UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.241 - Pengorbanan



"Hormatku pada Caelvita yang ke-119! tidak usah khawatir Yang Mulia dengan pasangan pemain hari kemarin, saya sudah menukarnya sesuai dengan pilihan Yang Mulia ... dan untuk pemain hari ini, saya sendiri yang akan membawanya ...." suara dari laki-laki pemilik panah biru yang masuk ke dalam pikiran Felix.


"Aku belum sempat berterimakasih sudah menyelamatkanku waktu itu dan hari ini kau menyelamatkanku lagi ... terimakasih! tapi apa maksudnya yang kau membawa pemain hari ini?" kata Felix.


"Sudah kewajiban untuk melindungi Yang Mulia Caelvita, tidak perlu berterimakasih Yang Mulia ... sebelumnya saya ucapkan selamat sudah menyelesaikan permainan tukar kematian! saya pamit undur diri ...."


"Tunggu ...." Felix masih ingin berbicara tapi komunikasi sudah diputus.


"Ada apa kau diam saja daritadi?" tanya Teo pada Felix.


"Ada yang datang ...." kata Tom mulai berdiri.


"Itu ...." Teo menyipitkan matanya.


"Bella!" seru Tan.


"Ada apa dia datang kesini?" tanya Tom.


Felix berjalan menghampiri Bella, yang lainnya juga ikut dibelakang.


"Bella ... apa yang kau ...." sapa Felix.


"Kalian terlihat lusuh dibanding saat bertemu di desa dengan pakaian rapi ...." kata Bella.


Felix dan Tiga Kembar menyetujui hal itu, sekarang ini penampilan mereka sangatlah amburadul dan penuh luka. Untungnya ada Banks yang langsung membantu menyembuhkan luka, begitupun Tan yang juga sudah mulai belajar juga merawat luka. Bahkan sudah bisa menyembuhkan lukanya sendiri tanpa bantuan Banks.


"Bisa aku bertemu dengan Kiana ...." kata Bella.


Semua yang mendengar itu langsung otomatis kaget, "Bagaimana kau bisa tahu soal dia?" tanya Tan.


Felix tidak bisa membaca dan mendengar pikiran Bella karena merupakan pemain permainan tukar kematian. Kalaupun Felix berusaha keras, sekarang tidak bisa dilakukan karena kekuatannya terkuras habis, telinganya juga terluka saat mendengar permintaan minta tolong tadi.


"Aku hanya ingin menemuinya untuk yang terakhir kalinya ... bukankah sudah sewajarnya aku bisa melihat siapa yang akan membuatku mengorbankan nyawa ...." kata Bella.


"Sepertinya dia akan mengorbankan dirinya sendiri ... sangat langka melihat pemandangan seperti ini terjadi. Dia akan terlahir menjadi sosok yang hebat dan beruntung di kehidupan selanjutnya!" kata Verlin.


"Jadi kau sudah tahu siapa kami sebenarnya?" tanya Teo.


"Walau aku tahu tidak akan berdampak juga karena aku akan segera mati juga ...." jawab Bella tersenyum.


Felix menyentuh tanah dengan tangan kirinya membuat cahaya biru yang tadi menghilang kini muncul lagi dan tanah mulai berguncang seperti terjadi gempa. Gedung panti perlahan muncul dari dalam tanah. Saat panti sepenuhnya naik ke permukaan cahaya biru juga ikut menghilang seperti terhisap masuk ke dalam tanah.


"Tunggu disini ...." kata Felix berjalan masuk ke dalam panti dan kembali dengan menggendong Kiana yang masih tertidur lelap.


"Lucu sekali ...." kata Bella menyentuh pipi Kiana yang tembem.


"Perbedaan umur kalian juga tidak seberapa ...." kata Teo tertawa.


"Kiana, kau harus tumbuh besar menjadi wanita yang cantik dan anggun. Menikmati hidup sampai hari tua ... kau harus sehat! dengan begitulah caramu bisa balas budi padaku ... aku tahu kalau aku tidak akan berumur panjang tapi kau akan berumur panjang lebih dariku, itu sudah menjadi alasan kuat bagiku untuk merelakan kehidupanku yang sekarang ini ...." Bella memegang benang yang mengarah ke jantungnya dengan meneteskan air mata, "Jika ada kesempatan tolong datang sesekali bermain dengan adikku dan menjenguk nenekku di rumah sakit ...." wasiat terakhir Bella sebelum menghembuskan napas terakhir.


"Tiga kali laki-laki itu sudah menyelamatkanku sekarang ... dan aku bahkan belum sempat menanyakan namanya ...." kata Felix dalam hati, "Sudah jelas kalau laki-laki itu yang membawa Bella kemari dan benang permainan ini tidaklah bisa dilihat oleh pemain jika tidak disentuh oleh seseorang yang memiliki darah keturunan Ruleorum ... dari panah biru itu menandakan kalau laki-laki itu memang keturunan dari Ruleorum. Tapi tanpa Bella mau rela berkorban semua yang dilakukan oleh laki-laki itu juga akan percuma ... terimakasih Bella! beristirahatlah dengan tenang untuk menunggu terbangun di kehidupan selanjutnya ...." sambung Felix.


"Dimana Haera? tidak datang menjemput?" tanya Teo.


"Haera sudah ...." Felix ragu mengatakan tapi tidak ada gunanya juga untuk menyembunyikannya karena cepat atau lambat mereka akan tahu juga, "Haera sudah tidak ada ...." kata Felix.


"Apa maksudmu? bukankah seharusnya dia menjemput pemain terakhir dulu? dengan begitu ... kita bisa mengucapkan selamat tinggal ...." kata Tom sedangkan Teo sudah terisak.


"Verlin, bisa kau mengantarnya ke depan jembatan ...." kata Felix.


"Terakhir aku kesana sebelum diusir, tapi baiklah ... aku akan mengantarnya!" kata Verlin meraih tangan Roh Bella.


"Terimakasih Bella ...." ucap Tan, Teo dan Tom bersamaan.


Matahari yang tadinya tidak menyinari area panti saat pertempuran melawan iblis kini awan hitam mulai menghilang seiring senyum Bella yang juga mulai menghilang pergi bersama dengan Verlin. Tubuh iblis yang tergeletak terbakar habis menjadi debu oleh sinar matahari dan diterbangkan angin.


"Apa yang terjadi dengan Haera? kenapa dia pergi secepat itu? walau aku tahu memang hari ini tapi seharusnya dia yang mengantar semua pemain juga kan?" tanya Tan.


"Terjadi sesuatu diluar dugaan ...." jawab Felix.


"Maksudmu yang Cain membantai Perkumpulan Setengah Sanguiber? itu mustahil! jangan bercanda ...." kata Tom.


"Ya, itu mustahil!" kata Zeki, "Yang disampingku ini merupakan saksi dari perang besar melawan Setengah Sanguiber ... bahkan iblis sekuat dirinya gugur dalam perang itu!" Zeki menunjuk Banks.


Banks hanya diam tidak membantah atau membenarkan perkataan Zeki. Felix sendiri tahu jika Banks bekerjasama dengan Cain.


Tubuh Bella yang sudah tidak bernyawa dibawa ke rumah sakit tempat neneknya dirawat. Diletakkan di samping ranjang neneknya berbaring. Banks yang menawarkan diri membawanya. Sementara Felix, Tiga Kembar dan Zeki menuju sekolah.


Sampai di sekolah tidak ada yang istimewa terlihat tapi perasaan tidak enak langsung terasa saat menginjakkan kaki masuk ke dalam sekolah.


"Kalian siap?" tanya Felix memberi tahu mereka untuk menyiapkan senjata masing-masing.


Felix yang duluan masuk ke Bemfapirav kemudian diikuti oleh yang lainnya. Mereka disambut oleh aura panas yang mengelilingi. Sekolah yang ada di Bemfapirav terbakar dan terlihat banyak tumpukan Setengah Sanguiber yang memakai tudung merah tergeletak di atas tanah. Ditengah-tengah tumpukan mayat itu ada sosok yang sedang duduk dengan pedang masih menancap di tubuh seseorang.


"Cain?!" teriak Felix dan Tiga Kembar.


"Apa yang kau ...." Tan tidak pernah membayangkan jika Cain melakukan hal sekeji ini.


Zeki sendiri tidak sadar menjatuhkan pedangnya saking tidak percayanya jika hanya satu orang yang menghabisi perkumpulan Setengah Sanguiber ini. Dari semua generasi yang dituliskan oleh sejarah, perlu mengerahkan segala prajurit dan ksatria Viviandem serta Optimebris yang merupakan prajurit khusus yang memiliki kekuatan istimewa dan kekuatan diatas rata-rata.


Tapi kali ini hanya seorang Setengah Leaure, anak berusia 11 tahun yang mengalahkan Perkumpulan Setengah Sanguiber yang menjadi musuh dari masa ke masa itu.


"Apa ini benar terjadi? bagaimana mungkin?" Zeki hanya bisa tercengang.


...-BERSAMBUNG-...