
"Kau sudah gila, ya?! aku tidak mau!" teriak Mertie menolak.
"Kak Cornelia sendiri yang memilihmu. Kau tahu sendiri kalau ini adalah kesempatan besar ... kau mau melewatkannya hanya karena egomu yang menyedihkan itu?! banyak yang menawarkan diri untuk posisi itu tapi Kak Cornelia malah menawarkannya sendiri padamu. Kau tidak merasa bangga?!" kata Tom.
"Kalian lupa ya? aku ini anak yang dulunya dibully ...." kata Mertie.
"Memangnya ada apa dengan itu?" tanya Tan heran.
"Tidak akan ada yang menghormatiku sebagai pemimpin. Ini bukan acara biasa saja tapi semua kelas 3. Kalian pikir kelas 3 cuma ada satu? kalian pikir dalam satu kelas cuma ada belasan orang? tingkatan kelas dari 1 sampai 10 dan satu kelas ada 30 lebih murid. Murid saja sudah lebih dari 300 orang dan ditambah lagi para guru akan berpartisipasi dalam acara ini. Kalian bercanda?! mau acara itu kacau?!" kata Mertie berbicara diakhiri selalu dengan penekanan nada.
"Kau kan sudah membuktikan selama dua tahun ini. Bahkan kebanyakan anak-anak takut denganmu sekarang setelah melawan Geng Halle." kata Tan.
"Itu tidak cukup! kau pikir menjadi pemimpin semudah itu? reputasi sangatlah diperlukan ... pemimpin tidak perlu pintar, tidak perlu hebat! yang paling penting dia bisa dihormati sehingga bisa diikuti." kata Mertie menatap Felix yang baru saja datang. Menurut Mertie jika ada yang pantas itu adalah Felix. Tidak dikatakan tapi Felix dengan jelas mendengarnya lewat pikiran.
"Aku memang pintar, hebat dan ... sepertinya bisa dihormati juga ... tapi bukan hanya itu! pemimpin yang baik tahu mempertanyakan dirinya apa pantas menjadi pemimpin dan kau memenuhi kriteria itu. Apa gunanya pemimpin jika hanya pintar, hebat dalam segala hal, dihormati dan ditakuti ... sesorang yang mengenali potensi diri dan kelemahan adalah seorang yang layak menjadi pemimpin." kata Felix.
"Oooooow!" Tiga Kembar bersorak bersamaan.
"Aku sudah menolak tawaran itu ... sudah terlambat untuk membujukku!" kata Mertie.
"Kalau begitu ini kesempatanmu untuk mengajukan diri!" kata Teo.
"Hahh ... kenapa kalian melakukan ini?" tanya Mertie tidak bisa mengerti kegigihan mereka.
"Bukan itu yang penting! yang terpenting adalah kenapa kami harus melakukan ini?!" kata Tan.
"Kau sudah terlalu lama bersembunyi seperti hantu, sudah saatnya kau keluar dan bergabung bersama manusia." kata Teo.
"Jangan menilaiku dari nama! walau aku disebut hantu merah muda tapi bukan aku yang menamai." kata Mertie protes.
"Bukankah kau mau membeli kamera mikro yang mahal itu? kalau menjadi ketua kau akan diberi hadiah dua kali lipat karena penerima beasiswa." kata Tom membuat Mertie terdiam.
Tan dan Teo mengakui bagaimana hebatnya Tom mencari alasan yang realistis untuk menarik minat Mertie.
"Biarkan aku memikirkannya dulu ...." Mertie pergi begitu saja.
"Waaaahhh ...." Teo menghembuskan napasnya seakan baru bisa bernapas lega, "Alasanmu hebat juga ...."
"Kau datang juga ...." kata Tan pada Felix, "Kukira kau tidak akan datang."
"Bagus juga aktingmu!" kata Teo pada Felix.
"Aku tidak akting! aku mengatakan yang sebenarnya. Sangat sia-sia jika Mertie hanya melalui kehidupannya terus bersembunyi dibalik layar." kata Felix.
"Benar juga! jika dia hanya terus bersembunyi, suatu saat pasti akan ditemukan atau setidaknya terus dikejar. Tapi jika dia juga bisa hidup di dunia luar, setidaknya kecurigaan pada dirinya akan berkurang." kata Tom setuju dengan Felix.
"Kalian yakin sedang membicarakan hal yang sama?! aku tidak mengerti sama sekali!" kata Teo sebal.
"Aaaaaaa! begitu!" Teo baru paham.
Felix dan Tom pergi setelah memaki Teo dengan tatapan.
"Apa-apaan tatapan itu? hei?! kalian berdua kembali kesini!" Teo merasa tersinggung tapi Felix dan Tom tidak peduli dan pergi tanpa menoleh sama sekali.
"Harusnya Cain yang menjadi ketua tim pelatihan osis itu ...." kata Felix dalam hati, "Sudah kuduga ... kenapa aku jadi tiba-tiba mengingat anak nakal itu. Rupanya hari ini ulang tahunnya." Felix melihat tanggal digital di atas gerbang sekolah, "Apa yang dia lakukan di hari ulang tahunnya kali ini? aku tidak perlu khawatir karena ada Goldwin bersamanya ... tapi apa itu benar sudah cukup?"
***
Sementara itu Cain sedang berada di sebuah tempat makan di Mundebris menggunakan jubah dan tudung yang melindungi wajahnya.
Makanan dan minuman di mejanya tidak disentuh sama sekali. Cain hanya terus duduk di pojokan ruangan itu dan memandangi satu per satu Quiris yang ada disana.
"Dia tidak disini ...." Cain berdiri dan meninggalkan koin emas di atas meja.
"Tapi kau bahkan tidak makan atau minum sedikitpun ...." kata Pelayan yang berusaha menghentikan Cain pergi karena memberi bayaran lebih padahal tidak menikmati makanannya, "Apa perlu saya siapakan yang lain? makanan ala Mundclariss?" semua tahu jika penampilan seperti manusia biasa dan bisa masuk di Mundebris saat Viviandem belum dibangkitkan pastinya adalah Setengah Viviandem. Sepertinya Pelayan itu mengira bahwa Cain belum terbiasa dengan makanan Mundebris.
"Tidak ... tidak usah! bukannya saya tidak ingin memakannya. Hanya saja ada urusan mendadak." kata Cain mulai keluar dari tempat itu, "Hanya saja ... hari ini aku ingin makan yang manis-manis saja." Cain membuka tudung kepalanya memperlihatkan rambutnya yang sudah mulai kembali seperti dulu, "Seperti kue mungkin ...." Cain berdiri di bawah pintu yang bertuliskan Berenice.
Seseorang yang benci dengan ulang tahun sepertinya mulai merasakan bahwa ulang tahun tidaklah seburuk itu, "Mereka pasti mengingatku kan ...." kata Cain tersenyum.
Akhirnya Cain sadar bahwa ulang tahun bukan hanya sebuah kue dan kado. Mengetahui bahwa seseorang mengetahui ulang tahun dan mengingat kita pada hari itu saja sudah menyenangkan. Apalagi jika ada seseorang yang merasa bersyukur kita terlahir di dunia ini menjadikan hidup seperti penuh makna dan tidaklah sia-sia.
Berenice adalah tempat seperti hotel jika di Mundclariss tapi di Mundebris masih terbilang kuno untuk dikatakan begitu. Berenice menyediakan penginapan, makanan dan minuman tanpa memandang siapa bahkan penjahat sekalipun diterima tidak seperti tempat lainnya yang ketat dalam hal itu. Berenice berdiri di depan gerbang ilegal menuju Bemfapirav dan Mundclariss.
"Kalau tidak ada disini, kemana aku harus mencarinya ...." kata Cain dalam hati kembali memasang tudung kepalanya karena ada seseorang yang mulai terus memandanginya.
"Hei! siapa kau?! aku baru pertama kali melihatmu disini!" teriak Quiris yang memandanginya tadi.
"Jangan mengganggunya ... dia itu Leaure!" kata Pelayan tadi menghentikan Quiris itu untuk mengejar Cain.
"Darimana kau tahu? aura Leaure akan bersinar terang tapi tidak ada aura sama sekali yang kulihat bahkan tidak ada yang kurasakan. Mana mungkin aku berani meneriakinya jika aku tahu dia seorang Leaure." kata Quiris yang berwajah manusia itu tapi tubuhnya dari kayu.
"Dia membayar dengan koin Leaure." kata Pelayan tadi.
"Itu tidak menunjukkan bahwa dia seorang Leaure! lagipula apa yang dilakukan Leaure di tempat seperti ini?" tanya Quiris itu.
"Mana aku tahu! yang jelas Leaure tidak pernah menganggu Quiris seperti kita. Jadi tidak perlu khawatir." kata Pelayan.
"Kau tidak dengar rumor itu ... kalau Pemimpin Alvauden adalah seorang Leaure tapi membantai Setengah Sanguiber." kata Quiris.
"Itu hanya rumor! mana mungkin Leaure melakukan hal seperti itu ...." kata Pelayan.
...-BERSAMBUNG-...