
Jujur, Felix ingin menyampaikan apa yang dikatakan Iriana saat berhadapan dengan Efrain saat ini. Tapi pasti Efrain tidak akan percaya dan hanya akan emosi jika mendengar apa yang dikatakan Iriana. Semua yang dikatakan Iriana pada Felix adalah makian. Tidak mungkin bagi Felix menyampaikan itu, bisa-bisa kepalanya akan langsung melayang.
"Katakan padanya!" teriak Iriana.
"Kau saja yang bilang sendiri!" kata Felix.
"Hahh ... kalau aku bisa bilang sendiri, aku tidak akan memintamu!" kata Iriana.
Daritadi Iriana terus mengomel tidak jelas ingin ikut dalam percakapan tapi suaranya hanya Felix yang bisa mendengar.
Dokter Mari melirik Felix untuk memberitahu bahwa sebaiknya mereka pergi darisana sekarang sebelum terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Waktu berlalu, bisa saja hari H yang ditunggu-tunggu langsung tiba tanpa terasa dan berhadapan langsung dengan musuh bukanlah hal yang bijak. Efrain juga sangat jelas sengaja mengulur-ngulur waktu. Bertarung di markas musuh adalah ide yang buruk.
Felix berusaha mencari keberadaan Cain tapi tidak ada tanda sama sekali. Bahkan tubuh Cain tidak bisa dideteksi, jika Felix tidak mengikuti saat Cain diculik pasti tubuh Cain tidak bisa ditemukan juga.
"Apa Cain sedang mengerjaiku?" tanya Felix dalam hati memikirkan ulang segala hal yang bisa menjadi petunjuk.
Efrain terus menyeringai melirik jam tangan tiga dunia Dokter Mari yang terus berdetak. Felix dan Dokter Mari pamit hanya dengan menggunakan tatapan dengan Efrain dan ratusan Iblis yang ikut menatap juga. Perlahan mereka berdua berjalan untuk keluar dari pekarangan Kastil itu, sebenarnya Felix dan Dokter Mari ingin berlari tapi ditahan karena keduanya masing-masing punya harga diri yang tinggi. Tiap detakan waktu membuat keringat bercucuran, mereka berdua sadar bahwa tidak punya waktu banyak sebelum hari berlalu.
Tiba-tiba bunyi detakan jam tangan begitu keras mendengung ditelinga. Felix saling tatap dengan Dokter Mari, "Lari!" sadar bahwa itu adalah detik terakhir sebelum hari berlalu di Mundclariss.
Terdengar banyak suara langkah kaki dan suara tawa dari belakang. Felix tidak berniat untuk menoleh melihat pemandangan menyeramkan itu. Ratusan iblis kini berlari dengan riangnya membawa senjata untuk menghabisinya.
"Tibalah harinya!" teriak Efrain datang dari langit langsung menghadang Felix dan Dokter Mari.
"Aku akan melawannya, kalau ada cela cepat pergi darisini!" kata Dokter Mari.
"Cela?!" tanya Felix melihat dirinya sudah ada di tengah lingkaran iblis dan Raja Iblis sedang ada di hadapannya.
Efrain langsung menyerang Felix dengan penuh semangat. Pertarungan yang sama sekali tidak adil, dilihat dari segi manapun. Tinggi Felix hanya 140 cm sedangkan Efrain setinggi 5 meter. Itupun Efrain mengurangi tingginya karena biasanya lebih tinggi dari itu. Felix berusia 11 tahun waktu Mundclariss sedangkan Efrain berusia ribuan tahun dan itu waktu Mundebris. Tapi anehnya Felix bisa menahan serangan Efrain yang kuat dan membabi buta itu. Sementara itu Dokter Mari melawan puluhan Iblis sekaligus.
"Tidak kusangka, kau akan datang sendiri. Apa aku harus berterimakasih?!" kata Efrain tidak menghentikan serangannya.
Dalam situasi itu, Felix masih memikirkan apa yang terjadi dengan pemain kemarin. Jika lokasi pemain yang ditukar kematiannya berpindah, berbeda dengan yang dilakukannya saat melompati waktu tentu saja penukaran kematiannya tidak akan berhasil. Terutama hari ini adalah hari penukaran Kiana, banyak yang dipikirkan Felix sementara pedang Efrain terus saja menghantam pedangnya.
"Iriana dulunya baru bisa mengangkat pedangnya dengan leluasa seperti ini saat usia 15 tahun ... hebat juga kau!" kata Efrain.
"14 tahun!" kata Felix.
"Hahh?!" Efrain tidak mengerti.
"Iriana bilang kau salah! katanya di usia 14 tahun dia bisa melakukan itu ...." kata Felix.
"Apa kau sudah bisa berkomunikasi dengannya?" Efrain tiba-tiba berhenti menyerang dan menjatuhkan pedangnya menyentuh tanah tapi pedangnya masih digenggam. Mengetahui bahwa Felix sudah bisa berbicara dengan Iriana membuat Efrain tidak percaya.
Felix mengambil kesempatan itu untuk melarikan diri. Segera dia merubah dirinya menjadi malaikat kematian dengan memunculkan mahkota Ruleorum dan berlari ke arah Dokter Mari. Efrain masih melamun, Felix segera menggenggam tangan Dokter Mari dan menghilang setelah sinar cahaya biru mengelilingi mereka berdua.
"Kalau begitu kami akan ke Istana Ruleorum sekarang!" kata Ditte.
"Istana Ruleorum tidak bisa ditembus ... aku tahu betul karena sering menyembunyikan Iriana disana." kata Efrain, "Bahkan cara yang biasa dipakai Iriana dulunya, kini dipakai oleh Felix. Apa benar sekarang dia bisa berbicara dengan Iriana? tidak mungkin secepat ini ...." sambungnya dalam hati.
***
Tan, Teo dan Tom tidak pernah tidur semalaman karena takut akan terjadi sesuatu.
"Kalau permainan selesai, aku akan tidur sepuasnya!" kata Teo.
"Tahan, tinggal hari ini ...." kata Tom.
"Ini akan menjadi hari yang paling panjang ...." kata Tan.
Sinar cahaya biru di panti semakin meninggi, sudah menutupi panti sepenuhnya. Bahkan penglihatan sudah terhalang untuk melihat ke luar pagar.
"Kenapa Felix tidak kembali juga? apa Rumput itu benar menyampaikan pesan kita? dia tidak lupa kan?" kata Teo heboh.
"Kita seharusnya ke rumah sakit melihat keadaan Cain, tapi tidak bisa meninggalkan Kiana juga ...." kata Tan.
Cain berhasil diselamatkan berkat Daisy yang mengirimkan foto keberadaan Cain di pabrik daging itu. Kepolisian langsung bergerak cepat dan behasil menangkap preman yang terlibat. Tapi tidak ada jejak pemain ataupun keluarga pemain mendatangi pabrik itu. Sepertinya mereka mengendalikan ini dari jarak jauh dan sebisa mungkin tidak ingin terlibat. Tubuh Cain dipukuli habis-habisan, sepertinya untuk meminta informasi tapi tentu saja Cain tidak bisa menjawab karena hanya tubuh tanpa roh.
Keadaan Cain itu masih dirahasiakan, kepolisian juga masih mengawasi di rumah sakit jadi Tiga Kembar tidak terlalu khawatir. Sekolah masih diliburkan, karena banyaknya orangtua murid yang mengeluhkan keamanan di sekitar sekolah yang minim. Komite sekolah melakukan rapat terkait keamanan di sekolah dan sekitar sekolah untuk semakin diperketat agar kejadian yang sama tidak terajadi lagi.
Bu Corliss tidak tahu menahu soal keadaan Cain karena ada Daisy yang mengambil alih. Anehnya juga tidak ada berita tentang penculikan Cain itu. Berita hanya tersebar dari mulut ke mulut jadi tidak ada kejelasan yang bisa membuktikan itu benar terjadi.
"Ada pesan dari Mertie!" kata Tom dengan ekspresi terkejut.
"Ada apa? apa Cain baik-baik saja?" tanya Tan.
"Bukan soal Cain ...." sahut Tom.
"Apa sih?" Teo penasaran dan langsung merebut handphone yang masih ditangan Tom, "Tidak ada yang meninggal kemarin ... em? apa maksudnya? hehh?! benarkah?" Teo lambat mengerti.
"Apa yang terjadi? bagaimana bisa? bukankah waktu penukaran sudah ditetapkan?" tanya Tan.
"Ada yang tidak beres!" kata Teo.
Waktu penukaran seharusnya tiap hari sesuai dengan waktu kematian dari pemain, "Apa sistemnya salah?" tanya Tom berpikir.
...-BERSAMBUNG-...