UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.488 - Kebingungan



Selanjutnya pandangan Teo semuanya terlihat gelap dan telinga terus berdenging. Tubuhnya tidak bisa digerakkan dengan bebas atau lebih tepatnya tubuhnya serasa mati rasa. Butuh beberapa saat sampai perlahan penglihatan Teo mulai kembali tapi masih kabur.


"Teo! Teo! sadarlah!" teriak Tom terus mengguncang tubuh Teo.


"Hahh ...." Teo seperti baru muncul dari dalam air akibat tenggelam, "Apa yang terjadi?!" kesadaran Teo mulai kembali tapi detak jantung dan napasnya masih tidak stabil.


"Kau tidak apa-apa?!" tanya Tan.


"Tidak apa-apa ...." jawab Teo masih tidak yakin apa benar demikian kalau baik-baik saja tapi jantungnya yang beredegup kencang menandakan dia masih hidup merupakan pertanda baik.


"Tidak apa-apa bagaimana?! kau terluka begini ...." kata Tan.


"Aw!" keluh Teo saat Tan menekan lukanya, Teo juga baru sadar kalau terluka karena tadinya tidak merasakan sakit sama sekali, "Apa yang terjadi?!" Teo melihat sekeliling dengan pemandangan yang sangat mengerikan. Melihat bagaimana teman-teman satu angkatan yang tadinya terlihat masih ceria beberapa saat yang lalu kini terbaring tidak sadarkan diri di dalam bus yang terbalik, "Felix dimana?!" tanya Teo.


"Aku juga tidak tahu, dia hanya menahan kita agar tidak terluka parah saat bus terbalik kemudian menghilang entah kemana." kata Tom.


"Kita ... kita harus membantu yang lainnya!" kata Teo mulai memaksakan dirinya untuk berdiri.


"Kalian semua kembali masuk ke dalam bus!" perintah Pak Egan pada anak-anak yang berada di bus yang beruntung tidak mengalami kecelakaan.


"Kenapa aku sangat terlambat mengetahui hal ini?! bukankah seharusnya aku bisa mengetahuinya lebih cepat dengan keadaanku yang sekarang?!" Felix menggenggam erat kedua tangannya untuk menahan emosi. Darah hijau mengalir dari tangan Felix yang terlalu ditekan sehingga kuku Felix sendiri yang melukai tangan Felix.


"Felix, kau dimana?!" teriak Tan, Teo dan Tom terus-menerus.


Tan mengikat luka pada tangan dan kaki Teo dulu untuk dihentikan pendarahannya. Karena Teo lah yang paling banyak terluka diantara mereka bertiga. Disaat Felix mencoba melindungi mereka bertiga, Teo juga melakukan hal yang sama disisi lainnya.


"Felix, pasti terluka parah juga ...." kata Teo baru mulai ingat apa yang terjadi sebelumnya.


"Tan, Teo ...." kata Tom yang terdengar panik dari nada suaranya. Tom sudah mulai bergerak untuk menolong yang lainnya agar bisa keluar dari dalam bus.


"Tunggu, aku bantu ...." kata Tan menuju arah Tom berada mengira kalau Tom sedang meminta bantuan tapi ternyata tidak.


"Osvald ...." Tan menepuk-nepuk pipi Osvald, "Teo! cari tasku yang ada di atas bagasi atas kursi, disana ada ramuan ... cepat!" Tan terlihat langsung pucat dan sangat panik.


Teo dengan sekuat tenaga memaksakan diri untuk mencari tas Tan itu saat dirinya sendiri sedang terluka. Terlebih lagi harus melewati anak-anak lainnya yang sama terluka parah meminta bantuan dan juga ada yang tidak sadarkan diri. Teo yang berhasil mengambil tas Tan langsung dijatuhkan setelah melihat sesuatu didepannya.


"Demelza ...." kata Teo tidak percaya apa yang baru saja dilihatnya.


"Teo! apa yang kau lakukan?!" teriak Tom emosi karena Teo terlalu lama tapi setelah melihat apa yang dilihat Teo barulah Tom mengerti.


"Apa yang terjadi?!" tanya Demelza, "Kenapa aku bisa melihat diriku sendiri?! apa ...." Demelza terdiam sejenak, "Aku sudah mati?!" Demelza tidak percaya mengatakan hal itu dengan mulutnya sendiri.


Tom mengambil tas yang dijatuhkan oleh Teo itu dan kembali ke tempat Osvald berada.


"Tom?!" Roh dari salah satu korban menghalangi Tom melangkah.


"Minggir! kau bisa terluka kalau menyentuhku." kata Tom.


"Bukankah sudah kubilang, jangan menyentuhku!" teriak Tom.


Roh itupun mundur juga, "Kenapa bisa ... apa yang terjadi?! bagaimana bisa?!"


Tan kembali melihat sekitar untuk memeriksa apakah ada Roh Osvald yang kelihatan tapi tidak ada sehingga Tan masih punya harapan untuk menyelamatkan Osvald. Tan merebut paksa tasnya yang ada di tangan Tom untuk segera mengobati Osvald.


"Kau bisa melihat hal seperti ini?! kau bisa melihatku ... tidak ... bukan hanya kau tapi kalian bertiga?!" tanya Demelza sementara Teo masih terdiam di hadapan Demelza.


Terdrngar bunyi alat dari luar yang terus digunakan oleh para guru yang sepertinya sedang memaksa untuk bisa masuk ke dalam bus. Suara dari para guru yang meneriaki setiap nama yang ada di dalam bus itu juga terus terdengar. Karena itu Teo mulai menyadarkan dirinya dan berjalan menuju tubuh Demelza berada.


"Bagaimana?!" tanya Demelza, "Coba periksa yang benar!" kali ini Demelza mulai meninggikan suaranya.


Teo sudah mengecek denyut nadi dan napas Demelza tapi tidak ada tanda-tanda sama sekali. Teo tidak ingin menjawab pada Demelza sehingga hanya melakukan RJP.


"Iya, lakukan itu! kau tahu kan caranya?! Anggota palang merah pernah mengajarkannya pada kita. Walau hanya sekedar teori dan gambar tapi kau pasti tahu bagaimana melakukannya!" kata Demelza meyakinkan.


"Felix ... Demelza ...." kata Tom.


"Didepan ada Efrain, cepat keluar darisana! amankan semua arwah!" perintah Felix, "Disini ... rupanya titik baru gerbang neraka, mereka akan mengambil arwah korban dan menanam batu permata Imperial Topaz. Jadi ...." Felix tidak melanjutkan kalimatnya.


Felix saat ini sedang berada di depan bus yang terbalik itu dan sudah mengeluarkan pedangnya. Idibaltenya tanpa harus ditarik dari belakang langsung terlihat terpasang sendiri seakan Idibalte sudah tahu apa yang haru dilakukan. Darah hijau Felix mengalir ke gagang pedang dan kemudian ke bilah pedang lalu menetes ke aspal.


Situasi tidak ada yang pernah membayangkan bisa seperti itu. Semuanya terjadi begitu cepat dan untuk bisa berpikir jernih pun sulit. Bahkan korban yang tidak dikenal saja membuat mereka kebingungan apalagi saat itu semuanya dikenal oleh mereka.


"Ayo, cepat!" kata Tan sudah bersiap membantu Osvald untuk berdiri setelah diberi ramuan.


Teriakan suara dari Bu Latoya terdengar saat mulai masuk ke dalam bus itu bersama guru lainnya.


"Ayo cepat kita keluarkan mereka!" kata Pak Egan.


"Tan, Tom kalian tidak apa-apa?!" tanya Bu Janet, "Osvald ... dia?!"


"Dia hanya tidak sadarkan diri bu." jawab Tan seadanya.


Sementara Para Arwah Murid kelihatan berlari dihadapan Para Guru meminta tolong tapi tentunya mereka tidak bisa dilihat.


"Teo, cepat keluar darisini! biar bapak yang ambil alih disini!" kata Pak Egan melihat Teo tidak berhenti melakukan RJP pada Demelza. Tapi Teo seperti tidak mendengar suara apa-apa disekitarnya sekarang.


"Cepat keluar darisana!" kata Felix lewat Jaringan Alvauden yang dari suara Felix bisa ditebak kalau sudah sedang bertarung saat ini.


"Teo, sadarlah! aku tahu kau sedang bingung dan panik dengan apa yang terjadi secara tiba-tiba ini. Terlebih lagi mereka adalah teman-temanmu. Tapi Felix, Caelvitamu ... kau pikir dia tidak merasakan hal yang sama?! meski begitu, dia sedang terluka tapi tetap bertarung saat ini di depan sana. Bersikaplah layaknya seorang Alvauden! Lakukan tugasmu sebagai Alvauden! kau boleh bersedih tapi lakukan itu nanti! saat ini belum saatnya untuk itu." kata Winn membuat Teo berhenti melakukan RJP dan mundur digantikan oleh Pak Egan.


"Kenapa aku tidak kembali juga kedalam tubuhku?!" teriak Demelza histeris.


...-BERSAMBUNG-...