UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.150 - Berusaha!



"Permainan sebelumnya bahkan untukku yang mempunyai kekuatan Hyacifla kesulitan mengatasi aturan permainan yang membuat stres itu!" kata Verlin.


Untuk seseorang seperti Verlin yang terlihat cukup tangguh menghadapi masalah terlihat tertekan mengingat kejadian itu, apalagi untuk Alvauden baru yang masih polos dan tidak bisa merelakan orang lain untuk dikorbankan dahulu untuk bisa mengetahui aturan permainan.


"Apalagi jumlah pemain sekarang 100, dulu yang hanya 10 saja sulit mengetahui hubungan antar pemain jika aku tidak mempunya kekuatan!" kata Verlin semakin mematahkan semangat mereka.


"Kita benar-benar sial!" kata Tom memaki dirinya sendiri.


"Tidak masalah ... kami memang tidak mengharapkan kau untuk memberitahu sesuatu yang bisa membantu tapi dari awal memang aku ingin mengetahui permainan ini dari dasar! hasil dari usahaku sendiri ...." kata Felix mulai keluar ruangan.


"Hahh ... apa-apaan dia?!" kata Verlin kesal.


Cain hendak mengikuti Felix keluar tapi berhenti ketika Banks berbicara, "Tolong maklumi Yang Mulia, beliau pasti sangat tertekan sekarang karena banyaknya masalah yang datang sekaligus ... Para Tuan Muda Alvauden sekalian agar bisa membantu meringankan beban Yang Mulia dan membantu sebisa mungkin tanpa harus menambah kekhawtiran Yang Mulia dengan harus mengkhawatirkan Alvaudennya terluka ...."


"Aku merindukan Iriana!" kata Zeki dalam hati iri mendengar perkataan Banks dengan Alvaduen baru yang memiliki Felix sebagai Caelvita. Zeki menaruh tangannya untuk menutupi matanya yang mengeluarkan air mata.


"Kau sudah sadar?" tanya Verlin yang kemudian memandangi Banks yang tadinya mengatakan bahwa Zeki akan susah untuk bangun.


"Sang Caldway mungkin yang menyembuhkan lewat kedatangan Yang Mulia Felix kesini! bagaimanapun juga sekarang jiwa Sang Caldway pasti sedang membimbing Caelvita baru ...." kata Banks dalam hati.


***


Teo yang bertugas menemani Kiana, Tan sibuk melanjutkan kontrak yang belum dilakukan di Mundebris, Tom mengecek kamera pengawas yang sementara sedang dipasang oleh Cain dan Mertie apa berfungis dengan baik, sementara Felix sedang melakukan perjalanan ke Istana Ruleorum bersama Duarte.


Hari minggu itu mereka sibuk melakukan pekerjaan masing-masing dan sebisa mungkin pemasangan kamera pengawas selesai dilakukan hari itu agar saat masuk sekolah sudah bisa mengawasi 100 pemain itu. Terlebih lagi untuk Kiana yang diberi banyak sekali alat pengawasan. Termasuk Alger yang juga selalu disamping Kiana, bagaimanapun juga Alger bisa bepergian dengan cepat jika terjadi apa-apa pada Kiana, bisa segera memanggil bantuan secepatnya.


Goldwin juga dipaksa melakukan teleportasi berulang kali oleh Cain yang ingin memasang kamera secepat mungkin. Semuanya bekerja keras dalam Permainan Tukar Kematian yang mulai menyebalkan itu. Ada lima pemain yang tiba-tiba dilarikan ke Rumah Sakit karena serangan jantung, entah akibat dari permainan atau karena hal wajar. Yang jelas Felix tidak pernah menurunkan kewaspadaannya akan hal kecil. Semua sebisa mungkin dicatat sebagai variabel yang kemungkinan menjadi aturan permainan.


Sudah 10 hari berlalu dan Felix jadi lebih sensitif daripada sebelumnya. Keempat Alvaudennya hanya bisa memaklumi dan sabar jika Felix tiba-tiba saja meledak marah. Dalam sehari Felix hanya tidur selama satu jam karena bangun untuk berpikir. Bahkan makan Felix sudah tidak teratur karena saat istirahat makan siang di kantin sekolah, Felix ke Mundebris untuk mencari informasi tentang permainan itu dan kembali sebelum kelas dimulai lagi.


Memang masih ada 80 hari tapi Felix merasa hari berlalu begitu cepat, "Itu karena kau tidak berhenti melakukan sesuatu makanya kau mengira waktu berlalu cepat!" kata Teo mencoba menenangkan Felix bahwa masih banyak waktu tersisa. Tapi bagi Felix, waktu 90 hari itu tidak bisa dijadikan sebuah patokan. Bisa saja aturan kali ini berbeda dan bisa saja besoklah hari terakhir permainan berakhir dan 50 orang akan mati termasuk Kiana.


"Jika saja tidak ada anak bernama Kiana itu yang menjadi pemain dalam permainan ini, pasti Felix tidak akan ikut campur juga dan tidak terlalu berlebihan seperti sekarang ...." kata Mertie yang tiba di rumah pohonnya bersama Cain dan melihat Tom sedang mencatat pergerakan masing-masing pemain.


"Tentu saja kau akan berpikiran seperti itu karena Felix yang kau kenal itu bukan Felix yang aku kenal ...." kata Cain menaruh makanan disamping Tom, "Felix yang kukenal adalah tipe yang tidak akan diam jika ada yang memerlukan pertolongan, mungkin di depan kita akan terlihat tidak perduli tapi dibelakang saat kita tidak ada, dia akan diam-diam membantu!" sambungnya.


"Felix tidak suka dipuji makanya kalau mau melakukan kebaikan dia akan diam-diam!" kata Tom mulai menyiram mie cup instant dengan menggunakan air panas yang disimpan di termos air panas yang dibawanya dari panti.


"Apa-apaan?" tanya Mertie sambil tertawa.


"Menurutnya menolong seseorang bukanlah hal yang patut dipuji!" jawab Cain mengambil cemilan untuk dimakan.


"Orang sepertinya itu harus diperiksakan ke Rumah Sakit! Felix itu tidak normal ... mana ada orang tidak suka dipuji?!" kata Mertie.


Cain menyodorkan cemilan pada Goldwin disampingnya tapi Goldwin menolak. Dari sudut pandang Mertie, Cain sedang berniat memberi makan udara karena tidak melihat keberadaan Goldwin, "Kau juga perlu ke Rumah sakit!" kata Mertie.


"Haha ... kau tidak bisa melihatnya karena tidak punya mata Mundebris!" kata Tom.


"Memangnya siapa? kalau hantu aku juga bisa lihat tahu!" kata Mertie penasaran ada makhluk apa disamping Cain.


"Kau berhutang budi dengannya! dia terus mendampingi kita saat sedang dalam bahaya menyelidiki Ted waktu itu!" kata Cain.


"Namanya siapa?" tanya Mertie.


"Terimakasih Goldwin!" kata Mertie menatap ke arah Goldwin walau tidak tepat dan hanya memperkirakan.


"Denganku?" tanya Cain.


"Saat ini aku sudah membantumu juga!" kata Mertie kesal.


"Belum diketahui juga apa benar bisa membantu atau hanya jadi hiasan saja!" kata Cain.


"Setidaknya kau tidak harus mondar-mandir mengeluarkan uang banyak untuk berpindah tempat dan lama menunggu di depan rumah seseorang ... lihat bagaimana santainya kau sekarang bisa makan cemilan dan hanya mengawasi lewat monitor!" kata Mertie.


Walau terkesan tidak tulus tapi Mertie menggunakan semua alat teknologinya yang terbilang cukup mahal dan susah payah ia kumpulkan.


***


"Kiana?" Teo berbisik.


"Em?" sahut Kiana yang daritadi sibuk mewarnai dan tidak ingin diganggu.


"Kiana pernah tukar kado kan?" tanya Teo.


"Pelnahh!" sahut Kiana.


"Menurut Kiana tukar kado itu menyenangkan gak?" tanya Teo.


"Iya dong! Kiana bisa mengetahui hati ... eh ... em hati olang!" sahut Kiana yang perlu lama untuk memikirkan kalimatnya.


"Mengetahui hati seseorang?!" tanya Teo.


"Kado kan adalah hati seseolang!" sahut Kiana.


"Jadi maksud Kiana, isi kado itu melambangkan hati dari seseorang yang memberi?"


"Kalau sayang Kiana belalti kadonya besalll!" kata Kiana.


Teo tertawa keras, "Kiana sudah paham kan soal hidup dan mati?" Teo mulai masuk ke inti pembicaraan.


"Em! sudah dijelaskan sama ibu waktu baca dongeng!"


"Misal nih, saat menukar kado ... orang lain memberi kado berupa ...." lama Teo tidak melanjutkan kalimatnya, "kematian untuk ditukar dengan Kiana, apa yang akan Kiana lakukan dengan kado itu?" walau ragu tapi tetap dikatakan Teo.


"Ditelima dong!" kata Kiana.


"Eh? gini nih Kiana ... maksudnya orang yang diajak tukar kado itu ingin menukar kematiannya dengan Kiana supaya bisa mendapat kado kehidupan yang diberi Kiana ... apa susah dimengerti ... hem ... gimana menjelaskannya ya ...." Teo pusing sendiri bagaimana menjelaskan perumpamaan pada Kiana.


"Kiana tidak bisa belbuat apa-apa kalau olang itu membel .. rri Kiana kado kematian, Kiana halus telima ... kal ... kah ... lena itu hati pembel ... rri kado ...." karena kesusahan mengucapkan R maka Kiana harus berusaha keras jika ada kata mengandung huruf R yang bisa disalah artikan jika diucapkan L.


"Jadi Kiana akan tetap menerima kado itu karena itu adalah ketulusan hati dari pemberi kado?" tanya Teo dengan mata mulai berair.


"Em!" sahut Kiana riang membuat Teo menangis tersedu-sedu.


...-BERSAMBUNG-...