
"Apa?!" Felix kebingungan sendiri dengan pertanyaan tiada henti oleh Zeki dan Verlin saat suasana sedang tegang. Hujan semakin deras seakan bukan air yang turun melainkan batu. Bertarung dengan keadaan hujan-hujanan mengingatkan Felix seperti film yang sering dinonton oleh Teo.
"Kau tadi menyebutkan nama Harvard?! darimana kau tahu?!" tanya Verlin disela-sela suara bunyi gemuruh guntur.
"Aku ... juga tidak tahu!" kata Felix yang juga bingung sendiri, "Bagaimana aku bisa menyebutkan namanya?! aku bahkan tidak pernah bertemu dengannya. Walau aku pernah membaca soal Thunderbird tapi nama tidak disertakan disana."
"Sepertinya itu bukan hal penting sekarang!" Zeki mendorong Felix.
Felix yang didorong oleh Zeki berhasil selamat dari serangan petir yang keluar dari mata Harvard.
"Waw!" Verlin kaget bukan main melihat bagaimana hasil dari serangan Harvard yang menghanguskan rumput sampai tanah dan batu yang ada disana retak dan hitam. Bahkan asap masih terus keluar saat diterpa oleh hujan deras cukup lama.
"Tidak bisa dibiarkan! sekolah bisa hancur kalau begini ...." kata Felix melihat semua lampu tiba-tiba mati di sekolah.
"Kau adalah makhluk Mundebris yang mulia ... bagaimana bisa kau bergabung dengan Anti Caelvita?!" teriak Zeki sambil melayangkan serangannya.
"Lindungi aku! aku akan membuat perisai sehingga tidak akan mengenai sekolah." kata Verlin.
Felix melirik Zeki yang sedang kesulitan menghindari serangan Harvard tidak punya pilihan lain, "Baiklah ...." Felix menjadikan dirinya perisai Verlin saat Verlin membuat perisai, "Bagaimana dengan mereka di dalam sana?! semoga mereka baik-baik saja ...." Felix masih sempatnya mengkhawatirkan Tiga Kembar disaat nyawanya sendiri tidak bisa dipastikan apa akan melihat matahari besok.
Harvard menyerang dengan sangat santai, bahkan tanpa bergerak sedikitpun dari tempatnya semula datang. Hanya perlu menggunakan laser petir dari matanya, mengepakkan sayapnya atau hanya perlu mengedipkan matanya.
"Perlu kau ketahui, saat perisai ini selesai ... kita akan terkurung bersama di dalam sini!" kata Verlin.
"Lakukan saja!" kata Felix sibuk melindungi Verlin tidak mau memikirkan apa yang akan terjadi padanya nanti yang jelas sekolah tidak terkena dampak.
Tidak mungkin membawa Harvard ke Bemfapirav dimana akan sangat mudah diketahui dan didatangi oleh iblis yang ada di Mundebris.
***
Sebelum Thunderbird datang ....
Tan, Teo dan Tom menyiapkan dirinya lebih baik daripada malam kemarin. Sudah menyiapkan air minum saat bangun nanti sehingga tidak usah repot-repot mengisi ulang dengan pergi di ruang makan lagi saat memperebutkan air minum yang hanya sisa sedikit setelah diminum oleh Tan serta selimut tebal yang menjaga suhu tubuh tetap hangat. Karena anehnya walau berkeringat, suhu tubuh mereka sangat dingin saat bangun.
Zewhit Badut dan Kurcaci muncul dari dalam selimut Teo membuat Teo hampir terkena serangan jantung saking kagetnya. Disaat Teo masih dalam mode panik, kedua Zewhit itu melakukan rutinitasnya mengajak Teo bersalaman dan adu tos dengan tawa riang yang menakutkan.
"Okey, kami sia ...." belum selesai kalimat Tom, mereka sudah dibawa masuk ke dalam dunia pikiran, "Ap!"
"Ap?! Up?! Down?!" Tan dan Teo meledek Tom.
Seperti kemarin malam mereka berpisah lagi di jalur yang berbeda. Kedua Zewhit itu berlari sangat bersemangat menuju targetnya masing-masing dengan melewati dinding dan atap sebagai pijakan dengan suara langkah kaki keras dan berat sehingga menghancurkan apa yang dipijakinya.
"Mereka kelihatan senang sekali!" Teo berdecak kesal.
Tan masih mengikuti Demelza dan Zewhit Badut sedangkan Teo dan Tom masih mengikuti Osvald dan Zewhit Kurcaci. Mereka sudah memutuskan bahwa akan mengikuti yang dari awal mereka ikuti untuk bisa mengetahui cerita dari Zewhit itu. Ceritanya akan berbeda jika versi mata orang lain yang melihat dan yang mengikuti dari awal.
"Felix ... sudah ada di sekolah ...." Teo menoleh kebelakang merasakan kehadiran Felix.
Kembali ke masa sekarang ....
"Hahh ... aku sudah muak!" kata Felix.
"Hey, kau mau kemana?!" teriak Verlin, "Seharusnya kau menjagaku! perisainya masih belum selesai." Verlin dengan suara yang hampir hilang dalam mode panik karena Felix meninggalkannya.
Felix tidak peduli dan hanya terus berjalan sambil menghindari serangan Harvard yang menghanguskan apa yang diserangnya. Tapi tanpa gentar sedikitpun Felix terus mendekati Harvard dengan membawa pedangnya. Bersama dengan Zeki, Felix menyerang Harvard.
Verlin mempercepat membuat perisai sementara Harvard teralihkan oleh Felix dan Zeki.
Di dunia pikiran Zewhit Kurcaci masih sama dengan kemarin malam, di tengah hutan suram dengan pepohonan tanpa dedaunan dan dipenuhi oleh salju putih. Osvald terlihat terkejut dan akhirnya mengingat kembali ingatan mimpi yang telah dilupakannya.
"Lagi .. lagi?!" teriak Osvald.
Di dunia pikiran Zewhit Badut masih tetap sama juga dan Demelza merespon dengan ekspresi yang hampir sama dengan Osvald.
Setelah terbangun semuanya memang terlupakan tapi saat kembali masuk, semua ingatan juga kembali. Sensasi rasa takut dari kemarin malam bertambah dua kali lipat mereka berdua rasakan.
"Tidak, aku pasti hanya bermimpi mengira pernah memimpikan ini padahal tidak ...." kata Demelza mengira yang dialaminya adalah perasaan dejavu.
Lapangan sekolah hampir semuanya menjadi hitam karena Harvard. Pakaian Felix juga compang-camping karena sibuk menghindar dan terkadang panas pada tempat serangan Harvard bertahan lama.
"Inikah akhirnya ...." kata Verlin sudah pasrah.
"Kau yang bisa meramal masa depan selalu saja takut akan mati!" kata Zeki sebal.
"Masa depan bisa berubah tergantung apa yang terjadi di masa kini. Rasanya kedatangan Thunderbird adalah sebuah kejutan yang tiba-tiba bisa merubah masa depan ...." kata Verlin.
"Felix ...." suara Iriana akhirnya bisa terdengar.
"Kau darimana SAJA?!" Felix emosi bukan main membuat Verlin dan Zeki kaget dengan teriakan Felix itu.
"Thunderbird ya ... kau tidak bisa mengalahkannya!" kata Iriana santai.
"Apa?! kau sudah gila, ya?! jangan bercanda ... kau pasti punya cara untuk mengalahkannya! coba katakan saja semuanya! akan aku coba!" kata Felix terdengar putus asa.
"Coba pakai mahkota Ruleorum mu!" perintah Iriana yang langsung dilakukan oleh Felix, "Pakai juga pedang Caelvitamu!" perintah selanjutnya dari Iriana hingga Felix saat ini dengan memakai mahkota Ruleorum dan jubah Ruleroum serta sabit kematian ditangan kanannya dan pedang Caelvita di tangan kirinya.
"Menurutmu dengan ini akan berhasil?!" tanya Felix tidak mempercayai Iriana yang membuat dirinya harus memakai pakaian ribet untuk bertarung dan dengan senjata di kedua tangannya, "Ini hanya akan lebih memperlambatku!" walau terus menggerutu tapi Felix tetap belari maju hingga saat akan menyerang, Harvard mengepakkan sayapnya dan mulai terbang dengan kaki yang seperti ada aliran listrik tapi kepergian tiba-tiba Harvard itu membuat hujan deras mulai perlahan reda.
Harvard keluar dari perisai buatan Verlin dengan menghancurkannya begitu mudah.
"Apa ini?! dia mundur?!" Verlin bingung.
"Kalau dia mau membunuhmu, saat detik pertama sudah dia lakukan. Thunderbird bisa membunuh Caelvita tidak resmi hanya dengan sekali serangan. Sekuat itulah dia ...." kata Iriana.
"Jadi, maksudmu ... dia datang bukan untuk membunuhku?!" tanya Felix.
"Thunderbird hanya datang pada Caelvita yang disukainya dan itu jarang sekali terjadi." kata Iriana.
"Maksudmu ... dia datang karena menyukaiku bukannya menuruti perintah Efrain?!" tanya Felix.
"Semua iblis dengan kekuatan alam ada dipihak Caelvita, bahkan Aloysius! aku memberikan gelang pelindung untukmu semata-mata hanya agar Nenekku bisa meninggal secara normal tapi denganmu yang belum punya kekuatan mana bisa melindungi dia dari Aloysius. Aloysius tidak akan membunuhmu, bahkan tanpa bantuanku ...." jawab Iriana.
"Lalu kenapa dia menyerang?!" Felix sebal sambil melihat pemandangan sekelilingnya dan menghirup aroma terbakar dimana-mana.
"Dia hanya ingin melihat kau sudah matang sampai mana sepertinyq ...." kata Iriana membuat Felix melemparkan senjatanya karena kesal.
...-BERSAMBUNG-...