UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.108 - Menemukan Gina



"Apa? jejak manusia dan sanguiber berwarna sama?" tanya Cain.


"Seharusnya bukan itu yang kau tanyakan!" jawab Felix kesal.


"Ah, maaf ... bukan diwaktu yang tepat ya?!" Cain jadi sadar diri.


Rasa penasaran karena jejak manusia dan sanguiber sama ditahan dulu.


Mereka berdua menaiki tangga satu persatu tapi anehnya tangga itu tidak terlihat ujungnya. Padahal sudah serasa ratusan anak tangga yang mereka lewati.


Walau begitu Felix dan Cain tidak menyerah dan terus melangkah naik, anehnya juga mereka berdua tidak merasakan lelah sama sekali. Padahal Cain sendiri naik tangga ke lantai dua di panti saja sudah mengeluh.


"Jangan-jangan ...." Cain takut sedang dalam pengaruh sesuatu.


"Tidak apa-apa! terus berjalan ...." walau Felix merasakan ada yang aneh juga tapi tetap mencoba menenangkan Cain agar dirinya juga ikut tenang.


Begitupun Cain jika bersama dengan Felix, ia juga ikut merasa semuanya akan baik-baik saja.


Tak lama setelah itu Felix berhenti melangkah, "Ada apa?" tanya Cain.


Felix mulai meraba dinding tapi tidak ditemukan apa-apa untuk membuka pintu. Setelah lama mencari akhirnya Felix meraba anak tangga.


"Memangnya ada apa?" Cain jadi penasaran kenapa Felix begitu yakin ada pintu disana dan tidak berhenti mencari.


"Kurasakan seperti ada diriku di dalam sana!" kata Felix.


"Heh? apa maksudmu?!" Cain kaget.


"Entahlah ... aku merasakan ada banyak sekali Viriaer Mundebris di dekat sini!" kata Felix yang membuat Cain jadi tidak tenang.


"Apa kita kembali saja?!" Cain mengkhawatirkan Felix.


Lama Felix meraba anak tangga tapi tidak ditemukan apa-apa hingga ia tak sengaja menginjak sesuatu dan menghilanglah tangga yang dipijakinya dengan cara terlipat turun. Kini yang menggantikan anak tangga ada seperti ruang hampa gelap tanpa pijakan tapi tidak membuat mereka terjatuh. Tanda Alvauden yang ada di dahi Cain terlihat bersinar terang.


"Kau tunggu disini saja!" kata Felix.


"Tidak! kau saja yang tinggal! aku yang akan terus ...." kata Cain.


"Hahh ...." Felix menghela napas karena tidak bisa menahan keras kepala Cain.


Akhirnya mereka berdua berjalan masuk bersama. Walau tidak tahu harus kemana karena tidak ada cahaya sama sekali. Semakin kedalam, semakin jauh mereka dari pintu keluar tapi masih belum ditemukan apa-apa.


Felix langsung merasa kepalanya akan pecah dan menggenggam erat tangan Cain.


"Apa seperti saat dulu kesini?" Cain jadi berkeringat dingin karena lupa saat kesini dulu Felix juga merasakan hal yang sama.


Felix sebisa mungkin menahan rasa sakit yang ada dikepalanya dan menarik tangan Cain yang digenggamnya kesebuah dinding. Cain sendiri kaget karena ternyata sudah menemukan dinding dihadapannya yang daritadi hanya terus berjalan tanpa ada tanda-tanda sama sekali. Tak lama sebuah pintu muncul berkat tangan Cain yang menyentuh dinding itu.


"Hahh?!" Cain kaget melihat fenomena itu.


"Iya, se ... perti yang kau pikir ... kan! kastil ini milik Alva ... uden Iriana!" kata Felix.


"Apa? bagaimaina bisa? jadi Alvauden Sang Caldway menjadi ...." Cain tidak bisa meneruskan kalimatnya.


"Jangan teralihkan karena ini! kita hanya harus fokus menyelamatkan yang masih hidup ... yang sudah mati, kita tidak bisa berbuat apa-apa ...." sebisa mungkin Felix menahan rasa sakit dan tetap membuat dirinya berpikir jernih karena jika terjadi sesuatu dengan dirinya akan berimbas ke Cain juga yang ikut dibawanya.


"Magdalene!" Cain menyentuh kaca yang didalamnya ada tubuh Magdalene dan diluar bertuliskan 'Penyihir salju 468' dan masih banyak lagi diruangan itu berjejeran tubuh manusia.


Ada juga terdengar teriakan dari pintu selanjutnya tapi Felix mencegah Cain mendekatinya, "Mereka adalah arwah yang ditahan! ingat! fokus utama kita adalah mencari Gina terlebih dahulu ...."


Mau tidak mau Cain menuruti perintah Felix karena saat ini Felix sudah mengeluarkan darah dari hidung dan mata Felix tidak berhenti bersinar terang tapi mengeluarkan air mata darah juga.


"Sebenarnya apa yang ada disini bisa membuat Felix seperti ini?! apa juga maksudnya tadi bahwa kastil ini milik Alvauden? berarti Alvauden Sang Caldway menjadi pelaku dibalik semua ini? bagaimana bisa seorang mantan Alvauden melakukan hal keji seperti ini?" tanya Cain dalam hati terus menerus karena penasaran tapi tidak bisa ditanyakan mengingat keadaan sekarang tidak tepat dan takutnya ia juga akan terkena hukuman Pemerintahan Alvauden sebelumnya karena berbicara mengenai hal yang tidak baik mengenai Sang Caldway dan Alvauden nya. Mengingat Cain adalah setengah Viviandem bisa jadi ia termasuk dalam kategori yang harus mematuhi peraturan.


"Disa ... na!" kata Felix sambil dibantu Cain berjalan.


Sebuah peti mati besar terlihat dengan banyak rantai terhubung dengan apa yang ada di dalam peti itu. Felix dan Cain mulai mendekat dan menemukan seorang perempuan yang bertubuh kecil sedang membacakan mantra di depan peti mati itu.


"Apa dia? kurcaci?" tanya Cain melihat perempuan bertubuh kecil dengan rambut putih terseret di lantai saking panjangnya.


Mereka berdua menaiki tangga menuju peti mati itu untuk melihat siapa yang ada didalamnya, "Gina!" teriak Cain melihat sosok Gina yang sedang tertidur disana dengan air memenuhi peti mati itu.


"Apa Gina sudah tidak ada?" tanya Cain terlihat panik.


"Jangan kehilangan fokus! garis pelindungmu bisa melemah dan kita berdua bisa terlihat ...." Felix memukul punggung Cain untuk menyadarkannya, "Jangan khawatir dia masih hidup!"


Perlahan air yang ada didalam peti mati itu terlihat mulai membeku dengan uap dingin yang mulai keluar dan Gina masih ada didalam air terlihat tenggelam tapi tertidur sangat pulas.


Felix mendorong Cain menjauh dan ia menyuruh Cain menghilangkan garis pelindung yang mengelilinginya


"Felix! kau yakin soal ini?!" Cain terlihat panik.


Setelah Cain melepas garis pelindungnya pada Felix langsung saja memegang kepala kurcaci itu dengan tangan kirinya dan membuat kurcaci itu tersungkur ke lantai.


"Caelvita?!" kata kurcaci itu terlihat panik tapi tak lama kesadaran kurcaci itu menghilang setelah Felix menyayat dahi kurcaci itu dengan menggunakan kuku dan menggambar simbol bulan sabit dan menggarisi garis sehingga terlihat gambar bulan sabit melengkung ke kiri dengan garis miring mengarah ke kanan yang membentuk seperti tanda silang yang berarti musuh besar Caelvita.


Felix kembali digambarkan garis pelindung oleh Cain dan membantu mengangkat Magdalene keluar dari peti mati itu. Anehnya dengan air yang sudah mulai membeku tapi Felix dan Cain yang menyentuh air langsung mencair.


"Perlebar ga ... ris pelindungmu!" perintah Felix yang sudah hampir batasnya menahan rasa sakit dikepalanya itu.


Cain langsung berkonsentrasi dan membuat garis pelindung itu agar melebar.


"Ingat! apapun yang terjadi ... walaupun aku menghilangkan garis pelindung ini, walaupun aku dalam bahaya ... jangan pernah keluar dari garis pelindungmu dan tetap lindungi Gina! mengerti?!" Felix dengan memegang bahu Cain.


"Tapi ...." Cain ingin menyela.


"Tidak ada tapi-tapian!" Felix dengan tegas.


...-BERSAMBUNG-...


Selamat Hari Raya Idul Fitri bagi yang menjalankan.


Mohon Maaf Lahir dan Batin🙏