
Tom mengikuti Demelza dengan berenang sekuat tenaga tapi kedalaman air itu lebih dalam dari yang dibayangkan. Anehnya semakin dalam Tom berenang, yang dirasakannya bukan sesak napas sehingga butuh untuk kembali ke permukaan melainkan rasanya sangat lega bernapas di dalam air itu. Tom mempercepat dirinya untuk berenang dan akhirnya meraih rambut Demelza. Terjadi saling tarik menarik antara Zewhit Air dan Tom.
Demelza sudah dalam keadaan tidak sadar, "Jika terlambat bisa gawat." akhirnya Tom memunculkan Sesemax nya dan menjatuhkannya tepat diatas kepala Zewhit Air itu sehingga melepaskan kaki Demelza. Tom akhirnya meraih Demelza untuk ditarik naik kembali keatas permukaan. Sangat sulit karena kini kaki Demelza dan dirinya sendiri ditarik juga oleh Zewhit Air yang kini bertambah menjadi dua. Tom juga tidak bisa memakai Sesemax nya dengan bebas di dalam air karena terlalu berat dan juga susah untuk bergerak.
Disaat Tom kehabisan ide, muncullah Moshas dan Tellopper mengenai kedua Zewhit Air itu. Tom mengambil kesempatan itu untuk segera naik ke permukaan.
"Demelza!" teriak Tom sambil menampar-nampar pipi Demelza bergantian.
"Bawa kesini!" kata Tan membuka resleting tasnya dan mengeluarkan botol ramuan.
Seketika Demelza langsung batuk dan memuntahkan air hitam yang berkilau layaknya langit malam yang penuh bintang. Air juga ikut berubah warna menjadi seperti yang dikeluarkan Demelza itu.
"Apa yang kau berikan itu?!" tanya Demelza masih membersihkan lidahnya karena tidak suka rasa dari ramuan itu yang masih terus menempel.
"Terkadang ketidaktahuan adalah anugerah!" kata Tan tidak bisa mengatakan kalau yang diminumnya adalah darah Felix yang bisa membantu mengeluarkan apapun yang berhubungan dengan Mundebris masuk ke dalam tubuh. Itu hanyalah perkiraan Tan saja tanpa didasari teori tapi ternyata benar berhasil.
"Aaaaaa!" teriak Osvald saat merasakan kakinya ada yang memegang dan itu adalah Zewhit Air yang lainnya dengan tangan yang biru kehitaman dan menggembung seakan di dalam kulitnya berisi hanya air semua. Rambut panjang tapi jarang sehingga seperti kepala botak yang hanya ditumbuhi rambut sedikit. Dengan pakaian yang terbuat dari sisik ikan berwarna hijau. Wajahnya hanya ada mulut saja ditengah-tengah. Dengan penampilan itu wajar saja Osvald ketakutan setengah mati. Bahkan Tiga Kembar yang sudah mulai terbiasa dengan hantu juga merinding melihat visual itu.
Demelza merebut senjata di tangan Osvald dan menusuk tangan Zewhit Air itu berkali-kali dengan dua senjata sekaligus hingga Zewhit Air itu melepaskan kaki Osvald.
"Hahh ... terimakasih!" kata Osvald begitu lega tapi kemudian melihat kakinya terdapat bekas tangan yang menjadi lebam.
"Dia tidaklah melihat, hanya tahu dari gerakan yang kita buat di dalam air." kata Tan sudah memanjangkan Telloper nya lagi agar mereka semua bisa keluar dari dalam air.
"Bagaimana kita keluar darisini?!" tanya Osvald gelisah.
Suara melodi dari siulan terdengar dari bawah air yang hitam itu.
"Tutup telinga kalian!" teriak Tan.
Tapi semuanya sudah terlambat, cepat pun percuma saja. Karena suara Zewhit Air tidak bisa ditolak atau ditahan hanya dengan tangan saja. Bahkan jika menggunakan mantera pelindung pada telinga sekalipun, efeknya masih akan terasa.
Semuanya langsung melompat masuk ke dalam air dengan suka rela. Mata mereka menjadi putih semua dan terus berenang masuk ke dalam bawah air. Luka Tan dan Teo pastinya makin parah setelah ini karena terkena air tapi darah mereka tidak terlihat karena air yang hitam itu. Bahkan sulit melihat satu sama lain jika tidak memakai baju yang berwarna terang.
"Datanglah ... kemarilah ... wahai sahabat yang akan menemaniku tinggal di rumah yang luas ini ... lautan yang gelap dan penuh cahaya kecil berkilauan ... lautan langit malam ... teruslah berenang menuju kematian ... dengan begitu kita akan hidup bersama selamanya disini ... lautan penuh bintang ... lautan kematian abadi ...." nyanyian dari Zewhit Air terus menarik mereka untuk terus berenang lebih cepat.
"Teo!" teriak Winn yang sudah tidak terbilang berapa kali.
Hanya dengan sekali sentuhan saja ternyata sudah mampu menyadarkan kembali, "Untung saja mereka hanya Zewhit Air kalau Makhluk air Mundebris, pasti tidak akan semudah ini ...." kata Teo sudah selesai menyadarkan semuanya.
Tapi mereka sudah terlalu dalam lebih dari yang dibayangkan. Terlebih lagi Zewhit Air kini bertambah banyak jumlahnya dan terus menarik mereka untuk turun. Diserang bagaimanapun tidak terlalu berguna karena mereka sudah terkepung.
Air yang tenang itu perlahan terasa bergerak dan terus bergerak hingga tanpa dilihat dengan jelas pun sudah bisa ditebak, "Aaaaa siapa yang punya ide buruk begini?! membuat tornado di dalam air?!" Teo tidak habis pikir tapi kemudian melihat Demelza yang tidak berkedip, "Sudah pasti dia!" keluh Teo.
Semua Zewhit Air terlempar keluar dari dalam pusaran air. Kini tinggal mereka berlima di dalam sana terus berputar. Zewhit Air terus ingin menerobos masuk tapi gagal.
Tan memberi kode untuk semuanya mendekat dan memegangnya. Butuh waktu lama tapi semuanya kini berpegangan pada Tan sementara Demelza masih terus fokus mempertahankan pusaran air itu. Tan menaikkan satu tangannya dan memunculkan Tellopper yang tadinya masih terpasang di dinding kini sudah ada di tangan Tan dan langsung memanjang dan menarik mereka semua naik kembali ke permukaan.
Semuanya terlihat lega, bahkan Tiga kembar yang masih memakai masker bisa terlihat betapa leganya bisa terlepas dari Zewhit Air. Tapi Osvald dan Demelza masih merasa tidak nyaman. Serasa kakinya geli karena merasakan ada yang akan menarik karena masih di dalam air.
Belum terhitung satu menit mereka berhasil kabur dari kepungan Zewhit Air, kali ini terdengar suara yang tidak asing muncul dari atas.
"Ini ... suara nyamuk?!" kata Demelza yang masih waspada dengan Zewhit Air tapi bahaya lainnya kembali datang.
Ada 4 nyamuk besar dengan perut yang kurus tanpa ada isi apapun sudah mendarat di dinding dekat mereka. Teo merogoh sesuatu dari dalam tasnya dan mengeluarkan semprotan dengan gambar nyamuk yang diberi tanda silang.
"Wah!" semua mata terlihat berkaca-kaca melihat itu.
"Inilah kenapa, kemana-mana harus membawa segala macam hal!" kata Teo berbangga diri menyemprotkan semprotan itu pada satu nyamuk yang terlihat terbang mendekat tapi sampai semprotan terakhir pun, tidak ada gunanya sama sekali.
"Sudah kuduga ... kau selalu saja membawa tas besar dan berat tapi yang kau bawa sama sekali tidak berguna!" kata Demelza membuat Teo kesal dan melemparkan botol semprotan anti nyamuk itu pada nyamuk raksasa.
"Lihat, berguna kan!" kata Teo saat nyamuk itu terlihat mundur setelah terkena lemparan Teo. Tapi itu hanya sementara, sesaat kemudian keempat nyamuk itu menyerang bersama-sama.
Tanpa suara percakapan, mereka langsung melawan dengan senjata masing-masing disaat nyamuk itu menyerang dengan mulutnya yang panjang dan keras seperti pedang itu. Salah satu mulut nyamuk menusuk bahu Tom dan menghisap darah Tom hingga perut nyamuk itu terisi setengah. Tan langsung mengubah arah Tellopper nya untuk membantu Tom yang kesusahan mengontrol Sesemax nya. Osvald dan Demelza juga sudah berulang kali dihisap darahnya oleh nyamuk raksasa itu. Tidak ada percakapan atau keluhan sama sekali. Yang terdengar hanyalah suara senjata yang saling bertabrakan dengan mulut nyamuk.
Mereka tersudutkan hingga mundur ke dekat dinding. Tapi Zewhit Air terlihat melompat dan menyerang Nyamuk raksasa itu. Kedua makhluk yang seharusnya bekerjasama atau tidak saling memperdulikan itu malah berkelahi menandakan ada baiknya juga kedatangan iblis yang masuk kesana sehingga sistem jadi berubah.
Sementara kedua makhluk itu saling menyerang satu sama lain, Osvald menemukan sesuatu di dinding. Berkat kakinya yang terus digerakkan karena takut jika ada Zewhit Air yang mendekat malah membuatnya menemukan sesuatu. Sebuah gagang pintu putar. Untuk yang ketiga kalinya, Osvald kembali menemukan pintu keluar di rumah hantu itu.
Semuanya menyelam dan bersama-sama memutar gagang pintu seperti roda sepeda itu. Terbukalah pintu itu tapi air tidak ikut keluar atau bergerak ke ruangan lainnya. Demelza menjulurkan tangannya ke dalam ruangan itu dan merasakan sebagian tangannya tidak terkena air.
...-BERSAMBUNG-...