UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.324 - Saudara



Felix kembali berjaga di Desa Parama, entah kenapa tapi perasaan Felix tidak enak terus. Saat ini dia sedang memakai Idibalte jadi tidak kelihatan oleh penduduk desa tapi tentunya Felix memikirkan bahwa Iblis juga pasti memiliki alat atau kemampuan yang sama seperti Idibalte miliknya. Memungkinkan untuk tidak terlihat juga, walau selama ini mata Felix tidak bisa ditipu tapi bagaimanapun dia masihlah Caelvita pemula. Kekuatan Iblis yang tinggi itu tentu saja bisa membutakan mata Caelvitanya.


"Jarak antara Desa Kimber dan Desa Parama adalah 4 desa. Jadi Kak Cairo bersama Tom ke desa yang berjarak 4 desa dari Desa Kimber sementara aku dan Teo akan ke desa yang berjarak 4 desa dari Desa Parama." kata Tan masih melihat peta.


"Kenapa aku bersamamu? biarkan aku yang menemani Kak Cairo!" kata Teo.


"Kalau terjadi sesuatu ada Tom yang membantu Kak Cairo." kata Tan.


"Aku juga bisa membantu ...." kata Teo percaya diri.


"Ohya? kau tahu bagaimana menarik batu Imperial Topaz yang ditanam di Bemfapirav?!" Tom menantang Teo dengan pengetahuan.


"Tinggal menumpahkan darah di atas batu permata kan, gampang!" kata Teo.


"Sampai kapan kau mau melukai dirimu? dan jumlah darah untuk menarik keluar batu permata Imperial Topaz sangat banyak, bisa-bisa kau akan kehabisan darah dan mati." kata Tom.


"Memangnya ada cara lain?!" tanya Teo.


"Tentu saja ada." sahut Tom, "Kau tahu?" tanyanya lagi menantang.


"Tidak." sahut Teo santai.


"Makanya aku yang pergi bersama Kak Cairo." kata Tom.


"Kenapa bukan Tan saja yang pergi bersama Kak Cairo ...." kata Teo.


"Karena aku tidak mau pergi denganmu!" kata Tom.


"Hahh ...." Teo tercengang memandang Tom yang sudah pergi dengan Cairo, "Menyebalkan sekali." Teo mengutuk Tom dalam hati.


"Kau mengkhawatirkan Kak Cairo kan? merasa Tom tidak cocok bersama Kak Cairo?! tapi kau sendiri tahu kalau Tom sangat bisa diandalkan walau akhir-akhir ini memang moodnya sedang tidak baik karena lelah dan kurang istirahat tapi Tom adalah Tom. Saudaramu ... saudaraku ... yang memiliki dua plester luka tapi alih-alih menempelkannya pada lukanya sendiri, dia lebih memilih memberikannya pada kita." kata Tan menepuk bahu Teo.


"Aku tahu ... hanya saja dia sangat menyebalkan. Rasanya aku perlu memukul kepalanya baru bisa lega ...." kata Teo yang membuat Tan tertawa keras.


***


"Aku sering iri dengan mereka yang punya saudara atau saudari ...." kata Cairo.


"Yang punya saudara akan iri dengan yang hanya anak tunggal." kata Tom.


"Aku punya saudari ... tapi dia kabur saat melakukan perjalanan untuk menghafal jalan." kata Cairo.


"Tidak mencarinya?" tanya Tom.


"Mencari seseorang yang memang ingin pergi? rasanya tidak perlu." jawab Cairo.


"Kalau bukan saudaranya yang mencari siapa lagi?! dari yang kudengar tadi Kak Cairo lah satu-satunya keluarganya sekarang." kata Tom.


"Kau sering bertengkar dengan saudaramu itu tapi kalau dia pergi kau akan mencarinya? walau itu membuat malu klan?" tanya Cairo.


"Tentu saja, bagaimanapun juga untuk pulang ... kami harus terus bersama baru bisa ada yang disebut rumah. Kalau dia sendiri saja diluar sana, sama saja aku dan dia tidak punya rumah sekarang. Tidak ada tempat yang bisa dikatakan rumah untuk ditempati pulang jika terpisah. Jika dia membuat malu, maka akupun juga akan menanggung malu itu. Setidaknya kita bisa menanggung malu itu bersama dan menghadapinya bersama daripada harus menghindar dan tidak pernah bertemu lagi ...." kata Tom.


"Kak Cairo pikir lebih baik membiarkannya?!" tanya Tom.


"Selama dia bahagia, buat apa bersamaku jika dia tidak bahagia. Dan ... mungkin memang lebih baik begitu! dia juga bisa berumur panjang jika tidak menjadi pemburu iblis." kata Cairo.


"Kak Cairo memiliki darah Aluias menandakan kemungkinan besar saudari kakak juga begitu ...." kata Tom.


"Tapi selama ini tidak ada kelainan yang membuatku tidak bisa hidup normal jadi menurutku dia juga begitu ...." kata Cairo.


"Aluias terkenal akan kehebatannya dalam bela diri, menggunakan senjata. Jadi walau bisa hidup normal tapi pastinya akan menggeluti pekerjaan yang hampir sama dengan Kak Cairo juga nantinya karena bakat itu." kata Tom.


"Tidak masalah ... itu membuatku merasa lega untuk membiarkannya di luar sana karena bisa menjaga diri sendiri. Yang kutakutkan hanyalah jika dia bisa melihat sesuatu sehingga tidak bisa hidup normal." kata Cairo.


"Hanya keturunan lain yang seperti itu, beruntunglah karena Kak Cairo keturunan Aluias." kata Tom.


***


Tan dan Teo meminum ramuan tipuan mata. Ramuan tipuan mata ada berbagai macam tapi yang diminumnya saat ini adalah untuk mengganti bagaimana orang lain melihatnya.


"Jadi aku kelihatannya bagaimana?" tanya Teo.


"Kau jadi tinggi sekali dan sudah berumur." jawab Tan.


"Kenapa kau jadi terlihat cantik?" Teo protes.


"Aku?!" Tan terlihat bahagia dan senyum-senyum sendiri, " Aku hanya mengambil acak di lemari Banks, tidak tahu rupa dari ramuan ini seperti apa."


"Bukannya kau sengaja memberikan yang ini padaku?!" tanya Teo sebal.


"Sumpah, aku benar tidak tahu. Kau juga tadi yang pertama memilih ramuan." kata Tan membela diri.


"Dasar licik!" kata Teo menyipitkan matanya.


Sementara Tom dan Cairo tidak perlu meminum ramuan karena Cairo sendiri sudah dewasa dan bisa berpura-pura menjadi apa saja. Disaat Cairo bertanya ke warga desa, Tom berkeliling membawa kotak mainan untuk mendeteksi iblis.


"Apa aku perlu memeriksa yang di Bemfapirav?" tanya Tom lewat pesan. Mereka berdua setuju untuk saling mengabari secepatnya. Jika ada yang ditemukan Cairo maka Tom akan bergegas ke Bemfapirav untuk memeriksa.


"Tidak, masih belum ada yang aneh." balas Cairo.


Akan membuang-buang waktu lama juga jika harus selalu memeriksa ke Bemfapirav tanpa memeriksa dulu sebelumnya. Jika harus ke Bemfapirav maka harus ada fakta yang sangat kuat.


Tan dan Teo juga belum menemukan apa-apa padahal sudah kenyang karena terus disuguhkan makanan oleh warga desa. Tapi beruntungnya karena mereka berdua bertemu warga desa yang sedang berkumpul melakukan arisan. Sehingga mudah untuk mendapatkan informasi. Di desa itu sangat berbeda dengan Desa Parama yang suram. Desa itu dipenuhi warga yang sangat ceria.


"Sudah kuduga tidak akan semudah yang dipikirkan ...." kata Tan dalam hati.


Memang sudah mengetahui apa rencana besar dari Efrain itu tapi untuk menghentikan rencana besar yang sudah terencana dengan sempurna dan sepertinya sudah berlangsung lama itu pastinya akan sulit. Ibaratkan menara kuat yang sudah berdiri kokoh akan sulit untuk diruntuhkan hanya dalam semalam jika hanya mempunyai palu kecil. Felix dan kawan-kawan perlu untuk memiliki palu yang lebih besar untuk itu.


...-BERSAMBUNG-...