UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.328 - Cahaya Merah di Tanah



"Menurutmu aku akan baik-baik saja? setelah mendonorkan darah sebanyak itu!" kata Felix membuat Tom tertawa.


Tom membantu Felix berjalan menuju pohon besar yang ada didekat sana untuk bersandar beristirahat.


Cairo juga perlahan mendekat kesana, "Maaf, aku tidak membantu sama sekali."


"Aku bisa mati tadi tanpa Kak Cairo saat Ditte menyerangku. Kak Cairo sendiri tidak apa-apa?" kata Tom.


"Aku baik-baik saja." jawab Cairo merasa malu dihadapan Felix dan Tom.


"Mana mungkin baik-baik saja! terkena pukulan dari Iblis yang memiliki dendam akan memberi pengaruh buruk terhadap tubuh. Bahkan bisa membuat sial selama 40 hari." kata Tom mengeluarkan sesuatu dari saku dalam jaketnya.


"Apa itu? garam?" tanya Cairo melihat garam yang bersinar biru itu.


"Garam Ruleorum, bisa menghilangkan sesuatu yang menempel seperti hal buruk pada kita setelah pertarungan." Tom melemparkan garam pada Cairo kemudian pada dirinya sendiri juga.


"Kau tidak melakukannya pada Felix?" tanya Cairo.


"Ah, Felix? bahkan hal buruk takut menempel pada dirinya karena kepribadiannya itu." kata Tom.


"Apa-apaan kau membawa-bawa kepribadian!" kata Felix jengkel.


Tom tertawa lepas karena berhasil membuat Felix jengkel.


"Jadi bagaimana? garisnya sudah terputus kan?" tanya Cairo.


"Sudah, kata batu permata itu ... lingkaran sudah jauh darisini. Jadi wajar jika mereka marah, setelah bersusah payah tapi kita putus disini." kata Felix.


"Jadi kau benar bisa mendengar batu permata itu? kudengar yang bisa melakukan itu hanyalah Caelvita yang sudah menjabat selama 1000 tahun." kata Tom.


"Seharusnya aku bahkan bisa melihat garis lingkaran itu tapi masih belum juga ...." kata Felix.


"Apa-apaan kau. Ibarat aku meminta jawaban apa kau bisa berbahasa alien? tapi kau malah menjawab ingin ke planet alien. Menurutmu itu nyambung?!" kata Tom sebal.


Felix mendengus menahan tawa, "Kita istirahat disini dulu sebentar. Kalau di Mundebris aku bisa cepat pulih ...."


"Aku akan mencari makanan di sekitar sini." kata Tom.


"Apa aku perlu ikut membantumu?" tanya Cairo.


"Tidak, Kak Cairo disini saja temani Felix." jawab Tom sudah mulai berjalan pergi.


Felix terlelap tidur dan banyak serbuk berwarna hijau mulai mengeremuni Felix. Cairo takjub melihat itu, "Apa dia sedang disembuhkan atau bagaimana?" tanyanya dalam hati tidak berani membangunkan Felix juga untuk bertanya.


***


Tan dan Teo sendiri sudah keluar dari rumah mewah milik kepala desa. Mencoba berkeliling mencari informasi lebih banyak tentang mendiang kepala desa tapi yang ada di desa itu hanya bisa dihitung jari. Saat dikunjungi pun menolak karena sudah malam untuk menerima tamu.


"Andaikan ada Felix, pasti dengan mudah kita tahu apa yang terjadi disini. Felix dengan mudah membaca pikiran dua orang yang ada di dalam rumah tadi." kata Teo.


"Eh ... kenapa tidak tepikirkan. Kan kita bisa memanggil Felix kesini." kata Teo baru sadar.


"Tidak bisa, pasti sekarang Tom sedang bersama dengan Felix." kata Tan.


"Hah? darimana kau tahu?" tanya Teo.


"Tom katanya sudah menemukan desa yang mencurigakan jadi sudah mengirim pesan kalau akan memanggil Felix duluan." kata Tan.


"Memangnya kenapa memanggil Felix?" tanya Teo.


"Aku tidak akan memberitahumu ... kau cari tahu sendiri! dengan begitu kan kau ada motivasi untuk membaca." kata Tan.


"Kau sedang melatihku seperti anjing atau apa?!" kata Teo jengkel.


"Mau aku tunjukkan bagaimana anak anjing itu?!" teriak Teo mengejar Tan.


Tan berakhir dengan rambut acak-acakan dan bekas gigi Teo ditangannya, "Sepertinya aku harus vaksin rabies kalau pulang nanti ...." kata Tan.


Teo yang mendengar itu mulai menggeram seperti anjing membuat panik Tan, "Ah, iya ... iya maaf ... maaf!" kata Tan dengan cepat.


Keduanya mulai mengelilingi desa itu lagi dengan membawa kotak mainan untuk mendeteksi iblis.


"Bisa saja iblis tidak ada hubungannya dengan desa ini ... dengan kepala desa yang meninggal itu. Lagipula kita baru tahu satu orang yang meninggal, kalau lima barulah kita bisa curiga. Atau bagaimanapun juga kau akan menyelidiki kasus kematian dan wasiat dari kepala desa itu? walau tidak ada kaitannya dengan kita?" kata Teo menyipitkan mata.


"Aku mau saja melakukan itu dengan rela walau tidak ada hubungannya dengan kita tapi aku merasakan ada yang aneh dengan desa ini ... menurutku disinilah titik lainnya." kata Tan.


"Jadi kau bersedia menjadi detektif untuk menyelidiki surat wasiat palsu itu?! membuang waktu percuma demi hati narunimu itu?!" kata Teo tersenyum menghina.


"Aku bilang ini bukan percuma, aku merasakan sesuatu yang aneh di desa ini ... dan kurasa dengan menyelidiki kepala desa itu kita akan lebih dekat dengan petunjuk." kata Tan.


"Memangnya kau merasakan apa?! kau jadi tiba-tiba bisa merasakan aura buruk seperti Felix dan Cain atau apa?! hahh ... lebih baik kita langsung masuk saja ke Bemfapirav memeriksa, kalau sudah merasakan ada yang aneh tidak perlu menyelidiki yang ada disini lebih jauh." kata Teo.


"Kita tadi sudah masuk Bemfapirav tahu!" kata Tan.


"Tapi cuma sekilas saja, memangnya kau melihat dengan seksama yang ada disana?" kata Teo.


"Kenapa kau jadi pecundang penakut begini?! kemana Teo yang selalu bersemangat menolong itu?! bukankah daritadi kau yang paling ingin menyelidiki ini lebih jauh?" kata Tan.


"Aku memikirkan apa yang kau katakan tadi. Tidak usah membuat keributan di desa kecil ini. Kalau terungkap bahwa surat wasiat itu palsu maka akan membuat geger seluruh desa dan bukannya kepala desa itu diingat baik akan diingat sebaliknya." kata Teo.


"Ow, kau jadi terdengar sudah dewasa ...." kata Tan usil, "Baiklah kalau itu maumu."


"Secepat itu?" Teo heran secepat itu Tan menyerah.


"Aku memang hanya ingin mengetesmu saja." kata Tan.


"Kau memang menganggapku anjing yang sedang kau latih, ya?!" Teo terdiam menatap tajam Tan.


Tan melihat itu hanya bisa tertawa dan langsung masuk Bemfapirav kabur dari Teo.


"Mau kabur kemana kau?!" Teo datang menarik tudung jeket Tan.


"Kau lihat itu?!" kata Tan menunjuk sesuatu.


"Itu bukan cahaya dari Batu Permata Iblis ...." kata Teo.


"Cahaya merah di tanah itu menunjukkan adanya kuburan dari makhluk yang dulunya hidup di Mundclariss. Tapi kenapa terpisah-pisah begini? dan tadi kita sudah melewati tempat pemakaman umum kenapa ada yang dikubur terpisah begini ...." kata Tan heran, "Hah?! jadi begitu ...." Tan mulai mengerti dan menyarankan untuk kembali ke Mundclariss.


"Ada apa? kan bisa saja ada yang mengubur seseorang di kebun sendiri, kebanyakan orang desa begitu ...." kata Teo.


"Kau lihat ada berapa cahaya merah?" tanya Tan.


"Tiga." sahut Teo.


"Jadi empat dengan kepala desa." kata Tan.


"Maksudmu ...." Teo sejenak berpikir.


"Disini belum mencapai lima korban makanya cahaya batu permata Imperial Topaz belum bersinar. Akan ada satu korban lagi disini ...." kata Tan.


"Berarti yang meninggal dan dikubur disini mati secara tidak wajar. Karena dikubur tanpa batu nisan bahkan ... tidak kelihatan seperti ada kuburan sama sekali." kata Teo yang sudah kembali di Mundclariss berada di dalam hutan belakang desa.


...-BERSAMBUNG-...