UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.471 - Selebriti Dadakan



Demelza yang awalnya tidak menyetujui untuk tampil pertama akhirnya menikmati juga menonton tanpa beban sama sekali. Sementara kelompok lain yang menonton belum naik terlihat tidak nyaman dan perhatiannya terus terganggu karena hanya fokus memikirkan giliran untuk naik.


"Bagaimana?! bagus kan kalau tampil pertama ...." kata Teo.


Demelza tidak menjawab hanya mengalihkan dengan membuat reaksi berlebihan. Padahal pertunjukan tidaklah selucu itu.


Acara malam itu lebih lama dari acara malam perkemahan sebelum-sebelumnya. Tapi anak-anak juga kelihatan tidak terganggu atau tidak nyaman soal itu.


"Sudah jam 12 malam lewat tapi kalian masih terlihat segar ... padahal dulu, baru juga jam 9 malam kalian sudah mengantuk. Hahh ... sejak kapan kalian tumbuh besar begini?!" kata Pak Egan.


"Itu dulu pak, kami masih seperti bayi. Sekarang begadang dan tidak tidur pun kami kuat." teriak Penonton.


Bukan hanya karena faktor usia dan tingkatan kelas tapi karena alasan bahwa ini adalah perkemahan terakhir mereka menjadi murid SD. Mereka semua sangat bersemangat dan menikmati setiap moment kebersamaan malam itu. Tidak ada keluhan untuk pertunjukan agar dipercepat. Semuanya sangat menghargai tiap detik waktu yang berlalu.


Website sekolah banyak yang mengunjungi malam itu, baik dari murid Gallagher maupun dari luar sekolah yang penasaran dengan acara yang dibagikan di SNS sekolah. Tapi dari luar sekolah hanya bisa sekedar mengunjungi saja, tidak bisa untuk ikut berpartisipasi karena tidak memiliki akun yang hanya dimiliki oleh murid Gallagher saja.


SNS sekolah juga bertambah terus jumlah followersnya. Bahkan Gallagher masuk dalam pencarian trending populer lima teratas di internet malam itu.


Murid kelas 6 Gallagher malam itu seperti menjadi selebriti dadakan saja. Karena pertunjukan langsung yang disiarkan dan juga video pendek promosi yang dibagikan di sosial media.


Pertunjukan berakhir jam 2 dini hari. Tenda Felix dan Tiga Kembar berantakan karena persiapan dan latihan untuk pertunjukan tadi. Tapi mereka tidak peduli dan hanya tidur dalam keadaan tenda berantakan seperti itu.


Keesokan paginya, mereka bangun dengan posisi yang sama. Karena terlalu lelah, mereka tidur nyenyak tanpa bergerak sama sekali. Pengumuman dari speaker bahwa sarapan sudah siap dan semua murid dipersilahkan untuk ke tenda makan.


Tan terbangun mendengar itu dan membangunkan kedua saudaranya. Felix sendiri sudah tidak terlihat ada disana, "Setidaknya aku melihatnya tidur tadi malam ...." kata Tan sedikit lega.


Setelah bebersih diri dan mengganti pakaian, Felix akhirnya datang juga dengan membuka tenda.


"Kau darimana?!" tanya Teo.


"Berjalan-jalan disekitar ...." jawab Felix.


"Patroli maksudmu?! kau tidak lelah apa?! aku saja rasanya seperti habis bertarung dengan Juro 2020." kata Teo berlebihan.


"Jangan bercanda! kau tidak pernah bertarung dengannya! mana tahu soal itu ...." kata Tan yang pernah bertarung dengan Juro 2020.


"Perumpamaan! kau ini benar-benar tidak menyenangkan diajak bercanda." kata Teo.


"Ayo kita sarapan!" Tom menghentikan pertengkaran kekanak-kanakan di pagi hari itu.


"Tapi, notifikasi grup kelas kenapa sebanyak ini ...." kata Teo heran baru membuka handphonenya.


"Nanti saja dibuka, kita makan dulu!" kata Tan menghentikan Teo untuk membuka grup obrolan.


Tan, Teo dan Tom memasuki tenda makan, Felix juga menyusul dibelakang mereka bertiga. Tapi disambut dengan reaksi berlebihan anak-anak disana, "Ooooow, ini dia artis kita datang!" teriakan riuh memenuhi tenda makan.


"Apa maksudnya?!" tanya Teo heran, "Apa kita menang vote atau apa?!"


"Disini!" kata Osvald melambaikan tangan sudah menyimpankan meja untuk mereka.


Suara sorakan tidak berhenti-berhenti juga, bahkan saat mereka mengambil makanan ada anak-anak yang meminta foto bersama mereka.


"Supaya followersku bertambah ...."


"Boleh kan aku bilang kalau kita teman dekat?!"


"Apa-apaan?! aku bahkan tidak pernah satu meja makan bersamanya ... mau dianggap teman dekat, bagaimana?!" kata Tom heran.


Setelah sampai di meja makan barulah mereka mengerti apa yang terjadi karena dijelaskan oleh Osvald. Rupanya video mereka menjadi paling banyak dinonton, disukai dan paling banyak komentar.


"Jadi, sudah jelas kalau kita kan yang menang?!" kata Teo menyeringai sudah membayangkan piala ditangannya.


"Kalian hanya peduli soal itu?! kalian baru saja menjadi selebriti di sosial media tahu ...." kata Demelza ikut bergabung entah datang dari arah mana.


"Memangnya kenapa soal itu?! lagipula ... besok juga kita akan dilupakan." kata Tom.


"Wah, kalian sama sekali tidak punya ambisi ya?! kalau aku ... pasti sudah menggunakan saat ini untuk membuka jalan baru menuju kesuksesan dengan menjadi artis. Asal kalian tahu saja, followersku yang dari hanya 1000 kini menjadi 300.000 luar biasa kan?!" kata Demelza.


"Kami tidak punya minat dibidang itu." kata Teo datar.


"Aku tidak bilang itu untukmu ... aku bilang soal hal ini pada Felix!" kata Demelza.


"Felix?!" tanya Tan.


"Felix menjadi sangat terkenal di SNS sekolah, di kolom komentar banyak yang meminta akun sosial media dan mengirimiku pesan untuk meminta nomor." kata Demelza.


"Apa?!" Tiga Kembar merasa lucu saja karena mereka pasti tidak tahu saja identitas Felix yang sebenarnya siapa.


"Bilang pada Mertie, hapus video yang ada aku kalau acara sudah selesai." kata Felix.


"Wah, yang ingin menjadi selebriti ingin sekali moment yang kau rasakan saat ini. Tapi kau yang tidak ingin, malah mendapatkannya." kata Demelza merasa dunia tidak adil.


"Lucu sekali ...." kata Teo membuka percakapan di Jaringan Alvauden, "Pasti daritadi dia sudah tahu apa yang terjadi tapi hanya tetap memasang wajah datar ...." Teo mulai usil meledek Felix. Tapi tidak ada yang merespon Teo untuk ikut bergabung menjahili Felix.


"Kayle mengirim pesan." kata Tan tiba-tiba.


"Apa isinya?!" tanya Tom.


"Katanya, bagaimana bisa kita menjadi bintang di dunia sosial media disaat seharusnya kita menyembunyikan identitas kita." jawab Tan.


"Kalian dengar itu?!" kata Felix.


"Ini pujian Felix, bukan sarkastik." Tan menunjukkan isi pesan yang ceria dan banyak emoticon itu.


Felix mengira kalau Kayle menegur tapi malah sebaliknya, "Yang jelas, kita tidak boleh mencolok dan menjadi pusat perhatian. Akan sulit kita melakukan sesuatu kalau bersama orang banyak."


"Wah, kau sudah memikirkannya sampai situ?! penyakit seleberiti sepertinya sudah menjangkitimu." kata Teo berlebihan.


"Felix!" teriakan dengan nada tinggi dari seseorang yang tiba-tiba memasuki tenda makan.


"Akhirnya fans pertama Felix tiba juga." kata Teo.


"Kukira kenapa ada yang aneh, ternyata tidak ada Dea selama ini ...." kata Osvald.


Dea memang ikut sampai ke lokasi perkemahan tapi saat pertunjukan akan dimulai dia dijemput oleh mobil pribadi keluarganya. Jadi tidak berpartisipasi dalam acara malam pertunjukan. Bukannya tidak mau ikut dalam pertunjukan, Dea yang paling bersemangat untuk pertunjukan itu dan telah latihan lama dengan satu tim kelompoknya juga. Tapi karena alasan pribadi, dia harus kembali dan tidak ikut dalam pertunjukan. Baru kembali saat pagi hari di waktu sarapan.


...-BERSAMBUNG-...