UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.439 - Kebetulan?!



Felix masih terus mengikuti pemilik perkemahan Incia untuk mendapatkan informasi tapi tidak ada yang didapatkannya. Bahkan kembali memeriksa semua pengelola satu per satu, takutnya kalau Felix melewatkan sesuatu. Tapi sama saja, walau memang ada pegawai yang baru datang hari ini tapi hanya satu yang sebenarnya tidak terlalu bisa dikatakan istimewa juga. Ada satu pegawai yang memiliki sedikit Aura Aluias, "Tapi dengan aura sedikit begini ... dia bukanlah Setengah Aluias. Dia tidak punya kemampuan untuk memanggil gerbang." kata Felix.


Dengan satu pegawai yang lain daripada yang lain itu memang kelihatan mencolok tapi bukanlah seseorang yang patut dicurigai, "Tadi dia juga yang lewat saat aku bersama mereka, tapi dia tidak bisa merasakan sesuatu ... menandakan dia tidaklah memiliki insting seorang keturunan Quiris. Bahkan dibawah Cairo sepertinya ...." kata Felix lagi masih menyelidiki.


Felix kini duduk dihadapan laki-laki yang satu-satunya memiliki aura Quiris yakni sedikit aura Aulias. Satu-satunya keturunan Quiris yang ada disana, "Tidak mungkin dia bisa memanggil gerbang ...." gumam Felix tepat di depan wajah laki-laki itu.


Pegawai pengelola perkemahan yang memiliki sedikit aura Aluias itu terlihat sangat rajin bekerja. Nama yang tertera di papan namanya adalah Ed.


"Hanya Ed?! nama panggilan kah? tapi pegawai lain memakai nama lengkap ...." kata Felix melihat papan nama pegawai lain.


Ed tidak pernah kelihatan tinggal diam walau semenit, selalu saja bergerak. Felix kesulitan mengikuti Ed yang aktif itu, "Ck, rajin sekali orang ini ... tapi dia selalu saja tersenyum ... dasar aneh!"


"Kalian mau kemana?!" teriak Felix berhenti mengikuti Ed setelah melihat Tiga Kembar berjalan hendak keluar gerbang perkemahan.


"Pulang!" sahut Teo hanya terus berjalan tanpa menoleh.


"Apa?!" Felix kembali berteriak dan dengan secepat kilat sudah tiba dihadapan mereka bertiga untuk dihadang.


"Tanaman Leaure sangatlah kuat Felix, bagian dari tanaman itulah yang selalu dipakai sebagai ramuan dasar untuk perisai atau perlindungan. Apalagi ini tanamannya langsung yang ada disini, mustahil akan ada yang bisa melakukan sesuatu." kata Tan.


"Lebih baik kami berlatih atau berdiskusi dengan Banks. Untuk melakukan sesuatu tentang gerbang neraka sebelum kembali normal lagi." kata Tom.


"Sama saja membuang waktu kalau kami terus disini sementara kita tahu kalau disini sangatlah aman." kata Teo.


"Baiklah ... pergilah!" kata Felix menyerah diserang oleh fakta.


"Kau?!" tanya Tom.


"Aku masih mau tinggal sebentar ...." kata Felix sudah berjalan berlawanan arah dengan mereka bertiga.


Tan, Teo dan Tom berlari keluar jalan raya katanya dianggap sebagai latihan. Butuh sekitar 30 menit untuk bisa ke jalan raya kalau menggunakan kendaraan. Tapi dengan berlari memakan lebih banyak waktu lagi. Beberapa kali mereka istirahat singgah sebentar untuk memulihkan pernapasan dan juga mengistirahatkan kaki.


"Kanan hutan, kiri hutan, belakang hutan ... bahkan di depan juga masih hutan ...." keluh Teo karena masih belum melihat jalan raya.


"Biasanya aspal hangat, kenapa punggungku terasa dingin ...." kata Tom yang bangun setelah berbaring ditengah jalan.


"Bahkan kalau keluar, sulit mendapat kendaraan. Pasti kita harus berjalan lebih jauh lagi ...." kata Tan.


Mereka bertiga hanya bisa terus mengeluh. Setelah meninggalkan Felix sendiri, akhirnya mereka menyesal seharusnya tinggal saja dulu menunggu ada kendaraan yang mau keluar sehingga mereka bisa ikut. Biasanya ada guru yang ke kota membeli perlengkapan atau keperluan lain saat istirahat menjelang malam.


Felix yang masih ada di area perkemahan, kali ini sudah diam duduk mengawasi dari jauh saja. Sudah tidak mengikuti pegawai lagi karena tidak mendapatkan apa-apa juga sebagai informasi penting yang diperlukannya.


Anak kelas 1 terlihat sedang bermain secara kelompok di depan panggung pertunjukan berada. Pak Egan terlihat tertawa keras karena karena tidak ada kelompok yang melakukan secara benar. Semuanya kacau tapi anak-anak terlihat sangat bahagia walau sudah dipenuhi tepung, telur, minyak.


"Tinggal digoreng mereka ...." kata Felix usil.


Ed terlihat tertawa dan menjatuhkan barang, Felix kira Ed mendengar perkataannya tapi ternyata salah. Ed mendengar lelucon dari pegawai lainnya, "Kukira dia bisa mendengarku ... sudah tentu dia tidak bisa mendengarku. Apa yang sebenarnya yang kuharapkan?!" Felix merasa percuma tinggal disana seperti malas-malasan tidak melakukan sesuatu yang bermanfaat, "Lebih baik aku pergi juga ...."


Sementara itu Tiga Kembar sudah ada di jalan raya tapi tidak ada kendaraan satupun yang lewat. Makanya mereka harus berjalan lebih jauh lagi untuk ke jalan yang lebih besar.


"Ada mobil!" kata Tan begitu bahagia.


"Bukan kendaraan umum, bagaimana kita bisa menghentikan mobil pribadi itu?" tanya Tom.


"Aku punya cara!" kata Teo.


"Wah, pikiranmu jahat sekali! jangan sampai kau jadi pemilik bengkel!" kata Teo dengan cepat mengambil ranting pohon yang memiliki daun lebat. Tan dan Tom juga ikut bergerak cepat karena mobil itu sudah dekat. Mereka menumpuk ranting dengan dedaunan yang rimbun di tengah jalan.


Kalau kendaraan melaju dengan kecepatan tinggi tidak akan berbahaya jika ditabrak tapi jika kendaraan dengan kecepatan sedang pasti akan singgah untuk mengecek apakah aman untuk dilewati.


Ide Teo terbukti berhasil, dari pintu pengemudi terbuka dan juga disamping pengemudi ikut turun dari mobil menyingkirkan apa yang diletakan oleh Tiga Kembar di tengah jalan ke pinggir jalan. Berkat itu, mereka tidak perlu menampakkan diri dan hanya langsung naik ke dalam mobil diam-diam.


"Mereka bukan penjahat atau semacamnya kan?" tanya Teo saat mobil sudah kembali jalan.


"Kaulah yang berpikiran jahat! sudah baik mereka memberi kita tumpangan!" kata Tom akhirnya bisa membalas Teo.


"Mereka tidak tahu kalau kita ada disini ... bisa saja kalau kita meminta tumpangan mereka menolak." kata Teo.


"Yang kita lakukan sekarang ini adalah hal buruk! seharusnya kau malu mengatakan itu di depan penyelamat kita." kata Tan pada Teo.


"Di depan?! kita kan dibelakang ...." kata Teo.


Tan menghela napas, malas berdebat dengan Teo yang sedang dalam mode usil.


Tiga Kembar telah sampai di pelabuhan, mobil yang ditumpanginya ternyata menuju kesana. Akan menyeramkan kalau pintu mobil dibuka secara tiba-tiba saat mobil sedang jalan jadi mereka ikut saja ke pelabuhan.


"Sama saja, kita harus kembali berjalan lagi keluar!" keluh Tom saat akan membuka pintu mobil.


"Tunggu, lihat!" seru Tan menyuruh Teo dan Tom melihat kalung.


"Iblis!" Tan, Teo dan Tom panik, tidak jadi membuka pintu mobil dan masih berada di dalam mobil.


"Apa ini hanya kebetulan?!" kata Teo melihat orang yang mengendarai mobil yang ditumpanginya kini bertemu dengan seseorang yang memiliki aura iblis.


"Takdir ...." kata Tan.


"Felix ...." Tom menghubungi lewat Jaringan Alvauden.


"Semua pegawai sudah ada tapi tidak ada yang Setengah Quiris. Ada yang memiliki aura Aluias tapi sangat sedikit, bahkan lebih kurang dari yang dimiliki Cairo." kata Felix asyik menjelaskan.


"Aku tidak peduli!" kata Teo membuat Felix yang masih ingin menjelaskan kesal.


"Lalu kenapa kau menghubungiku kalau bukan untuk informasi?!" kata Felix sebal.


"Ada ... iblis!" kata Tan.


"Apa?! kalian dimana memangnya?!" tanya Felix langsung berdiri.


"Ada orang lain juga ...." kata Tom tidak menyelesaikan kalimatnya.


"Siapa?!" tanya Felix merasa ada sesuatu yang buruk.


"Ada Bu Daisy juga!" sahut Tiga Kembar bersamaan.


"Tunggu, aku akan segera kesana!" kata Felix terburu-buru berlari sehingga tidak sengaja menabrak salah satu pegawai saat akan keluar gerbang perkemahan, "Aku menabraknya?!" Felix meghentikan langkahnya karena seharusnya dia tidak bisa disentuh oleh manusia kalau memakai Idibalte.


...-BERSAMBUNG-...