
Tanpa gelang yang diberi Nenek Alviani pun kini Felix bisa mendengar pikiran Alger.
"Apa tadi kau bilang?" teriak Felix mengagetkan mereka berempat.
Hanya Cain yang menyadari bahwa saat ini Felix sedang berbicara dengan hantu. Cain berpura-pura marah dan pindah tempat duduk menarik tiga kembar ikut bersamanya meninggalkan Felix sendirian.
"Kau bilang apa tadi, Alger?"
"Kucing tadi ... aku memakannya!"
"Apa!!!"
"Bagaimana bisa kau setega itu ... dengar Alger, membunuh kucing dan memakannya adalah hal yang buruk ...."
"Tapi aku ini hantu ... aku tidak bisa memakan makanan manusia lagi dan kucing tadi bisa melihatku dan aku bisa menyentuhnya ... jadi aku memakannya ...." jawabnya polos.
Felix merinding mendengarnya dan mulai memandang mata Alger. Seketika Felix langsung membaca kenangan Alger selama berada di stasiun kereta, "Ternyata begitu ...."
"Sekarang kau ikut dengan kakak tinggal! tinggalkan stasiun kereta ini!"
"Tapi ... baiklah ...."
Menerima energi kehidupan manusia ternyata juga membuat energi kejahatan dari manusia itu ikut juga. Semakin lama Alger disana menerima energi dari banyak manusia akan membuat kepribadiannya menjadi berbeda. Apalagi untuk Alger yang belum tau membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.
Sampai di rumah Nenek Alviani yang seperti istana itu, setelah berjalan sebentar dari stasiun kereta. Banyak sekali karangan bunga ucapan belasungkawa. Ternyata Nenek Alviani merupakan pemilik dari brand aksesoris perhiasan terkenal, "Jadi pedagang pinggir jalan? maksudmu nenek itu ternyata orang kaya?" kata Tom dengan mulut menganga.
"Lebih tepatnya ia hanya ingin memberikan gelang ...." kata Felix dalam hati.
Walau tubuh Nenek Alviani sudah dikuburkan, kini tinggal para pelayat yang datang memberi ucapan turut berduka cita kepada keluarga Nenek Alviani.
Ayah Iriana yang melihat kedatangan Felix memanggilnya untuk masuk dan dilihatnya rumah yang penuh dengan hiasan berkilauan, "Rumah penjual perhiasan ...." Tom sambil melongo.
Di ruang tamu dipasang foto Nenek Alviani dengan bunga mawar biru mengelilingi, "Bunga Mawar berwarna biru memangnya ada?" tanya Tan.
"Tidak ada ... tidak ada pigmen biru alami dalam mawar!" jawab Cain.
"Bunga Mawar Biru melambangkan suatu ketidakmungkinan yang dapat terjadi. Oleh karena itu, mawar biru merupakan sesuatu yang mustahil untuk dicapai yang hanya akan tetap menjadi mimpi yang tidak pernah dapat diwujudkan, namun melalui usaha sesuatu tersebut dapat terjadi ...." Ayah Iriana menjelaskan dengan menatap jam tangan berwarna biru gelap sambil tersenyum.
"Tidak seperti pemakaman ...." kata Tom.
Tamu yang datang terlihat seperti hanya sedang menghadiri pesta. Tersedia minuman dan makanan yang berjejer dan juga pelayan yang sedia mengganti atau mengisi gelas minuman tamu yang kosong.
"Aku tahu apa yang kalian pikirkan ...." kata Ayah Iriana mempersilahkan mereka duduk, "Yang harusnya pemakaman untuk berduka tapi dipakai untuk membicarakan bisnis ...."
"Bukannya kami tidak boleh mendengar hal seperti ini ...." Teo sambil memaksakan tersenyum.
"Karena kalian masih muda? jangan jadikan umur menjadi alasan untuk membatasi area pengetahuan kalian tentang dunia ...."
"Tidak heran dia adalah Ayah Sang Caldway ...." Felix mengagumi.
Alger yang lepas sebentar dari pandangan Felix kini berkeliling menembus semua tamu membuat Felix panik karena tiba-tiba para tamu langsung mengeluh pusing semua.
"Jangan-jangan ada ha ...." tidak selesai kalimat Ayah Iriana, ia langsung pergi entah kemana.
Tak lama kemudian Alger yang kini duduk di lantai tiba-tiba menutup hidungnya dan berlari keluar rumah, "Al ...." Felix ikut mengejar.
"Kau kenapa?"
"Aku mencium bau yang membuat hidung, tenggorokan dan dadaku seperti terbakar kak."
"Sepertinya Ayah Iriana telah melakukan sesuatu."
"Hem ... kakak yang tadi kecil kenapa jadi besar?" kata Alger menunjuk seseorang yang mirip Cain kini berjalan mendekatinya.
"Cain?" Felix membuka matanya lebar-lebar memandangi dari bawah sampai atas.
"Iya ini aku ... atau lebih tepatnya Cain dari 9 tahun yang akan datang ...."
"Kau hantu? apa yang terjadi? tapi masa depan yang kulihat saat kau meninggal kurang lebih tiga tahun yang akan datang mungkin... apa ini artinya aku berhasil mengubah masa depan? tapi kenapa ... apa maksudnya ... kau datang ...." Felix memeluk Cain yang berumur 19 tahun.
"Aku bukan hantu, aku dari masa depan."
"Apa yang terjadi dengan rambutmu?"
"Ah, ini ... berubah saat masuk 17 tahun."
"Apa yang terjadi? bagaimana dengan Teo, Tan dan Tom?"
Cain yang berumur 19 tahun itu hanya menghembuskan napas, "Kenapa kau tidak menjawab?!" Felix meninggikan suaranya.
"Aku datang untuk itu ... memperingatkanmu agar tidak usah menyelamatkan kami!"
"Apa kau bilang? kau mau aku membiarkanmu meninggal di depan mataku? kau ini memang keras kepala sekali!!!"
"Felix!!!" teriak Teo dan diikuti Cain yang terlihat dibelakangnya memasang wajah datar.
"Oh iya, bukankah hari ini kita bertengkar ya?" kata Cain berumur 19 tahun sambil tertawa kecil.
"Jangan tertawa! apa mereka tidak bisa melihatmu?"
"Tidak bisa, hanya kau yang Caelvita yang bisa melihat tapi kenapa dia bisa melihatku yah?" Cain menunjuk Alger.
Felix masuk kedalam rumah lagi setelah dipanggil dan menitipkan Alger bersama Cain 19 tahun di halaman rumah Nenek Alviani.
Felix membuang muka, "Apa yang terjadi? kenapa rambut pirang Cain di umur 17 tahun berubah jadi putih? apa ada hubungannya dengan Verlin yang juga berambut putih?"
Sebelum mereka pulang, Ayah Iriana menemani dan menyediakan mobil untuk mengantar mereka pulang.
"Paman? namanya siapa?" tanya Felix sebelum masuk kedalam mobil.
"Kelvin William ...."
"Jadi, Iriana William ...."
"Kau kenal Iriana?" tanya Kelvin dengan mata berair, "Tunggu ...." Kelvin melihat kaos tangan yang dipakai Felix, "Kau penerusnya ...." kini Kelvin meneteskan air mata.
"Felix Fane Farrel ...." diulurkannya tangan Felix dan langsung diterima dengan senang hati oleh Kelvin.
"Farrel? kau dari keluarga Farrel?"
"Memangnya ada nama keluarga Farrel?"
"Fraser Fitzgerald Farrel adalah salah satu orang penting yang tiba-tiba menghilang 10 tahun yang lalu bersamaan dengan meninggalnya Iriana."
"Apa dia ayahku?" tanya Felix dalam hati.
"Tapi setahuku dia belum menikah ... sekarang kamu tinggal dimana Felix?"
"Di Panti Asuhan Arbor."
"Umur kamu sekarang 10 tahun?"
"Iya."
****
Dipandanginya kartu nama Ayah Iriana yang ternyata adalah seorang polisi.
"Apa sebenarnya hubungan Perang Mulia 10 tahun yang lalu dengan meninggalnya Iriana dan menghilangnya orang-orang ... dan apa orang bernama Fraser itu benar adalah ayahku?"
Dengan mobil mewah yang membawa mereka jauh-jauh diantar sampai ke panti membuat mereka semua kebanyakan tertidur.
Sesampainya di gerbang panti sudah ada Cain 19 tahun dan Alger.
Dipandanginya Cain 10 tahun dan Cain 19 tahun bergantian. Tapi Cain 10 tahun yang masih kesal masuk duluan kedalam panti diikuti tiga kembar yang juga sudah sangat mengantuk dan masih ingin melanjutkan tidur di mobil.
Setelah berterimakasih dengan sopir yang sudah jauh-jauh mengantar, Felix langsung menuju Cain 19 tahun dan Alger.
"Bagaimana kalian bisa cepat sekali sampai?"
Cain 19 tahun dan Alger hanya tertawa.
"Alger mulai sekarang kau tinggal disini bersamaku, tapi dengan satu syarat ... tidak boleh berjalan menembus siapapun yang ada disini ... janji?"
"Janji!"
"Tenang saja, aku sudah menarik energi tidak baiknya ...." kata Cain 19 tahun.
"Kau punya kekuatan juga? tunggu ... bukan itu yang penting sekarang, jika kau datang dari masa depan hanya untuk menghentikanku menyelamatkanmu ... kau hanya membuang waktumu Cain ...."
Dilihatnya Cain 10 tahun yang mengintip dari jendela melihat Felix tapi setelah ketahuan Felix dia malu sendiri dan langsung menutup tirai.
Cain 19 tahun tertawa kecil melihat tingkah lakunya 9 tahun yang lalu, "Maaf ... waktu itu aku tidak tahu kau telah mengalami hari yang berat."
"Sejak kapan kau datang dari masa depan?"
"Dari Rumah Bu Daisy saat kau melihat masa depan untuk pertama kalinya."
"Kau baik-baik saja kan?" Felix memeluknya, "Bisa berumur 19 tahun adalah bukti bahwa aku berhasil kan?"
"Kau tidak perlu melakukan itu Felix ... tinggalkan saja aku dan ...." belum selesai kalimat Cain langsung ada yang memukul kepalanya, "Siapa yang berani ...." Cain kesal berbalik dan hanya tersenyum kecut, "Ah, Lix ... kau datang ... hahaha ...."
Felix 19 tahun juga kini datang dari masa depan, "Apa yang terjadi dengan matamu?" tanya Felix 10 tahun.
"Kau tidak perlu tahu!"
"Kau menyebalkan sekali!"
Felix 19 tahun mendengus "Aku ini kau!"
Mata Felix 19 tahun sebelah kiri terlihat berwarna putih.
"Kau buta di mata kiri?"
"Iya kau buta nanti!" Felix 19 tahun kini menarik paksa Cain 19 tahun, "Katanya liburan ... kau liburan ke masa lalu, huh?" Omel Felix ke Cain sambil berjalan menjauh.
"Dengar Felix, apapun yang terjadi ... kau harus menyelamatkan mereka, jangan dengarkan apa yang dikatakan Cain, aku juga percaya kau bukan ... tidak ... maksudku kita bukan tipe yang suka mendengarkan orang lain bukan ... lagipula menyelamatkan mereka sama dengan menyelamatkan dunia ...." kata Felix 19 tahun yang seperti berbicara melalui pikiran Felix 10 tahun.
Cain dan tiga kembar keluar memanggil Felix dari dalam panti karena Felix lama diluar, "Ayo baikan ...." kata Cain 10 tahun yang mengira Felix tinggal diluar karena masih marah.
Felix dan Cain dari 9 tahun yang akan datang kini berjalan melewati lingkaran bersinar biru yang terlihat ada jarum jam dan Cain memutarnya dan menoleh kebelakang bersamaan, "Sampai jumpa 9 tahun yang akan datang ... kau tidak akan kehilangan siapapun ...." kata Felix 19 tahun.
Lingkaran itu menghilang, "Jadi nanti aku akan lebih tinggi dari Cain ...." gumam Felix.
...-BERSAMBUNG-...