UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.74 - Definisi Gagal



"Apa? peliharaan?" Goldwin merasa tersinggung.


Cain hanya berpura-pura tidak mendengar keluhan Goldwin. Mereka berdua pun turun dari bus begitupun Goldwin.


"Kau ini punya kekuatan hebat lain apa lagi?" tanya Mertie.


"Aku tidak sehebat itu ... itu dia orang hebat yang sesungguhnya!" Cain menunjuk Felix yang sedang berdiri di seberang jalan. Diikuti Teo dan Tom yang sedang melambai disamping Felix sedangkan Tan hanya menyapa sambil tersenyum.


Keesokan paginya mereka berlima pun datang ke kuburan kedua orangtua Mertie membawa masing-masing bunga ditangan mereka.


"Terimakasih! kata Mertie.


"Jadi kau sekarang tinggal dimana?" tanya Tom.


"Bukankah kau tinggal bersama bibi dan pamanmu?" tanya Cain.


"Darimana kau tahu?" tanya Tom tapi Cain tidak menjawab.


"Mereka bahkan tidak datang ke pemakaman sama sekali ... aku dirumah mereka hanya dianggap tidak ada sama sekali!" jawab Mertie.


"Bagaimana kalau kau ikut tinggal di panti asuhan juga ... bersama kami?" tanya Tan.


"Tapi hak asuh masih ditangan bibi dan pamanku ... aku tidak bisa seenaknya langsung pergi juga ... terimakasih sudah datang, aku tidak percaya hanya kalian berlima yang datang!" kata Mertie.


"Tapi bagaimanapun juga kaulah yang menang ... kau berhak bahagia dan menikmati kemenanganmu sekarang ... kau bebas melakukan apapun ...." kata Cain menghibur.


"Kau memang bisa diandalkan tapi aku jadi malas bekerja sama lagi denganmu ... kau itu terlalu baik!" kata Mertie membuat yang lainnya menertawakan Cain.


Cain hanya menggaruk kepalanya malu, "Jadi apa yang akan kau lakukan sekarang?" tanya Cain.


"Sekarang aku ingin istirahat dulu ... menikmati hidup sebagai Mertie yang bebas!"


"Kau masih akan melakukan hal mengungkap kejahatan seseorang begitu?" tanya Teo dengan ekspresi berlebihan.


"Karena awalnya untuk kepentinganku sendiri ... akhirnya orang lain yang menikmati dan aku yang menderita ... jadi selanjutnya akan aku lakukan untuk orang lain ... siapa tahu dengan begitu kini giliranku bisa mendapatkan hal yang lebih berharga ...." jawab Mertie.


"Jadi kau tidak akan mau pura-pura dibully lagi nih?" tanya Tom.


"Kalau terlalu cepat melawan nanti orang lain akan curiga juga ...." kata Mertie.


***


Felix dan Cain yang masih canggung tidak berbicara sama sekali didalam kamar. Akhrinya Felix memulai duluan, "Kau mau menemaniku besok?" tanya Felix dari ranjang bawah.


"Ke ... mana?" tanya Cain dari ranjang atas.


"Desa Navaeh, tempat kerja Banks!" jawab Felix.


"Ok ...." jawab Cain santai.


"Tapi hantu baru ini siapa?" tanya Felix menunjuk Idalina yang sedang duduk mengobrol dengan Alger.


"Ceritanya panjang ... jadi ...." Cain ingin menjelaskan tapi berhenti.


"Oh begitu ... kau tidak perlu menjelaskan aku sudah membaca kenanangannya!" kata Felix membuat Cain jadi diam, "Apa harusnya aku membuat dia yang menjelaskan ya?!" Felix jadi serba salah.


Cain yang malu sendiri jadi menutup wajahnya dengan selimut dan mulai tidur.


Keesokan paginya, mereka berlima datang ke ruang makan dan langsung disambut oleh bau roti yang baru saja dipanggang. Daisy terlihat seperti pengemis yang sedang makan roti di meja makan dekat dinding kaca, "Sini ... sarapan sama ibu!" teriak Daisy tapi Teo dan Tom menatap dengan wajah kasihan sekaligus jijik.


Tak ada satupun dari mereka yang ingin mendekati Daisy akhirnya Daisy yang mendatangi mereka, "Kalian tidak dengar aku memanggil kalian?" tanya Daisy membuat mereka semua langsung menutup hidung.


"Eeeiiii ini kan musim dingin, wajar kalau jarang mandi!" kata Daisy santai.


"Biasanya kalau musim dingin, bau badan tidak akan terlalu tercium tapi bau ibu seperti menandakan sedang musim panas!" kata Tom.


"Oh ia aku dengar-dengar Hantu Merah Muda itu masih anak kecil seumuran kalian? bagaimana menurut kalian?" tanya Daisy tiba-tiba.


"Mustahil! aku saja mengetik di Ms.word masih susah ... dan katanya Hantu Merah Muda adalah hacker handal ... umurnya mungkin sekitar 20'an ...." kata Teo membuat yang lain jadi tertawa.


"Memangnya siapa yang bilang begitu?" tanya Felix.


"Tapi bagaimana kalau identitas Mertie sebagai Hantu Merah Muda terungkap? apa dia akan dipenjara?" tanya Tom.


"Eeey mana mungkin ... dia kan pahlawan!" jawab Teo.


"Tapi mau bagaimanapun tindakannya adalah hal ilegal melanggar hak privacy ...." kata Tan.


"Mertie sudah berusaha mengirim bukti ke kejaksaan tapi dari kejaksaan hanya diam saja ...." kata Cain.


"Kau membelanya?" tanya Felix dingin.


Tan yang melihat itu langsung mengajak untuk segera berangkat sebelum mereka bertengkar lagi.


***


Sudah banyak pendaftar yang datang untuk ujian masuk ke sekolah Gallagher, "Semoga aku bisa berteman dengan Hantu Merah Muda!" kata seorang anak perempuan.


"Aku tidak percaya anak SD yang menjadi Hantu Merah Muda ... sepertinya pahlawan itu hanya sekedar meminjam nama saja!" balas anak perempuan lain.


Saat mendengar itu Teo dan Tom melihat Mertie yang ikut berjalan dekat anak perempuan itu sambil mendengarkan musik lewat earphonenya, "Padahal Hantu Merah Muda sedang ada disamping mereka!" kata Teo dengan suara pelan dan Tom merespon dengan tawa.


"Tapi asal muasal nama Hantu Merah Muda kan dari sekolah ini ... wah ... semoga aku bisa diterima masuk sekolah disini!" kata anak perempuan yang berjalan disamping Mertie.


"Apa mereka lupa ya ... kalau ada kejadian potongan jari kelingking dan hilangnya Magdalene di sekolah ini?" kata Cain.


Selain siswa/siswi yang ingin mendaftar, ada juga guru yang melamar pekerjaan.


"Sekolah akan ramai sekali nantinya!" keluh Felix.


Cain mendengar itu dan hanya tersenyum, sebenarnya ingin sekali Cain bercanda seperti dulu lagi dengan Felix tapi Cain merasa tidak punya hak lagi untuk itu.


***


Pulang sekolah Felix dan Cain tidak langsung ikut pulang ke panti bersama tiga kembar tapi mengatakan akan menginap di rumah Daisy. Walau sebenarnya Felix dan Cain berangkat menggunakan kereta menuju Desa Navaeh. Masih dengan suasana yang canggung dan tidak banyak bicara, Felix dan Cain hanya pura-pura tidur sampai ada pengumuman mengatakan telah sampai.


Setelah menggunakan kereta api mereka harus menggunakan bus lagi untuk bisa ke Desa Navaeh yang terbilang desa yang jauh dari kota. Sampai di gerbang masuk desa terasa sejuk sekali. Felix melihat tangan Cain, "Kenapa?" tanya Cain.


"Kau tidak merinding? berarti desa ini aman!" jawab Felix.


"Memangnya aku ini alat pendeteksi?" tanya Cain dalam hati.


"Aku bisa dengar!" jawab Felix.


"Ah, maaf!" kata Cain dan suasana jadi canggung lagi.


"Kemana Banks? seharusnya dia sudah bisa merasakan kehadiranku ... tapi tidak datang menjemput!" kata Cain berputar mencari.


Cain memanggil Goldwin, "Eng?" kata Goldwin malas saat tiba.


"Bisa kau cari seseorang untukku? namanya ...."


Belum selesai kalimat Cain, Goldwin melanjutkan, "Aura ini! Banks!"


"Kau kenal Banks?" tanya Cain.


"Dia yang pernah aku ceritakan itu!" jawab Goldwin.


"Jadi perkebunan Buah Darah yang kita datangi dulu adalah milik Banks ... bukankah katanya kalian bersahabat? kau tidak tahu dia bekerja disini?" tanya Cain.


"Aku yang sudah gagal melindungi sebagai Leaure dan juga sebagai sahabat ... kau pikir aku akan dengan mudahnya menampakkan wajahku dihadapannya?! apalagi sekarang dia sudah menjadi Zewhit!" kata Goldwin membuat Cain menatap Felix.


"Kau adalah Leaure dan sahabat terhebat, Goldwin! kau tidaklah gagal ... hanya saja jika kau tidak memberanikan diri untuk menemuinya, barulah saat itu kau benar-benar gagal dan membuang kesempatan kedua yang tidak semua orang bisa dapatkan ...." Cain menghibur Goldwin.


Felix hanya tersenyum miring, "Kau bilang itu pada dirimu sendiri juga!" kata Felix mengejek.


"Makanya aku ada disini bersamamu kan!" Cain membalas dengan tersenyum. Akhirnya suasana menjadi hangat dan tidak canggung lagi.


...-BERSAMBUNG-...