
Api yang sesang dialihkan oleh Efrain itu seperti terus mendesak keluar karena lubang yang dilewatinya terlalu sempit untuk menanggung api sebanyak itu. Sehingga terjadi ledakan dan api itu seperti menembakkan laser naik ke langit saking dibatasinya pergerakannya dengan lubang kecil yang dilewatinya itu.
Efrain dan Cain yang berada diantara api itu hanya terus saling adu tatap. Masing-masing menunggu siapa yang akan menyerang duluan.
Pasukan Efrain yang selamat dari serangan pertama Cain akhirnya bertemu Pasukan Felix dan terjadi pertempuran yang sangat tidak biasa. Tan, Teo dan Tom dalam keadaan tercengang karena belum pernah melihat gaya bertarung seperti itu sebelumnya.
Untuk pertama kalinya Tan, Teo dan Tom hanya melawan satu iblis. Tadinya mereka selalu dikeroyoki atau diserang secara rombongan. Bala bantuan yang dibawa Cain sangat membantu untuk menyeimbangkan pertarungan.
"Ini baru yang namanya pertarungan adil ...." kata Teo memindahkan sebagian tangan Zewhit di sayap kiri untuk ditaruh di kanan. Walau terlihat tidak sebesar tadi, tapi setidaknya itu bisa membuat kedua sayap Teo kembali utuh dan seimbang.
"Jarang-jarang bisa melihat Setengah Quiris ikut dalam peperangan ...." kata Banks.
"Kita tidak memiliki Zewhit, jadi apa boleh buat ...." kata Felix.
"Tapi ini lebih baik menurutku, Setengah Quiris sangatlah kuat. Bahkan kekuatan mereka pasti ada yang lebih besar dan lebih tinggi dari iblis." kata Zeki.
"Memang mereka kuat tapi akan ada saja masalah yang diperbuat ataupun ditimbulkan. Karena campuran dari keturunan berbeda akan melahirkan kekuatan dan kepribadian yang baru. Seperti Setengah Sanguiber yang paling mencolok selalu membuat masalah." kata Banks.
"Begitupun Leaure, Cain sendiri pernah hampir kau buat pingsan ...." kata Felix menyipitkan matanya.
"Itu karena saat itu saya tidak sadar Yang Mulia, kami ... para Zewhit akan tertarik secara tidak sadar jika merasakan ada Leaure." kata Banks membela diri.
"Dari semua keturunan Setengah Quiris sepertinya yang keturunan Leaure lah yang paling lemah dan paling terancam bahaya. Sangat tidak adil sebenarnya karena mereka adalah malaikat pelindung." kata Zeki melihat bagaimana pertarungan yang pada pasukan Felix yang ada unsur emas kelihatan kesulitan dalam melawan musuh.
"Tapi, mereka juga tidak pernah mengeluh soal itu. Leaure adalah Leaure ... mau itu dicampur dengan keturunan manapun, darah untuk menolong dan berbuat baik selalu yang paling mendominasi." kata Banks memperhatikan Winnie yang melarang pasukan lainnya untuk melawan iblis yang keadaannya sudah terluka parah.
"Maka karena itu juga ... dari Setengah Leaure yang dikenal akan lemah itu terlahir seseorang yang sangat kuat yakni Leaure Sejati." kata Felix dalam hati merasa sudah cukup istirahat dan ingin mulai bergabung dengan pasukannya.
"Ow, tunggu ...." Cain menyuruh Efrain untuk berhenti karena kelihatannya Efrain sudah akan mulai menyerang.
Efrain tidak tahu apa yang sedang terjadi secara jelasnya tapi anehnya menurut saja.
"Wow, kau lihat itu!" Cain menujuk ke arah Teo yang terbang tinggi kemudian mendarat dan menendang banyak musuh sekaligus, "Aku sudah lama menunggu untuk melihatnya secara langsung ...."
Goldwin memukul kepala Cain, "Kau sudah gila ya?!"
"Ya, kau sudah gila ...." Efrain sudah ada didepan Cain tidak menunggu lagi dan siap menyerang dengan pedang yang berada tepat di depan mata Cain.
Seperti tidak ada jalan keluar lagi selain harus menerima dengan pasrah pedang Efrain bersarang dimata Cain. Tapi ternyata bisa dihindari, yang diserang Efrain hanyalah udara. Sementara Cain sudah berada dibelakang Efrain dengan dua pedangnya pada leher Efrain.
"A ... a ...." Cain menggeleng-gelengkan kepalanya, "Jangan bergerak atau menoleh kebelakang atau kepalamu akan melayang dan saat kau sadar kepalamu sudah ada di tanah."
Efrain bergerak cepat dan melompat tapi Cain sudah memperikarakan itu sehingga ada Goldwin yang langsung melompat juga dan mencakar Efrain. Bekas cakaran Goldwin itu sangat dalam dan membentuk tanda X. Darah jingga mengalir keluar pada bekas cakaran itu seperti warna pada lukisan yang tidak beraturan.
"Kau pikir ... kau benar bisa mengalahkanku ...." kata Efrain.
Saat tersadar Goldwin sudah menghadang Efrain didepan Cain dan dibelakang Cain ada Felix menghadang Bates.
"Kudengar Yang Mulia punya level dunia pikiran lebih tinggi dari Ditte ...." kata Bates yang baru memunculkan dirinya setelah sekian lama sepertinya memang menunggu saat itu untuk menyerang Cain.
"Permainan pikiran tidak berguna untukku ...." kata Felix tapi saat mengedipkan mata, Felix seperti berada ditempat lain. Bukan di medan pertempuran yang sangat berisik tapi di sebuah tempat yang sangat sunyi dan gelap.
"Sepertinya berhasil ...." kata Bates entah suara itu darimana karena seperti berasal dari segala penjuru tempat itu.
Perlahan yang dipijaki Felix seperti bergerak dan berputar. Kini kaki Felix berada diatas dan kepalanya dibawah. Anehnya dia tidak jatuh walau berada terbalik seperti itu. Felix merasa pusing karena kini terus berputar.
Hingga akhrinya Felix memotong lengan kanannya dan suara berisik di medan pertempuran kembali terdengar.
"Mengesankan ... Yang Mulia bisa tersadar dari mimpi secepat itu." kata Bates.
Felix segera mendorong asap hitam berkilauan yang mengelilinginya dengan udara dingin teknik Ruleorum. Asap hitam berkilauan seperti langit malam bertabur bintang itu dibuat membeku bahkan sampai ke tangan Bates yang sedang mengendalikan. Tapi Bates melepaskan kekutannya itu sebelum Felix berhasil mengenai tangan Bates.
"Hati-hati Felix, dia bisa membuat kita bingung sedang berada di dunia nyata atau tudak. Bahkan merekayasa seperti semuanya berjalan normal padahal itu palsu. Perhatikan sekitar, jika ada yang janggal. Percayalah, itu adalah mimpi." kata Cain yang bertarung dibelakang Felix bersama Efrain.
"Mendengarmu mengatakan itu berarti aku sedang ada di dunia nyata kan ...." kata Felix.
"Tentu saja ...." kata Cain.
Felix menyeringai dan mulai berlari menyerang Bates. Seperti sedang berseluncur, setiap langkah Felix menciptakan es disana. Felix yang bertubuh kecil dengan mudah melewati Bates dan mengunci Bates dengan es.
Sayangnya Bates melepaskan kakinya dengan mudah menggunakan petir kemudian meninju es yang disana mengakibatkan permukaan es seperti meledak dari dalam dan kepingan es menyebar kemana-mana. Felix sempat menghindar tapi rasa setruman di kakinya tetap terasa sepertinya Felix agak terlambat bergerak menjauh darisana tadi.
Bates melompat keatas untuk kembali menyerang Felix tapi tanpa itupun Felix sudah menusuk jantungnya sendiri dengan pedangnya. Akhirnya Felix kembali tersadar dengan napas yang tidak stabil.
"Akhirnya kau sadar juga ...." kata Cain yang sebenarnya tadi Felix langsung tidak sadarkan diri saat berhadapan dengan Bates karena sedang dalam pengaruh mantra. Cain terpaksa harus meninggalkan pertarungannya dengan Efrain dan membawa Felix mundur darisana.
"Bagaimana kau bisa sadar?! tidak ada cara untuk membangunkan seseorang dari luar ... terutama jika itu didalam mimpi buatan Bates." kata Cain.
"Saat kau menjelaskan kekuatan Bates 'Hati-hati Felix, dia bisa membuat kita bingung sedang berada di dunia nyata atau tidak. Bahkan merekayasa seperti semuanya berjalan normal padahal itu palsu. Perhatikan sekitar, jika ada yang janggal. Percayalah, itu adalah mimpi.' begitulah yang kau katakan ...." kata Felix.
"Bagaimana kau tahu itu bukan aku yang bilang?!" tanya Cain tertawa.
"Karena kau tahu ... aku ini tidak suka dijelaskan. Tapi, kau disana menjelaskannya. Tentu saja aku sadar saat itu ... kalau sedang ada dalam mimpi." kata Felix.
"Sepertinya dia salah menggunakan orang untuk menipumu." kata Cain tertawa membantu Felix bangun.
"Tapi cukup realistis, sampai akupun agak ragu untuk membunuh diriku sendiri ... sehingga mengulur waktu juga untuk berpikir ulang." kata Felix masih merasa pusing.
...-BERSAMBUNG-...