
"Teo ...." Tan yang sudah lama menunggu dibelakang Teo akhirnya memberanikan diri maju kesamping Teo, setelah melihat bahwa Teo sudah kelihatan tenang.
"Aku tahu! aku berpikiran sembrono, ceroboh dan kekanak-kanakan ...." kata Teo.
Tan menghentikan Teo meluapkan emosinya dengan menjelek-jelekkan diri sendiri, "Kau tidak begitu! kau itu lebih dewasa dariku, lebih serius dari Tom. Hanya saja dengan cara yang khas dirimu ... tidak seperti kebanyakan orang."
"Jangan menghiburku dengan cara berbohong ... itu adalah cara yang salah!" kata Teo.
"Apa aku terlihat orang yang seperti itu?! rela berbohong hanya untuk membuat saudaraku merasa lebih baik ...." kata Tan tertawa.
"Jangan tertawa!" kata Teo sebal.
"Aku tahu dan merasakan apa yang kau rasakan. Begitupun Felix dan Tom ... kau pikir mereka tidak merasakan hal yang sama?! walau Felix bukanlah manusia biasa, walau Tom sudah sepenuhnya meninggalkan topengnya, tapi kita semua punya perasaan ... selama ini yang menjadi masalah terberat adalah perasaan. Kita selalu terbawa perasaan karena tidak bisa melakukan apa-apa dan merasa bersalah setelah melakukan sesuatu tapi tidak sesuai dengan apa yang diinginkan. Sampai kapanpun kita tidak akan terbiasa dan akan terus merasakan hal ini ...." kata Tan.
"Tapi, setidaknya kalian sudah bisa melepaskan diri dari itu ... kalian bisa tenang saja, sementara aku masih saja terikat dan itu terus menyiksaku jika tidak melakukan apa-apa." kata Teo.
"Aku tidak tahu bagaimana Felix dan Tom melakukannya tapi aku sendiri ... hanya berpura-pura terlihat bisa lepas dari itu walau sebenarnya masih ada tali yang terikat di leherku." kata Tan.
"Korban kali ini akan lebih banyak Tan ... dan ... semuanya dimulai dari awal lagi. Semua korban di gerbang neraka sebelumnya seperti sia-sia saja ...." kata Teo.
"Atau mereka beruntung! mereka tidak perlu terus terkurung di dalam batu permata itu sehingga suatu saat akan dimanfaatkan untuk hal buruk ...." kata Tan.
"Maksudmu Pak Rodney tidak beruntung?!" kata Teo.
Tan terdiam, tidak bisa berkata-kata lagi. Ternyata apa yang dirasakan Teo lebih dalam dari yang Tan bayangkan.
Bahkan bagi usianya yang sudah menginjak 13 tahun, masih terbilang terlalu muda bagi kebanyakan anak untuk mengenal apa itu kematian. Orangtua normal pada umumnya sangat berhati-hati mengenalkan kematian, kehilangan dan perpisahan pada anak mereka. Tapi mereka bertiga harus mengenalnya sendiri dan mengatasi perasaannya sendiri tanpa bantuan orangtua.
"Untuk pertama kalinya dalam hidupku ... aku tidak bisa menutupi apa yang bisa dilakukan seorang orangtua." kata Tan dalam hati akhirnya sadar perannya memang hanya bisa sebagai saudara saja.
Tan selama ini berusaha untuk menjadi yang paling dewasa dan mengambil peran seperti yang tertua walau bukan dia yang tertua tapi menurutnya dia harus melakukan itu. Memang banyak yang bisa dia isi dan tutupi tapi kali ini Tan tidak bisa berbuat apa-apa untuk itu.
"Aku baik-baik saja ... hanya butuh waktu untuk sendiri. Kau tidak perlu khawatir!" kata Teo menepuk bahu Tan dan pergi lagi meninggalkan Tan sendirian di taman sekolah.
Tan memegang kepalanya dan mulai duduk di bangku taman. Merenungkan segala macam kekhawatiran di dalam kepalanya. Beberapa saat kemudian, Tellopper terlihat muncul di tangan Tan secara tiba-tiba.
"Hem?!" Tan heran karena tidak memanggil ataupun sedang memikirkannya.
Tellopper memanjangkan dirinya dan mengelilingi lengan Tan membentuk seperti gelang. Perlahan serbuk berwarna merah muda mulai keluar dari Tellopper dan mengelilingi Tan.
"Apa yang kau ...." Tan belum menyelesaikan kalimatnya tapi langsung merasakan sangat tenang dan perlahan mulai tertidur.
Saat terbangun, Tan sudah berpindah. Bukannya berada di taman tapi sudah ada di atas tempat tidurnya.
"Waw! sejak kapan kau disana?!" teriak Teo kaget keluar dari dalam kamar mandi.
Tan yang baru bangun masih mulai memproses apa yang terjadi dan akhirnya sadar serta mengingat kejadian sebelumnya.
"Bukan kau yang membawaku kemari?!" tanya Tan.
"Kau pikir aku sekuat itu bisa membawamu naik tangga ...." jawab Teo mengeringkan rambutnya.
"Kalau begitu, Tom kah?!" tanya Tan.
"Tom ... aku tidak melihatnya daritadi." jawab Teo.
Pintu kamar terbuka bersamaan dengan jawaban Teo dan terlihat Tom yang masuk.
"Kau darimana?!" tanya Teo.
"Aku dari perpustakaan mengambil buku untuk keperluan tugas, kita harus menyelesaikan tugas baru bisa masuk ke Mundebris melakukan kontrak, kan?!" kata Tom.
Tan memperhatikan Tom dengan seksama, "Tidak kelihatan berkeringat ataupun kehabisan napas ... apa Felix yang membawaku kemari?!"
"Entahlah ... daritadi, dia bicara tidak jelas. Mengira aku yang membawanyalah apalah ...." kata Teo.
"Lalu bagaimana aku bisa sampai kesini?! menurutmu aku berjalan sendiri begitu dari taman?! dan rasanya aku sudah tidur begitu lama." kata Tan.
"Itu karena kau kurang tidur saja, makanya kau jadi berhalusinasi dan mengira tidur sebentar seperti sangat lama." kata Tom.
"Halusinasi katamu?! sebagai seseorang yang mengenal dunia lain, kau tidak pantas mengatakan itu!" kata Tan kesal.
"Sudahlah ... mungkin Felix atau siapa yang melakukan, apa itu penting sekarang?! kita harus buru-buru, Felix juga sudah mengerjakan tugas. Lagipula kita di sekolah, tempat teraman kedua selain di panti." kata Tom.
Tan akhirnya menyerah, rasa penasarannya begitu cepat dapat dihilangkan oleh kedua saudaranya.
"Kalian ini benar-benar saudara yang baik, ya?!" kata Tan.
"Sarkastik?!" kata Teo pada Tom saling menatap mengiyakan pendapat.
"Ya, sarkastik." sahut Tom melihat ekspresi Tan.
"Hahh ... bagaimana bisa kebingunganku ini kalian anggap halusinasi, bukannya kalian coba pecahkan tapi kalian abaikan begitu saja." kata Tan.
Teo dan Tom dan tidak merespon karena sudah sibuk dengan tugas masing-masing. Tan hanya bisa tersenyum pahit, karena semuanya terlihat baik-baik saja seperti biasanya. Ketegangan dan kerenggangan hubungan persahabatan diantara mereka begitu cepat dapat terselesaikan dan kembali seperti semula. Separah apapun mereka bertengkar atau berdebat pada akhirnya mereka cepat juga baikan. Seakan mereka tidak tahan untuk saling membenci dalam waktu yang lama. Kecuali untuk Felix dan Cain mungkin yang pernah memecahkan rekor paling lama marahan. Tapi itupun juga tidaklah selama seperti kebanyakan orang lain yang saling benci.
"Aku juga merasa sangat tenang ...." kata Tan tidak tahu bagaimana perasaannya bisa teredam begitu cepat. Tan memuncukan Telloper, "Apa kau yang melakukan ini?! apa kau yang membuatku bisa merasakan ketenangan ini?! hahaha ... aku pasti sudah gila berbicara dengan senjata Alvauden." Tan hanya bisa menyimpulkan kalau itu hanya mimpi saja.
Setelah mengerjakan tugas dan diabsen oleh penjaga asrama Kak Darien, mereka berkumpul di dalam kamar Felix. Mereka sepakat untuk berkumpul di pohon yang dijaga Banks malam ini untuk berdiskusi soal gerbang neraka yang baru dan kalau masih ada waktu Tan, Teo dan Tom bisa masuk Mundebris melakukan kontrak setidaknya satu atau dua atau setidaknya sekedar mulai membujuk saja dulu.
Tan, Teo dan Tom meminum ramuan tidak terlihat bersamaan setelah dibagi-bagikan oleh Tan.
"Masih ada?!" tanya Felix.
"Em?! kau mau juga?!" tanya Tan.
"Kau kan bisa menggunakan Idibalte." kata Tom.
"Aku hanya ingin mencoba saja." kata Felix.
"Baiklah ...." kata Tan sambil menyerahkan botol ramuan yang memang sengaja dibuat lebih untuk persiapan tidak terduga.
"Asal kau tahu saja, tidak mudah untuk pemula." kata Teo meremehkan.
Tapi saat Felix belum menghabiskan ramuannya saja sudah tidak terlihat.
"Kau yakin pertama kali meminum ini?!" tanya Teo menyipitkan mata.
"Aku bukan kau." jawab Felix.
"Dasar tukang pamer! kau bisa menggunakan Ikat pinggangmu itu tanpa harus bersusah payah seperti kami yang meminum ramuan agar tidak terlihat. Tapi kau apa tadi?! mau mencoba katamu?!" kata Teo tidak habis pikir.
"Aku hanya ingin melakukan sesuatu yang sama dengan yang kalian lakukan." kata Felix.
"Kalau begitu, kau akan tahu betapa sulitnya menjaga konsentrasi. Melamun sebentar saja, kau akan kelihatan ... harus kau ingat itu!" kata Teo.
"Kurasa Felix akan baik-baik saja." kata Tan.
"Bahkan lebih baik darimu." kata Tom.
"Hahh ... apa aku sudah bilang kalau aku benci kalian?!" kata Teo.
"Sudah!" sahut Felix, Tan dan Tom kompak meninggalkan Teo sendirian.
...-BERSAMBUNG-...