UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.183 - Kemunculan Moshas



"Ini bukan salahmu, Felix!" kata Tan memegang bahu Felix untuk ditenangkan.


"Menurutmu begitu?" tanya Felix meragukan perkataan Tan.


"Memangnya kenapa kau baru melakukan hal itu?!" tanya Cain.


"Cain!" Teo meneriaki Cain.


"Jelaskan?!" kata Cain masih bersiteguh.


"Kekuatan api hijau tadi hanya bisa dikendalikan bebas oleh Caelvita resmi! aku bisa melakukannya hanya karena terbawa emosi ... aku juga tidak menyadari diriku sendiri tadi ... hanya langsung melakukannya dengan instingku ...." kata Felix.


Cain menendang batu besar hingga terlempar ke gerbang tapi terpantul kembali mengenai kaca jendela. Tom segera ingin mengejar Cain tapi dihalangi Felix, "Aku maklum jika dia marah ...." kata Felix paham apa yang dirasakan Cain saat ini dan tidak mengkhawatirkan Cain yang sedang ada Goldwin bersamanya.


"Maaf kalau merusak suasana tapi aku malah mengkhawatirkan bagaimana kalau garis pelindung Cain ini menghilang ...." kata Teo.


"Jangan khawatir, dia tidak akan pergi jauh ... dia hanya menghindariku dan sedang tidak ingin melihat wajahku saja!" kata Felix.


"Hahh ... bagaimana soal jendela itu!" kata Tom melihat hasil kelakuan Cain, "Di kamera cctv pasti terlihat batu bergerak sendiri!"


"Hubungi Mertie untuk menghapus rekaman tadi!" kata Felix.


Teo segera mengambil smartphonennya di dalam saku dan bersamaan dengan itu datang Franklin menembus tembok pagar.


"Kau langsung melakukannya sekaligus? Haera sibuk menjemput arwah pemain ...." kata Franklin.


Walau Cain sudah menjelaskan bahwa Franklin bukanlah Quiris yang jahat seperti yang dirumorkan tapi tetap saja Tan, Teo dan Tom emosi melihat kedatangan Franklin.


"Tapi kulihat kau menyisakan satu pasang pemain ...." kata Franklin, "Kau bingung mau memilih yang mana?" tanya Franklin, "Bagaimana? mau aku permudah mengambil keputusan?" sambungnya.


"Kalian bisa meninggalkanku dan menemui Cain duluan ...." kata Felix yang melihat Tiga Kembar terus menggenggam erat tangan masing-masing menahan emosi.


"Tidak ... kami akan disini!" kata Tom.


"Parisya dan Qabil ... kenapa kau memilih mereka berdua? sedangkan di buku takdir jelas-jelas mereka berjodoh ...." kata Felix langsung ke inti permasalahan karena tidak mau membuang waktu lama dengan Franklin dimana Tan, Teo dan Tom terlihat tidak tahan lama-lama berada di tempat yang sama dengan Franklin.


"Jika mereka berdua bersama akan ada banyak korban berjatuhan ... tapi jika mereka dipisahkan setidaknya jumlah korban akan berkurang ... bagaimana? kau sudah paham kan?" kata Franklin.


"Berani-beraninya kau berbicara tidak sopan begitu dengan Felix!" kata Teo tiba-tiba memunculkan tombak emerald hampir mengenai leher Franklin jika Teo tidak ditahan oleh Tan dan Tom.


"Moshas sudah muncul kembali!" kata Franklin tersenyum melihat tombak emerald Teo, "Sebelum permainan berakhir, akan kupastikan mereka berdua juga memunculkan senjata Alvauden!" tunjuk Franklin pada Tan dan Tom.


"Kau bisa pergi sekarang!" kata Felix takut jika Tan, Teo dan Tom kehilangan kendali melukai Franklin yang memang terlihat sangat menyebalkan dengan senyuman miringnya itu. Walau sebenarnya maksudnya baik tapi tetap saja bisa disalah artikan.


Teo mulai menenangkan dirinya saat Franklin sudah menghilang pergi. Moshas juga sudah menghilang dari tangannya.


Bukan hanya meningkatkan kekuatan Caelvita tapi dapat juga meningkatkan kekuatan Alvauden. Franklin tahu betul jika Felix ikut dalam proses permainan tukar kematian ini akan membuatnya lebih mengasah kekuatan dan bisa membuatnya lebih dewasa lagi dalam berpikir. Begitupun dengan Alvauden yang jika bertemu dengan yang dianggap musuh akan membuatnya otomatis memunculkan senjata Alvauden. Tapi sebaik apapun niat Franklin tidak bisa diterima dengan mudahnya oleh Tan, Teo dan Tom yang sudah terlanjur menganggap Franklin sebagai Quiris jahat.


Sebelum meninggalkan rumah Casimira, "Berapa umur Casimira, Felix?" tanya Teo menoleh melihat Casimira.


"Apa tidak bisa menggunakan kekuatan waktu Cain untuk memundurkan waktu dan menyelamatkan Casimira?!" kata Tan melihat Cain berdiri di ujung jalan.


"Atau saat nanti kita mundur ke dua jam sebelumnya saat keluar istirahat ... kan kita bisa mengulanginya dari awal lagi ...." kata Teo.


"Dasar bodoh! kalau begitu kau akan bertemu dengan dirimu yang lain saat ini sedang kupukul!" kata Tom memukul Teo.


"Atau saat kita memulai kembali, kita langsung kesini agar tidak bertemu diri kita yang lain ... yang masih ada di dekat rumah Adelio ...." kata Teo masih tidak menyerah mengeluarkan pendapatnya.


"Cain dimana?" tanya Tan melihat Cain yang baru saja sebentar tidak dilihat menghilang.


"Waktu dibekukan!" sahut Cain yang muncul dari belakang mereka.


"Baru saja kau ada di sana ... bagaimana kau bisa ada disini?" kata Teo heboh.


"Aku mencoba kembali ke masa lalu tapi tidak bisa! sepertinya permainan ini membekukan waktu seperti yang dikatakan Goldwin ...." kata Cain yang jelas-jelas memutar waktu mundur dua jam sebelumnya tapi hanya berpindah tempat tidak kembali ke waktu yang diinginkan.


"Atau setidaknya sekarang ... karena kekuatan Cain belum sepenuhnya sempurna ...." kata Goldwin.


"Berarti nanti kalau kekuatanmu sudah sempurna, kau bisa kembali ke masa ini untuk merubah apa yang terjadi?" tanya Tom.


Felix menyembunyikan ekspresinya saat Tom menanyakan hal yang ditakutkannya itu.


"Tunggu dulu ... berarti kita tidak bisa kembali ke dua jam sebelumnya? kita bolos sekolah dong?!" Teo mengacak-acak rambutnya.


"Kukira juga apa sampai kau seheboh itu!" kata Tom.


"Aku sudah jaga-jaga kalau hal ini terjadi ... aku sudah mendaftarkan kita semua sebagai relawan bersih-bersih di ruangan kesehatan!" kata Tan.


"Jadi, kita akan langsung bersih-bersih setelah darisini? bukankah akan mencurigakan kalau yang kita bersihkan baru sedikit padahal sudah dua jam berlalu ...." kata Teo.


"Hal itu urusan belakang!" kata Tom, "Kerja bagus, Tan!"


"Sepertinya Franklin tidak ingin hal buruk terjadi kalau kita bisa kembali ke masa lalu ... setidaknya kita tidak perlu mengkhawatirkan Efrain punya siasat tertentu karena waktu sudah berlalu!" kata Felix.


"Jadi kau memilih siapa diantara Parisya dan Qabil?" tanya Tan.


"Qabil! setidaknya dia masih muda ... dibanding Parisya yang sudah dewasa bisa melakukan kejahatan, dengan memilih Qabil bisa menunda kejahatan terjadi ...." jawab Felix.


"Ayo kita ke rumah Parisya secepatnya dan kembali ke sekolah!" kata Teo.


"Jadi, kalian sudah baikan kan?!" tanya Tom.


"Tidak!" sahut Felix dan Cain bersamaan membuang muka.


Setelah menukar kematian Qabil dengan Parisya, mereka segera bergegas berlari ke sekolah tapi kemudian berhenti dan menatap Goldwin.


"Oh, iya aku lupa kalau ada kerjaan ... aku pergi dulu ya!" kata Goldwin ingin kabur.


"Jangan coba-coba lari!" teriak Cain.


"Aku sudah dua kali melakukan teleportasi dan membantumu kembali ke masa lalu tadi walau tidak berhasil tapi staminaku tetap ikut berkurang ...." kata Goldwin mengeluh.


"Apa?!" tanya mereka bersamaan pura-pura tidak mendengar keluhan Goldwin.


"Dasar! tidak punya perasaan!" Goldwin terpaksa menggunakan kekuatan teleportasinya lagi untuk mengantar mereka kembali ke sekolah.


...-BERSAMBUNG-...