
Cairo tidak punya waktu untuk mengasihani Vivandem Aluias yang akan sedang menjalankan misi itu. Seperti bagaimana dirinya mendapat mimpi, butuh waktu lama bagi Cairo untuk memproses dan menerima hal itu. Kalaupun menjadi pahlawan tetap sangat membebani pikiran, tentunya beda cerita lagi kalau sudah ditakdirkan akan mati dan itu lebih menyiksa lagi.
Viviandem Aluias pasti mendapatkan mimpi itu sebelum Felix lahir. Saat masih masa pemerintahan Iriana. Cairo merasa ini sangatlah tidak adil karena mereka baru saja kembali dibangkitkan tapi hidup mereka sudah tidak lama lagi.
Tapi, tidak ada satupun Viviandem Aluias yang memasang wajah takut ataupun gugup menjelang kematian. Mereka semua menegapkan bahu dan merasa terhormat bisa menjadi bagian dari misi pembuat perisai itu.
Kekuatan daya ledak dari peluru buatan Cairo itu tidak bisa dipastikan. Sementara saat ini Viviandem, Quiris termasuk Iblis masih terus bertarung di dekat sana. Walau ada yang membuat perisai dibagian luar. Tapi, dari yang dilihat bisa saja mereka semua akan mati disana jika tidak dibuat lagi perisai didekat Cairo. Hanya mengurung Cairo dan Efrain adalah pilihan terbaik untuk semuanya.
Aluias yang sudah mendapat mimpi sebelumnya langsung tahu kalau harus melakukan itu karena melihat senjata mereka bersinar terang saat waktunya telah tiba.
"Menjadi Zewhit tidaklah seburuk itu!" kata Aluias yang sedang sangat bersemangat.
Peluru besar yang ada puluhan itu kelihatan melesat turun dari atas langit menuju posisi Efrain berada. Efrain kelihatan hanya diam saja dan menyeringai.
"Ada yang salah sepertinya ...." kata Verlin yang bisa meneliti dari ekspresi Efrain, terlihat sama sekali bukan seseorang yang akan dikalahkan.
"Kau mungkin mengira bisa menerima semuanya karena seorang Raja Neraka, tapi coba kita lihat saja!" kata Cairo merasa tersinggung dengan eskpresi Efrain itu.
Tidak ada satupun Viviandem Aluias yang menutup matanya saat peluru yang seperti nuklir itu akan mendarat. Semuanya melihat seluruh detail dengan jelas tanpa keraguan sama sekali. Raja Aluias terlihat sangat bangga melihat itu dan Viviandem Aluias lainnya bersorak.
"Berisik! memang apanya yang istimewa dari itu?! mereka akan mati juga." kata salah satu Viviandem Sanguiber.
Saat terjadi ledakan, sempat terlihat ada sinar yang membuat Felix berdiri kaget, "Tidak ...."
Raja Ruleorum dengan cepat menghalangi Felix, "Itu sudah takdir mereka, Yang Mulia."
Perisai yang dibuat oleh Viviandem Aluias yang melaksanakan misi sepertinya sangat berguna. Memang tetap menembus perisai itu tapi tidak terlalu meluas dan yang lainnya bisa menghindar secepatnya. Hanya saja setiap hal pasti ada saja kekurangannya seperti serangan Cairo itu ada yang terkena dampak buruknya juga.
Pasukan Efrain yang memiliki kekuatan angin, membersihkan pandangan mata dalam sekejap untuk memeriksa keadaan Raja mereka. Tapi yang ditakutkan Felix terjadi juga, Efrain keluar dari dalam Gerbang Jingga dengan keadaan baik-baik saja. Tapi bukan hanya satu gerbang yang ada disana, ada gerbang lainnya lagi.
"Kau lupa aku ini juga Alvauden ...." kata Efrain.
Kabar buruknya lagi, gerbang itu terbuka lebar. Menandakan Efrain sengaja melakukan itu untuk melepaskan serangan Cairo ke dunia lain.
"Aku berterimakasih dengan ide yang diberikan oleh tiga anak manusia tadi. Akupun bisa melakukan hal yang sama." kata Efrain yang tentu saja membuka gerbang itu menuju Mundclariss.
"Dia sudah menggunakan gerbang sebelumnya tapi masih bisa juga melakukannya lagi. Sebenarnya berapa batasnya untuk membuka gerbang?!" kata Vivandem Aluias yang sudah menjadi Zewhit dan meninggalkan tubuhnya yang penuh luka bakar.
"Jangan khawatir, pengorbanan seseorang memang dibutuhkan untuk menangkap seseorang. Itu adalah prinsip kerja dari Aluias. Apapun caranya, asalkan itu bisa menangkap penjahat ... walau mengorbankan seseorang tapi setelah penjahat itu ditangkap, tidak akan ada lagi korban selanjutnya. Selalu berpikirlah untuk masa depan yang lebih baik." kata Zewhit Vivandem Aluias lainnya meneguhkan hati Cairo agar tidak lemah dan mereka tidak perlu dikasihani.
Tapi sepertinya petuah itu tidak perlu diucapkan dan didengar oleh Cairo. Karena Cairo kelihatan sama sekali tidak terpengaruh, walau mengetahui sekarang ada korban di Mundclariss akibat serangannya tadi. Tapi Kota Pippa sendiri, sisi lain dari tempat yang ada di Mundebris saat ini sudah kosong. Maka Cairo tidak terlalu khawatir, kalaupun serangannya itu sampai ke kota lain pasti tidaklah separah yang dibayangkan.
"Berapa banyak korban?!" tanya Felix yang keringatan dingin karena mendengar banyak suara histeris.
"Memang banyak gedung yang terkena ledakan, tapi kebanyakan rumah sedang kosong karena liburan akhir tahun." kata Raja Ruleorum.
"Aku tanya berapa?!" Felix kesal karena harus bertanya dua kali dan pertanyaan pertamanya dijawab dengan jawaban yang bukan jawaban yang diinginkannya.
"Sekitar 50 lebih ...." kata Cain mencoba menenangkan Felix. Dengan menghitung Viviandem Ruleorum yang membuka gerbang untuk ke Mundclariss. Tentunya mereka akan menjemput Arwah yang meninggal itu.
"Sebanyak itu?! bagaimana bisa?!" kata Felix menahan sakit dikepalanya.
"Efrain sudah mengaturnya ... kau lihat! dia sengaja mengatur arah Gerbang Alvaudennya menuju Kota Shirley. Sehingga serangan Cairo masuk ke dalam gerbang dan melesat maju menuju arah Kota Shirley berada." kata Cain.
"Kau tidak melihat ini?! harusnya kau bisa menghentikannya!" kata Felix.
"Sepertinya ada diantara kita yang melakukan hal lain tadi. Sehingga mengubah masa depan." kata Cain mengingatkan Felix tapi tidak mau mengatakannya dengan jelas.
"Mereka ...." akhirnya Felix mengingat.
"Setidaknya, kini Arwah ada yang menjemput ...." kata Cain ingin merubah suasana.
Tapi Raja Ruleorum hanya melihat gelang di pergelangan tangan Felix.
"Jangan khawatir, Yang Mulia ... dia akan baik-baik saja. Bahkan Leaure sendiri akan sulit mengetahui siapa identitasku yang sebenarnya. Tapi, Ruleorum pasti langsung tahu saat pertama kali melihatku ...." kata Cain.
"Masa depan bisa berubah dengan mudah, harus selalu ditinjau setelah beberapa hari berlalu bahkan jika perlu seharusnya setiap jam. Itu adalah tugas dari Leaure Sejati." kata Raja Ruleorum tidak terlalu menyetujui Cain yang bisa melihat masa depan. Karena masa depan dapat selalu berubah.
"Seperti yang diduga ... dia sudah tahu." kata Cain dalam hati.
Viviandem Leaure kelihatan murung semua karena mengetahui banyaknya korban manusia yang tidak diselamatkan olehnya. Tapi berbeda dengan Viviandem Ruleorum yang menganggap itu sudah takdir mereka.
Semuanya tiba-tiba mendongakkan kepala dan harus menunduk secepat mungkin. Karena terlihat ada banyak panah berlian dengan ukuran besar dan panjang sedang jatuh dari atas langit seperti hujan dan juga dari samping kanan, kiri, depan belakang. Rupanya tidak semua peluru tadi ditembakkan oleh Cairo. Ada yang disiapkan untuk menjadi serangan selanjutnya. Mengubah bentuknya menjadi anak panah dari kejauhan.
Pasukan Efrain menahan anak panah itu semua dengan sangat lihai. Pasukan Felix hanya diam saja melihat itu. Bahkan Sanguiber merasa kesal karena kelihatan tidak diperlukan untuk bertarung gara-gara Cairo. Sedangkan Aluias tentunya tidak berhenti bersorak dan berbangga diri dengan hadirnya Pahlawan.
"Pemandangan ini ... rasanya aku ingin merekamnya karena saking hebatnya." kata Cain takjub dengan pemandangan yang bahkan lebih hebat dari apa yang dilihatnya dari film-film hebat kesukaannya di Mundclariss.
...-BERSAMBUNG-...