
Desa Quinlan terlihat sudah seperti desa lain pada umumnya, ramai penduduk tidak seperti saat terakhir berkunjung.
"Aku tidak tahu desa suram ini ternyata sesegar ini?!" kata Teo.
"Apa-apaan?! segar? memangnya ikan?!" Tom heran.
Teo memutar bola matanya mendengar bagaimana Tom menanggapi perkataannya tadi, "Kau ini tidak tahu bagaimana memandang sesuatu?! desa yang dulunya seperti kota mati jadi seperti es krim yang menyegarkan di musim panas."
"Hahh?!" Tom tambah heran lagi dengan penjelasan Teo itu yang menurutnya tidak nyambung.
Tapi bagi Teo, begitulah caranya mengekspresikan keadaan. Caranya memandang sesuatu memang berbeda dengan yang lain tapi lebih spesifik serta memiliki makna yang lebih mendalam.
Felix maju meninggalkan Tiga Kembar di belakang, berjalan menuju kerumunan warga desa yang sedang mengadakan acara penjamuan makanan di depan rumah kepala desa karena merasa berterimakasih setelah liburan yang telah mereka dapatkan jadi mereka setuju untuk kerja bakti bersama membersihkan rumah kepala desa yang berantakan.
"Menurutmu apa yang akan didengar Felix?" tanya Teo.
"Entahlah ...." kata Tan.
Cairo sendiri sudah ikut berbaur dengan warga desa dan sudah sangat akrab seperti penduduk asli desa itu. Cairo sibuk membantu membagikan makanan di tenda yang disediakan untuk mereka yang ingin beristirahat memulihkan tenaga agar bisa segera kembali bekerja lagi. Cairo terus melirik kesana kemari karena mengetahui bahwa mereka sudah datang tapi karena Tiga Kembar meminum ramuan tidak kelihatan dan Felix memakai Idibalte, tentunya mata Cairo tidak bisa melihat keberadaan mereka.
"Kau mau kemana?" teriak Teo melihat Felix sudah meninggalkan tempatnya.
"Ow, disini ...." Tan tahu betul tempat yang didatangi oleh Felix itu.
"Jadi, disini ...." kata Tom juga ikut memandangi hal yang sama dengan mereka.
Felix memegang rumput dan kemudian menekan tangannya lebih dalam sampai menyentuh tanah dan terlihat cahaya biru dan hijau menembus masuk ke dalam tanah, "Setidaknya dia meninggal dengan cepat tanpa tersiksa. Iblis yang kesini adalah adik Efrain sendiri." Felix mulai kembali berdiri.
"Dia punya adik?" tanya Teo, "Sesuatu yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya. Bagaimana sifatnya? pasti sama gilanya dengan kakaknya kan?!"
"Tidak, dia berbeda. Adik Efrain ini cerdas ... tahu bagaimana cara kerja manusia." kata Tan.
"Dia juga tidaklah kejam, melihat bagaimana caranya membunuh dari ingatan korban ...." kata Felix.
"Jadi apa? kau mau aku membuatkannya piagam penghargaan kemudian menyambutnya di depan desa saat dia datang, begitu?!" kata Teo sarkastik.
"Efrain juga dulunya sangatlah baik, setelah kepergian Iriana barulah berubah ...." kata Tom.
"Aku tidak mengerti, kenapa itu bisa merubah seseorang?!" kata Teo.
"Ditinggalkan seseorang bisa menjungkir balikkan kehidupan seseorang dalam sekejap." kata Tan.
"Ohya? maaf tapi aku tidak punya siapa-siapa dari awal jadi tidak tahu hal seperti itu." kata Teo sebal.
"Bayangkan kalau salah satu dari kami meninggalkanmu sendirian, apa yang akan kau lakukan?" tanya Tom.
"Kenapa harus sendirian kalau aku bisa tinggal ikut dengan kalian, apa susahnya coba?! akulah yang memilih apa mau ditinggalkan atau tidak." jawab Teo.
Tan dan Tom tercengang mendengar itu, "Wah ...." Tan melongo.
"Aku tidak percaya ada cara seperti itu juga ternyata." kata Tom, kemudian beberapa saat melanjutkan kembali kalimatnya, "Cara bodoh yang menyegarkan!" membuat Tan tertawa lepas.
Felix berjalan ke arah pohon dan memegangi batangnya sambil menutup mata, "Maaf ... tapi aku butuh bantuanmu!" suara decitan mulai terdengar.
"Apa itu?!" tanya Tiga Kembar serempak.
"Eh? Hehh?!" Teo tercengang sebuah pohon besar tumbang. Pohon itu seakan seperti sengaja mengoyak tanah dengan akarnya sehingga kuburan yang tersembunyi itu memperlihatkan jasad orang yang meninggal itu.
Tan berbalik tidak ingin melihat mayat itu, walau sebenarnya ia sempat melihat baju berwarna pink secara sekilas.
"Masih ada dua lagi!" kata Felix meminta mereka untuk kuat. Terutama Teo dan Tan yang terus mengalihkan pandangannya. Tom juga pasti ngeri tapi terus memberanikan dirinya.
"Aku harus terbiasa dengan hal seperti ini ...." perkataan itu terus diulang-ulang oleh Tom di pikirannya.
"Bagaimana kau bisa terbiasa dengan hal seperti ini Felix? umur kita sama dan ini juga bukan seperti kau sudah melihat ratusan hal seperti ini. Walau tertinggal tapi kami juga tidak kalah jauh kalau soal pengalaman ...." kata Tan.
"Aku terbiasa karena sudah jutaan kali melihat hal seperti ini di kehidupan sebelumnya. Aku ini Caelvita, kalian harus ingat itu. Caelvita itu hanya satu dan kemudian terlahir kembali. Jadi Teo, kau bertanya bagaimana Efrain bisa berubah? itu karena pemahamannya salah. Jika aku mati, Caelvita selanjutnya itu juga adalah aku. Iriana adalah aku." kata Felix menghentikan langkahnya dan mulai berbalik menatap tiga pasang mata yang sama persis itu.
"Mana ada yang seperti itu! kau itu kau, Iriana ya Iriana." kata Teo.
"Pemahaman seperti itu akan membutmu menjadi Efrain selanjutnya." kata Felix mulai membelakangi mereka dan melanjutkan langkahnya yang tadi terhenti menuju kuburan selanjutnya.
Tempat korban kedua dikubur cukup jauh di dalam hutan tapi tidak ada pohon di dekatnya. Hanya ada tanaman sayuran liar.
"Ini kalau tidak salah adalah umbi-umbian ...." kata Tan meraba tanaman.
"Kita bisa membuat seakan ada hewan yang menggali disini!" kata Teo.
"Hewan apa yang menggali sampai seagresif itu? ini bukan hutan liar sungguhan yang secara alamiah tapi hutan yang dikelola dan dirawat oleh penduduk desa. Tidak ada hewan buas disini!" kata Felix.
"Apa terlalu dalam?" tanya Tan.
"Ya, mana ada yang menggali sampai 10 meter dibawah tanah untuk mengambil ubi?!" kata Felix.
"Sedalam itu ya?" tanya Teo dengan ekspresi berlebihan.
"Sudah kubilang adik Efrain itu cerdas. Dia juga sudah memperkirakan hal ini. Menghambat bagaimana kita mengungkap apa yang ada disini dengan menguburnya sedalam itu." kata Tan.
Teo mengambil setangkai bunga yang ada di dekat kakinya dan memberinya pada Tan, "Ini ... simpan! kurasa kalau kau bertemu harus memberikan ini."
Tan mengambil bunga itu tapi melemparkannya kembali tepat diwajah Teo.
"Kalau di Mundebris kau sudah tamat karena mengambil bunga." kata Tan dengan tatapan yang jelas-jelas sudah membayangkan bagaimana keadaan Teo.
Sementara itu Felix memungut batu dan melemparnya dengan sangat keras membuat Tiga Kembar kaget, "Apa yang kau lakukan?!"
"Ayo hancurkan sumur itu! dengan begitu penduduk desa akan menggali lagi." kata Felix sudah membuat lubang di dinding sumur dengan batu bata itu.
"Bermodalkan keberuntungan?! mana mungkin akan digali tepat disini?" tanya Tan.
"Kalian ada garam?" tanya Felix.
"Ah ... kau mau memakai cara itu!" jawab Tan mulai tertawa.
"Itu akan membuat jelas kalau ada yang sengaja menyimpannya disini." kata Tom.
"Apa hanya aku yang bodoh disini?! apa hubungannya menggali sumur dengan garam sih?!" tanya Teo.
"Menyimpan garam di atas tanah bisa membuat kita tahu bagaimana kelembaban tanah yang cocok untuk digali dijadikan sumur." jawab Tan berbaik hati menjelaskan.
"Ah, begitu ...." kata Teo mengangguk-angguk, "Aku bisa membuatnya seakan bukan ada yang sengaja menaruhnya!" Teo menyeringai.
"Benarkah?" tanya Tom.
"Ya, makanya ... kalau ada sesuatu jelaskan baik-baik sampai aku mengerti. Siapa yang menyangka kalau aku bisa muncul dengan ide yang cemerlang?! yang tidak bisa kalian bayangkan dengan otak mesin kalian itu. Disaat seperti ini butuh otak manual dan simpel seperti punyaku." kata Teo.
...-BERSAMBUNG-...