
Felix bangga dengan Tan yang berhasil memanggil senjata Alvaudennya dan berhasil membuat mereka bisa melarikan diri dari Bank. Daritadi memang kendalanya adalah orang-orang yang berada di sana melihat.
"Kenapa? di generasimu tidak ada temanmu yang memunculkan senjata itu?" tanya Cain menyeringai.
"Tersenyumlah sepuasmu! karena tidak lama lagi kau akan mati!" jawab Efrain, "Bukankah sudah kukatakan bertemu denganku lagi, kau akan mati!" sambungnya.
Sebuah Gedung Bank muncul di Bemfapirav bersamaan dengan munculnya Roh dari Satpam Bank, Wanita Petugas Bank dan seseorang yang menunduk sambil berusaha melindungi mereka.
"Memoriasepirav muncul! kau tidak memanggil Haera? kalau terlambat, mereka akan pergi dan berkeliaran tidak jelas ...." kata Efrain kali ini gilirannya menyeringai.
"Kau pikir aku akan terbujuk jebakanmu itu?! setelah Haera kemari, kau akan langsung menangkapnya kan?! aku tidak akan jatuh dalam permainanmu lagi!" kata Cain.
"Permainan? kaulah yang bermain-main dengan nyawa seseorang!" kata Efrain.
"Nyawa ketiga Zewhit yang disana adalah perbuatanmu!" tunjuk Felix dengan pedangnya.
"Walau aku yang membunuhnya tapi mereka mati karenamu!" kata Efrain.
Kedua roh itu terbang meninggi membuat Felix tidak punya pilihan lain selain memunculkan mahkota Ruleorum dan langsung membenturkan tongkat dengan simbol tengkorak mengurung kedua roh tadi agar tidak pergi.
"Katakan pada mereka, untuk menunggu sebentar! aku yang akan mengantar mereka sendiri ke jembatan Ruleorum!" perintah Felix pada Tiga Kembar.
"Bagaimana bisa kau memiliki mahkota Ruleorum?! padahal belum menjadi Caelvita resmi ... apa kau juga keturunan darisana?" tanya Efrain.
"Kau tahu ... sangat menyebalkan mengobrol sambil bertarung!" kata Cain.
"Biarkan mereka pergi menikmati hidup sebagai Zewhit! buat apa mengantar mereka ke jembatan Ruleorum? kau pikir semua orang mau untuk terlahir kembali?!" kata Efrain.
"Kau pikir aku bodoh? ujung-ujungnya mereka hanya akan kau manfaatkan sebagai Malexpir! atau berkeliaran tidak jelas dipenuhi dendam dan kembali kesini menjadi Zewhit cangkang ... tidak akan kubiarkan!" kata Felix.
"Hanya karena mereka berusaha melindungi kalian tidak membuat mereka itu istimewa! bagaimana bisa seorang Caelvita hanya memikirkan tiga roh tidak berguna ... masih banyak arwah di luar sana yang tidak kau ketahui dan tidak kau perdulikan!" kata Efrain.
"Bagaimana bisa seorang Alvauden berkata seperti itu!" teriak seseorang dari belakang Efrain dan langsung menyerang.
"Zeki?!" seru Efrain.
"Apa? kau pikir aku sudah mati? kau mau membunuhku lagi?!" kata Zeki.
"Bersyukurlah! karena gelar Alvaudenmu kau masih bisa bertahan dan tidak menghilang!" kata Efrain.
Zeki tidak bisa menyembunyikan perasaannya yang terluka mendengar itu, "Kalian pergilah! biar aku yang mengurusnya!"
"Aku tidak punya waktu meladenimu!" kata Efrain, "Tujuan utamaku hanya untuk mengulur waktu mereka!" dengan tertawa kemudian perlahan Efrain menghilang pergi darisana.
"Apa maksudnya?" tanya Tom.
"Waktu di Mundclariss sudah 6 jam berlalu!" jawab Tan.
"Memangnya kenapa dengan itu? kan kita bisa kembali dengan menggunakan kekuatan Cain!" kata Tom.
"Kalian tidak mengerti ... saat memundurkan waktu kembali, dua lapisan pertahanan kita akan hancur!" kata Cain.
"Kalau begitu kita tidak usah kembali!" kata Tom.
"Itu tandanya kita bolos sekolah!" kata Cain.
"Memangnya sekolah penting sekarang?!" teriak Tom.
"Penting! aku tidak akan membiarkan kalian merusak kehidupan normal kalian! Cain bersiaplah!" kata Felix.
"Kalau begitu, bisa kan kembali sebelum mereka meninggal?" tanya Teo.
Bukan hanya untuk bisa kembali ke sekolah tapi Efrain dengan paksa memberi mereka pilihan untuk menyelamatkan ketiga orang yang meninggal di Bank. Dengan begitu mereka terpaksa harus kembali ke masa lalu tapi dengan melakukan itu maka dua lapisan pertahanan mereka akan hancur juga.
"Jadi kami masih bisa hidup kembali?" tanya Roh Satpam Bank.
"Tapi kenapa kau bilang tadi mau mengantarnya ke jembatan Ruleorum?" tanya Teo.
"Kau dengan jelas mengatakan bahwa kita dengan sengaja ingin membuang perisai kita?!" jawab Felix.
"Terimakasih sudah datang!" kata Felix pada Zeki yang mulai menaiki kudanya untuk pergi.
"Kalian berhati-hatilah ...." kata Zeki mulai pergi.
Cain memutar waktu mundur dengan pilihan di reset. Kembali ke masa lalu bisa untuk tetap membuat apa yang terjadi untuk tetap terjadi atau dengan meresetnya, dengan begitu kejadian selama waktu yang dimundurkan tidak akan terjadi. Cain menarik napas dalam-dalam, "Setelah sampai, aku mungkin akan langsung pingsan ...." kata Cain merangkul Tom.
"Tenang saja ...." kata Tom sudah bersiap menahannya.
Melihat diri mereka sendiri yang berlari memasuki Bank perlahan mulai menghilang digantikan oleh diri mereka yang sekarang yang tidak masuk ke dalam Bank. Cain langsung terjatuh, untung Tom sudah siap sedia menahannya. Mereka melihat keadaan Bank yang ada di dalam, semuanya kembali normal. Satpam yang tadinya meninggal masih berdiri di dekat pintu masuk.
Mereka segera mencari taksi untuk ditumpangi kembali ke sekolah sebelum jam istirahat habis. Tapi tak lama kemudian terdengar suara tabrakan. Tan dan Teo pergi melihat kejadian yang terjadi di depan Bank tadi.
"Itu Satpam, Petugas Bank dan juga kakek yang tadi! mereka ditabrak mobil!" kata Teo kembali dengan wajah putih pucat.
"Aku tidak tahu secepat ini ...." kata Felix.
"Kau sudah tahu hal ini?" tanya Tan.
"Aku tidak tahu tapi sepertinya mereka memang ditakdirkan untuk meninggal hari ini, hanya saja tadinya karena ditembak Efrain ... hingga semuanya menjadi normal dengan penyebab kematian di tabrak mobil ...." jawab Felix.
"Jadi mau bagaimanapun takdir mereka untuk meninggal tidak bisa diubah?" tanya Teo.
"Tidak! kalian kembalian ke sekolah bersama Cain ... aku akan mengantar mereka ke Jembatan Ruleorum!" jawab Felix.
"Pada akhirnya kau memang mengantar mereka kesana ...." kata Tom.
"Lapisan pertahanan sudah hancur, itu tandanya kita tidak punya perisai lagi ... saat diserang kita bisa langsung terluka jadi berhati-hatilah!" kata Felix.
"Kau tidak ke sekolah?" tanya Teo.
"Katakan saja aku pulang karena sakit ... semuanya pasti tahu kalau aku sakit!" jawab Felix.
"Kau juga hati-hati ...." kata Tan.
"Aku tidak bisa membiarkan mereka berkeliaran tidak jelas dan ditangkap oleh anak buah Efrain ...." kata Felix.
Cain yang tidak sadarkan diri dibawa kembali ke sekolah oleh Tan, Teo dan Tom. Sementara Felix mengantar Arwah Satpam, Petugas Bank dan kakek tadi yang masih terbengong melihat tubuh mereka yang dipenuhi darah akibat ditabrak mobil.
Felix menyisir rambutnya kebelakang dan memunculkan mahkota Ruleorum. Penampilannya pun juga ikut berubah membuat Roh Satpam, Petugas Bank serta kakek pengunjung Bank tahu bahwa itulah yang akan menjemput rohnya.
"Malaikat kematian?" tanya Petugas Bank.
Felix mengangguk dan mulai memegang ketiga tangan mereka yakni Satpam, Petugas Bank, Kakek Pengunjung Bank. Memunculkan sebuah pintu berwarnakan safir tapi tidak ada batu safir sama sekali. Pintu itu langsung menuju ke jembatan Ruleorum. Biasanya pintu menuju persidangan yang datang tapi karena sidang masih belum dibuka dengan Viviandem yang belum dibangkitkan maka roh hanya langsung dibawa ke jembatan Ruleorum. Mereka termasuk beruntung, kebanyakan roh lainnya hanya berkeliaran tak tentu arah.
Cain langsung dibawa ke gedung kesehatan karena masih tidak sadarkan diri. Baru kali ini dia memundurkan waktu sekaligus meresetnya. Mungkin tubuhnya masih belum bisa menyesuaikan tapi Cain tetap melakukan pekerjaannya dengan baik. Bisa kembali ke waktu yang diinginkan dan mereset waktu tanpa gagal. Padahal itu juga yang pertama kali baginya. Para guru juga maklum dengan Felix yang meminta izin pulang karena memang terlihat sangat pucat dan para guru juga sering menyuruh untuk Felix pulang.
"Jadi kita gagal?" tanya Teo.
"Kita gagal hari ini tapi tidak kalah, hanya saja kita tidak memiliki perisai lagi ... saat Efrain menyerang, kita bisa saja mati!" jawab Tom.
...-BERSAMBUNG-...