UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.410 - Menjadi Target Part 6



"Apa kita bunuh saja orang yang mengemudikan nya?!" tanya Demelza.


"Kau ini ... aku sudah tahu kau ini bagaiamana, tapi tanpa perasaan kau dengan mudahnya mengatakan akan membunuh ...." kata Osvald.


"Aku belajar darinya!" Demelza menunjuk Tan, "Katanya disini tidaklah nyata tapi jika mereka menyakiti kita itu nyata ... jadi, bukankah sudah jelas?!"


"Kau mungkin tidak tahu karena tidak pernah ke taman hiburan tapi bom bom car memang dijalankan oleh yang mengemudi tapi pada dasarnya tenaganya berasal dari lantai atau langit-langit dalam hal ini badut itu. Mau kita membunuh yang mengendarai pasti akan muncul lagi orang lain yang akan mengendarai lagi dan tidak akan ada habisnya jadi kalau kita mau ini berakhir, caranya adalah menyerang badut itu!" kata Osvald.


"Ow, ok! thankyou tips nya ...." kata Teo mulai berlari ke arah Zewhit Badut berada sementara Tom masih menjungkir-balikkan mobil yang mendekat dengan Sesemax nya. Tapi percuma karena jika orang yang mengendarai terjatuh maka ada yang lain langsung menggantikan seperti yang dikatakan Osvald.


"Aku sudah muak!" Tom sudah bukan melempar lagi tapi menghantam mobil itu hingga rusak. Tapi melakukan itu sangat membuang tenaga, Tom sudah kelelahan padahal baru menghancurkan hampir 10 mobil. Bagaiamanapun menggunakan Sesemax sangatlah melelahkan terlebih lagi dengan kondisi oksigen yang kurang.


Teo bersusah payah melewati bom bom car untuk mendekati tempat Zewhit Badut berada tapi Zewhit Badut dengan santainya meniup balon dan menggunakan itu untuk terbang.


"Em ... em ... em!" kata Winn melarang setelah melihat Teo ingin melemparnya, "Tidak akan kena, kalaupun kena ... kau harus kesulitan mencariku jika jatuh di antara rongsokan itu."


"Hahh ...." Teo merasa sedang membuang-buang waktunya.


"Awas!" teriak Winn.


Teo segera menghindar tapi berakhir terkena luka goresan dari besi yang bertumpuk-tumpuk.


"Tidak ada waktu untuk mengeluh, lari!" kata Winn melihat Teo sedang kesakitan.


Tapi setelah melihat apa yang menyerangnya, Teo melupakan rasa sakitnya dan berlari sekuat tenaga untuk menghindar dan segera pergi darisana. Rupanya Zewhit Kurcaci sudah selesai membuat apa yang daritadi sibuk dilakukannya dengan salju.


"Apa itu?!" tanya Teo.


"Apa ya?! mana aku tahu! harusnya kau lebih tahu daripada aku, semua yang diciptakannya sesuai dengan apa yang pernah dilihatnya dan dia itu dulunya adalah manusia." jawab Winn.


"Di Mundclariss tidak ada yang begitu!" kata Teo protes, "Ah, yang itukah ... apa lagi namanya itu dari telur alien?! ah, ovo ... apa ya?! ovomorph?! yang di film alien pertama itu?! tapi itu belum lama kok ... em ... baru 44 tahun yang lalu, bagaimana dia bisa tahu soal itu?! padahal dia sudah berumur ratusan tahun ... tidak mungkin juga dia update soal film dan pergi ke bioskop ...." Teo terus berbicara sendiri membuat Winn bingung bagaiamana Teo bisa terus berbicara dalam keadaan terdesak begitu.


"Itu mungkin caranya untuk mengatasi ketakutan ...." kata Winn dalam hati, "Aku pernah mendengar dari Zeki kalau Caelvita-118 suka ke Memoriasepirav kedua Zewhit ini ...." kata Winn kemudian.


"Hahaha ... begitu ya?! terimakasih Iriana!" kata Teo memaksakan tertawa, "Berkatnya ... Zewhit Kurcaci jadi punya pengetahuan soal monster."


Tadi tidak jelas apa yang dibangun oleh Zewhit Kurcaci tapi setelah dilihat jelas itu adalah sebuah telur besar dan kini keluarlah makhluk yang yang terus terbang dan melompat menyerang Teo.


"Aku lupa apa namanya ... tapi seingatku dia bisa bertelur di dalam tubuh manusia dan saat alien baru keluar dari dalam tubuh tentunya manusia itu akan mati. Setidaknya aku ingat hal penting itu ...." kata Teo menghindar mati-matian karena tahu betul apa yang akan terjadi jika dia berhasil tertangkap.


Tom ingin membantu Teo tapi saat ini sedang sibuk melindungi Osvald dan Demelza, "Kalau lawan seperti ini sangat cocok bagi Tan yang bisa menjangkau kesegala arah dengan Tellopper nya dibandingkan Sesemax ku yang memang kuat tapi hanya cocok untuk satu lawan satu saja."


Zewhit Badut dan Kurcaci kini tidak diketahui dimana. Mereka berdua langsung menghilang setelah mengeluarkan salah satu serangan yang disukainya. Zewhit Badut sangat menyukai bom bom car karena tidak akan berhenti walau pengemudinya dikalahkan kecuali langsung dihancurkan. Zewhit Badut menggunakan lingkungan yang ada sedangkan Zewhit Kurcaci menciptakan hal yang diluar nalar dan kali ini monster yang diciptakan Zewhit Kurcaci tidak mengecewakan.


Mobil bom bom car itu sangatlah keras, tidak seperti yang ada di taman bermain pada umumnya. Sepertinya disesuaikan dengam Tom yang memiliki Sesemax. Tom sudah sangat kelelahan sementara Osvald serta Demelza sama sekali tidak membantu.


Alien yang keluar dari telur buatan Zewhit Kurcaci itu berubah bentuk, yang tadinya hanya seperti serangga kini menjadi monster yang lebih mengerikan, bertubuh besar tinggi dan mempunyai dua kaki dan berjalan layaknya seperti manusia.


"Aku tahu soal alien ini ... aku sudah lama membeli rangkanya tapi baru beberapa hari yang lalu selesai kurangkai, Xenomorph! ya, itu!" kata Teo tercengang mendongak ke atas melihat monster itu, "Haha, mati kita!"


"Perbaiki kalimatmu, hanya kau yang mati! aku tidak!" kata Winn.


"Teo, pergi darisana!" teriak Tom panik melihat monster mengerikan itu.


Semua mobil yang menyerang Tom, Osvald dan Demelza mundur dan menuju arah monster itu berada. Mobil dari Zewhit Badut menempel pada monster itu menjadi seperti perisai.


"Apa-apaan?! dia power rangers atau apa?!" kata Osvald membuat Tom hampir saja tertawa di situasi itu.


"Bagaimana cara kita membunuhnya?!" tanya Demelza.


"Entahlah ...." kata Tom mencoba menstabilkan napasnya sementara monster itu belum menyerang.


"Jangan tanya aku!" kata Teo yang ditatap oleh Osvald dan Demelza padahal baru saja bergabung dengan mereka kembali.


"Ukurannya lebih dari setidaknya 15 meter, bahkan lebih tinggi dari monster yang tadi ...." kata Osvald.


"Anak kecil yang tadi, apa dia tidak bisa datang lagi?!" tanya Osvald.


"Anak kecil? siapa maksudnya?!" tanya Demelza.


"Tidak, jangan berharap soal itu." kata Tom.


"Wow, dia datang!" teriak Teo panik merasakan getaran di tanah dan melihat makhluk itu yang mulai mendekat dengan air liur yang terus berjatuhan dari giginya yang besar dan tajam. Semuanya panik dan tidak bisa mencari jalan keluar selain melarikan diri. Tapi saat Teo ingin menggendong Tan, langkah kaki dari makhluk itu tidak terdengar lagi. Teo berbalik dan melihat monster itu menghilang, "Kemana?!" tanya Teo.


"Dia tenggelam!" kata Tom melihat dengan jelas bagaiamana monster itu tercebur masuk ke dalam air setelah terjatuh akibat es yang dipijakinya hancur.


"Bagaimana bisa?!" tanya Teo tidak percaya.


"Tan?!" Tom melihat Tan membuka matanya.


"Kau sudah sadar?! bagaimana keadaanmu?! tentunya tidak baik-baik saja ...." Teo begitu senang melihat Tan sadar sampai-sampai terlalu semangat dan tidak berhenti berbicara.


"Jangan bilang kau yang melakukan ini?!" tanya Tom.


"Kau lupa, ini dunia pikiran ...." jawab Tan.


Teo dan Tom memeluk Tan dengan sangat bahagia, bukan hanya karena sudah sadar tapi berhasil menyelamatkan mereka dari monster itu.


"Hei kalian! jangan senang dulu!" kata Demelza melihat ada pergerakan di dalam air yang tadinya tempat monster itu terjatuh.


"Bagaimana lagi?! bagaimana kau melakukannya?! apa hanya perlu dibayangkan?!" tanya Tom sudah mencoba memikirkan cara membunuh makhluk itu di dalam pikirannya tapi tidak ada yang terjadi.


"Harus sempurna, kalau kau membayangkannya hanya setengah-setengah tidak akan terjadi." kata Tan memaksakan berbicara membuat lukanya terbuka.


"Jangan berbicara lagi!" kata Teo.


"Bagaimana yang dibilang sempurna?!" Tom panik.


"Fo ... kus! jangan membayangkan hal lain! bayangkan situasinya dengan jelas tanpa ada kesalahan gambar atau teralihkan oleh pikiran lain." Tan sudah mencoba sebaik mungkin menjelaskan.


Teriakan Osvald dan Demelza menandakan bahwa makhluk itu sudah muncul kembali ke daratan.


"Lakukan sesuatu!" teriak Demelza melihat Teo dan Tom hanya diam dan menutup mata.


"Aku tidak bisa berkonsentrasi karena kalian! diam!" teriak Tom sebal.


"Aaaaaaa!" teriak Osvald dan Demelza disaat monster itu berlari mendekat.


Tapi langkah monster itu berhenti saat ada sesuatu dari langit jatuh.


"Itu ... Felix kah?!" kata Osvald.


"Hahh?! siapa?! Felix?!" Teo membuka matanya.


"Awas!" teriak Osvald melihat monster itu tepat ada di belakang Felix yang masih berusaha untuk duduk. Tidak lagi mempertanyakan bagaimana Felix bisa ada disana.


Sementara Teo dan Tom bisa bernapas lega melihat kedatangan Felix, "Jangan khawatir!" kata Teo mulai membaringkan Tan.


"Apa maksudmu?! dia sedang dalam bahaya! kalian kan sahabatnya! walau tidak masuk akal bagaiamana dia bisa ada disini tapi selamatkan dia dulu!" kata Demelza.


"Siapa yang menyelamatkan siapa maksudmu?!" kata Tom mulai berbaring karena sudah tidak tahan dengan pusing yang dialaminya.


"Felix, Tan terluka!" teriak Teo dengan perasaan lega ikut berbaring juga disamping Tan.


"Kalian ini sudah gila ya?! apa yang kalian lakukan?!" teriak Demelza.


...-BERSAMBUNG-...