UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.399 - Gelar Besar



Tan, Teo dan Tom sudah dengan tekad bulat untuk menyelamatkan Demelza dan Osvald. Tan sedikit lagi menyentuh tangan Demelza dan Tom sudah berada dihadapan Osvald. Tapi saat mengedipkan mata semuanya langsung hilang. Mereka telah kembali ke sekolah, Tan di kantin sedangkan Tom dan Teo di ruangan makan besar.


Suara tawa Zewhit Badut dan Kurcaci mulai terdengar menggema menyebalkan. Teo yang masih belum mengetahui sudah kembali juga membuka mata dan melepas tangan yang menutup telinganya dengan rapat.


"Kita sudah kembali?!" tanya Teo masih sesegukan setelah menangis, "Bagaimana dengan Osvald?!"


"Sepertinya dia sudah bangun ...." kata Tom mulai berjalan untuk melihat keadaan Osvald di gedung kesehatan dan bertemu Tan yang juga ingin ke tempat yang sama.


"Aw!" teriak Tiga Kembar bersamaan.


"Kalau tidak kuhentikan, kalian dengan sukarela menjadi target untuk menolong mereka?! dasar! sudah kukatakan apa yang tidak boleh kalian lakukan, malah kalian lakukan. Memangnya peraturan ada untuk dilanggar?!" Felix mengomel sehabis memukul kepala mereka bertiga.


"Bagaimana aku bisa tinggal diam melihat itu?!" kata Tan membela diri.


"Jangan mengikutkanku! aku bahkan tidak melakukan apa-apa." kata Teo.


"Kalau kau tidak menangis dengan heboh, aku pasti tidak akan melakukannya juga!" kata Tom memukul Teo yang merasa dirinya tidak bersalah karena tidak melakukan apa-apa padahal Teo adalah pemicu bagi Tom untuk melakukan sesuatu.


"Ini belum seberapa ... malam ini akan lebih parah lagi! kalian mau ikut disiksa bersama mereka?!" kata Felix tidak menurunkan suaranya.


"Aku benar-benar tidak tega, Felix ...." kata Tan.


"Dunia Zewhit adalah dunia pikiran, mereka memang akan disiksa tapi pasti mencari jalan keluar dari itu. Tapi karena kalian, mereka berdua jadi tidak melakukan apapun karena semuanya harus dihentikan." kata Felix.


"Apa yang bisa mereka lakukan? setelah dipukuli habis-habisan begitu?!" tanya Teo mulai meninggikan suaranya juga.


"Bagaimana kalian bisa tahu kalau tidak melihatnya sendiri! makanya jangan ikut campur! lihat! perhatikan baik-baik! bagaimana mereka berhasil keluar dari siksaan itu, dunia pikiran untuk membentuk pribadi menjadi seperti itu. Sudah 6 malam mereka di dunia pikiran, menurutmu mereka tidak akan mendapat solusi?! 6 malam setara dengan menjalani kerasnya kehidupan selama 60 tahun sekaligus." kata Felix.


Tan, Teo dan Tom menyadari perubahan itu dari Demelza dan Osvald yang bisa mencari solusi untuk bertahan hidup meskipun rintangan yang dilalui sangatlah sulit dan terkesan mustahil.


Tapi menyaksikan itu dengan mata sendiri adalah penyiksaan juga. Tiga Kembar tahu betul larangan untuk tidak ikut campur dan tidak menolong target tapi rasanya tubuh bergerak sendiri.


"Osvald dan Demelza memang akan lupa soal semua gangguan itu tapi selamanya akan tertanam dalam pikirannya untuk terus bertahan apapun kesulitannya. Itulah yang ingin ditanamkan oleh Zewhit Badut dan Kurcaci." kata Felix meninggalkan mereka untuk merenungi kesalahan.


***


Osvald dan Demelza terlihat sudah bangun dan sedang sarapan bubur yang dibuat oleh ahli gizi di gedung kesehatan sekolah. Gedung kesehatan sekolah Gallagher mempunyai fasilitas sama dengan rumah sakit pada umumnya. Hanya saja gedungnya terbilang mini dibanding rumah sakit umum yang besar.


"Dia terlihat baik-baik saja ...." kata Teo.


"Padahal bubur buatan ibu di dapur sekolah lebih enak ...." kata Osvald.


Tiga Kembar tertawa setelah mendengar itu, "Ya ... dia baik-baik saja!" kata Tom.


Lain dengan Demelza yang tidak mengeluh dengan sarapannya seperti Osvald tapi sudah makan mangkuk buburnya yang kedua.


"Terlebih dia ... jauh lebih baik-baik saja!" kata Tan yang merasa malu sendiri mengingat bagaimana dirinya begitu mengkhawatirkan Demelza dan hampir menjadi target juga untuk menolongnya, "Tapi kelihatannya, seperti yang dikatakan Felix benar."


Mereka memang lupa apa yang telah dialami di dalam dunia pikiran itu. Seperti sengaja melupakan mimpi buruk saat terbangun. Otak akan mengikuti instruksi itu tapi otak juga akan menyimpan bekas ingatan itu, "Mungkin saja ini adalah cara terbaik dari yang terburuk." kata Tan dalam hati, "Mereka akan menjadi orang yang kuat setelah ini ...." sama seperti saat terbangun setelah melihat mimpi buruk. Kita sengaja menghapusnya tapi ingatan tentang mimpi buruk itu terus ada dan menghantui pikiran. Walau telah dilupakan tapi terkadang menjadi trauma dan juga terkadang menjadi penyemangat.


***


"Kami dengar bubur disini enak dan bergizi ...." kata Teo dengan wajah manisnya.


"Kalian yakin? rasanya bisa saja tidak sesuai dengan lidah kalian ...."


"Lidah kami lidah orangtua, bukan lidah anak-anak lagi." kata Tom mengundang tawa dan langsung diambilkan tiga paket sarapan lengkap.


"Kalian harus berterimakasih karena harusnya yang menerima ini adalah pasien saja." kata Perawat meminta ucapan terimakasih.


"Kami memang sakit ...." Teo berpura-pura batuk, Tom langsung memegang jidatnya, Tan mengomel soal tugas sekolah yang akhirnya membuatnya begitu.


"Okey, okey silahkan makan ...." Perawat disana tertawa bagaimana alasan anak SD itu sangat lucu membuat alasan hanya untuk mendapatkan bubur.


Mereka sarapan di kantin gedung kesehatan bersama dengan perawat yang tugas jaga malam tadi malam. Sebelum pulang sepertinya perawat yang jaga malam sarapan terlebih dahulu. Terdengar bisik-bisikan dari para perawat itu yang mengatakan bahwa tadi malam Osvald dan Demelza demam tinggi kemudian berubah menjadi sedingin es.


"Mereka bukan terkena wabah dari Desa Quinlan itu kan?! kudengar salah satu dari mereka sekelas dengan anak yang dari desa itu." kata seorang Perawat.


"Entahlah ... gejalanya tidak diungkap pada publik." kata Perawat lainnya, "Lebih baik kita terus bersiaga saja, memakai pelindung saat menangani mereka dan memastikan kita dalam keadaan bersih setelahnya."


Tan, Teo dan Tom hanya bisa tersenyum kecut karena tahu betul Desa Quinlan tidak ada wabah penyakit apapun melainkan hanya akal-akalan pemerintah dan Y.B.I untuk menutupi tragedi malam berdarah itu.


"Bahkan masih dibicarakan sampai sekarang, ya?!" kata Tan tidak menyangka hal itu masih saja menjadi buah bibir.


"Bayangkan kalau kejadian sebenarnya ... pasti akan lebih heboh lagi!" kata Tom.


Wajar jika menjadi topik pembicaraan yang hangat dan membuat masyarakat paranoid. Satu desa ditutup dan sekarang sudah diratakan, terlebih lagi insiden di tengah jalan raya itu. Tiga Kembar tidak menyangka bahwa akan terlibat dalam semua masalah besar itu.


"Bisa jadi kita menjadi seperti mereka ...." Tan melirik perawat dari meja lain, "Tidak tahu apa-apa dan hanya membenarkan apa yang dikatakan pemerintah dan ikut paranoid juga dengan wabah yang sebenarnya tidak ada itu."


Karena wabah dari Desa Quinlan itu, kunjungan wisatawan dari luar negeri datang ke Yardley sangat berkurang alasannya takut akan terkena wabah. Yardley tertutup dalam pengungkapan secara umum tentang wabah itu dan tidak mau bekerjasama dengan organisasi kesehatan dunia.


"Ayo kita istirahat!" kata Tom.


"Ya, malam ini adalah malam terakhir ... The final problem!" kata Teo mendramatisir.


Felix heran melihat ekspresi mereka yang kembali ke asrama dengan wajah yang sangat berbeda saat baru saja keluar dari dunia Zewhit.


Ada baiknya mereka ikut sarapan di gedung kesehatan. Mendengar percakapan antar perawat itu membuat mereka tersadar bahwa mereka bukanlah orang biasa melainkan orang-orang penting yang ikut berkontribusi mencegah Yardley menjadi negeri yang dicemooh oleh negeri lain karena tragedi malam berdarah itu.


Sadar bahwa mereka seharusnya tahu diri kalau sudah melalui banyak hal dan seharusnya sudah pintar mengendalikan diri. Sadar bahwa mereka bukanlah orang biasa, melainkan seorang Alvauden. Para sahabat Caelvita yang akan membantu melindungi tiga dunia dan kejadian bersama Osvald dan Demelza menyadarkan mereka bahwa mereka masih jauh untuk berbangga diri menyandang gelar besar Alvauden itu.


"Pengaruh dari dunia pikiran sangatlah besar, bahkan bagi yang hanya menonton saja ...." kata Iriana.


"Kuharap mereka bisa lebih dewasa lagi." kata Felix.


...-BERSAMBUNG-...