UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.411- Dari Target Menjadi Pemain



"Felix akan mati! lakukan sesuatu!" Osvald juga sudah mulai sangat panik dan terus menggoyang-goyangkan Teo dan Tom untuk bangun.


"Aku pusing sekali ...." kata Tom mendorong Osvald agar tidak mengganggunya.


"Jangan khawatir ...." kata Teo menepis tangan Osvald


"Kalian benar-benar sudah gila!" kata Demelza mulai ingin berlari, "Aku yang akan melakukan sesuatu!"


"Kukira kau sangat membenci Felix?!" tanya Tom.


"Aku membencinya tapi setidaknya aku tidak akan membiarkannya mati didepan mataku tanpa melakukan apa-apa." jawab Demelza sudah berlari menuju Felix berada.


"Bahkan Demelza yang benci Felix mencoba melakukan sesuatu, bagaimana bisa kalian diam saja?!" kata Osvald penuh penekanan kalau sedang kecewa.


"Kau tidak kenal Felix saja ...." kata Tom.


Demelza yang berlari menuju tempat Felix berada berhenti ketika melihat sesuatu yang mencengangkan. Felix hanya memegang gigi monster itu dengan satu tangan dan perlahan gigi monster itu retak kemudian hancur menjadi debu selanjutnya seluruh tubuh monster itu mencair. Monster yang sangat besar dan tinggi itu kini hanya menjadi cairan hitam yang mengeluarkan asap berbau busuk.


"Makhluk yang ada disini tidak akan bisa melukai Felix ...." kata Teo melihat Osvald sedang melongo, "Kau bertanya kan, kapan aku mendapatkan kekuatan super?! jawabannya saat bertemu Felix."


"Jadi, Felix juga ...." kata Osvald masih tidak bisa mengendalikan ekspresinya.


"Lebih tepatnya ... dialah awal dari semuanya." kata Tom.


"Jangan mendekat!" teriak Demelza saat Felix berjalan menuju arahnya tapi Felix bahkan tidak melihat ke arah Demelza dan hanya fokus berjalan ke tempat Tiga Kembar berada.


"Tan?!" Felix memangku kepala Tan mencoba menyadarkannya.


"Apa yang terjadi?! bajumu basah semua?! dan luka ini ... kau bertarung dengan siapa diluar?!" tanya Teo.


"Sepertinya aku harus membawa Tan keluar darisini ... kalian bisa hanya berdua saja kan disini?!" kata Felix tidak menjawab pertanyaan Teo.


"Apa maksudmu yang berdua?! ada kami juga!" kata Osvald protes walau agak canggung sekaligus agak takut juga dengan Felix sekarang. Tanpa kekuatan pun Felix sudah ditakuti apalagi saat benar punya.


"Apa yang terjadi diluar sebenarnya?! Verlin dan Zeki ... dan sekarang kau masuk kesini dengan cara seperti ada yang melempar kalian masuk kesini, bukannya sengaja masuk ...." kata Tom meminta penjelasan sebelum Felix membawa Tan.


"Sepertinya kami perlu tahu!" kata Teo dengan wajah serius.


"Diluar sedang ada anak buah Efrain. Zeki melawan Ditte, Verlin melawan Juro 2020 dan aku melawan Wadi. Kalian sudah menyadari pastinya, kalau ada yang tidak diundang masuk kesini pasti ada yang berubah di dalam sini. Malam terakhir, yang di dalam sini sangatlah sempurna tapi diluar sana sangatlah rentan, sangat mudah dimasuki oleh siapapun. Itu tandanya kesempatan bagus untuk menangkap kedua Zewhit yang ada disini." kata Felix.


"Jadi begitu, kau bertarung untuk mencegah mereka masuk kesini." kata Tom sudah mulai paham.


"Dan kalian harus mengakhiri ini dengan benar, walau lawan yang diluar berhasil dibuat mundur tapi kalian juga harus bisa kembali dengan selamat baru bisa dikatakan kita benar berhasil." kata Felix mulai menggendong belakang Tan.


"Mau apa kau?! kau mau mengeluarkannya darisini?! kalau begitu keluarkan kami dulu!" Demelza protes keras.


"Kalian target utama disini, mana ada film berjalan tanpa pemeran utama! sedangkan mereka hanyalah pemeran tambahan, Tan begini karena melindungimu! jadi tahu dirilah!" kata Felix tanpa perasaan.


"Mana bisa begitu?! kau pikir aku disini karena aku mau?!" Demelza masih tidak bisa terima.


Felix terlihat menurunkan Tan membuat Demelza diam mengira perkataannya disetujui oleh Felix tapi nyatanya bukan.


"Tan, bertahanlah ... jangan sampai kehilangan kesadaran lagi!" kata Felix berbisik pada Tan dan Tan langsung merasakan darahnya terpompa dengan cepat, "Wadi masuk kesini, kalian berpindah tempat di sisi lain dari dunia ini agar menjauh darisini!" kata Felix memegang bahu Teo dan Tom.


"Aku masih belum bisa melakukannya ...." kata Teo dan dianggukkan oleh Tom.


"Hanya Tan tadi yang berhasil!" kata Tom.


"Ingat!" kata Osvald yang kemudian sudah sampai di desa itu bersama Tiga Kembar dan Demelza.


"Bagus!" kata Felix melihat bagaimana mereka sudah menghilang, "Desa itu berada paling ujung dan paling jauh darisini ... aman jika mereka disana!"


"Yang Mulia ...." kata Wadi yang berdiri di atas cairan monster yang meleleh tadi.


"Kita bertarung diluar! mengganggu aktivitas di dalam dunia Zewhit adalah sebuah pelanggaran." kata Felix.


Namun, Wadi tidak mengindahkan dan kembali menyerang Felix yang masih belum siap. Zewhit Badut dan Kurcaci mengintip dengan wajah cemberut karena ada tamu tidak diundang masuk ke dalam dunia mereka tanpa izin.


"Semakin lama dia disini, dunia disini akan semakin berubah ... segalanya akan menyesuaikan dengan kekuatan Wadi. Bisa gawat!" kata Felix berusaha terus memancing Wadi untuk keluar darisana tapi Wadi tidak tertarik sama sekali.


"Kita ada dimana?! Felix ada dimana?!" kata Demelza panik, "Aku harus mencarinya dan segera keluar darisini secepatnya!"


"Kau berhasil Osvald, bahkan aku belum bisa melakukannya." kata Tom.


"Apa yang terjadi?! kita baru saja berpindah tempat kan?!" tanya Osvald kebingungan.


"Kini kau tidak memerlukan ini lagi!" kata Teo mengambil senjatanya pada Osvald, "Karena senjatamu sekarang adalah ini!" Teo menunjuk kepala Osvald, "Kau bisa melawan dengan pikiranmu!"


"Kalau kau ke tempat Felix kau bisa saja mati oleh iblis!" kata Tom menarik paksa Demelza untuk kembali bergabung dengan yang lainnya.


"Bagaimana caranya?!" tanya Osvald tidak mengerti.


"Sama seperti yang kau lakukan saat memindahkan kami, kau bisa melakukan apapun dengan pikiranmu saat ini. Dunia ini disebut dunia pikiran karena pikiranlah senjata terkuat disini." jawab Teo.


Osvald masih tidak percaya tapi kenyataan bahwa dia berhasil kesini memang karena dirinya berhasil mengingat dengan jelas bagaimana penampakan desa itu.


"Jadi bagaimana caranya kau melakukannya?!" tanya Teo penasaran karena dirinya masih belum bisa.


"Entah bagaimana tapi aku bisa mengingat tempat ini dengan sangat jelas bahkan setiap detailnya ...." bahkan Osvald pun bingung padahal itu terjadi di dalam kepalanya sendiri.


"Jadi begitu, aku juga mulai ingat dengan jelas setelah menjadi target juga ... tapi kau sudah tujuh malam disini, pasti mengetahui tempat disini lebih baik dari siapapun." kata Teo.


"Lepaskan!" teriak Demelza memukul-mukul tangan Tom.


"Jangan berisik!" kata Tan tapi tidak ada yang mendengar karena suaranya yang kecil.


"Hahh?! gawat!" kata Teo saat semua pintu rumah yang ada di desa terbuka dengan orang-orang membawa senjata masing-masing.


"Oh, iya ... mereka ...." kata Osvald tahu bahwa disinilah dia dipukuli habis-habisan karena itulah juga dia begitu ingat dengan jelas tempat ini.


"Lakukan sesuatu!" kata Teo pada Osvald.


Tom melepas tangan Demelza karena harus memunculkan Sesemax nya sementara Demelza sudah tidak ingin kabur lagi. Melihat bahaya yang ada di depan sangat tidak menguntungkan kalau terpisah-pisah menurut Demelza.


"Melakukan apa?!" tanya Osvald merasa terbebani dan tidak bisa fokus berpikir.


"Osvald, tenanglah!" kata Teo memukul kedua pipi Osvald untuk disadarkan. Sementara para warga desa sudah berkumpul seperti kelompok penjahat tapi memakai pakaian bertani dan pakaian biasa seperti saat di dapur saja, "Mereka tidaklah mempunyai kemampuan bertarung karena didasari dengan karakter yang sudah diatur hanya seorang penduduk desa biasa, tenanglah Teo!" Teo juga menenangkan dirinya sendiri, "Heh?!" Teo kaget melihat bagaimana keahlian penduduk desa yang memutar-mutar senjata seperti seorang profesional.


"Ah, iblis yang datang itu ... pasti kedatangannya masuk kesini yang mengubah ini." kata Tom yang sama persis dengan apa yang dipikirkan oleh Teo juga saat ini.


...-BERSAMBUNG-...