
"Hari ini kita akan berlatih sambil memainkan permainan ...." kata Banks.
"Permainan?" tanya Tan.
"Permainan ini terkenal di kalangan kaum iblis. Sebenarnya ini salah satu dari 10 dosa yang tidak termaafkan kemudian diadaptasi menjadi permainan. Pada masa pemerintahan Caelvita-46, Raja Iblis saat itu membuka Gerbang Neraka untuk memasuki Mundclariss tanpa harus menggunakan gerbang tapi otomatis langsung bisa masuk secara bebas. Tapi akhirnya bisa dihentikan juga oleh Caelvita-46 dan Raja Iblis diturunkan dari tahtanya dan dikurung di Neraka Proferce ...." kata Banks.
Teo menyela Banks untuk melanjutkan, "Maaf ... tapi aku sangat mengantuk Banks. Bisa tidak langsung latihan saja malam ini tanpa harus mendengarkan cerita?!"
Tom membuka tutup botol minumannya dan menyiramkan air langsung mengenai wajah Teo, "Harusnya kau bersyukur bisa mendengar cerita ini ... kau sudah malas membaca, mana akan tahu soal Mundebris kalau bukan dengan cara seperti ini."
Kebiasaan Banks saat melatih mereka adalah menyempatkan untuk memberi mereka pengetahuan disela latihan.
"Bagaimana salah satu dari 10 dosa tak termaafkan itu diadaptasi menjadi permainan?" tanya Tan daritadi serius mendengarkan.
"Pada pemerintahan Caelvita-47, mantan Raja Iblis itu berkontribusi besar pada keselamatan tiga dunia. Gerbang Neraka itu berbalik menjadi penolong disaat itu ... jadi kaum iblis mulai hari itu ingin mengingat jasa Raja Iblis itu dengan menjadikan dosanya sebagai permainan." jawab Banks.
"Unik juga cara kalian dalam memuji ...." kata Tan tertawa heran.
"Jadi bagaimana permainannya?" tanya Teo.
"Gerbang neraka ini berbentuk lingkaran besar. Tentunya lingkaran harus mulai dari titik satu dengan titik lainnya untuk terbentuk lingkaran penuh." Banks mengeluarkan batu permata Imperial Topaz dan melemparnya satu per satu, "Kalian akan membagi diri dan berdiri di setiap batu permata itu untuk menyelesaikan misi yang kuberikan. Latihan akan selesai setelah muncul atau terbentuknya garis lingkaran penuh yang terhubung dari satu batu permata ke batu permata yang lainnya."
Tan, Teo dan Tom mulai berdiri di depan masing-masing batu permata itu dan dari batu permata itu keluar sesuatu. Di tempat Tan muncul dirinya yang lain sama persis, ditempat Teo keluar air dan langsung membuatnya tenggelam, ditempat Tom muncul pasir hisap sehingga kakinya terhisap turun secara perlahan.
"Garis lingkaran hanya akan terbentuk jika kalian berhasil melakukan misi, kalian bisa menyerah tapi orang selanjutnya harus menyelesaikan misi yang gagal kalian lakukan itu. Aku sudah berbicara pada Tuan Muda Cain dan Yang Mulia Felix, kalian tidak akan pulang sampai selesai membuat gerbang neraka ini." kata Banks disaat mereka bertiga sudah dalam mode panik semua.
"Tan, aku akan menyerah jadi gantikan aku disini. Tom aku yang kesitu!" teriak Teo mulai naik ke permukaan tapi air mulai menenggelamkannya lagi.
"Jika setuju ingin bertukar misi teriakkan 'Aku pendosa biarkan aku menebus dosaku dan menjadi pahlawan!' tapi asal tahu saja kalau bertukar misi akan membuat kesulitan misi bertambah 10 kali lipat ...." kata Banks.
"Apa?!" Tiga Kembar berteriak protes, "Kenapa tidak bilang daritadi?!"
"Kalian tidak bertanya ...." kata Banks tidak merasa bersalah sama sekali.
Akhirnya Tiga Kembar pasrah menolak untuk bertukar misi dan mulai serius menjalankan misi masing-masing.
Yang dihadapi oleh Tan adalah dirinya sendiri, muncul sebuah benda di hadapan mereka berdua dan harus memilih benda yang sama. Jika tidak memilih benda yang sama maka benda itu berubah menjadi monster dan menyerang Tan.
"Apa benar terbentuk dari diriku, saat ini aku hanya butuh itu untuk menarik Teo dari air itu dan Tom dari pasir hisap ...." kata Tan merasa ada yang salah dan bayangan itu bukanlah dari dirinya karena tidak memilih apa yang saat ini sangat dibutuhkannya.
"Itulah yang menjadi masalah Tuan Muda, selalu saja mementingkan orang lain ketimbang menolong diri sendiri dulu." kata Banks mulai meninggalkan Tan menuju tempat Teo.
Teo berusaha untuk terus mengambang di air yang sudah sangat tinggi itu bahkan sudah jauh lebih tinggi dari pohon yang ada disana. Kakinya mulai lelah untuk menjaga diri terus mengambang tapi jika menyerah dia akan tenggelam di kedalaman air yang sudah pasti akan langsung membunuhnya. Ombak besar terus datang menghantam Teo yang bibirnya sudah biru karena kedinginan.
"Tuan Muda mendapatkan misi ini karena Tuan Muda selalu saja dipenuhi ketakutan sama dalamnya, dan tiada habisnya seperti air ini. Tuan Muda hanya terus mencoba bertahan menghadapi ombak ini, ketakutan ini ...." kata Banks yang berjalan di atas air membuat Teo menatap Banks antara marah dan iri.
Banks ke tempat Tom yang sudah mulai tenggelam setengah badan di pasir hisap itu.
"Tuan Muda mungkin mengira diri Tuan Muda itu sangat rasional dalam berpikir, tapi saat dihadapakan pada kenyataan ... bahkan orang rasional pun akan jadi lupa diri dan panik dalam menghadapi masalah." kata Banks.
"Kau yakin ini benar permainan? permainan ini sangat tidak boleh dimainkan oleh anak-anak!" kata Tom seperti menahan napas dan sebisa mungkin untuk mengurangi pergerakan dirinya.
"Permainan ini disesuaikan dengan kekuatan dan umur pemain. Tentunya misi yang dihadapi sekarang sangat memungkinkan untuk kalian berhasil melaksanakannya." kata Banks.
Tom mulai tertawa, "Ah, jadi begitu ...." Tom mulai merilekskan dirinya dan bernapas normal seperti biasa. Pasir hisap itu mulai menghilang dan Tom sudah terbebas, "Jadi, semudah ini?! pasir hisap ini ibaratkan belenggu panik saat terjadi masalah ... tapi jika aku bisa santai menghadapinya tentunya semua akan baik-baik saja." kata Tom yang pertama kali memunculkan garis menuju titik selanjutnya.
Tan sudah mengalahkan monster tali tadi dan memilih ulang kembali. Kali ini dia tidak memilih apa-apa dan melihat bayangannya tersenyum padanya dan perlahan mulai menghilang menjadi debu.
"Diriku sendiri ternyata adalah sosok yang mempercayai mereka berdua." Tan melihat kedua saudaranya, "Tadi aku hanya terus mengkhawatirkan mereka dan memilih apa yang bisa kugunakan untuk menolong mereka tapi ternyata jauh dilubuk hatiku yang paling dalam, tidak membutuhkan benda apapun yang ada disini karena aku percaya bahwa mereka bisa berhasil tanpa aku harus menolong mereka."
Kini tinggal Teo yang belum melangkah ke titik selanjutnya. Kakinya mulai kram dan kesusahan untuk mengambang apalagi menghadapi ombak besar.
"Teo, aku tahu kau yang paling berani diantara kita bertiga. Kau ingat pembully saat kita TK dulu, disaat Tom dipukuli anak SMP itu aku hanya bisa terus melindungi Tom dari pukulan ... tapi kau berbeda, kau berdiri tanpa takut sama sekali melawan anak SMP itu." kata Tan meneriaki Teo yang sudah sangat kelelahan dan hampir menyerah itu.
Mata Teo sudah perih karena terkena air terus menerus, kulitnya juga mulai berkeriput dan kedinginan.
"Kau salah Banks! aku bukannya bertahan tapi selalu menghindar ...." Teo membuka matanya lebar-lebar dan mulai berenang maju menemui ombak yang hendak datang menghantamnya lagi, "Kau ini hanya air ... kemarilah!" Teo menantang ombak besar itu.
Ombak besar seperti tsunami itu mulai menghantam Teo. Tapi kali ini dia tidak lagi mulai berenang naik ke permukaan melainkan hanya melepas dirinya pasrah tenggelam, "Harusnya aku membiarkan saja ketakutan itu menghampiriku ... rasanya tidaklah seburuk itu!" kata Teo menutup matanya kemudian perlahan merasakan dirinya menyentuh rumput, "Hahh ...." Teo mulai bangun dan bernapas setelah melihat air itu menghilang.
Banks kini hanya menonton saja bagaimana mereka menyambungkan garis lingkaran itu satu per satu, "Aku tidak tahu sehebat apa mereka nanti ... padahal sebenarnya aku memang sengaja menaikkan kesulitannya." kata Banks dalam hati agak merasa bersalah tapi merasa bahagia juga setelah melakukan itu.
...-BERSAMBUNG-...