UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.338 - Malam Berdarah



Cairo dan Tiga Kembar memutar arah untuk menuju tempat penggalian sumur berada. Teo yang kesulitan berlari dengan kakinya yang keseleo terlihat sangat menderita menahan sakit. Tan dan Tom melirik Cairo yang terlihat begitu fokus sehingga sama sekali tidak membuat efek ramuan menghilang walau hanya sebentar saja. Padahal Teo saja saat pertama kali menggunakan ramuan itu, selalu muncul secara tiba-tiba seperti kilatan petir atau flash kamera yang menunjukkan wujudnya kemudian memghilang lagi saat fokus.


"Kak Cairo memang berbeda ...." kata Tom setelah sampai di tempat sumur digali.


"Setuju!" kata Tan.


Karena penggalian sumur itu secara manual maka membutuhkan waktu yang lama.


"Kenapa mereka tidak berhenti-berhenti juga?! sudah malam begini juga ...." kata Teo.


"Tinggal sedikit lagi mereka menemukan korban kalau dilihat-lihat ...." kata Tom.


"Ya, atau mereka yang akan menjadi the next korban selanjutnya disini!" kata Teo sudah pesimis.


"Kita harus berpencar! Tom dan Kak Cairo ke desa, biar aku dan Teo disini menjaga!" kata Tan.


"Oh, kau mengalah ...." kata Tom.


"Mengalah?" tanya Teo bingung apa yang dimaksud.


"Mengalah dengan mengambilmu yang sudah tentu adalah beban." kata Tom dengan wajah paling menyebalkan yang dilihat oleh Teo.


Teo ingin sekali memukul wajah Tom saat ini tapi ditahan karena kakinya yang sakit sekarang lebih menyebalkan lagi.


Tom dan Cairo keluar dari hutan mendapati polisi masih setia ada disana walau jasad korban sudah tidak ada.


"Setidaknya ada mereka jika terjadi sesuatu ...." kata Tom.


"Membantu atau malah menjadi penghalang, hanya dua kemungkinan itu." kata Cairo.


"Warga desa juga seperti kurang pekerjaan saja, kenapa keluar rumah semua menonton hal seperti ini ...." kata Tom heran.


"Karena pada dasarnya manusia itu tertarik dengan drama. Melihat keributan seperti ini seakan bisa menjadi pelarian dari rasa bosan atau ada orang yang secara naluriah memang menyukai keributan." kata Cairo.


"Hahh ... inilah kenapa sinetron bisa sangat laku." kata Tom.


"Kita juga tidak bisa memasukkan mereka ke dalam lemari untuk disembunyikan ... bagaimana ya cara melindungi mereka?!" tanya Cairo.


"Apa ...." Tom melihat ada yang lewat di dekat kakinya.


"Hahh?!" Cairo yang melihat juga kaget melihat banyaknya ular keluar dari dalam hutan. Seperti lautan ular yang mengalir membuat para polisi menembakkan senjatanya dan petugas forensik berteriak berlari ketakutan.


Tapi berkat itu para warga juga bisa bergegas kembali ke rumah masing-masing. Lautan ular itu menuju desa tapi beberapa saat kemudian berbelok memutar arah.


"Garam Ruleorum, setidaknya bekerja juga." kata Tom.


"Ada apa ini? apa karena iblis ular jadi bisa mengendalikan ular juga?" tanya Cairo.


Polisi masih terus menembakkan peluru dari pistolnya sampai peluru terakhir.


"Sepertinya dia tidak akan membantu ...." kata Tom melihat para polisi itu sudah kehabisan peluru.


Sebuah benda atau mungkin seseorang di langit terlihat terbang dan mulai mendarat keras di tanah. Itu adalah Felix dengan pedang menancap di dada kanannya.


"Felix?!" teriak Tom.


Terjadi guncangan tanah membuat yang ada disana heran apa yang sedang terjadi. Nyatanya saat ini Felix sedang berlumuran darah hijaunya sendiri.


Semua lampu yang ada di desa tiba-tiba mati dan seketika Tom dan Cairo merinding melihat wujud dari iblis ular itu yang berubah menjadi sangat besar.


"Cepat!" teriak Felix.


"Dia akan berubah menjadi ribuan ular dan merasuki tubuh warga desa. Garam Ruleorum tidak bekerja pada Iblis tingkat tinggi sepertinya. Kalian harus membunuh ular itu sebelum merasuki orang-orang!" kata Felix.


"Apa?!" kata Cairo panik.


Cairo tidak mengerti bagaimana iblis ular itu akan berubah menjadi ribuan ular menurut perkataan Felix itu. Cairo juga tidak bisa bertanya mengingat sekarang bukan saat yang tepat. Tapi pertanyaan Cairo itu langsung terjawab juga. Tubuh iblis itu perlahan berubah seperti mencair tapi sebenarnya tidak, melainkan tubuhnya berubah menjadi ribuan ular kecil.


Tom dan Cairo segera menusuk, menebas, melempari batu, melakukan segala cara untuk membunuh ular yang berusaha masuk ke dalam rumah warga. Setidaknya ada polisi yang membantu mereka juga, sementara wartawan hanya terus mengambil gambar saja dengan naik ke atas mobil.


Teriakan mulai terdengar dari rumah warga, Tom dan Cairo tidak bisa memungkiri bahwa mereka berdua tidak bisa menghentikan semua ular yang ada disana.


"Tan, Teo kalian dimana? iblisnya disini jadi kalian tidak perlu khawatir dengan yang disana!" kata Tom lewat Jaringan Alvauden.


"Apanya yang tidak perlu khawatir?! kami sedang sibuk menghentikan mereka saling menyerang dengan menggunakan alat penggali sumur mereka masing-masing sekarang." kata Teo.


"Terjadi juga disana?" tanya Tom.


"Kami tidak bisa segera kesana Tom, jadi apapun itu lakukan yang terbaik juga disana." kata Tan.


Felix mulai memaksakan diri berdiri dengan pedang iblis ular itu masih menancap di dadanya. Pedang besar yang terlihat sangat tidak adil untuk Felix dengan tubuh kecilnya.


"Kalian hanya perlu mencari ular yang matanya berwarna selain jingga." kata Felix sudah berdiri tapi langsung tersungkur kembali ke tanah.


"Selain jingga? kan matanya jingga." kata Tom.


"Itu tipuan, kalian tidak lihat?! semua mata ular berwarna jingga jadi pasti akan ada satu dengan mata yang berbeda. Itu adalah tubuh aslinya, jadi hanya perlu membunuh satu ular itu." kata Felix.


Tom dan Cairo melihat semua mata ular yang berhasil dibunuhnya dan memang benar yang dikatakan oleh Felix. Polisi sudah menuju rumah warga yang berteriak itu tapi teriakan dari rumah lain kembali terdengar.


"Aku kesana, Kak Cairo kesana!" kata Tom menunjuk arah berlawanan.


"Hati-hati!" kata Cairo yang menyembunyikan tangannya yang sebenarnya gemetaran. Membayangkan apa yang akan terjadi di desa itu, membayangkan pembantaian yang dikatakan oleh mereka membuat Cairo menelan ludah dengan keringat bercucuran. Felix saja bisa diserang seperti itu, apalagi dirinya. Cairo merasa munafik karena sedang berusaha menolong warga desa tapi di dalam hatinya mengkhawatirkan keselamatannya sendiri juga, "Selemah inikah aku?!" Cairo merasa malu.


Tom yang sedang berlari mendapati banyak warga desa yang sudah terluka. Ada yang menyerang dan ada yang menahan serangan itu.


"Paman! apa yang paman lakukan?!" Seorang remaja laki-laki terlihat kesusahan menahan pisau yang hampir menyentuh matanya itu.


Banyak yang mengalami hal serupa, keluarga yang menyerang keluarganya sendiri. Tidak ada tetangga yang bisa menolong karena semuanya mengalami hal yang sama.


"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Polisi yang datang dengan membawa seseorang yang sedang mengamuk dengan sudah diborgol tapi tersadar bahwa sepertinya mereka harus menangkap semua orang yang ada di desa itu sekarang.


Cairo terus terluka karena menahan dan melindungi serangan dari seseorang yang telah dirasuki. Hingga akhirnya efek ramuan tidak kelihatannya hilang. Tapi dengan begitu Cairo juga bisa dibantu oleh warga yang tidak dirasuki.


"Kau tidak apa-apa anak muda?" tanya Seorang Ibu paruh baya yang melihat luka pada tubuh Cairo yang sudah sangat banyak.


"Tidak apa-apa bu, ibu sendiri tidak apa-apa?" Cairo balik bertanya karena melihat banyak noda darah di pakaian ibu itu.


"Tidak, ini bukan darahku. Aku terpaksa melukainya karena membela diri ... bisa kau bantu aku untuk mengikatnya?" tanya Ibu itu.


"Tidak, bantu aku dik!"


"Bantu aku saja!"


"Tolong!"


"Aku akan membayarmu, jadi tolong!"


Banyaknya teriakan yang minta dibantu untuk menghentikan keluarga mereka masing-masing membuat Cairo bingung harus membantu yang mana terlebih dahulu.


...-BERSAMBUNG-...