UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.413 - Tempat Terburuk di Dunia Zewhit Badut



"Aku sudah tidak tahan lagi ...." kata Demelza yang sebenarnya hanya tidak sengaja membayangkan cara membunuh warga desa itu karena kesal. Tapi ternyata semuanya terjadi persis sama seperti yang dibayangkannya.


"Bagaimana kau bisa membayangkan hal sebanyak ini?! bahkan mengubah satu rumah menjadi magnet saja harus memperhatikan dengan baik rumah yang akan diubah dengan secara detail ...." kata Osvald yang bahkan tidak bisa mengubah seluruh rumah tapi hanya bagian depan saja yang terlihat karena terlalu beresiko untuk melihat secara keseluruhan.


"Aku tidak membayangkan rumah tapi tanah yang ditempati rumah itu ...." kata Demelza.


"Wah ... kreatif sekali kau ternyata!" kata Teo.


"Osvald, apa kau bisa membawa kita semua ke tempat dekat sungai yang tadi?!" tanya Tom.


"Kalau kita kesana, bisa saja monster buaya itu muncul lagi ...." kata Teo.


"Lalu, kemana lagi?! sebentar lagi disini akan kembali seperti semula. Kita tidak bisa bertarung selamanya!" kata Tom.


"Sama juga, kita tidak bisa bertarung melawan monster!" kata Teo.


"Setidaknya kalau disana hanya ada satu kalau disini ...." kata Tom tidak menyelesaikan kalimatnya.


"Iya, satu tapi besar dan tinggi sekali. Sama saja dengan melawan satu warga kota!" kata Teo.


"Jadi, kau mau terus disini?!" Tom meninggikan suaranya.


"Ayo, kita pergi!" kata Teo tersenyum paksa, "Lagipula Osvald dan Demelza sekarang bisa membantu kita. Lawan besar yang susah bergerak cepat lebih baik daripada lawan kecil yang gesit ...."


"Jadi, kita akan kemana?!" tanya Osvald.


"Ke ...." belum selesai Teo menyebutkan tempat, mereka semua tiba-tiba berada di tempat gelap, entah di tempat yang masih sama dengan tadi tapi tiba-tiba hanya gelap atau memang sedang berada di tempat lain.


"Ini ...." Demelza menyadari sedang ada dimana setelah lampu merah menyala.


"Kau tahu ini dimana?!" tanya Teo.


"Ini salah satu tempat di taman hiburan!" sahut Demelza.


"Kau yang memindahkan kami kesini?!" tanya Osvald.


"Tidak, jika akupun memikirkan suatu tempat ... disini adalah tempat yang tidak akan pernah aku datangi!" jawab Demelza.


"Memangnya ini dimana?! jangan membuatku takut!" kata Osvald merasakan ada yang aneh.


"Rumah Hantu!" kata Demelza.


Teo dan Osvald langsung merinding sementara Tom masih terus bersama dengan Tan.


"Ini pasti kerjaan hantu badut itu!" kata Demelza.


"Berarti kita tidak bisa berpindah tempat untuk sementara, lagipula ... kita sudah terikat semua karena menjadi target jadi kemanapun satu target maka yang lainnya akan mengikut juga. Jadi, hanya butuh satu dari kalian untuk memikirkan terus memindahkan kita keluar darisini pasti akan ada celah waktu dimana kita bisa pergi darisini, sementara yang lainnya bisa membantu melawan kalau ada gangguan." kata Tom.


"Oke!" sahut Teo kemudian tersadar, "Memangnya kau ketua disini?! jangan sok memberi perintah!"


"Sepertinya Demelza yang ahli untuk menyerang, aku lebih baik memikirkan untuk keluar darisini saja." kata Osvald.


"Ya, memang kelihatannya lebih baik seperti itu." kata Teo membuat Osvald kecewa karena begitu cepat setuju.


"Ini hanya ruangan kosong ... rumah hantu tidak akan sekosong ini." kata Tom memperhatikan sekitar.


"Ini baru yang ada dekat dengan pintu masuk, aku pernah masuk kesini karena tidak punya pilihan lain harus sembunyi dari kejaran tapi setelah masuk kesini pintu masuk menghilang dan setelah memasuki ruangan lainnya ...." Demelza menelan ludahnya karena gugup mengingat kejadian yang pernah dialaminya.


"Kalau begitu kita disini saja terus!" kata Osvald sudah ketakutan.


"Kau fokus saja memikirkan tempat lain!" kata Tom.


"Bagaimana aku bisa fokus dengan situasi ini ...." kata Osvald heboh sendiri.


"Maksudnya?! memangnya ada apa dengan itu?!" tanya Teo.


"Di dalam sana ada banyak hantu dan makhluk yang tidak jelas apa tapi berada di dalam penjara dan sedang diikat ... tapi jika kita melakukan suatu kesalahan atau terlalu lama di suatu tempat maka satu penjara atau ikatan akan rusak dan melepaskan hantu itu. Aku sudah menganalisanya ....." kata Demelza.


"Kau pernah kemari?!" bisik Tom pada Tan tapi Tan hanya menjawab dengan gelengan kepala, "Berarti dia kesini saat kita absen?! atau saat kau kehilangan jejaknya?! ah ... maaf! aku bertanya terus." Tom tersadar saat Tan mengeluh sakit.


"Maksudmu disini seperti permainan escape room begitu?!" kata Teo.


"Mirip begitu, tapi kita bukannya mencari kode untuk bisa keluar tapi mencari pintu untuk keluar dari sebuah ruangan. Hanya karena itu terlihat seperti lorong tapi saat kalian mendekat pasti bukan karena jalan lainnya tersembunyi di ruangan ini." kata Demelza.


Teo menuju lorong yang ditunjuk oleh Demelza dan benar itu hanya ilusi optik. Saat mendekat itu bukanlah lorong tapi hanya gambar di dinding.


"Dan jika kita lama ...." kata Demelza yang berhenti karena mendengar suara gebukan dari dinding, "Akan ada hantu yang masuk kesini!" setelah Demelza melanjutkan kalimatnya semua jadi sibuk mencari jalan keluar.


"Jadi, kau berhasil keluar?!" tanya Osvald.


"Tidak, aku tertangkap!" sahut Demelza membuat Osvald panik.


"Apa yang terjadi saat kau tertangkap?!" tanya Teo.


"Hantu itu menyeretku masuk ke sel penjaranya dan aku disana sampai terbangun ...." jawab Demelza.


"Hanya begitu saja?! dia tidak melukaimu?!" tanya Osvald.


"Tidak, tapi hantu itu melakukan hal aneh yang menyeramkan dan terus memaksaku untuk melihatnya kalau tidak dilihat dia akan masuk ke sel ku dan membuka mataku dengan paksa." kata Demelza membuat Teo dan Osvald semakin gesit mencari pintu keluar.


"Aku sangat yakin, kalau sekarang hantu itu tidak akan hanya membuat kita mendengar ceritanya atau menonton apa yang dilakukannya ...." kata Tom semakin membuat panik.


"Kau sangat tidak membantu!" kata Teo.


"Maaf, Tan! aku geser sedikit!" kata Osvald yang ingin memeriksa lantai yang ditempati Tan berbaring, "Hei, disini!" teriak Osvald begitu senang.


"Jangan berteriak!" kata Tan memaksakan diri berbicara karena Osvald berteriak sangat kencang tepat diatas kepalanya.


"Ah, maaf!" kata Osvald.


Tom bersiap menggendong Tan disaat yang lainnya sudah menuruni tangga menuju ruangan lainnya itu. Tapi dinding hancur di ruangan yang tadi padahal Tom dan Tan masih belum turun.


"Waw! kau ini apa?!" kata Teo yang bergegas datang membantu Tom dan melihat apa yang masuk ke ruangan tadi.


"Cepat!" teriak Osvald dan Demelza heboh dari ruangan bawah.


Teo hanya menahan serangan saja sementara Tom dan Tan menuruni tangga. Tapi Teo benar-benar tidak tahan melihat penampilan lawannya saat ini.


"Teo!" teriak Tom sudah meletakkan Tan di ruangan selanjutnya dan menunggu di tangga atas untuk menutup pintu setelah Teo sudah masuk.


"Eeeeew!" Teo terus mengeluh tidak nyaman, "Kau ini kelihatan sangat menjijikkan sekali ...." Teo menusuk mata makhluk yang seperti perpaduan kalajengking dan belut yang dipenuhi lendir. Bahkan Winn juga protes karena harus menyentuh makhluk itu. Setelah terlihat mengamuk karena kesakitan, Teo mengambil kesempatan untuk lari.


"Padahal di Mundebris sudah punah jenis yang begitu, semua Aluias sudah membunuhnya karena terkenal akan racun yang sangat mematikan dan sering disalahgunakan untuk kejahatan tapi terlepas dari itu penampilannya yang sangatlah buruk membuatnya selalu diburu." kata Winn masih sempat menjelaskan saat Teo berlari dan sudah dekat dengan Tom yang membuka pintu.


Teo berhenti tiba-tiba padahal sudah ada di depan pintu, "Ayo cepat!" teriak Tom menarik paksa Teo.


"Hahh ... kukira, tadi kau akan meninggalkanku dengan Tan." kata Teo setelah menutup pintu dan masuk ke ruangan lainnya, pintu yang tadi langsung menghilang.


"Tom ...." kata Osvald yang mendekati Teo yang baru masuk tapi langsung berbaring, "Dia berdarah!"


"Apa?!" Tom panik dan mulai memeriksa Teo, "Kau terkena racunnya?!" kata Tom yang panik membuat Tan jadi seperti punya tenaga entah darimana untuk bangun memeriksa keadaan Teo juga yang terkena racun dari makhluk di ruangan pertama.


...-BERSAMBUNG-...