
Cain diberi Buah Darah yang diambil Banks dari Mundebris yang telah dipotong kecil-kecil oleh Banks, katanya bentuk asli dari Buah Darah bisa disalah pahami jadi sudah dipotong-potong kecil oleh Banks sebelumnya.
Buah Darah adalah buah yang kaya akan vitamin, mengembalikan stamina dan mempercepat penyembuhan. Bentuk buahnya seperti jantung, makanya Banks harus mengakali agar bisa dimakan oleh Cain.
"Hemmm enak sekali, sekarang Buah Darah adalah buah kesukaan ku..." Kata Cain hampir menghabiskan tanpa berniat memberi Felix.
***
Magdalene duduk di halaman rumah sendirian membuat Cain jadi merasa tidak enak, "Padahal dia itu anak orang kaya!"
"Sekarang kekayaannya tidak berguna apa-apa lagi!" Felix bangun menutup tirai jendela.
"Kalian mau bertengkar lagi?!" Tan menyoroti mereka berdua dengan tatapan curiga.
"Bertengkar? memangnya kami anak kecil?! Cain kembali duduk di sofa dan menonton tv dengan volume dinaikkan.
Felix meraih remote tv yang dipegang Cain dan menurunkan volume suaranya. Tan datang mematikan tv saat melihat itu, "Ayo tidur!"
Saat semua kini bersiap untuk tidur Felix keluar kamar dan menemukan Lia sedang berdiri di depan jendela, "Bisa kau menemaninya? ajak dia berbicara atau hanya sekedar duduk saja disampingnya..."
"Baik Yang Mulia!" Lia langsung terbang menembus jendela dan mendarat tepat disamping Magdalene.
Keesokan paginya tiba-tiba ada bunyi barang berjatuhan membuat mereka semua terbangun dan mencari asal suara itu, "Ibu..." kata Tom melihat Daisy sedang mencari sesuatu dan membuat seisi rumah kini berantakan.
"Kalian lihat flashdisk warna kuning?" tanya Daisy.
"Berbentuk ikan?" tanya Lia.
"Berbentuk ikan bu?" Cain menyampaikan.
"Cain lihat?!" tatapan mata Daisy kini cerah walau lingkaran hitam dibawah matanya terlihat menyeramkan.
"Dia menyimpan nya diatas mesin cuci..." kata Lia.
"Ada diatas mesin cuci bu!" Cain menyampaikan lagi.
"Terimakasih putra cantikku!" Daisy memeluk Cain lalu berlari ke tempat mesin cuci.
"Cantik?!" Cain kesal dibilang cantik.
"Berantakan lagi!" Tan menggeleng-geleng kan kepalanya.
"Padahal saat datang kita sudah capek membersihkan karena berantakan seperti ini juga...." Teo memukul kepalanya.
"Nanti ibu kirimi Toast Bread untuk sarapan, ibu pergi dulu ya!" Daisy berlari lagi keluar rumah.
"Dia akan pergi bekerja dengan penampilan seperti itu?" tanya Felix.
"Penampilan nya seperti pengemis!" tambah Tom.
***
Setelah mereka semua memakai seragam, bel berbunyi, "Siapa?" tanya Cain melalui interkom.
"Kiriman makanan dari Toko Honey Toast Bread!"
"Terimakasih pak, ditunggu ya!" Cain mengambil minuman vitamin C dari dalam kulkas kemudian memberikan pada pengantar makanan itu, "Ini untuk saya dik?"
"Supaya bapak semangat kayak iklan di tv setelah minum ini!" kata Cain asal.
"Haha.. terimakasih, selamat menikmati ya! semangat juga ke sekolahnya!"
Macam-macam isi dari roti itu yang Daisy sudah tahu kesukaan mereka semua. Felix isi daging dan keju, Cain isi telur dan sosis, Teo dan Tom isi daging dan sosis, Tan isi daging dan Alpukat.
"Tidak ada yang makan sayuran?" tanya Lia.
"Kami bukan kambing!" jawab Cain hampir membuat Felix memuntahkan makanan nya.
"Siapa yang bilang?" tanya Teo dan Tom membara.
Cain tidak menjawab dan langsung menyuap seluruh sisa roti dengan satu kali suapan, "Kau bukan kambing, tapi monster!" kata Felix.
Mereka berangkat ke sekolah berenam dengan Lia melambaikan tangan, "Semoga hari kalian menyenangkan!" katanya.
"Menyenangkan? tidak ada yang menyenangkan dalam kata belajar!" Felix dalam hati.
"Apa yang dilakukan Magdalene?" bisik Cain.
"Itu sudah naluri dari hantu baru seperti yang aku ceritakan tentang Lia yang menembus dan mengisap energi kehidupan membuat orang menjadi pusing, tapi hantu yang sudah lama seperti Lia melakukan nya dalam keadaan sadar.."
Magdalene berhenti ketika mendengar berita dari radio bus, "Jari anak kelas 3-7 dari Sekolah Gallagher ditemukan terpotong diatas meja berinisial M yang awalnya dikira hanyalah mainan tapi DNA nya cocok dengan siswi berinisial M itu yang kini menghilang."
Sampai di sekolah banyak sekali wartawan yang berkerumun dan salah satunya ada yang terlihat seperti pengemis, "Ibu, bikin malu-malu saja!" Cain menutup wajahnya dan berhasil masuk gerbang sekolah berkat Pak Acton.
"Dia itu kan sudah jadi penyiar tapi masih suka menjadi reporter dan mencari berita sendiri..." Tan juga tidak tahan melihatnya.
"Jadi reporter seperti pengemis, jadi penyiar jadi anggun sekali. Apa Ibu berkepribadian ganda ya?!" kata Teo dan Tom.
Suasana kelas menjadi suram, banyak yang minta izin tidak hadir. Seperti Dea yang tidak masuk sekolah karena dilarang oleh orangtuanya.
"Bapak sudah meminta agar untuk sementara sekolah diliburkan, sekarang kita tunggu keputusan dari kepala sekolah ya!" kata Pak Egan yang melakukan aktivitas seperti biasa yakni menyapa sebelum pelajaran pertama dimulai.
"Magdalene itu benar-benar tidak beruntung ya! sudah jarinya terpotong, menghilang ... tapi orangtuanya sibuk bekerja!" kata Demelza mulai berbicara setelah Pak Egan keluar.
Cain melihat ekspresi Magdalene yang duduk di bangkunya sendiri itu. Cain langsung berdiri ingin marah tapi dihalangi Felix, "Lepaskan!" kata Cain.
"Memangnya kau siapanya?!" kata Felix.
Kelsey berdiri dan datang menampar Demelza, "Kau bilang apa barusan? coba katakan sekali lagi!"
"Kau lihat? itu tugas orang lain!" kata Felix melepaskan tangan Cain dan mulai duduk kembali.
"Perkataanku tidak ada yang salah!" Demelza tetap tenang saat kerah bajunya dicengkram.
Meja Magdalene kini dipenuhi bunga dan surat membuatnya tidak berhenti menangis membuat Felix dan Cain tidak bisa berkonsentrasi belajar.
Di lapangan sekolah ada Banks yang datang melambaikan tangan sesuai perintah Felix yang melarangnya kini untuk menunduk.
Banks membuat rumput menuliskan 'Desa Nevaeh' dan setelah Felix mengangguk, tulisan itu terhapus lagi, "Akan saya jemput kalau sudah sampai di desa ...." teriaknya membuat jendela kelas sedikit retak.
"Kekuatan Zewhit Manusia dan Zewhit Iblis benar-benar berbeda ...." gumam Felix dalam hati.
Saat makan siang, semua murid kelas 3-7 menuju kantin kecuali Felix, Cain dan Mertie serta Magdalene.
"Apa yang sebenarnya terjadi kemarin?" tanya Felix.
"Itu bukan aku! sumpah!"
"Aku tidak mempercayai sumpah yang tidak memiliki kekuatan apa-apa itu!" kata Felix.
"Katanya sudah puluhan murid yang dikerjai oleh Hantu Merah Muda tapi aku yang Hantu Merah Muda hanya mengerjai 9 anak saja! terakhir kau!"
"Siapa saja yang sudah kau kerjai? pasti pelakunya adalah anak yang pernah kau kerjai karena dia tahu betul cara kerjamu!"
"Korban pertama ...."
"Korban?" Cain tersinggung mendengarnya.
"Kandidat pertama Dallas, kemudian Parish, kak Cornelia, Vilvred, Stede, kak Ziggy, Cain, Wyatt, terkahir kau Felix."
"Bangga ya kau ingat semua korban mu!" Felix kesal.
"Jadi setelah kau tahu, mau apa? masalahku saja belum selesai, kau mau sibuk apa lagi?" Mertie kesal karena merasa masalahnya diabaikan dan kandidat pilihannya tidak membantu sama sekali.
"Pelaku kemarin yang di Ruang Belajar Mandiri adalah salah satu dari 9 orang itu!"
"Termasuk kau!" kata Mertie.
"Iya termasuk aku! apalagi kamu!" balas Felix.
"Kau masih tidak mempercayaiku?"
"Kau juga tidak mempercayaiku!"
Bunyi perut Cain membuat Felix dan Mertie berhenti berdebat, "Karena tidak bisa bicara jadi perutku deh yang bicara!" lelucon payah dari Cain.
...-BERSAMBUNG-...