UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.86 - Diluar Dugaan



Libur musim dingin tidak lama lagi dan mereka masih tidak memiliki petunjuk jelas siapa sebenarnya peniru hantu merah muda sedangkan si hantu merah muda sendiri tidak terlalu tertarik untuk membantu mencari penirunya sendiri.


"Katanya sih ingin istirahat, tapi apa dia tidak bisa membantu sedikit saja?" kata Teo mulai bersandar pada Tan.


"Itu Kak Ziggy! kau dapat apa saja dari dia?" tanya Tan menggoyangkan lengannya yang disandari Teo saat melihat Ziggy lewat.


"Yang dia pikirkan hanyalah bagaimana bisa merekrut anggota pramuka ... hahh ...." balas Teo menghela napas panjang.


Cain tertawa kecil, "Semua murid adalah anggota pramuka tapi hanya aktif kalau ada event besar saja ... kalau sudah berlalu ya hanya beberapa anak saja yang bertahan ikut event sehari-hari di sekolah ...."


"Tidak lama lagi kita akan beralih menjadi Penggalang karena sudah mau 11 tahun tapi masih di tingkat Siaga Mula dengan satu lambang!" kata Felix membuat yang lain tertawa.


"Apa kita mulai saja untuk naik tingkatan sekalian mengawasi Kak Ziggy?" tanya Tom mulai bersandar pada Tan juga.


Kini disamping kiri kanan Tan ada Teo dan Tom yang bersandar.


"Hahh ... bakalan sibuk dong! padahal sudah ada acara pelatihan osis juga nanti!" keluh Teo.


"Sabar dan tahan saja, coba bayangkan Magdalene yang butuh pertolongan kita!" kata Felix membuat Teo dan Tom yang ingin mengeluh tidak jadi.


"Padahal dulu Kak Ziggy kagum sama kalian berdua yang jago simpul tapi saat dipanggil untuk latihan rutin malah kabur ... hahaha." kata Cain mengalihkan pembicaraan.


"Yang duluan kabur siapa?!" kata Teo sarkastik.


"Sudah ... kita lakukan saja satu per satu dan semoga bisa dapat petunjuk secepatnya." Tan menghentikan mereka.


"Bagaimana dengan Wyatt?" tanya Felix.


"Kalau Kak Ziggy yang berusaha menarik anggota pramuka untuk aktif, Wyatt lebih terobsesi untuk cepat jadi PMR Wira ...." jawab Tom.


"Baru juga PMR Mula dan umur 10 tahun sudah mau loncat aja ...." kata Tom.


"Tapi kalau dipikir-pikir kebanyakan korban hantu merah muda anak organisasi, anak kelas akselerasi, ketua kelas ... dalam rangka apa dia memilih kita?" kata Cain menoleh pada Felix.


"Mungkin sebagai pembanding!" kata Felix.


Cain merasa terhina dan mulai ngomel sendiri.


***


Terlihat banyak guru baru yang sedang melakukan tour di gedung SMP. Cain yang penasaran tidak sabar dan ingin segera ke perpustakaan khusus untuk tingkatan SMP yang sudah mulai resmi dibuka.


"Lagipula kau akan dilarang masuk juga ... Cain!" teriak Felix mencoba menghentikan Cain tapi sia-sia. Cain dengan semangat berlari diantara rombongan guru baru itu tiba-tiba berhenti, Felix yang mengejar juga langsung terlihat pucat pasi.


"Selamat datang kami ucapkan kepada Caelvita baru yang ke 119!" sapa semua guru baru itu bersamaan yang jika dilihat terlihat santai dan biasa saja berbicara normal dengan guru lain.


Cain masih diam membatu dan bisa dilihat tidak berhenti merinding. Felix meraih tangan Cain untuk disadarkan tapi tetap saja masih diam.


"Apa-apaan ini? berani-beraninya mereka menunjukkan diri dihadapanku seakan mengatakan ingin menantangku dan tidak takut kepadaku!" kata Felix tidak habis pikir.


"Apa yang harus kita lakukan?" Cain mulai berbicara.


"Jangan khawatir!" kata Felix, "Iya ... tidak ada yang perlu dikhawatirkan ...." sambungnya dalam hati.


"Padahal semua penjuru sekolah sudah aku beri pelindung dibantu Goldwin." kata Cain.


"Kau pikir mereka akan terang-terangan meminum darah manusia? mereka tidak akan seceroboh itu ...." balas Felix.


"Malam ini kita harus ke Mundebris! kau juga harus ikut denganku ... karena kau pasti akan berjaga semalaman disini lagi membuat pelindung baru." kata Felix menekankan.


"Padahal bau darah Leaure seharusnya tidak membuat mereka betah tinggal berlama-lama disini ... apa karena aku hanya setengah Leaure jadi tidak mempan?" kata Cain merasa bersalah.


"Kau sudah melakukan apa yang kau tahu dan kau bisa untuk melindungi, sekarang kita cari hal lain lagi ... pasti masih ada!" kata Felix menenangkan.


"Apa kita perlu memberi tahu Tan, Teo dan Tom soal ini?" tanya Cain.


"Tidak, sudah cukup kau yang kuseret masuk dalam dunia yang abnormal ini ... akupun masih berharap agar kau bisa menjalani hidup sebagai manusia normal tapi ...." kata Felix terhenti, "Mengingat apa yang dikatakan Goldwin, aku juga tidak bisa berbuat apa-apa ... aku ingin egois agar kau bisa menjalani kehidupan biasa tapi bukan hanya satu dunia yang membutuhkanmu." lanjut Felix dalam hati.


"Tapi setidaknya kita harus peringatkan agar berhati-hati!" sahut Cain.


"Kita hanya perlu melindunginya!" kata Felix.


Mengingat masa depan yang pernah dilihat Felix yang dimana masih tidak diketahui terjadi di Bemfapirav atau Mundebris, yang jelas jika mereka tidak tahu menahu dengan dunia itu bisa jadi dapat menghentikan masa depan itu terjadi. Tapi tetap saja karena Tan, Teo dan Tom adalah manusia pasti ada saja takdir yang sama akan menimpanya, akan tetapi ada variabel baru yaitu Cain yang bisa saja jadi penyelamat mereka, "Jadi aku tidak bisa menghentikannya lagi dan mengembalikan kehidupan normalnya ... kali ini saja semoga ketidak egoisanku ini berbuahkan manis dan bisa menyelamatkan mereka semua." kata Felix dalam hati.


Sepulang sekolah Felix dan Cain langsung menuju Rumah Verlin dan tidak pulang bersama dengan tiga kembar.


"Karena terus denganmu, kemarin aku baru sadar kalau ternyata hal itu yang membuat aku tidak terlalu dekat dengan Teo, Tan dan Tom." kata Felix membuka gerbang emerald.


Cain hanya tertawa kecil, "Baguslah ... akhirnya kau sadar juga!"


Setibanya mereka di depan Rumah Verlin disambut oleh Nenek Alviani yang sedang mendorong Curis yang dinaiki Verlin.


"Ada apa ini?" tanya Felix.


"Oh, kalian datang!" sapa Verlin.


"Apa yang sedang kalian lakukan?" tanya Cain.


"Berlatih mengemudi!" jawab Verlin.


Cain melihat mobil Mundebris untuk pertama kalinya, tidak ada ban tapi melayang tidak menyentuh tanah.


"Bahan bakarnya apa?" tanya Cain penasaran.


"Em ... bahan bakar disediakan oleh Leaure!" jawab Verlin.


"Jangan bilang?!" Cain dengan ekspresi heboh.


"Haha ... iya, bahan bakar Curis atau mobil Mundebris adalah emas. Semua kendaraan atau mesin lainnya menggunakan emas cair dari kerajaan Leaure. Itulah kenapa Leaure menjadi kerajaan yang tidak akan pernah miskin." kata Verlin.


"Sebanding memang, karena harus banyak melakukan banyak misi menolong ...." kata Felix.


"Tapi kenapa kau baru datang?!" kata Verlin mulai mengubah ekspresinya padahal tadi terlihat senang.


"Tapi kenapa kau baru belajar mengemudi?" balas Felix lebih dingin.


"Kau pikir aku orang yang tidak punya pekerjaan?!" kata Verlin.


"Kau pikir aku ini ...." kata Felix terhenti ketika ada angin kencang yang tiba-tiba datang ternyata itu berasal dari kepakan sayap.


"Duarte?" kata Felix melihat kelelawar merah yang familiar.


...-BERSAMBUNG-...