi. Sebuah batu besar dengan api mendekati mereka. Cain maju menangkap batu itu dengan santai dan perlahan batu itu padam apinya seperti terhisap oleh Cain.


"Tentu saja mudah untuk Quiris kemari ...." kata Felix sarkastik.


"Jalan masuk kemari melewati gunung merapi, dari segi mananya yang kau maksud mudah itu?!" kata Cain.


"Buktinya, bagimu kelihatan mudah saja ...." kata Felix.


"Ini karena selama ini aku tinggal di gunung merapi, kau tidak ingat?!" kata Cain merasa kecewa.


"Kau sendiri yang bilang untuk melupakanmu, mengabaikanmu dan membuangmu ... saat aku kesana ...." kata Felix.


Cain malu sendiri mengingat pernah mengatakan itu, "Kan kau sudah tahu kenapa aku mengatakan itu ... kau masih saja marah soal itu?!"


"Ayo cepat pergi darisini, aku sudah meninggalkan mereka cukup lama ...." kata Felix sudah mendaki gunung.


Cain menaikkan tangannya ke atas kemudian seperti mendorong udara ke bawah. Bersamaan dengan itu lahar gunung merapi terdorong jauh ke bawah. Jalan untuk keluar bisa terlihat jelas karena lahar sudah turun.


***


Semuanya telah sampai di bawah air kematian, 20 manusia tanpa ekspresi juga terus mengikuti Cain melewati jalan penyeberangan dunia sisi lain Mundclariss itu.


"Bagaimana kau bisa melewati ini?!" pertanyaan yang sangat membuat Felix penasaran bagaimana Cain melewati ini bersama 21 orang lainnya. Karena dirinya sendiri kesulitan.


"Sama seperti tadi, air yang di pinggir pantai langsung terbelah ... disini juga begitu." air kematian yang ditangga juga langsung menjauh dari tangga naik ke atas permukaan air kematian, "Berkat ini!" Cain menunjukkan gelang roh itu lagi, "Jadi, kalau tanpa ini ... aku mungkin tidak bisa lewat sepertimu."


"Tiba-tiba saja kau merendah ...." kata Felix.


"Aku dipilih melakukan ini karena bisa mengendalikan gunung merapi, kukira tidak ada yang tahu selain kau ... aku tinggal dimana setelah masa hukuman. Ternyata Ruleorum tahu segalanya ...." kata Cain ikut menaiki tangga dibelakang Felix dan dibelakangnya lagi ada 20 orang masih dengan wajah datar, "Maksudku, kau lebih hebat dariku karena bisa lewat sini tanpa bantuan orang lain dengan menggunakan kekuatanmu sendiri... wow!" Cain berhenti berbicara saat Felix hampir saja memukul kepalanya.


"Apa-apaan kau mengatakan hal seperti itu?! kau sedang meledekku atau apa?!" tanya Felix sebal membuat antrian panjang di tangga karena berhenti melangkah.


Cain melepas tawanya yang sudah ditahan daritadi.


"Hehh?!" Felix bingung tapi lama kelamaan ikut tertawa juga.


"Kau tidak tahu apa yang telah aku lewati selama ini ... tiap detiknya terasa sama seperti aku masih menjalani hukuman. Tapi kalau berkaca dan melihat tanda Alvauden di dahiku, semua stresku terasa hilang. Bukankah harusnya kau senang kalau aku sudah semakin kuat, Felix?!" kata Cain memeluk Felix.


"Apa yang kau lakukan di depan orang banyak begini?!" Felix mendorong Cain menjauh hampir terkena air kematian tapi bisa kembali lagi dengan mudah.


"Mereka tidak akan ingat juga ...." Cain tidak habis pikir Felix malu dihadapan orang-orang itu.


"Aku bukannya iri seperti yang kau pikirkan ... hanya saja kau sudah sampai disini sebelum aku dan tahu soal dunia seberang lebih dari aku." kata Felix.


"Tentu saja ...." Cain memasang senyuman miring, "Terkadang aku heran kenapa semua laki-laki memiliki hal menyebalkan itu, harga diri. Tapi kenyataannya aku juga sama memiliki hal itu ... tapi selamanya kau itu adalah pemiliki kekuatan terbesar, tidak ada yang bisa menyaingi kekuatan seorang Caelvita. Kalau ada yang iri, seharusnya itu aku ...."


"Kenapa kau memotong rambutmu jadi pendek lagi?!" tanya Felix diluar topik.


"Hahh?! tiba-tiba saja kau menanyakan hal lain begini ...." Cain heran tapi pada akhrinya menjawab juga, "Hanya saja ... sulit mempertahankan rambut panjang kalau terus berada di tempat yang panas dan terkadang api juga memotong rambutku tanpa izin ...."


"Teo, Tan dan Tom baik-baik saja ...." kata Felix.


"Aku tahu soal itu ...." kata Cain.


"Tentu saja kau tahu, kau pernah ke sekolah untuk memeriksa mereka kan ...." kata Felix membuat Cain batuk.


"Kau tahu aku datang?! padahal aku sudah bisa merekayasa auraku ...." kata Cain.


"Si Bodoh itu bisa melakukan hal seperti itu?!" Cain tertawa.


"Haaaaatchiiiimm ...." Teo bersin yang sedang berada di depan toko tempat Verlin sebagai Alexavier, "Hahh ... apa ada yang menceritakan kejelekanku?!"


"Aku sudah membujuknya agar menjaga rahasia kalau kau sudah bebas ...." kata Felix.


"Dia pasti kecewa karena bukannya menemui kalian setelah bebas, aku malah bersembunyi ...." kata Cain kehilangan senyumnya.


Mereka telah sampai di atas permukaan air kematian. Cain meninju dinding sehingga membentuk lorong, "Aku akan membawa mereka ke tempat lain, sudah kuatur bagaimana agar manusia tidak turun kesini. Ada jalur lain yang sudah kubuat ...."


"Jadi, ini perpisahan lagi ...." kata Felix disaat 20 orang itu sudah masuk ke dalam lorong.


Cain meneneggelamkan tangannya sampai gelang dengan banyak nama roh itu ikut masuk ke dalam air. Setelah Cain kembali mengeluarkan tangannya, air kematian itu berubah menjadi membeku.


"Jadi, perbedaan itu karena kau ...." kata Felix sudah menemukan jawaban dari pertanyaannya tadi.


"Hem?!" Cain tidak mengerti apa yang dimaksud Felix tiba-tiba.


"Tidak, bukan apa-apa ...." kata Felix bersiap untuk kembali ke atas tapi Cain menahannya.


"Sampai jumpa di peperangan, aku akan berdiri paling depan melawan musuh untukmu!" kata Cain memeluk Felix.


"Kau sudah menemukan Balduino dan Ibunya itu?" tanya Felix.


"Sudah, jangan khawatir! semuanya akan berjalan lancar ...." kata Cain.


***


"Uwaaaaaah!" teriak Teo melihat ada seseorang yang keluar dari saluran air di jalanan depan Toko Gavin berada.


"Toloooong! ada orang lainnya di bawah butuh pertolongan!" teriak Orang yang membuka penutup saluran air itu.


"Jangan-jangan ...." Teo mendekat.


"Semua yang jatuh ke dalam lubang ada di bawah sini!" kata Orang itu lagi.


"Hahh?!" Teo tidak percaya apa yang baru saja didengarnya, "Jadi, yang dirasakan Verlin ... ini ... tunggu ... mereka semua selamat ... syukurlah!" perasaan Teo berubah-ubah dalam sekejap.


Felix tiba di permukaan lubang saat Esurivaliati sudah meleleh berkat Verlin. Tan dan Tom kelihatan sangat lelah sambil duduk terus menstabilkan pernapasan karena lama harus menahan Esurivaliati agar tidak bergerak.


"Apa harus dengan cara seperti ini?!" Tan merasa kasihan.


"Kalau dalam keadaan utuh, dia hanya akan jadi bahan eksperimen manusia." kata Verlin lebih memilih melakukannya sendiri daripada harus manusia yang melukai tubuh Esurivaliati sana-sini.


"Oh, Felix ... kau sudah datang!" kata Tom.


"Apa yang terjadi disini?!" tanya Felix heran melihat kekacauan disana.


"Seperti yang kau katakan soal hewan yang datang dari sisi lain, benar adanya. Tapi berita buruknya ternyata Esurivaliati ...." jawab Tom.


"Jadi, berapa banyak korban ...." Felix tidak selesai meneruskan kalimatnya karena melihat satu roh yang masih kebingungan.


"Iya, dia ...." kata Tan sangat menyesal.


...-BERSAMBUNG-...