
Teo tertawa melihat tarian konyol Zewhit Badut itu tapi lama kelamaan Zewhit Badut itu langsung maju kedepan wajah Teo, "Aaaaaaa!" teriak Teo ketakutan sampai-sampai menjatuhkan diri dari kursi.
Teo jadi pusat perhatian dalam sekejap membuat Tan dan Tom bingung harus bereaksi bagaimana. Tan dan Tom saling pandang untuk mencari cara menyelamatkan situasi yang canggung dan memalukan itu.
Tan dan Tom hanya berekasi dengan langsung tertawa dan bertepuk tangan keras, "Hahaha ... cerita begitu saja kau takut?!" kata Tom dengan aktingnya sambil membantu Teo berdiri.
"Kalian juga mendapat gangguan?!" tanya Osvald yang tiba-tiba ikut bergabung di meja mereka.
"Em, tentu saja!" kata Tan dengan membuat-buat cerita dadakan dalam waktu beberapa detik saja dan tidak kalah bagus aktingnya dari Tom.
Sementara Teo masih menenangkan diri setelah dikagetkan dengan serangan dadakan Zewhit Badut yang jahil itu, "Sepertinya ... aku memang belum siap." Teo mengakui dirinya masih tidak bisa seperti Tan dan Tom yang sudah mengatasi rasa takutnya.
"Mau tahu sebuah rahasia?!" kata Osvald sambil berbisik.
Tiga Kembar mau tidak mau tertarik mendengar itu dan mendekatkan telinganya mendekat pada Osvald, "Kurasa ini sudah waktunya bagi hantu yang sudah lama tidak muncul beraksi ... pelakunya sudah pasti adalah Hantu Merah Muda ...." kata Osvald membuat Tiga Kembar hampir tidak bisa menahan tawanya mendengar kesimpulan Osvald yang sangat salah itu.
"Eeeeeey! Hantu Merah Muda kan ... gaya mengerjainya tidak seperti itu." kata Teo dengan suara keras hingga Mertie yang merupakan Hantu Merah Muda mendengarnya.
"Ow, Nice Teo!" kata Mertie dalam hati sambil tersenyum.
"Lalu siapa lagi kalau bukan dia. Hanya dia yang bisa melakukan hal dengan skala besar seperti ini ... mengganggu semua orang di sekolah bukanlah pelaku yang amatir. Tapi sudah professional seperti Hantu Merah Muda yang biasa melakukan hal besar seperti ini." kata Osvald.
"Aku setuju dengan Teo, ini bukanlah seperti cara kerja dari Hantu Merah Muda biasanya lakukan." kata Tan.
"Lalu siapa lagi kalau bukan dia. Hanya dia satu-satunya yang bisa melakukan hal seperti ini ...." kata Osvald.
Tiga Kembar melihat rasa takut Osvald tidak ada yang keluar membuat Tan, Teo dan Tom lega karena ternyata ada cara seperti itu juga untuk menghilangkan rasa takut.
"Sepertinya kita harus berterimakasih pada Mertie ... berkat dirinya yang lain itu bisa menjadi pengalihan isu dan memunculkan keberanian." kata Tan saat berjalan kembali ke asrama.
Felix sudah terlihat siap sedang berdiri di jembatan pemisah antara gedung sekolah dengan gedung asrama. Tiga Kembar melihat Idibalte Felix yang terpasang membuat mereka harus berpura-pura tidak melihat Felix karena disisi lain dari asrama ada anak-anak lain yang sedang berjalan.
"Bisa tidak, cepat-cepat!" kata Felix dengan nada kesal dan membentur-benturkan sepatunya.
Sementara Tan, Teo dan Tom entah dalam mode akting atau memang sengaja membuat Felix tambah kesal. Mereka mengabaikan Felix dan hanya mulai menceritakan hal lucu dan tertawa serta berjalan dengan lambat dan sangat santai.
Felix berdecak kesal melihat itu dan akhirnya memutuskan untuk pergi sendirian saja. Tan menyadari hal itu menghentikan aktingnya dan mulai berlari menuju kamarnya sambil tertawa, untuk bisa segera menyusul Felix.
***
Tentu saja Felix sampai duluan di Desa Charemon dengan masih kesal karena diperlakukan seperti tadi oleh Tan, Teo dan Tom.
Tan sudah melakukan yang terbaik untuk menyusul Felix yang sedang ngambek itu. Sekitar 30 menit setelah Felix sampai Tan juga sampai dengan bercucuran keringat karena harus terburu-buru berlari.
"Gunakan gerbangmu sendiri!" kata Felix dingin.
"Ck, dia masih marah ...." keluh Tan dalam hati tidak punya pilihan lain selain menggunakan gerbangnya sendiri.
Felix dan Tan tiba di Mundebris dengan keluar dari gerbang yang berbeda. Langsung disambut oleh batu permata Imeprial Topaz yang bersinar terang terkubur sebagian di tanah.
"Kau sudah siap?!" tanya Felix bersiap mengiris telapak tangannya.
"Tunggu ...." kata Tan menurunkan tas ranselnya dulu untuk mengeluarkan botol minumannya, "Aku minum dulu!"
Setelah sudah selesai minum, Tan mengeluarkan Tellopper nya dan berdiri dihadapan Felix sebagai perisai, "Okey, lakukan!" kata Tan sudah siap.
Setelah satu tetes darah Felix sudah menetes pada batu permata itu, suara pedang bertubrukan juga berbunyi dengan keras disertai angin kencang dari kedatangan serangan tiba-tiba dari Iblis kura-kura. Untungnya Tan sudah sangat siap menerima serangan dadakan itu. Tanpa harus mengelak atau menghindar, Tan hanya berdiri tanpa gentar sedikitpun menerima serangan itu.
Perbedaan tinggi badan dan postur tubuh Iblis kura-kura yang tentunya lebih berotot daripada Tan yang pendek, kecil dan kurus, "Bukankah ini sangat memalukan ... menyerang anak 13 tahun ...." kata Tan.
"Walau dilihat dari fisik tapi Alvauden tetaplah Alvauden. Akan sangat memalukan lagi jika saya menyerang dengan setengah-setengah ...." kata Iblis Kura-Kura.
"Tidak seperti jenismu di Mundclariss, kau sepertinya cepat ...." kata Tan tersenyum.
"Suatu kehormatan saya bisa bertarung dengan Alvauden pemula 119 ...." kata Iblis Kura-Kura mundur setelah merasakan bagaimana kekuatan Tan untuk menyusun strategi, "Dia tidaklah sekuat itu ... tapi pedangnya sudah memasuki level yang berbeda." lanjutnya dalam hati.
Felix mulai duduk bersila menonton pertarungan Tan sambil masih mengalirkan darahnya pada batu permata.
"Yang Mulia ...." Iblis Kura-Kura menunduk, "Hormat saya pada Caelvita yang ke-119."
Felix tidak membalas sapaan itu dan hanya memangku tangan yang satunya sambil menatap tajam Iblis Kura-Kura itu.
Tan melirik sebentar Felix dan melihat ekspresi Felix yang seperti biasa juga sering membuat Tan juga pun merasa terintimidasi. Karisma Felix memang sangat jelas terlihat, walau Tan sudah mengenal cukup lama tapi aura Felix itu sangat menakutkan. Tidak bisa terbayangkan bagaimana nantinya saat Felix sudah menginjak dewasa. Saat ini saja hanya dengan tatapan itu bisa membuat orang-orang tahu bahwa Felix tidaklah seperti Caelvita sebelumnya.
"Aura besar yang sama seperti saat bertemu Sang Caldway pertama kalinya, tapi lebih berat ...." kata Iblis Kura-Kura menyadari bahwa Felix bukanlah Caelvita yang lemah lembut seperti Iriana, "Dan ... Alavuden ini, manusia tapi bisa menerima seranganku dengan baik. Terlebih lagi dia mendapatkan senjata Alvauden yang jarang muncul." Iblis Kura-Kura itu terus menganalisis lawannya.
"Juro ke ...." kata Tan memanjangkan Tellopper nya membentuk lingkaran melindungi dirinya.
"Juro ke-2020!" sahut Iblis Kura-Kura.
"Suatu kehormatan juga bisa bertemu dengan generasi baru Juro yang terkenal akan penasehat terbaik Optimebris tiap generasinya." kata Tan.
"Bahkan sudah tahu aku ini siapa ... akan sangat menarik pemerintahan kali ini rupanya." kata Juro 2020 tersenyum.
...-BERSAMBUNG-...