
Felix, Tan dan Teo terpaksa menggunakan rute Bemfapirav untuk menyusul Tom karena transportasi umum tidak akan beroperasi lagi setelah jam 10 malam. Pemerintah benar-benar mencoba menggunakan segala cara untuk menekan angka korban pembunuhan dari pelaku lupa ingatan itu.
"Kau masih tidak bisa memanggil kuda ya?" tanya Teo.
"Tidak apa-apa, Tan bisa bersamaku. Kuda Caelvita bisa membawa siapapun." kata Felix.
"Apa ini wajar terjadi Felix? karena kau mengatakan ini bukanlah masalah besar jadi aku tidak terlalu terpikirkan ... tapi ini sudah lama dan Tan masih belum bisa memanggil kudanya sendiri? bukankah semua Quiris Mundebris berjodoh dengan satu kuda seumur hidupnya?! walau Tan adalah manusia tapi dia adalah Alvauden yang menandakan bahwa dia sudah menjadi Quiris juga, rasanya aneh saja aku bisa melakukan sesuatu yang tidak bisa dilakukan Tan ...." kata Teo.
"Kau masih punya banyak hal lainnya yang bisa kau lakukakn Teo, yang tidak bisa kulakukan ...." kata Tan tersenyum.
"Tidak usah mengkhawatirkan itu Teo, akan tiba waktunya nanti Tan bisa memanggil kudanya. Hanya saja saat itu belum tiba ...." Felix kemudian memerintahkan Edelhard untuk mengantarnya secepat mungkin.
"Walau secepat ini tapi kita akan tetap sangat terlambat untuk sampai ...." kata Tan.
"Kita berharap saja Tom tidak melakukan hal bodoh sebelum kita datang." kata Teo.
Edelhard dan Mardelle melaju begitu cepat membawa mereka ke tempat tujuan.
"Tenang saja Tuan Muda, kita akan sampai dalam 15 menit." kata Mardelle begitu percaya diri.
"Walau 15 menit tapi di Mundclariss, kami melewatkan waktu tiga jam. Secepat-cepatnya kita, tetap saja akan sampai jam 1 malam di tempat Tom." keluh Teo.
"Tenang saja, Tom lebih cerdas darimu. Dia pasti akan bisa bertahan selama tiga jam, apapun masalahnya ...." kata Tan.
"Apa aku harus senang atau sedih mendengar itu?" kata Teo.
***
"Aku tidak percaya di zaman ini masih ada orang yang seperti nenek ini, yang langsung percaya pada orang yang baru pertama kali ditemuinya dan tidak khawatir atau takut sama sekali denganku ... tapi aku ini masih tidak bisa dihitung sebagai satu orang sih ... walau begitu, saat ini kan sedang marak kejahatan menggunakan anak-anak sebagai modus operandi." kata Tom dalam hati.
Nenek itu baru saja berjalan jauh dan setelah sampai rumah bukannya beristirahat tapi malah sibuk sana-sini. Bunyi berisik dari dapur membuat Tom penasaran ingin memeriksa tapi dia harus berjaga di luar rumah. Tom sudah menebar Garam Ruleorum pemberian Felix.
Di Mundebris garam adalah sesuatu yang langka. Saking langkanya, membuat harganya sangat mahal. Tapi setidaknya garam biasa untuk keperluan masakan lebih murah dibanding Garam Ruleorum. Garam biasa dibawa dari Mundclariss secara legal ataupun ilegal. Terkadang ada yang menggunakan kesempatan itu untuk meraup keuntungan besar.
Garam Ruleorum sendiri berfungsi untuk mengusir sesuatu atau seseorang yang berniat jahat. Jadi, bukan hanya berfungsi untuk Iblis atau Malexpir saja tapi bahkan untuk manusia yang berniat jahat sekalipun.
"Ayo masuk makan malam, Tom!" teriak Nenek itu dari dalam rumah.
"Makan malam? ini lebih tepatnya disebut makan tengah malam!" kata Tom tidak berniat masuk karena sedang berjaga di luar rumah.
"Apa yang kau lakukan disitu? dingin! ayo masuk ...." Nenek itu membuka jendela melihat Tom yang berdiri seperti tiang listrik yang tidak bergerak sama sekali tapi jika disentuh sepertinya akan langsung menyetrum atau terkena pukulan Tom yang sedang sensitif.
"Iblis itu sepertinya memang selalu ada disana, menunggu melihat seseorang berjalan di malam hari ... setelah melihat kedatanganku tidak akan memperburuk keadaan kan?" Tom datang untuk mendapatkan fakta baru tapi saat ini menyesal karena keputusannya itu yang bisa membahayakan penduduk desa dengan kehadirannya, "Iblis itu akan dengan mudah membunuhku ...." katanya dalam hati.
"Nenek, nama nenek siapa?" tanya Tom setelah menyeruput sup hangat.
"Hylmi." jawab Nenek yang kemudian menyalakan tv menggunakan tangannya menekan tombol power di tv langsung.
"Nenek Hylmi?" seru Tom.
"Iya benar ...." sahut Nek Hylmi.
"Nek Hylmi punya remote tv! tidak perlu susah-susah menekan tombol powernya." kata Tom heran.
Tom menghela napas kasar, "Jadi, sekarang sudah tahu kan? jangan membuat susah diri lagi! dan ... Nenek kalau dari kota usahakan untuk pulang di pagi atau siang hari."
"Aku akan memastikan kau untuk pulang di pagi atau siang hari besok!" kata Nek Hylmi.
"Dan jadikan aku tamu asing terakhir yang masuk ke rumah ini! jangan terlalu mudah percaya dengan orang asing, Nek! dunia ini tidak depenuhi oleh orang baik seperti nenek semua tapi orang jahat nyatanya lebih banyak lagi ...." kata Tom.
Nek Hylmi tidak mendengarkan Tom dan hanya berjalan ke sebuah kamar setelah mematikan tv kali ini dengan menggunakan remote, "Kau tidur disini!" Nek Hylmi keluar dari kamar itu.
"Nenek dengar tidak apa yang aku katakan tadi?" tanya Tom.
"Aku bisa menilai sendiri siapa yang harus aku bawa ke rumah ini untuk kusajikan makan malam hangat dan kusiapkan selimut hangat untuk tidur." kata Nek Hylmi berjalan ke arah kamarnya.
"Terimakasih ...." Tom mengeluarkan kata itu tanpa ia sadari. Nek Hylmi tidak berbalik dan hanya langsung masuk ke kamarnya dan mematikan lampu kamarnya.
Tom mematikan semua lampu yang ada di dalam rumah dan keluar rumah berjalan di sekitar desa. Dengan membawa sebuah tas kain berisi Garam Ruleorum. Padahal Felix memberikannya pada Tan, Teo dan Tom untuk dijadikan cadangan jika terjadi sesuatu. Hanya perlu membuat garis lingkaran dengan menggunakan garam akan melindungi dari hal buruk apapun itu. Tapi Tom menggunakannya dengan boros dengan menaburkannya di depan pagar rumah atau pintu masuk rumah-rumah yang ada di desa.
Tom tidak berhenti terus berbalik, takut jika dibelakangnya ada Iblis yang tadi dilihatnya.
"Mundur anak muda!" teriak Seseorang.
Tom berbalik memeriksa asal suara itu dan mendapati seorang pria tua yang sedang memegang pedang yang sangat lebar.
"Paman siapa?" tanya Tom.
"Kembali ke rumahmu sekarang juga!" teriak Paman itu lagi.
Tom kesal karena terus diabaikan dan tidak diberi jawaban yang ingin dia dengar jadi Tom mendekat ke samping paman itu dan akhirnya melihat seorang laki-laki dengan memakai jas lengkap.
"Jangan-jangan, dia sedang dirasuki oleh Iblis tadi?" tanya Tom dalam hati, "Tapi siapa paman ini?" Tom menoleh melihat Paman itu yang terlihat tidak takut sama sekali.
"Apa laki-laki itu mengejarnya makanya paman ini sedang melindungi dirinya?" Tom menganalisis.
"Akan terjadi hal yang tidak mengenakkan dipandang oleh seorang anak kecil sepertimu, jadi cepatlah pergi!" kata Paman itu.
"Apa yang akan paman lakukan? menyerangnya? apa dia mengejar paman atau bagaimana?" tanya Tom.
"Tidak, akulah yang menunggu kedatangannya, mencari keberadaanya, bersiap menyerangnya dan membunuhnya sekarang juga. Karena itu adalah sebuah tugas dari seorang Pemburu Iblis." jawab Paman itu.
"Hah? paman ini pemburu iblis? aku belum pernah dengar ada yang seperti itu, apa dia Setengah Viviandem juga atau apa?" tanya Tom dalam hati.
"Jadi, paman akan membunuhnya?" tanya Tom.
"Iya, jadi pergilah sekarang!" kata Paman itu berteriak.
"Kalau begitu, biar aku bantu!" kata Tom mengeluarkan Sesemaxnya.
"Kau ini? bukan anak biasa ya?" tanya Paman yang katanya Pemburu Iblis itu melihat Tom memunculkan senjata yang bersinar hijau terang.
...-BERSAMBUNG-...