
Felix dan Efrain berjalan berdampingan dari arah berbeda, tapi Felix tidak peduli dan tidak takut sama sekali. Dia hanya terus berjalan tanpa menghiraukan Efrain, "Lagipula ... dia juga tidak bisa melihatku!" karena Felix mengatur Idibalte level dua juga.
"Aku tahu kau ada disini!" kata Efrain membuat Felix langsung merinding dan menghentikan langkah.
"Bagaimana dia bisa tahu?!" kata Felix dalam hati dan kini diam membeku.
"Mungkin kau lupa ya kalau aku ini juga Alvauden dulunya!" kata Efrain.
Setelah melihat Cain dan Tiga Kembar bisa melihat Felix pastinya Efrain juga dulunya yang seorang Alvauden juga bisa melihat wujud Iriana, bahkan dengan memakai Idibalte sekalipun. Tidak heran jika Efrain saat ini bisa merasakan kehadiran Felix walau sudah tidak bisa melihat wujud Felix.
Felix meneruskan langkahnya, tidak ingin terpengaruh perkataan Efrain. Efrain terus saja berbicara tapi Felix seakan menutup telinganya, tidak mendengar sama sekali apa yang dikatakan Efrain. Kelebihan iblis memang adalah kehebatannya dalam membujuk dan merayu.
Jika mendengar perkataan iblis, sangat sulit untuk tidak terbujuk atau setidaknya akan membuat terus terpikirkan, begitulah yang dikatakan Banks. Maka dari itu, kini Felix tidak ingin berbicara dengan Efrain bahkan Felix tidak ingin mendengar satu kalimatpun dari mulut Efrain.
Setelah naik ke setiap lantai dan berkeliling, mereka kembali ke posisi semula dengan wajah murung karena tidak mendapatkan apa-apa. Di berita juga tidak diberitahu soal penyebab dan timbulnya api untuk pertama kali dimana, jadi mereka tidak mempunyai petunjuk apapun. Padahal mereka sudah siap dengan air botol yang banyak di dalam tas masing-masing untuk menghentikan api pertama.
"Sia-sia saja aku membawa tas berat ini!" kata Teo menurunkan tasnya.
"Kalau api sudah terlanjur besar, kita tidak bisa menghentikannya lagi!" kata Tan.
"Yang perlu kita cari tahu adalah siapa yang akan memicu kebakaran! putra Lander tidak diketahui keberadaanya, terlebih lagi jika orang lain yang melakukan ...." kata Tom frustasi karena harus mencurigai semua staf perusahaan.
"Kita bisa melewati hari ini kan? kita tidak akan terpanggang disini kan?" tanya Teo dengan jantung berdegup kencang.
"Memang itulah yang Efrain inginkan, mencegah masa depan terjadi dengan kita yang sudah menukar kematian!" kata Cain.
"Jangan khawatir! ini bukan hari kematian kita!" kata Felix membuat mereka tersenyum dan mulai tenang kembali, Teo juga mulai mengatur napasnya.
Suara notifikasi smartphone bersama mereka berbunyi, "Dari Mertie!" kata Tan.
"Merindukanku?!" kata Cain membaca pesan, "Dasar gila!" Cain memaki pesan Mertie, "Memang dia pikir dirinya Annabelle?!"
"Ada pergerakan mencurigakan di lantai 3,6 dan 8!" pesan Mertie masuk lagi.
"Bagai ...." kata Teo tidak habis pikir.
"Lambaikan tanganmu ke kamera!" kata Mertie.
"Kau yang menyuruhnya, Felix?" tanya Cain.
"Bukan menyuruh tapi aku hanya memberitahunya saja!" kata Felix.
"Oke, kita bagi tiga tim! Felix dan Goldwin ke lantai 3, Teo dan aku di lantai 6, Cain dan Tom di lantai 8!" Tan membagi kelompok setelah mengetahui ada Mertie yang membantu.
Felix berjalan cepat mengitari dengan teliti lantai tiga sedangkan Goldwin ke arah yang berlawanan, "Keputusan tepat mengikutsertakan Mertie!" kata Felix dalam hati. Memang Felix merasa perlu bantuan Mertie tapi malas juga meminta bantuan. Untungnya Mertie peka soal itu, setelah mendengar Felix memberitahu bahwa akan ada kebakaran besar di perusahaan penyiaran. Tanpa diminta, ternyata Mertie langsung mau membantu.
Felix menemukan seseorang yang membawa semprotan yang menyemprot apapun yang dilewatinya, "Bau ini ...." kata Felix tidak menutup hidungnya dan mulai mencium dari dekat, "Bensin!" Felix langsung menghancurkan alat semprot, membuat yang membawanya kaget. Tapi bukannya lari, orang itu malah membuka tutup tempat penyimpanan bensin dan melemparkannya hingga membanjiri lantai, "Hahh?!" teriak Felix mengacak rambut menyesali perbuatannya.
"Ternyata inilah yang membuat perusahaan setiap lantainya cepat terbakar ... sengaja disirami bensin!" kata Felix.
Goldwin juga sudah datang setelah berhasil mengitari penuh lantai tiga. Ia langsung mencium lantai yang kini dibanjiri oleh bensin kemudian menatap Felix.
Felix segera mencari alat kebersihan untuk membersihkan lantai yang dipenuhi bensin. Tapi percuma saja karena kini dinding juga sudah dipenuhi oleh bensin. Walau begitu membiarkan genangan bensin itu adalah tindakan yang tidak tepat. Jadi Felix segera membuka topi beanie, syal, jaket, sweater, baju lengan panjang untuk membentuk bendungan. Semua pakakaian luarnya sudah dilepas tinggal baju lengan pendeknya yang tersisa. Beberapa meter ada stopkontak listrik dan alat elektronik, sebisa mungkin Felix harus membersihkan lantai itu agar tidak sampai kesana.
Tapi dengan melepas semua baju yang digunakan Felix untuk melindungi diri dari cuaca dingin tidak membantu sama sekali. Karena genangan bensin terlalu banyak.
"Apa yang harus kulakukan? seandainya ada tepung! kalau keluar mengambil tanah akan sangat terlambat ...." kata Felix berpikir.
Tapi kemudian terdengar suara dari belakang, "Felix, tangkap!" kata Cain melempar sekantong tepung. Tapi Goldwin lah yang menangkap dengan kakinya.
"Darimana kau mendapat ini?" tanya Felix.
"Di lantai 8 ada dapur!" sahut Cain yang kemudian berlari pergi lagi.
"Bagaimana di lantai 6?" tanya Felix tapi Cain sudah menghilang. Felix mencemaskan Tan dan Teo karena disana masih ada yang sedang syuting.
Perlahan tepung itu mulai menjadi pasta dan menyerap bensin, terlambat sedikit saja pasti mengenai stopkontak.
"Bisa jadi kebakaran terjadi bukan karena ada yang menyalakan api tapi dari bensin yang mengenai alat yang menghasilkan panas!" kata Felix, "Tapi, bagaimana putra Lander bisa menyewa seseorang untuk menyemprot diwaktu yang mepet begini ... tidak! dia punya waktu yang cukup untuk merencanakan ini ... Efrain bisa saja berbohong mengatakan baru membujuk sekarang, tapi ini sudah direncanakan jauh hari ... berarti ...." belum selesai Felix menganalisa terdengar bunyi ledakan dari lantai atas, "Teo, Tan!" teriak Felix sambil berlari mencemaskan mereka berdua yang berada tiga lantai di atasnya.
Goldwin juga langsung menghilang menuju tempat Cain berada di lantai 8.
"Cain?!" Goldwin lega melihat Cain baik-baik saja tapi kini ingin turun ke lantai dimana Tan dan Teo berada.
"Berhenti!" teriak Goldwin.
Api hampir saja mengenai Cain dan Tom yang ingin ke lantai bawah. Begitupun Felix yang dihadang oleh api juga di tangga.
"Sudah kutahu jika ini jebakan tapi tidak kusangka benar-benar jebakan yang licik seperti ini! Efrain sengaja memberi harapan agar kami bisa menyelamatkan yang ada di perusahaan tapi nyatanya ini dibuat untuk mengurung kami disini dan membunuh kami!" kata Felix penuh amarah mulai berjalan masuk ke dalam api.
Api berwarna merah kini berubah menjadi hijau dan api terbelah membuat jalan untuk Felix berjalan.
...-BERSAMBUNG-...