UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.457 - Liburan Singkat Yang Panjang



Tan, Teo dan Tom berkeliling melihat seluruh gedung milik Dokter Mari yang di Mundebris itu. Tapi karena tidak ada lift, maka mereka terpaksa harus naik tangga. Tom yang memiliki stamina lebih tinggi dibanding Tan dan Teo sudah berada jauh di lantai terakhir yakni lantai 77 yang merupakan atap gedung. Sedangkan Tan dan Teo masih berada di lantai 36, itupun serasa mereka sudah akan pingsan dan tidak sanggup lagi untuk naik.


Lantai satu sampai lima ditempati oleh Dokter Mari sebagai klinik sekaligus tempat pribadi. Lantai enam sampai dua puluh ditempati oleh penyewa dengan bisnis yang berbeda-beda. Lantai dua puluh satu sampai tujuh puluh lima disewakan sebagai apartement atau sekedar untuk menginap sebentar layaknya penginapan pada umumnya. Lantai tujuh puluh enam menjadi tempat pribadi Dokter Mari lagi.


"Mau dikatakan mall bukan juga ... mau dikatakan hotel bukan juga ... aku tidak tahu harus menyebutnya dengan apa ...." kata Teo yang kehabisan napas.


"Kuakui Dokter Mari memang tidak jelas dalam mengelola gedungnya ini. Seperti asal-asalan saja ...." kata Tan setuju.


"Tapi, kelihatan sukses juga ...." kata Teo.


"Ya ... untungnya kelihatannya seperti itu ...." kata Tan.


"Sangat ideal untuk Setengah Manusia yang tidak tahu harus tinggal dimana ...." kata Teo.


"Sepertinya kita tidak perlu mencarikan Cain rumah." kata Tan.


"Dia tidak akan mau tinggal disini ...." kata Teo.


"Benar juga ...." kata Tan.


"Aku bisa membayangkan apa yang akan dia katakan, 'Aku lebih baik tinggal di jalanan daripada harus tinggal disini!' pasti begitu yang akan dikatakannya." kata Teo meniru cara berbicara Cain yang sangat akurat bahkan saat sedang kelelahan menaiki tangga. Tan spontan langsung tertawa mendengar tiruan sempurna dari Teo itu.


Sementara itu Tom yang duluan sampai di lantai terakhir atau di atap. Kini menunggu kedua saudaranya untuk sampai sambil bersandar di pembatas dengan terkena angin cukup kencang karena berada di ketinggian. Tom bisa melihat dari kejauhan, betapa luasnya kota itu dari ketinggian gedung lantai 77.


"Lebih bervariasi lagi dibanding di Mundclariss ... karena lampunya yang berwarna-warni." kata Tom memuji pemandangan malam Mundebris Kota Inciadicorcre, "Malam yang panjang tanpa adanya siang ...."


Butuh waktu lama bagi Tan dan Teo untuk sampai di tempat Tom berada saat ini.


"Kuakui staminamu hebat sekali!" kata Teo langsung membaringkan dirinya memuji Tom.


Tapi lain dengan Tan yang tanpa sadar terus maju berjalan terpana dengan pemandangan padahal kakinya tadi seperti sudah mati rasa dan tidak punya tenaga lagi untuk diangkat.


"Padahal kalian bisa bertahan dalam pertarungan dengan stamina yang begitu ... mengherankan juga sih!" kata Tom.


"Kau belum pernah ya dihajar oleh seseorang yang sedang kehabisan napas?! hati-hati! kau bisa saja langsung K.O kalau merasakan kekuatan dari seseorang yang kelelahan." kata Teo mengancam.


"Apa itu ancaman?! tidak ada bagian yang terasa mengancam sama sekali!" kata Tom semakin membuat Teo emosi.


Tapi sayangnya Teo tidak punya tenaga untuk bangun, dia hanya bisa memaksakan diri tertawa untuk melampiaskan kekesalannya.


"Sebagian besar bukan stamina yang membuat kita bertahan dalam pertarungan tapi karena tekad ...." kata Tan tertawa.


Saat napas Teo dirasa sudah stabil, barulah dia bisa melihat pemandangan malam disana.


"CAaaaiiiiiiiNnnnn!" teriak Teo.


"Apa yang kau lakukan?!" Tan dan Tom malu sendiri melihat tingkah laku Teo itu.


"Kau ada dimana?! kau tetap rajin makan kan?! tetap rajin membaca pastinya! pasti berat ya sendirian selama ini ... kuharap kau tidak jadi membosankan!" Teo menekankan setiap kalimat dalam teriakannya itu.


"Hentikan!" teriak Tom memukul Teo.


Tan hanya tersenyum, "Sebuah liburan singkat yang mengesankan ...." sambil kembali melihat sekitar.


"Dasar memalukan!" Cain terus menutupi wajahnya, bukan karena tidak ingin dikenali oleh Quiris lain tapi karena malu tiba-tiba mendengar teriakan menggelikan Teo dari atas atap gedung lantai 77 yang ada di Kota Inciadicorcre, "Tenang saja ... mana mungkin aku jadi orang yang membosankan?!" pada akhirnya Cain juga menjawab sambil berlalu diantara kerumunan, "Ternyata mereka ada disini ... kukira tadi hanya perasaanku saja. Kukira aku salah mengira kalau aura mereka terasa ada di dekat sini karena rindu saja ternyata mereka memang ada disini."


Liburan mendadak mereka harus berakhir dengan singkat. Tan, Teo dan Tom kembali ke Mundclariss di Perkemahan Incia.


"Hahh?!" Tan panik melihat area perkemahan saat tiba terdengar tenang dan tidak ada suara ataupun murid yang berkeliaran, "Jangan bilang ...."


"Em, jangan bilang!" sahut Felix yang tiba di belakang mereka bertiga.


"Kukira kami tidak selama itu ...." kata Tom tidak menyadari waktu yang berlalu karena terlalu terbawa suasana.


"Wah, katanya Mertie akan membunuh kita kalau terlihat ...." kata Teo melihat notifikasi yang baru masuk semua setelah kembali.


"Tidak ada yang terjadi, jadi kalian tidak perlu khawatir!" kata Felix.


"Jadi, semuanya sudah pulang?!" tanya Tan masih tidak mau percaya.


"Ya, semuanya sudah selesai ... barusaja bus terakhir berangkat!" kata Felix.


"Jadi ... bagaimana kita kembali?!" Teo sudah membayangkan dirinya kembali berjalan ke luar jalan raya, "Seharusnya kau mencari cara agar kita bisa pulang dengan kendaraan ... atau memanggil kami kembali saat bus terakhir akan berangkat."


"Dasar tidak tahu malu! harusnya aku meninggalkan kalian saja! aku tinggal karena kasihan kalian langsung sampai bingung semuanya ada dimana ...." kata Felix.


Beberapa saat yang lalu sebelum bus terakhir akan berangkat ....


"Sepertinya aku harus memanggil mereka kembali ...." kata Felix mulai mencari keberadaan Tiga Kembar tapi saat Felix melihat Mundebris, mereka bertiga sedang asyik makan jajanan bersama dengan Dokter Mari. Jadi terpaksa Felix mengurungkan niatnya.


(Kembali ke masa sekarang!)


"Kalau aku sih, pasti akan bilang kalau perkemahan kelas kitalah yang sekarang dimulai." kata Teo memikirkan hal iseng kalau berada di posisi Felix.


"Memangnya aku sama denganmu! aku tidaklah seusil itu, tahu?!" kata Felix.


"Apa yang kuharapkan dari Raja Membosankan Seluruh Dunia." kata Teo.


"Coba katakan sekali lagi?!" tantang Felix.


Teo sudah berlari untuk menyelamatkan dirinya dari kemurkaan Felix.


"Dia sendiri yang cari masalah!" kata Tom tidak merasa kasihan sama sekali saat Teo berguling-guling di tanah karena terus tersandung berlari dengan kecepatan penuh tanpa melihat dengan jelas.


"Felix juga usil sebenarnya ... lihat saja dia! dia bisa saja sudah menangkap Teo daritadi tapi terus memberi kelonggaran dan memberi kesempatan untuk Teo berlari." kata Tan.


Teo sudah berlari jauh dari area perkemahan sementara Felix masih mengejarnya. Tan dan Tom baru melewati kantor pengelola perkemahan.


"Kenapa Mertie terus saja mengeluhkan kepergian kita?! padahal kan tidak ada yang terjadi juga ... ada Felix juga!" kata Tom heran melihat makian Mertie di obrolan grup yang tiada henti.


"Itu masalahnya! karena Felix yang menemaninya ... Mertie suka memerintah sedangkan Felix tidak suka diperintah. Kurasa Mertie stres karena tidak bisa mengendalikan Felix sesuka hatinya ...." kata Tan membuat Tom tertawa.


"Hem?!"


"Ada apa?!" tanya Tom melihat Tan berhenti melangkah.


"Mungkin aku salah lihat ...." kata Tan kembali berjalan, mengira tadi ada salah satu pegawai pengelola perkemahan yang bertatapan mata dengan dirinya.


...-BERSAMBUNG-...