
Berita tentang gempa ringan akibat ulah Banks kini dimuat di berita. Teman sekelas Felix sibuk melihat artikel lewat ponsel mereka tanpa menyadari Felix yang baru saja datang.
"Felix, apa kau sakit?!" hanya Dea yang memperhatikan kedatangan Felix dan hendak menyentuh dahinya tapi dihalangi oleh buku. Felix tidak berniat membaca pikiran Dea.
Pelajaran selanjutnya akan kembali dimulai dan Felix masih belum makan siang, "Kau sudah makan siang kan?" Cain menulis di buku catatan Felix.
Kalau ditanya lapar, harusnya Felix lapar tapi anehnya dia merasa baik-baik saja. Memang waktu di Mundclariss berlalu begitu cepat tapi dirinya di Mundebris hanya melewatkan setengah jam saja.
Cain memotong coklat dari dalam tasnya dan diberikan pada Felix. Coklat itu hanya di abaikan saja di atas buku Felix. Saat Felix menguap Cain langsung mengambil coklat itu dan memasukkan coklat itu kedalam mulut Felix. Ingin marah tapi keadaan tidak memungkinkan saat Bu Farrin sedang semangat menjelaskan jadi Felix akhirnya menikmati coklat itu juga walau kesal karena cara jahil Cain.
***
Matahari mulai terbenam menampakkan cahaya yang sangat indah lewat jendela kelas. Semua murid tidak memperdulikan karena sudah kelelahan dan mengantuk belajar seharian, "Saatnya ke ruang belajar mandiri!" Pak Egan datang dengan wajah segarnya.
Tidak seperti biasanya, Cain jadi melihat kesana-kemari dan tidak fokus berjalan bahkan hampir terjatuh, "Bisa tidak kalau jalan ya jalan saja! tidak usah melakukan hal lain sekaligus!"
"Kau kalau jalan, ya jalan saja tidak usah bicara dan marah-marah!" balas Cain.
Anak-anak berebutan untuk cepat masuk ruang belajar mandiri khusus untuk kelasnya jadi ruang belajarnya agak kecil dan tidak bisa bertemu dengan Tan, Teo dan Tom yang biasanya mereka belajar di ruangan belajar mandiri untuk seluruh kelas 3.
Saat pintu dibuka, langsung saja cairan berwarna merah muda turun dengan derasnya seperti bergalon-galon. Ada sekitar 10 anak yang terkena, awalnya mereka semua spontan langsung duduk semua karena derasnya hantaman cairan berwarna merah muda tapi ada yang tetap duduk karena panik, ada yang mulai berteriak histeris seperti menggunakan microphone karena suaranya betul-betul memekakkan telinga, ada juga yang mulai berlari.
Felix dan Cain memandang Mertie, tapi Mertie hanya menggeleng-geleng, "Kalau bukan dia, lalu siapa?" tanya Cain dalam hati sambil saling menatap dengan Felix.
Rancangan diatas pintu itu sangat mirip dengan cara Mertie dengan lampu belajar yang merusak tugas sejarahnya dulu. Hanya saja ini skala yang lebih besar lagi karena langsung pipa besar yang ada tepat ditengah pintu.
Saat Teo dan Tom membersihkan meja Cain dan Felix dulu, ada sebuah kotak sewarna di bawah mejanya yang berisi cairan yang terhubung dengan lampu belajar.
Dan benar saja dibalik pintu ada kotak yang kini kosong tapi masih ada bekas cairan berwarna merah muda. Tapi bukan hanya itu, lantai ruangan belajar itu kini dipenuhi oleh cairan berwarna merah muda. Akhirnya anak-anak kembali ke kelas untuk belajar dan Pak Egan memberi lilin aromaterapi dimasing-masing meja dan mematikan lampu, "Apa bisa pakai lampu saja pak?" Cain panik karena pencahayaan di dalam kelas menjadi menyeramkan.
"Kalau cahaya terlalu terang nanti fokus kalian jadi terbagi, kalau pakai pencahayaan khusus untuk buku yang kalian baca saja kan fokusnya hanya pada buku itu saja. Lagipula sama saja dengan di ruangan belajar mandiri kan ...."
"Tapi jadi seperti syuting film horor pak kalau pakai lilin begini ...." keluh Cain membuat anak yang lain tertawa.
"Kau kenapa sih daritadi?" tanya Felix.
"Oh itu ... em ... eh .... tidak apa-apa!"
Tiba-tiba Felix melihat tangan Cain merinding yang terkena cahaya lilin dan tak lama setelah itu ada hawa dingin yang seperti menusuk sampai ketulang-tulang dan semua lilin kini langsung mati, sontak murid yang didalam kelas langsung berteriak, "Tenang, bapak nyalain lampunya nih ...." Pak Egan berjalan menuju saklar lampu yang ada dekat pintu dan tak lama kini kelas menjadi terang tapi bukannya anak-anak berhenti berteriak kini ada satu anak perempuan yang teriakannya lebih keras lagi, "Ada apa?" tanya Pak Egan.
Satu kursi dilihatnya kosong, "Mungkin hanya ke kamar mandi ... ini karena kau juga Cain bikin suasana jadi horor kan teman-teman mu ikut-ikutan juga ...." Pak Egan mengomeli Cain.
Tapi anak yang duduk disamping kursi kosong itu tidak berhenti berteriak histeris dan terjatuh dari kursinya, "Sudah ... sudah ...." Pak Egan datang membantu Kelsey untuk berdiri tapi akhirnya sadar apa yang membuat Kelsey berteriak ketakutan ternyata ada jari terpotong diatas meja. Anak-anak yang lain melihat itu ikut berteriak juga.
Jari yang hanya bagian yang ada kukunya saja terpotong, "Apa itu mainan pak?" tanya Felix membuat anak-anak mulai tenang.
Di meja guru kini terdapat banyak sekali Board Game, Gameboy dan masih banyak lagi mainan lainnya, "Ini apa coba? kan cuma gambar dikertas ... eh, puzzle ya?" Pak Egan memeriksa semua permainan.
"Itu namanya bongkar pasang pak!"
"Bongkar pasang? bisa dibongkar dan dipasang begitu? tapi ini lebih seperti puzzle menurut bapak ...."
Kelsey maju memperlihatkan cara menggunakannya, "Wah ...." Pak Egan jadi takjub melihat gambar boneka itu dipasangi baju, anak laki-laki yang lain juga ikut takjub sedangkan anak perempuan yang lain hanya biasa-biasa saja.
"Tapi Magdalene kemana ya? kok belum kembali juga?" tanya Dallas.
"Apa benar itu potongan jarinya tadi?" Demelza jadi ngeri.
"Nanti Magdalene datang kalian semua jadi malu sendiri ...." Pak Egan mulai memeriksa mainan lainnya.
Waktu berlalu dan sudah jam 7 malam, waktunya untuk pulang tapi Magdalene tidak datang-datang juga. Pak Egan mau tidak mau juga mulai panik, "Anak-anak coba kalian semua cari keberadaan Magdalene sekarang!"
Semua anak kelas 3-7 kini mencari dan kelas lain yang ingin pulang juga ikut membantu mencari, "Apa ini benar jari Magdalene?" Pak Egan mengeluarkan klip plastik yang berisi potongan jari itu dari balik saku jasnya.
Hampir satu jam anak-anak mencari serta guru yang juga ikut panik melihat potongan jari yang dibawa Pak Egan. Akhirnya guru-guru memanggil polisi dan menyuruh anak-anak untuk pulang.
Potongan jari itu dibawa oleh polisi untuk diperiksa bagian forensik apakah hanya mainan atau jari asli.
Felix dan Tiga Kembar yang berjalan dibelakang Cain langsung berlari melihat Cain tersungkur ke lantai, "Kau tidak apa-apa?" Tan membantu walau tangannya sendiri masih kesakitan, "Biar kami saja ...." kata Tom menyadari.
"Kalian berdua melihat apa?" tanya Teo kepada Felix dan Cain yang tidak berhenti menatap arah yang sama, "Tanganmu dingin sekali Cain, biasanya selalu hangat? kau sakit?" tanya Tom tapi Cain hanya diam dan tidak berhenti menatap sesuatu, begitupun juga Felix.
"Magdalene?!" kata Felix dan Cain.
"Em? ada dimana?" Tan melihat arah pandangan mereka berdua tapi tidak dilihat apa-apa.
"Kau jadi hantu?" tanya Cain.
"Ha ... han ... tu?" Teo dan Tom panik.
"Jangan bercanda Cain!" kata Tan.
Memang benar, Magdalene kini berdiri dihadapan mereka memakai seragam sekolah dan jari kelingkingnya terpotong cocok dengan potongan jari yang ditemukan di mejanya.
"Apa aku sudah mati?" tanya Magdalene.
...-BERSAMBUNG-...