
Tom dan Cairo bergegas masuk ke dalam desa dan melihat ada mobil dan ada lebih 10 orang ahli tenaga listrik yang sedang bekerja. Warga desa berbondong-bondong menyajikan makanan dan minuman untuk mereka. Membujuk para ahli itu untuk melakukan pekerjaan secepatnya karena membutuhkan listrik untuk melakukan kepentingan masing-masing.
"Beruntungnya mereka ... kalau di kota para ahli tenaga listrik yang sedang memperbaiki itu malah di kritik karena lamban dalam bekerja." kata Tom.
"Aku juga sudah melihat bagaimana perbedaan orang-orang di desa dan di kota. Orang-orang di kota hanya akan lewat tanpa melirik sedikitpun pada mereka yang sedang bekerja di jalan. Padahal para ahli itu bekerja untuk mereka sendiri juga ...." kata Cairo.
"Lingkungan sangat berpengaruh dalam membentuk kepribadian." kata Tom.
"Jadi kau termasuk dalam kategori mana? anak desa atau anak kota?" tanya Cairo sambil tertawa.
"Setengah-setengah." sahut Tom.
"Hem? hahahah ...." Cairo tertawa dan tidak terasa sudah sampai di depan rumah yang telah mengalami kebakaran itu.
Ada garis polisi terpasang dan satu mobil patroli dan satu mobil biasa yang terparkir di depan rumah itu.
"Kau?!" sapa Seseorang yang mengangkat garis pelindung untuk keluar dari dalam rumah itu.
Tom hanya diam, berpura-pura tidak kenal karena rekan kerja Kayle yang lain sedang melihat.
"Karena kau disini berarti ini bukan kebakaran biasa kan?" tanya Kayle.
"Kau mengenalnya?" tanya Cairo.
"Dia ada disana saat Kak Antonia meninggal." jawab Tom.
"Kupikir tidak ada yang mengingat saat kejadian itu terjadi ...." kata Cairo.
"Benar, tapi Felix mengecualikannya." kata Tom.
"Benar kan? aku kesini karena mendengar ada lima korban yang sama seperti yang ada di Desa Kimber. Kupikir ini hanya kebetulan tapi karena kau ada disini berarti ini bukan sekedar kebetulan saja ...." kata Kayle.
"Ternyata dia juga sudah tahu soal jumlah korban itu." kata Tom dalam hati, "Belum pasti, tapi kemungkinan besar begitu ...." kata Tom.
"Aku bersumpah akan membunuh yang melakukan ini pada Lian." kata Kayle.
"Yang melakukan itu adalah iblis ...." kata Cairo tidak mengerti bagaimana Kayle akan membunuh musuh yang tidak bisa dilihatnya itu.
"Iblis yang memasuki manusia! aku juga tahu ... makanya jika ada kejadian yang sama akan aku bunuh iblis itu saat masih berada di dalam tubuh manusia." kata Kayle.
"Iblis bukan hanya ada satu, iblis yang melakukan itu pada Lian adalah iblis tingkat tinggi." kata Tom.
"Aku tidak peduli lagi ... yang jelas aku akan membunuhnya jika bertemu lagi." kata Kayle.
"Tentu saja ... harusnya aku tahu kalau Polisi dan Aluias memang sangat mirip." kata Tom dalam hati.
Kayle dan polisi lainnya sudah pergi. Tom memegang lengan Cairo dan memasuki Bemfapirav tepat di depan rumah yang kebakaran tadi.
"Rumah yang tadi terlihat seperti ini saat belum terjadi kebakaran?" tanya Cairo.
"Rumah ini dibangun dari Memoriasepirav atau kenangan Zewhit atau hantu yang meninggal. Sepertinya roh yang meninggal di kebakaran ini sempat membangun rumah ini di Bemfapirav sebelum ditangkap oleh anak buah Efrain." kata Tom melihat sekeliling untuk menemukan cahaya jingga kecil di kegelapan Bemfapirav itu.
"Aku jadi banyak belajar hari ini ...." kata Cairo.
"Disana!" kata Tom menyipitkan matanya melihat sesuatu.
Tom dan Cairo berjalan mendekati cahaya kecil berwarna jingga itu dan menemukan batu permata Imperial Topaz tertanama di tanah.
"Jadi kalau kita mencabut ini akan memutus lingkaran yang membentuk gerbang neraka itu?" tanya Cairo.
"Iya, tapi tidak semudah itu. Karena batu permata ini sudah sempurna dengan lima korban yang berhasil dibunuh. Untuk menariknya keluar harus dengan menumpahkan darah yang banyak dan aku sendiri kurang tidur, bisa pingsan jika mengeluarkan darahku disini. Darah Kak Cairo saja tidak cukup untuk mencabut batu permata ini." kata Tom.
"Jadi bagaimana? kudengar tadi kau tahu cara lainnya ...." kata Cairo tidak khawatir karena Tom tadinya sangat percaya diri dihadapan Teo.
"Jadi kita harus kesana?" Cairo berdebar-debar karena memikirkan akan memasuki dunia yang tanaman di dunia itu bisa berbicara.
"Cara lain untuk mencabut batu permata ini adalah dengan mengorbankan Anaevivindote atau hewan Mundebris dengan jumlah dua kali lipat dari jumlah manusia yang dijadikan korban." kata Tom.
"Apa?!" Cairo kaget mendengar itu karena membayangkan jika tanaman saja bisa berbicara layaknya manusia maka hewan disana juga pasti sama, "Bagaimana bisa kita melakukan itu? kau tega membunuh hewan yang tidak bersalah? bahkan membunuh hewan yang tidak bisa berbicara saja sulit bagaimana dengan yang bisa berbicara ...." kata Cairo.
"Kak Cairo saja sudah siap membunuh manusia, masa membunuh hewan tega?!" kata Tom heran dengan keraguan Cairo.
"Kasusnya berbeda, membunuh manusia yang sedang dirasuki oleh iblis untuk menghentikan adanya korban lain sudah seharusnya." kata Cairo.
"Berbeda? membunuh hewan Mundebris untuk menghentikan gerbang neraka tercipta. Gerbang yang bisa mengakibatkan korban tidak terhingga itu? apa tidak sama?!" kata Tom.
"Tapi ...." kata Cairo.
"Kak Cairo belumlah siap menjadi pemburu iblis. Yang kudengar pemburu iblis tidak ragu melakukan sesuatu yang bisa menghentikan kejadian lebih buruk terjadi." kata Tom.
"Ini misi pertamaku, aku belum pernah membunuh siapapun ...." kata Cairo.
"Maka dari itu Tan menyuruhku bersama Kak Cairo karena jika bersama Teo tidak ada solusi yang akan tercapai." kata Tom, "Karena kalian berdua terlalu baik ...." lanjut Tom dalam hati.
"Jadi kau benar akan membunuh hewan Mundebris?" tanya Cairo.
"Bukan aku yang membunuhnya tapi batu ini. Kita hanya perlu membawa Anaevivindote kedepan batu ini dan menumpahkan darahnya maka batu permata ini akan mengerti dan langsung menerima pengganti pengorbanan itu dengan membunuhnya sendiri." kata Tom.
"Kejam sekali ...." kata Cairo.
"Aku tidak mengerti ... kukira Aluias semuanya tanpa rasa ampun sama sekali. Apa benar dia memiliki darah Aluias dalam dirinya?" tanya Tom dalam hati menatap Cairo.
"Felix?!" Tom memanggil Felix.
"Ya?!" sahut Felix.
"Dia ada disini juga? aku tidak melihat siapa-siapa." kata Cairo melihat sekeliling.
Tom tidak ingin menjelaskan soal Jaringan Alvauden pada Cairo, "Aku menemukan titik!" kata Tom yang memaksudkan titik ini adalah batu permata. Karena untuk membuat garis haruslah dimulai dari menyambungkan tiap titik.
"Baiklah ... aku akan kesana." kata Felix.
Tom memanggil gerbang Alvaudennya membuat Cairo ragu masuk.
"Kau benar akan membunuh hewan disana?" tanya Cairo.
"Tidak." sahut Tom.
"Hahh?!" Cairo bingung.
"Aku ini calon Nusfordis Sapphire, tidak mungkin aku menjadikan Anaevivindote sebagai persembahan untuk mengganti korban pengorbanan gerbang neraka." kata Tom.
Cairo tersenyum, "Jadi bagaimana?"
"Makanya aku memanggil Felix. Hanya ada dua cara untuk mencabut batu permata itu tapi jika ada Felix bertambah menjadi tiga cara." kata Tom yang dari awal hanya ingin mengetes bagaimana sebenarnya kepribadian Cairo itu.
"Tuan Muda ...." Beberapa Anaevivindote yang menyambut kedatangan Tom dan Cairo di depan gerbang di Mundebris.
"Apa yang kalian lakukan disini?" tanya Tom.
"Kami melihat ditanamnya batu Imperial Topaz disini. Jadi kami datang untuk mengajukan diri sebagai korban pengganti." jawab salah satu Anaevivindote membuat Cairo hampir meneteskan air mata.
"Mereka rela mengajukan diri menjadi korban?" kata Cairo dalam hati antara kasihan dan terharu.
...-BERSAMBUNG-...